95. Titip Ziya

1648 Kata

Huzam bergegas ke rumah Ziya. Ia memilih berangkat sendiri dengan menggunakan mobil yang biasa dibawa Arbrito. Malam ini ia akan menuntaskan semuanya tanpa merpotkan Maria dan Arbrito yang sudah banyak membantu itu. Huzam mengendarai mobil berwarna silver dengan santai. Sambil sesekali menyimak pemandangan di kawasan Borobudur seorang diri. Ia melempar ingatannya lagi ke beberapa tahun silam. Di jalanan kawasan Borobudur juga area persawahan yang cukup bersejarah baginya. Waktu itu awal mula ia menyadari perasaanya untuk Ziya. Bukan relasi sebagai murid dan guru pada umumnya melainkan seorang laki-laki dan perempuan. Ia yakin bahkan sangat yakin kepedulian yang ditunjukkan Ziya untuknya bukan semata mata karena Ziya gurunya. Huzam tersenyum kecil. Dulu Ziya tak segan menjadi pembelanya sa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN