Hingga malam semakin larut, Ziya tak kunjung pulang. Akhirnya Huzam memutuskan untuk pulang. “Lain waktu saya main lagu, Bu,” ujar Huzam berpamitan. “Sudah kamu hubungi?” “Maaf, Bu, saya tidak punya nomor kontaknya.” “Oh, kamu ndak nyimpen?” Bu Zanuar cukup heran. Huzam menggeleng. Selama ini mereka memang tidak pernah lagi berkomunikasi. Bisa dibilang Huzam bahkan sudah melupakan Ziya setelah memutuskan pergi ke Jakarta. “Sebentar, Nak Huzam.” Bu Zanuar memanggil Mbak Ning untuk mencatatkan nomor WA Ziya. Semisal Huzam akan datang lagi ke rumah biar memberitahu Ziya dulu. “Ini, Nak Huzam.” Huzam menerima secarik kertas itu. Sebuah harta karun mungkin yang baru saja ia dapatkan. Pasalnya ia belum pernah memiliki nomor Ziya sejak mereka masih bertemu dulu. Ia ingat hanya menitipkan p

