Huzam nyaris tak sadarkan diri tapi tangannya masih menggengam tangan Ziya. Ia tak ingin melepaskan. Sementara Ziya hanya bisa menatap iba pemuda yang sudah cukup lama tak dijumpainya. Ada buncah bahagia saat mengetahui Huzam masih hidup dan terlihat baik-baik saja. Namun, melihat kondisi Huzam seperti ini ia menjadi bertanya-tanya. Kehidupan macam apa yang dialami Huzam? Ziya mengusap wajahnya kasar. Ia tak boleh terbawa suasana. Ia harus waras sekalipun perasaanya terbawa pada kerinduan yang mendalam itu. Ziya harus tetap fokus. “Zam, Huzam.” Digoyangkannya tubuh Huzam. Ziya berharap pemuda itu segera sadarkan diri. “Huzam ... bangun, Zam.” Sekali lagi Ziya mencoba. Ia tak bisa berbuat banyak saat genggaman Huzam terasa erat. Ziya melemparkan pandangan ke arah pintu. Ia har

