Altha menyeka keringat di dahinya. Pikirannya sedang kacau saat ini, emosinya sedang tak terkontrol. Mungkin karena efek kelelahan, jadi Altha lebih mudah terpancing emosi.
"Kamu di mana sih, Seza? ada-ada aja. Kan uda dibilang jangan ke mana-mana tanpa bilang-bilang. Ini malah ngilang gini. Gimana sih, pusing aku nyarinya." Altha berjalan menyusuri tenda-tenda yang berjejer dengan rapih. Sapaan demi sapaan dia dapatkan, Altha hanya membalasnya dengan senyum singkat. Tawaran mampir dan tawaran makan banyak Altha dapatkan, tapi saat ini dia tak bisa duduk tenang bila tidak bisa bertemu dengan Seza.
"Seza, di mana sih kamu? ini udah malam, kamu malah keluar sendirian. Ini hutan loh, bukan lapangan bola. Astaga, pusing aku cari kamu." Altha menggerutu, matanya tak henti mencari-cari keberadaan Seza.
"Ini uda ujung banget, tapi Seza belum juga ketemu. Di mana sih Seza? ini uda penghabisan tenda loh." Altha berhenti, memijat dahinya yang sedang pusing.
"Kalau ada apa-apa sama kamu aku gak bakalan bisa maafin diri aku sendiri. Aku yang maksa kamu buat ikut acara ini. Aku juga yang salah gak ada liatin kamu dari tadi. Kamu pasti ngerasa sepi, gak ada aku, Aqila juga lagi sakit. Duduk sama Danu tadi pasti kamu kesel, Danu kan suka ngeselin kalau sama kamu. Kamu pasti lagi ngerasa sendirian kan saat ini." Altha bicara sendiri, ada sedikit rasa putus asa saat belum juga menemukan Seza.
Altha mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mencari-cari keberadaan Seza.
Mata Altha menyipit saat melihat seperti ada seseorang yang sedang duduk di bawah pohon rindang penuh lampu yang sudah Altha hias sedemikian rupa.
"Itu apa? manusia atau binatang?" tanya Altha pada dirinya sendiri.
"Ah gue samperin aja dulu. Siapa tau binatang buas, kan bahaya." Altha berjalan mendekati pohon rindang itu.
Matanya mengerjap beberapa kali saat melihat ternyata yang sedang duduk di bawah pohon itu adalah seorang manusia.
"Itu Seza kan? iya gue gak salah kan? gue tanda banget itu dia." Altha langsung berjalan cepat mendekati Seza.
Tanpa aba-aba Altha langsung memeluk Seza dari belakang.
Altha menghela nafasnya lega. Hati dan pikirannya sudah merasa tenang saat menemukan Seza.
Seza sendiri langsung terkejut saat tiba-tiba ada seseorang yang memeluk dari belakang.
Seza langsung menoleh, melihat siapa yang sudah berani memeluknya tanpa izin.
Seza menaikkan sebelah alisnya. "Fandra?" tanyanya sedikit terkejut.
Altha memeluk Seza erat, meletakkan kepalanya di atas bahu Seza. Melepaskan rasa lelah, emosi dan khawatirnya. Melihat Seza membuatnya tenang. Memeluk Seza bisa melepaskan semua penatnya.
"Kamu kok ada di sini sih?" tanya Seza bingung.
Altha diam. Dia memejamkan matanya sejenak.
Lelah. Itulah yang ia rasakan saat ini. Tapi Altha tak bisa mengeluh, memang ini tanggung jawab dan resiko dirinya sebagai seorang ketua acara sekaligus seorang Presma.
"Kok diam sih? aku nanya loh. Kamu kok ada di sini? katanya kamu ada rapat sama dosen," tanya Seza sekali lagi.
"5 menit aja. Aku mau meluk kamu 5 menit aja. Biar power aku bertambah. Aku lagi low banget, kalau dipeluk kamu aku bisa semangat lagi. Aku tenang kalau ada kamu," ujar Altha lirih.
Seza diam. Dia mulai mengelus lembut puncak kepala Altha yang bersandar di pundaknya.
"Makasih uda ke sini, aku juga ngerasa lebih baik saat ada kamu," ucap Seza dengan senyum manisnya.
Seza dan Altha diam dalam pelukan mereka. Menikmati tenangnya berada di pelukan masing-masing. Menikmati indahnya taburan bintang dan bulan yang bersinar terang di atas langit. Semilir angin sepoi-sepoi menambah kesan indah dan damai.
Sekitar 5 menit lebih mereka menghabiskan waktu mereka dengan diam dan menikmati saluran ketenangan dari pelukan mereka masing-masing.
Angin malam yang mulai menusuk tulang menyadarkan Altha bahwa saat ini Seza sedang kedinginan.
"Kamu kedinginan? ayo kita kembali ke tenda," ajak Altha pada Seza.
"Yaudah ayo, kamu pasti mau balik lagi mantau ya? yaudah ayo deh. Aku mau tidur aja," balas Seza pasrah.
Altha tersenyum geram, dia meyentil pelan ujung hidung mancung Seza.
"Kamu kesepian ya gak ada aku?" tanya Altha menggoda.
"Aku gak balik lagi kok. Uda selesai, semuanya uda oke dan uda aman. Ini waktunya santai. Ayo, kita seru-seruan bareng yang lain," ajak Altha pada Seza. Altha menarik tangan Seza, membawa Seza kembali ke tenda.
"Kamu kenapa gak makan?" tanya Altha.
"Aku gak mau makan, aku mau makan sama kamu. Jadi yaudah, aku nunggu kamu datang deh," jawab Seza seadanya.
Altha menghela nafasnya kasar, sedikit merasa bersalah karena dirinya sudah makan bersama panitia lain tanpa memikirkan Seza.
"Maaf ya, sayang. Yaudah nanti kita makan bareng ya." Altha mengelus puncak kepala Seza lembut.
"Iih kamu ih, males ah aku. Kamu suka banget acak-acak rambut aku. Jadi berantakan tau," Seza cemberut, memajukan bibirnya beberapa centimeter.
"Mana ada aku acak-acakin rambut kamu. Aku tuh elus-elus kepala kamu tau. Iih gimana sih kamu?" Altha tak terima disalahkan Seza.
"Kalau ngacak-ngacak rambut tuh begini." Altha langsung mengacak-acak rambut Seza.
Seza langsung melotot, "Fandra!!! kamu apaan sih? ini rambut aku jadi kusut ihh! Fandra!! gak mau deh aku, ngambek deh aku. Ahh malas ahh," Seza melipat kedua tangannya di d**a. Wajahnya ditekuk kusut.
Altha tertawa geli. "Hahaha ... mood banget deh liat kamu gini. Jelek, tapi lucu. Hahaha ...," Altha tertawa gembira.
Seza semakin ngambek, dia langsung berjalan cepat. Meninggalkan Altha sendirian di belakang.
"Eh ehh, sayang, tunggu!! kok aku malah ditinggal sih?" Altha langsung mengejar Seza.
"Ya ampun, padahal kan aku bercanda. Masa gitu aja langsung ngambek sih. Tungguin aku, sayang!! jangan pergi dulu, tunggu, sayang!" Altha mengejar Seza sambil berteriak supaya menunggunya.
Semua orang yang sedang berkumpul di depan tenda masing-masing langsung melihat ke arah Seza dan Altha.
"Happ ... dapat ...." Altha menarik tangan Seza.
"Iih lepasin! aku malas, gak mau sama kamu. Aku mau sendiri aja, uda sana pergi! jangan pegang-pegang!" Seza berusaha melepaskan tangannya yang ada di genggaman Altha.
Altha dan Seza saat ini sedang menjadi pusat perhatian semua orang. Orang-orang melihat Seza dan Altha seperti sedang menonton drama.
"Ya ampun, aku cuma bercanda, sayang. Mana mungkin lah Seza Sazkia Mada jelek, kamu ileran juga masih tetap cantik kok." Altha berusaha memuji Seza supaya Seza tak ngambek lagi.
Seza diam, dia membuang pandang ke arah lain.
"Sini aku benerin rambutnya." Altha menarik Seza supaya menghadapnya. Lalu Altha langsung membenarkan rambut Seza. Merapikan kembali rambut Seza yang sudah dia acak-acak tadi.
Seza melihat wajah Altha yang sedang serius merapikan rambutnya.
"Ya Allah, tampan banget sih kamu, Altha. Semakin dekat aku sama kamu, semakin jatuh cinta aku sama kamu," ucap Seza dalam hati.
"Astaga ... meleleh gue liatnya. Uda dehh ah, buat gue baper aja."
"Apa lah daya jomblo?"
"Altha sweet banget sih, gue juga mau digituin tau gak,"
"Ya ampun, Seza beruntung banget punya Altha."
"Mendingan gue ke mana-mana loh dari pada Altha. Mendingan sama gue,"
"Si neng Seza mukanya pengen di gigit, di bawa pulang,"
"Ahh Altha, ketampanan dan keromantisan mu melelehkan ku,"
Begitulah kira-kira komentar orang-orang yang menyaksikan drama Seza dan Altha saat ini.
Altha tersenyum lebar saat dirinya sudah selesai merapihkan rambut Seza.
"Nahh uda selesai, uda cantik lagi," ujar Altha gembira.
"Jangan ngambek lagi ya, sayang," Altha mencubit pelan hidung mancung Seza.
Seza ikut tersenyum senang. Diperlakukan seperti ini benar-benar membuat hatinya berbunga-bunga.
"Ayo kita balik ke tenda." Altha menggenggam tangan Seza erat. Lalu membawa Seza pergi menuju tenda mereka.
"Ahhhh ... asupan apa ini? berbahaya, buat gue pengen cari pacar aja,"
"Malam-malam dapat asupan romantis dari couple goals, buat gue jadi baper dan jedag jedug aja. Ahhh ... membagongkan,"
Begitulah kira-kira unek-unek yang orang-orang sampaikan saat Altha dan Seza sudah pergi dari tempat itu.