"Seza, sini!! kita makan bareng. Danu, sini! kita makan bareng," ajak Bima pada Danu dan Seza.
"Gue gak laper, Bim. Entar aja kalau laper gue makan. Gue tadi baru aja makan roti," jawab Seza berbohong.
"Gue uda makan, Bim. Btw makasih uda nawari gue, tapi sorry banget gue uda makan bareng panitia. Besok deh gue makan bareng kalian," jawab Danu sejujurnya.
"Oke deh kalau gitu," balas Bima. Dia masih kembali melanjutkan makannya.
Mereka makan bersama, duduk melingkar dengan nasi, sayur dan lauk pauk yang ada di tengah-tengah.
Danu berdiri, lalu berjalan ke luar area tenda.
"Lo mau ke mana?" tanya Seza pada Danu.
"Mau ke toilet," jawab Danu seadanya. Dia langsung berjalan cepat menuju toilet.
Seza melihat ke arah depan. Semua orang sedang sibuk makan, dia sendirian tidak ada teman bicara.
"Pergi juga deh gue, liat-liat ke sana. Gue dari tadi cuma di sini doang. Gak berkembang biak banget. Pengen liat anak jurusan lain gue. Ke sana bentar ah." Seza berdiri, dia berjalan dari belakang tenda. Menyusuri jalanan kecil sampai pada akhirnya tembus ke jalan besar yang entah berada di tenda jurusan mana.
"Wahh di sini enak banget ya, mereka uda selesai makan tuh. Uda main-main gitar. Lah di kelompok gue masih baru makan, malah sunyi, sepi, senyap kek kuburan lagi." Seza melihat ke arah tenda yang para pesertanya sedang tertawa bahagia, tentu saja dengan panitia pendamping mereka.
Seza kembali berjalan ke depan. "Aishh ... ngapain dah mata gue ngeliat ke situ? liat orang pacaran. Arghh ... males banget gue dah. Gak enak bener, jadi ngiri gue. Boro-boro buat pacaran, ngeliat batang idungnya Fandra aja enggak guenya." Altha menghela nafasnya kasar.
"Ehh itu apaan? kenapa pohonnya ada lampu-lampu gitu? cantik bener, uda kayak pohon yang ada di kafe-kafe gitu. Siapa nih yang ngehias? keren ihh. Gak ngebosenin jadinya kalau liat ginian. Bisa jadi tempat foto-foto juga. Ada spanduk besar camping juga tuh." Seza melihat ke arah pohon yang lebat, di daun-daun dan rantingnya terpasang lampu-lampu yang terkesan indah dan menarik. Lalu di depan pohon itu ada spanduk bertuliskan Camping Peduli Lingkungan Universitas Nusantara.
"Di situ aja deh gue, bentar lagi baru balik. Dari pada gue kesepian." Seza berjalan menuju pohon itu. Lalu dia duduk di bawahnya. Melihat ke arah langit, menatap bintang-bintang yang bertabur indah di atas sana.
"Langit aja rame, bintang banyak, bulannya juga bersinar terang banget. Masa iya gue murung cuma gara-gara gak disamperin Fandra dari tadi. Ahh gak main banget sih lo, Seza, gitu aja masa galau." Seza mengejek dirinya sendiri.
Di sisi lain, Altha sedang berjalan menuju tenda kelompok Seza.
"Ehh pak ketua, makan bareng yuk pak ketua," ajak Bima yang melihat Altha masuk ke area tenda mereka.
"Terimakasih, tapi gue uda makan kok," jawab Altha dengan senyum ramahnya.
"Gimana? kalian uda diabsen sama Danu kan?" tanya Altha.
"Uda kok, uda beres semua," jawab Bima dan teman-temannya yang lain.
"Semuanya lengkap?" tanya Altha lagi.
"Lengkap, pak ketua," jawab Bima.
Altha mengedarkan pandangannya, melihat satu-satu peserta yang sedang makan. Tapi yang ia cari tidak ia dapatkan.
"Seza mana?" tanya Altha pada teman-teman Seza.
"Seza sama Danu di depan tenda," jawab Bima.
"Loh, kenapa Seza gak ikut makan?" tanya Altha lagi.
"Gak mau dia, pak Ketu, tadi katanya dia uda kenyang, uda makan roti juga, padahal tadi uda diajak makan bareng," jelas Bima.
"Apa sih Seza ini? ngapain gak makan coba, entar kalau dia sakit gimana? suka banget buat gue khawatir," batin Altha dalam hati.
"Yaudah selamat makan, gue ke Danu dulu ya." Altha pamit, lalu dia berjalan menuju tenda, menghampiri Danu.
"Mana Seza?" tanya Altha langsung.
Danu menaikkan sebelah alisnya bingung. "Ya mana gue tau, kan dia cewek lo, ngapai lo nanya ke gue. Aneh," jawab Danu kesal.
"Kata mereka dia sama lo. Mana? lo kok sendirian aja di sini?" tanya Altha lagi.
"Ya emang tadi dia di sini. Tapi gue pergi tadi ke toilet. Gue balik dia uda gak ada lagi di sini," jawab Danu menjelaskan.
Altha langsung menatap Danu tajam.
"Heh!! ngapain lo natap gue gitu? ngajak gelut ya lo?" tanya Danu menantang.
"Pacar juga pacar lo, pacar lo ilang kok gue yang disalahin. Nohh jaga sendiri pacar lo. Makanya gak usah punya pacar, ribet, kayak jaga anak aja." Danu malah mengomeli Altha.
"Ya fungsinya lo sebagai panitia pendamping apa? masa lo gak bisa jaga anggota lo sih? Seza itu peserta di sini, salah satu peserta yang lo dampingi. Jadi lo bertanggung jawab atas dia. Gue tau gue rekan lo. Tapi lo paham la seberapa sibuknya gue. Gue mesti ngurusin dosen, peserta, panitia, semuanya gue yang ngurusin. Ini itu, gue yang ngurusin. Gue sibuk, jarang ada waktu leha-leha. Masa ngurusin yang segini aja lo gak bisa sih?" Altha marah-marah pada Danu.
Danu mengernyitkan dahinya. "Dasar sinting!! ngapain lo marah-marah sama gue?! sana cari cewek lo! dari pada lo marah-marah sama gue, mendingan lo cari tuh si Seza, siapa tau saat ini dia lagi mau di mangsa harimau," ujar Danu menakut-nakuti.
Altha mengerang kesal. "Emang gak bisa ya lo, gak bisa diandalin!"
Danu berdiri, menatap tajam ke arah Altha.
"Lo ngapai nyalahin gue? gue uda ngelakuin tugas gue. Cuma gara-gara sebiji doang manusia yang ngilang lo ngajak gue ribut? belum tentu kalau si Bima yang ngilang lo bakalan sekhawatir ini. Karena Seza yang ilang kan makanya lo hebohnya gak ketulungan gini." Danu balik marah-marah ke Altha.
"Jangan ngajak ribut ya lo. Gue capek! gak usah nyari gara-gara," balas Altha geram.
"Lahh yang nyari gara-gara duluan siapa, hah? yang nyari ribut duluan siapa? elo kan? lo yang heboh marah-marah ke gue hanya karena cewe lo yang ilang. Ya makanya urusi tuh cewek lo yang gak bisa diem. Uda ikat aja, kalau perlu pulangkan ke rumah biar gak buat susah!"
Bughh!!
Altha langsung memukul tepat di wajah Danu.
Danu tersenyum miring. "Ck, lo pukul gue karena cewek lo? lo nyalahin gue? lo bilang-bilang capek ke gue, lah lo pikir lo aja yang capek, gue enggak gitu?" tanya Danu menantang.
Semua peserta kelompok Seza yang baru saja selesai makan langsung menatap bingung ke arah Danu dan Altha.
"Siapa juga yang nyuruh lo jadi ketua acara, hah? uda sana pulang aja lo! ajak cewek lo yang petakilan itu. Dasar gila! marah-marah sendiri, setres ya lo!" maki Danu kesal.
Altha menatap tajam ke arah Danu. Lalu kemudian dia langsung melenggang pergi meninggalkan Danu.
"Ck, anjingg!" umpat Danu pelan.
"Kenapa sih mereka? kok bisa ribut gitu?" tanya Bima bisik-bisik.
"Ya mana tau gue, kita juga sama-sama di sini kan," jawab Aldo, teman Bima.
"Ahh udah lah, gak usah ikut campur. Entar jadi kena apesnya. Pura-pura gak dengar plus gak liat aja. Dari pada ikut campur berujung apes," ujar Mila, salah satu teman Seza.