98. Cinta Tak Terbalas

1683 Kata

Kepulangan Huzam dalam perjalanan menjalankan sebuah proyek sedikit berbeda dari yang sudah-sudah. Kali ini Huzam pulang dengan keadaan hati yang jauh lebih tenang. Setelah Ziya tuntas bercerita, ia meminta undur diri agar beristirahat di kamar lain. Ia bukan tipe laki-laki yang akan mamanfaatkan keadaan. “Kamu benar akan ke Jakarta hari ini?” tanya Ziya di sesi sarapan mereka. Huzam mengangguk. “Sesuai jadwal memang seperti itu.” “Apa tidak bisa ditunda?” “Kenapa? Kamu tidak bisa jauh dariku?” Ziya menggeleng. Jelas itu berlebihan menurutnya saat Huzam terlalu percaya diri. “Masih bisa ke Magelang, kan?” “Bisa. Justru aku ke Jakarta buat nuntasin pekerjaan. Habis itu aku balik ke Magelang.” “Serius?” Huzam mengangguk seraya meneguk minumannya. “Serius. Aku udah pengen jadi orang

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN