Makan Bersama

1066 Kata
Danu melihat sepiring mie instan yang telah dimasak Altha untuknya. Kemudian Danu tersenyum geli. "Si Altha, nyogok gue make mie, pake masakin segala. Uda kaya pacarnya aja gue dibuat," ucap Danu geli. "Tapi kayaknya si enak nih mienya. Tau bener dia kalau gue lagi laper," Danu langsung mengambil piringnya, lalu Danu menyiapkan mie ke dalam mulutnya. "Nahh kan, enak beneran," puji Danu jujur. Danu mulai memakan mienya dengan pelan, menikmati mie yang masih panas, sesekali Danu menghembusnya dulu sebelum memasukkan ke mulut. "Seza ... Seza ...," Danu terlonjak kaget saat tiba-tiba mendengar suara seseorang dari dalam tenda. "Anjir, apaan tuh? gila ada setan apa di sini ya?" tanya Danu pada dirinya sendiri. "Sezaa ... Sezaa ... sini dong, gue laper. Ada orang gak sih di luar? Seza ...," Danu mengerutkan dahinya bingung. "Ada orang ya di dalam tenda?" tanyanya pada dirinya sendiri. "Iya kali ya, coba deh gue cek dulu." Danu langsung masuk ke dalam tenda untuk memastikan siapa yang ada di dalam tenda. "Seza ... lo di mana sih? gue mau makan. Seza ...." "Lahh gue pikir setan. Eh rupanya elo. Lo masih di dalam tenda?" tanya Danu pada Aqila yang masih berbaring memejamkan mata. Aqila membuka matanya perlahan. Lalu dia langsung mengerutkan dahinya bingung. "Lo? lo mau apa di sini? Seza mana? gue manggil Seza, bukan manggil lo," tanya Aqila dengan suara seraknya. Suara Aqila juga sedikit bindeng, sepertinya hidung Aqila sedang mampet. "Seza ada di depan noh sama teman-teman lo yang lain, lagi makan dianya," jawab Danu seadanya. "Hah? gue juga laper, gue mau makan," rengek Aqila. "Yaudah ayo keluar, lo mau makan di dalam tenda? kalau tendanya kotor gimana? ayo keluar," ajak Danu pada Aqila. Aqila duduk, dia memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing. "Yaudah, awas, gue mau keluar," Aqila keluar pelan-pelan, sangat pelan. "Uda kaya orang mau mati lo. Uda ayo gue bantuin." Danu menarik tangan Aqila. "Ehh buset!! lo abis ngapain? tangan lo panas bener, lo abis main api ya?" tanya Danu shock. Tangan Aqila sangat panas. "Mana ada gue main api, ngaco banget jadi orang," jawab Aqila kesal. Danu langsung memegang dahi Aqila, memeriksa apakah Aqila demam atau tidak. "Astaga!! ini mah namanya lo demam, uda yuk buruan makan, terus minum obat. Wah gawat sih ini, panas banget badan lo." Danu panik, dia langsung menggendong Aqila keluar tenda. Bukan keluar tenda, Aqila masih duduk di dalam tenda, tepatnya di pintu tenda. Pintu tenda di buka lebar-lebar, sehingga Aqila bisa duduk di situ. "Lo ngerasa kedinginan gak?" tanya Danu. Aqila mengangguk mengiyakan. "Nih pakai jaket gue aja." Danu membuka jaketnya, lalu memberikannya pada Aqila. "Belom lo ilerin kan?" tanya Aqila. "Astaga!! lo uda sakit aja masih ngeselin ya, gue bogem juga deh lo," Danu mengomel. Tapi dia tetap memakaikan jaketnya pada Aqila. "Lo tunggu di sini bentar. Gue ambilin makan dulu buat lo." Danu pamit, dia langsung berjalan menuju tenda dapur. Danu melihat wajah, tidak ada apa pun di dalamnya. Danu melihat dandang, hanya ada nasi di dalamnya. Danu memeriksa semua tempat-tempat yang ada di dapur, tapi dia tak menemukan sayur dan lauk. "Pantas aja si Altha masak mie, eh rupanya makanan emang uda abis semua, ah kampret emang." Danu mendengus kesal. "Gue bikin teh manis aja deh. Kasian juga si cewe jadi-jadian itu, biar dia ngerasa anget, gue buatin teh manis aja kali ya." Danu langsung mengambil gelas, dia langsung membuatkan teh manis untuk Aqila. Danu tdiak perlu memasak air panas lagi, di termos sudah ada air panas yang dimasak oleh teman-teman Seza tadi. "Nahh uda jadi nihh." Danu langsung berdiri, dia langsung berjalan menghampiri Aqila. "Nihh gue buatin teh anget untuk lo." Danu memberikan segelas teh manis hangat pada Aqila. "Loh, mana makanan buat gue? gue uda laper banget ini," tanya Aqila pada Danu. "Duhhh gimana ya? nasi mah ada, yang gak ada sayur sama lauknya. Gimana dong?" tanya Danu bingung. Aqila menghela nafasnya pasrah. "Yaudah deh, minum aja gue biar kenyang." Aqila langsung mengambil segelas teh hangat yang sudah dibuat oleh Danu untuknya. Kemudian Aqila langsung meminumnya pelan-pelan. "Eumm ... gimana kalau kita makan mie aja? tadi gue dimasakin mie nih sama si Altha." Danu mengambil piring makanannya yang sempat ia tinggalkan tadi. "Nih, masih banyak kok. Masih gue makan sedikit. Lo mau gak?" tanya Danu menawari Aqila. Aqila diam sejenak. Mau menolak, tapi perutnya benar-benar sangat lapar. "Yaudah deh, gue mau," putus Aqila menerima. "Tapi bagi dua loh, jangan diabisin sendiri. Gue juga laper soalnya." "Iya-iya, ribet bener lo jadi orang." Aqila langsung mengambil piringnya. Dia langsung menyuapkan mie ke mulutnya. Tapi setelah selesai menyuapkan mie ke mulutnya, Aqila tak memberikan sendok pada Danu. Aqila tetap memegang sendoknya erat-erat. Aqila terus menerus menyuapkan mie ke dalam mulutnya, tapi dia sama sekali tak memberikannya pada Danu. "Heh! apa-apaan sih? enak banget lo makan sendiri. Wahh ini punya gue, lo dikasih malah ngelunjak pula." Danu langsung merebut piring itu dari Aqila. Aqila cemberut saat piringnya direbut oleh Danu. Danu menyuapkan mie ke dalam mulutnya. Kali ini terbalik, Danu yang tidak membaginya pada Aqila. Aqila menatap Danu dengan tatapan memelasnya. "Gue juga mau, gue juga laper," rengek Aqila dengan wajah sedihnya. Danu melihat Aqila sejenak, lalu dia menghela nafasnya pasrah. "Nihh nihh, gue siapin. Lo kalau suap sendiri suka rusuh, suka rakus. Gue gak kebagian. Nihh buka mulut lo," Danu menyodorkan sesuap mie ke mulut Aqila. "Mau enggak? kalau gak mau ya gak usah makan. Gue tarik lagi nih," ancam Danu pada Aqila. Aqila mendengus kesal. Lalu kemudian dia menerima suapan dari Danu. "Parah bener lo jadi manusia. Masa gue makan aja dijatah, pelit," omel Aqila kesal. "Ya abisnya lo sih. Lo yang gak bener, masa lo makan makanan gue tapi gak tau diri, bukannya ngasih gue kesempatan buat nyuap, lo malah makan sendiri, sendok lo pegang sendiri, gak lo kasih ke gue." Danu balik mengomel, menyalahkan Aqila. "Duhh uda deh, gak usah ngomel. Pala gue makin pusing kalau lo nyerocos mulu." Aqila memegangi kepalanya yang terasa pusing. "Yaudah nih makan lagi." Danu menyupi Aqila, lalu dia langsung menyuapi dirinya kembali. Danu dan Aqila makan bersama, Danu menyuapi Aqila dan dirinya bergantian. "Uhukk uhukk ...," Danu keselek. "Heh minum! mati keselek nanti lo," "Gak minum, gue lupa bawa minum, uhukk uhukk ...," Danu batuk-batuk. "Ini minum aja teh manis gue. Nih minum, dari pada mati entar gimana." Aqila langsung memberikan teh manis hangatnya pada Danu. Danu mengambil teh manisnya, lalu dia langsung meminum dengan cepat supaya tidak tersedak lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN