Huzam terlelap semalaman. Entah karena lelah menangis di depan Ziya atau Arbrito menaruh obat tidur dalam minumannya. Yang pasti ia masih mengingat cukup jelas Ziya ikut menangis bersama. "Bagaimana kondisimu, Huzam?" tanya Maria yang menunggu sejak pagi. "Jam berapa sekarang?" "Jam sebelas pagi, Zam. Kamu terlelap cukup lama." Huzam berusaha bangun. Ia memegangi kepalanya yang masih terasa pening. Ia mencari-cari di mana Ziya. "Mau kemana?" sergah Maria. Huzam masih cukup lemah. "Siapa yang menungguiku semalaman?" tanya Huzam berusaha menelusuri jejak Ziya. "Arbrito. Dia menunggumu sampai pagi. Tapi sekarang dia sedang menjemput seseorang." "Siapa?" Maria berdecak kesal. Ia sebenarnya tak boleh bicara tapi kasihan Huzam juga. "Kenapa tidak mau ke rumah sakit? Lebih baik kamu dit

