"Nahh itu tuh orangnya nongol. Malah ngerasa gak bersalah pula. Orang-orang uda panik dianya ilang. Astaga," Bima menepuk jidatnya sendiri saat Seza dan Altha datang. Yang lebih membuat Bima kesal adalah Seza yang tersenyum pada semua orang sambil melambai-lambaikan tangannya seperti orang tak bersalah.
"Lo ke mana aja sih, Seza? sumpah ya kita panik tau nyariin lo yang tiba-tiba ngilang," Bima bertanya pada Seza.
"Gue cuma cari angin kok. Lo aja yang lebay, nih buktinya gue selamat, sehat walafiat. Gak usah cerewet deh," Seza memutarkan bola matanya malas.
"Tapi lo harusnya ngomong juga kali. Lo kan bisa bilang ke kita. Semua orang panik, apa lagi waktu si Danu sama Altha sampai tonjok-tonjokan, panik tau-" celetuk Aldo.
Altha langsung melotot, menatap tajam ke arah Aldo supaya Aldo tak melanjutkan ucapannya.
Seza mengerutkan dahinya. "Apa? Danu sama Altha tonjok-tonjokan?" tanya Seza ulang.
Aldo menelan ludah saat melihat wajah seram Altha. "Ahh udah lah, kita mau gabung sama yang lain tuh di tikar sana. Yuk, Bim," ajak Aldo pada Bima. Aldo dan Bima langsung pergi menyelamatkan diri dan ikut bergabung bersama teman-teman mereka yang lain yang sedang sibuk bernyanyi mengenakan gitar.
Seza menatap Altha, meminta jawaban lewat lirikannya.
Altha diam, dia tak ingin menjelaskan apa-apa pada Seza.
"Kenapa diam? ayo jelasin," pinta Seza tak sabar.
"Gak ada yang perlu dijelasin, semuanya uda diperjelas sama si Aldo," jawab Altha sekenanya.
"Jadi kamu beneran bertengkar sama si Danu?" tanya Seza.
Altha mengangguk mengiyakan. "Kebawa emosi tadi," jawabnya pasrah.
"Gimana sih? kok bisa sih kalian sampai tonjok-tonjokan? kamu kok gak bisa ngontrol emosi sih? biasanya juga kamu sabar aja sama si Danu yang emang ngeselin itu kan. Kenapa tadi sampai kelepasan sih?" tanya Seza tak habis pikir.
Altha menghela nafasnya pasrah. "Iya aku minta maaf deh, tadi dia keterlaluan. Aku kebawa emosi juga. Mungkin karena aku lelah dan panik nyariin kamu juga. Maafin aku ya," Altha meminta maaf pada Seza.
"Ngapain minta maaf sama aku? minta maaf sama Danu sana. Kan kamu bertengkar sama Danu bukan aku," Seza melirik Danu yang sejak tadi masih betah duduk di pintu tenda dan menatap kosong ke arah depan.
"Nanti aja lah. Kita makan dulu ya, kamu belum makan. Ini udah malam, kena angin malam pas perut kosong nanti bisa masuk angin loh. Ayo kita makan dulu." Altha menarik tangan Seza menuju dapur masak milik kelompok Seza.
"Makannya bisa nanti. Minta maaf dulu sana," protes Seza.
"Gak ah, aku gak mau minta maaf kalau kamu gak makan dulu. Pokoknya kamu harus makan," kekeuh Altha.
Seza menghela nafasnya pasrah. "Yaudah iya."
Altha melihat dandang nasi, masih ada nasi di dalamnya. Altha melihat wajan, sudah tidak ada sayur. Lalu Altha mencari-cari di mana lauk dan sayur yang mereka masak tadi. Tapi hasilnya nihil, tidak ada satupun lauk dan sayur yang tertinggal.
"Sayang, tinggal nasi doang. Lauk sama sayurnya uda habis. Gimana dong?" tanya Altha pada Seza.
"Kamu mau aku masakin mie aja? mau gak, biar aku masakin mie," Altha menawari Seza.
"Yaudah deh iya, mie aja," jawab Seza pasrah. Dia tidak bisa menolak, memang dia sedang lapar saat ini.
"Kamu duduk di situ, sayang. Kamu nunggu aku di situ ya," Altha menunjuk sebuah bangku kecil yang ada di dekatnya.
Seza mengangguk, dia langsung duduk di atas bangku itu sambil melihat Altha yang mulai memasak.
"Memangnya kamu bisa masak apa?" tanya Seza.
"Kalau demi kamu apa yang gak bisa aku lakuin sih, sayang? semua juga bisa aku lakuin demi kamu. Kamu tenang aja, ini cuma masak mie kok. Rasanya pasti enak, dibuat pakai cinta soalnya." Altha sibuk memotong bawang.
Seza tertawa pelan. "Kamu ya, apa-apa dibawa ke gombalan. Dasar ihh buaya."
"Buayanya sama kamu doang, aku gombal cuma sama kamu doang. Sama yang lain aku gak tertarik," balas Altha.
"Yaudah deh, fokus masak dulu. Nanti malah kenapa-kenapa lagi gara-gara sambil ngobrol," ujar Seza.
"Kenapa-kenapa gimana? emang bisa kenapa-kenapa? gas meledak gitu? kompor meletup gitu kalau aku ngobrol?" tanya Altha.
"Iih uda deh, jangan terus-terusan gitu, kamu mah mojokin aku aja bisanya," Seza kesal sendiri melihat Altha.
"Iya-iya, uda jangan ngambek, awas aja kalau ngambek kaya tadi, aku goreng kamu nanti," ancam Altha bercanda.
Sekitar 20 menit Altha dan Seza menyiapkan masakan mereka. Bukan Altha dan Seza, tapi Altha saja lebih tepatnya.
"Nahh uda selesai. Ini untuk kita berdua, kita sepiring berdua aja ya, biar sweet. Aku mau dong disiapin kamu nanti," Altha tersenyum senang melihat piring yang sudah berisi mie itu.
"Loh, kalau kita sepiring berdua, ini untuk siapa, dong?" tanya Seza bingung.
"Untuk si Danu, sebagai permintaan maaf aku karena uda mukul dia tadi," jawab Altha.
"Oohh ... jadi kamu yang mukul duluan? dia mukul kamu gak?" tanya Seza kesal.
"Enggak,"
"Nah kan, itu tuh. Kamu mahh ih ngeselin. Kenapa Danu aja yang ngeselin bisa ngontrol emosi? kenapa kamu malah mukul dia? ihh kamu ini aneh deh. Kamu ketua acara loh. Kamu menghimbau supaya jangan ada keributan di sini. Tapi kamu sendiri gimana? malah kamu yang ngajak Danu ribut, kamu yang mulai. Untung aja Danu gak kepancing. Kalau Danu kepancing gimana coba? bahaya banget tau. Bisa rusak reputasi kamu, bisa heboh ini semua peserta, bisa kena sidang kamu sama dosen," Seza mengomeli Altha.
Altha menghela nafasnya, yang dikatakan Seza memang ada benarnya.
"Maaf, sayang. Tadi aku kebawa emosi. Dianya jelek-jelekin sayang, aku gak suka. Ditambah lagi akunya lagi panik nyari kamu yang tiba-tiba ilang, maaf ya, sayang," Altha kembali memintanya maaf pada Seza.
"Bukan sama aku minta maaf, sama si Danu sana. Ayo kita samperin dia. Uda kaya orang gila dia bengong sendirian di pintu tenda. Uda kaya orang gak punya gairah hidup. Kasian banget, tuh pasti dia galau gara-gara kamu tuh. Uda ayo kita samperin. Kamu bawa piring dia, aku bawa piring kita," perintah Seza cerewet.
Seza dan Altha berjalan mendekati Danu dengan piring yang mereka bawa masing-masing.
"Hati-hati, jangan sampai kesandung. Kalau kesandung bisa abis ini mienya tumpah, gak jadi makan kita." Seza memperingatkan Altha yang membawa piring tidak benar, kuah di dalam mienya tumpah sedikit-sedikit.
"Iya, sayang, aku juga tau lah. Uda deh ayo buruan biar cepat sampai, keburu tumpah nih mienya." Altha melihat mienya yang sudah sekarat.
Altha dan Seza berjalan dengan hati-hati, sampai pada akhirnya mereka sampai ke tempat Danu duduk.
"Nihh," Altha menyodorkan sepiring mie pada Danu.
Danu menaikkan sebelah alisnya. "Apa?" tanyanya bingung.
"Ini hasil masakan gue. Khusus gue masak buat lo, gue tau kalau lo itu suka rakus kalau malam, sekali makan doang sebelum Maghrib tadi mana nendang buat lo. Nih makan, sekaligus sebagai permintaan gue karena uda nonjok lo tadi. Maaf ya, gue kebawa emosi. Abisnya lo ngeselin sih." Altha meminta maaf pada Danu.
"Lo minta maaf apa mau ngata-ngatain gue hah?" tanya Danu tak terima.
"Lo minta maaf tapi lo ngatain gue juga. Gak usah minta maaf kalau gitu," ujar Danu kesal.
"Apaan sih, lo? kenapa lo marah-marah sama gue? lo lagi pms ya? marah-marah aja dari tadi. Kan gue uda minta maaf. Nihh ambil ini makanannya. Gak usah sok jual mahal deh. Gue tau lo lagi laper. Uda makan buruan," Altha menyodor-nyodorkan piring itu pada Danu.
Dengan wajah kesal Danu langsung mengambilnya.
"Uda, sana-sana pergi. Gue mau makan sendiri. Pasti kalian mau makan sepiring berdua kan? mau suap-suapan kan? ahh gak mau gue liatnya. Gak mau gue jadi nyamuk di antara kalian. Hussh hushh ... sana pergi!" Danu langsung mengusir Altha dan Seza dari hadapannya.
"Lo ngusir gue?" tanya Altha.
"Wah emang gak punya akhlak ya lo, uda gue masakin tapi malah ngusir gue, bukannya terimakasih malah ngusir pula. Dasar temen gak tau diri!" Altha langsung marah-marah pada Danu.
"Ya gue gak suka liat kalian mesra-mesraan. Gak suka gue, gue aja jomblo, masa gue jadi nyamuk orang romantis-romantisan. Gak terima gue, gak mau. Uda sana pergi, malas gue liat kalian suap-suapan," Danu tak peduli, dia malah mengusir Altha dan Seza kembali.
"Wahhh ... emang kebangetan ya, lo. Dasar teman bangs-"
"Sttt ...." Seza menutup mulut Altha dengan satu tangannya, karena tangan yang lain sedang memegang piring.
"Kamu kenapa sih, Fandra? kok kamu emosian aja bawaanya? uda ayo pergi. Kalau Danu mau sendiri ya biarin aja, dia juga kasian kalau kita dua-duaan dianya cuma jadi penonton. Uda yuk, gabung sama teman-teman yang di sana aja," ajak Seza pada Altha.
"Ya kan aku kasian liat dia sendirian, sayang. Aku gak mau lah kalau dia kayak orang gila duduk sendirian di sini. Kan aku teman dia, kayak gak punya teman aja dia gitu. Ngeselin banget dia," adu Altha bak anak-anak yang tidak terima.
"Ya guenya lagi gak mood jadi nyamuk. Mendingan lo sana deh, pergi sana kalau mau dua-duan. Gue beneran gak mood jadi nyamuk, uda sana pergi," usir Danu kesal.
"Uda yuk, Fandra, pergi aja. Kalau Danu gak mau ditemenin ya udah kali, mungkin dia lagi gak mood aja. Uda yuk sana, kita ke tempat mereka aja," ajak Seza tak sabaran. Altha benar-benar keras kepala.
"Yaudah, iya, ayo ke sana. Biarin aja dia sendiri gak ada temen," Altha mendengus kesal di akhir ucapannya. Lalu dia langsung mengambil alih piring yang Seza bawa. Altha dan Seza langsung pergi menuju teman-teman Seza yang sedang berkumpul di dekat pagar pembatas tenda. Mereka sedang main gitar dan bernyanyi bersama-sama. Ada juga yang sedang main ludo dan truth or dare.
"Hallo, guys. Seza si bidadari cantik dan kece badai datang kembali ke permukaan bumi ini." Seza naik ke atas tikar.
Semua orang langsung berhenti dari kegiatan mereka saat Seza dan Altha datang.
"Lo gak malu, Tha, punya cewek modelan beginian? pedenya uda tingkat langit ke tujuh gitu," ujar Mila meledek Seza.
Altha tertawa. "Enggak ah, gue malah makin sayang kalau dia gitu. Buat hidup gue bahagia, gak monoton," jawab Altha jujur.
"Halah uda lah, mulai Abang dan kakak bucin kita ini. Untung kita rame, jadi nyamuk rame-rame, kalau sendirian jadi nyamuk pasti apes bener dah," celetuk Bima tiba-tiba.
"Ahh uda lah berisik lo! lanjut aja ngamen sana. Jangan buat nafsu makan gue ilanh denger suara lo dah," Seza langsung melotot pada Bima. Entah mengapa Seza dan Bima selalu bertengkar jika bersama. Mereka memang seperti itu sejak dulu.
"Uda ahh, sayang. Ini makan dulu, jangan kebanyakan cerewet. Jangan banyak omong, nanti anginnya masuk dari mulut kamu. Jadi masuk angin deh nanti," peringat Altha ngawur.
Altha langsung menyuapi Seza.
"Enggak liat gue, gak liat," teriak Aldo kencang.
"Duhh uda kayak nonton drakor di reality aja hahaha," Mila tertawa kencang.
"Katanya kamu mau aku suapin, yaudah sini aku suapin." Seza merebut piring dari tangan Altha.
"Iih pelan-pelan dong, sayang. Kamu gimana sih, gak hati-hati. Kalau tumpah gak jadi makan kita," tegur Altha memperingatkan.
"Ya kamu masak lagi lah, masa iya kamu tega biarin aku kelaparan malam-malam," balas Seza seenaknya.
"Nihh aaaaak," Seza menyodorkan sesuap mie ke mulut Altha. Lalu Altha langsung melahapnya.
"Makin enak kalau dari tangan kamu, rasanya penuh cinta," Altha menggombali Seza.
"Ooopp oppp ... mulai dah mulai ... apa lah daya daku yang LDR ini?"
"Apa lah daya daku yang jomblo ini?"
"Apa lah daya daku yang tak punya pacar ini?"
"Ahhh aku suka ini, jadi buat hati ikut jedag-jedug,"
"Boleh kah aku menggantikan posisi mu?"
Berbagai komentar-komentar teman-teman Seza terdengar jelas di telinga Altha dan Seza. Mereka langsung histeris saat Altha menggombali Seza. Padahal mereka juga bisa cuek dan memilih tak dengar dengan Altha dan Seza. Tapi yahhh ... begitulah yang namanya teman. Sangat suka bila mengejek temannya sendiri. Seperti yang teman-teman Seza lakukan saat ini.
"Hayy para kaum jomblo ... bisakah mulut kalian tidak lemes seperti mulut Danu?" tanya Seza berlogat seperti ratu yang sedang bicara pada rakyatnya pada drama kolosal.
"Wahaii Seza bin Eza, mengapa kau marah? apa yang kami katakan itu salah?" tanya Aldo balik.
"Wahai Aldo bin Ludo, kenapa mulut kau sangat licin seperti sabun pencuci piring?" tanya Seza tak mau kalah.
"Ku peringatkan kembali pada kaum jomblo, dan kamu LDR yang ada di sini. Nikmatilah kemanisan hubungan ku dengan pangeran ku. Kalian harus ikut baper bersama kami berdua, ha ha haha ...," Seza tertawa di akhir ucapannya.
"Jika aku baper, boleh kah aku meminjam pangeran Altha dan menyuruhnya bertanggung jawab?" tanya Mila tiba-tiba.
"Hehh!!! enak aja lo! gak boleh lah!!! kalau berani mau jadi pelakor, bakalan gue remes-remes mulut lo. Enak aja, pacar gue ini!" Seza memeluk lengan Altha kuat.
"Aku juga gak bakalan berpaling dari kamu kok, sayang. Uda tenang aja deh, itu si Mila cuma godain kamu aja kok, iya kan, Mil?" tanya Altha pada Mila.
Mila menyengir, "Kalau lo mau sama gue juga gue jabanin kok, Tha," balasnya malu-malu.
"Heh!! gue cincang ya lo!! wahh berani bener lo sama gu-"
"Sttt ... uda, sayang. Jangan berisik ah, ini kamu marah-marah aja, mienya ngembangin loh. Aku laper tau. Suapin aku deh," Altha membekap mulut Seza. Membawa Seza mendekat ke sampingnya dan meminta Seza untuk menyuapi dirinya.
"Itu dia, dia mau ambil kamu dari aku," tunjuk Seza pada Mila.
"Dia cuma bercanda, sayang. Kalau beneran juga aku gak mau sama dia kok. Uda kamu tenang aja. Suapin aku cepat, aku lapar," pinta Altha mengalihkan pembicaraan.
Seza menatap Mila tajam, lalu kemudian dia menjulurkan lidah pada Mila. "Wleee," ejek Seza pada Mila.
"Hahahahaa ...." Semua orang tertawa melihat tingkah lucu Seza, begitu juga dengan Altha. Altha langsung mengacak-acak rambut Seza gemas.