Huzam menghitung dalam hati sampai tiga puluh. Meski was was Ziya tidak mau keluar, ia tetap optimis Ziya mendengar ucapannya. Selama ini ia tak pernah membantu Ziya sama sekali dan memang baru sekarang lah kesempatan yang ia miliki. "Ah iya. Aku sudah bertemu Bu Zanuar, Zi. Beliau mau menandatangani surat jual beli tanpa membaca kontrak itu dulu. Katanya sudah diceritain sama Ziya. Emangnya kamu cerita apa, Zi?" tanya Huzam kembali memancing reaksi Ziya. Masih sama. Tak terdengar apa-apa dari dalam duluxe itu. "Beliau juga bilang sesuatu yang aneh, Zi. Beliau bilang titip Ziya, Zam. Tapi titip dalam arti apa aku nggak paham." Huzam terus berusaha. "Tapi setelah mendengar semuanya dari Niken, aku jadi ngerti sekarang, Zi. Beliau nggak pengen kalau sampe kamu terluka. Beliau sayang bange

