Danu berjalan menuju tenda kelompok Aqila dan Seza, sendirian. Sejujurnya Danu malas dan ogah-ogahan, dia lagi dalam mode mengantuk berat. Tapi mau bagaimana lagi, ini sudah menjadi tanggung jawabnya.
Danu melihat ke arah tenda kelompok lain yang ia lewati, para peserta sedang tertawa bersama para panitia yang bertanggung jawab atas mereka.
"Huftt ... Kok mereka enak banget sih, tuh ada pasangannya. Mau ngomong gak garing, mau ngelawak juga oke. Lah gue? single, sendiri, ahhh ... jomblo ditinggal Altha. Males ahh," Danu mengeluh lesu.
Danu masuk ke area tenda kelompok Seza.
"Hallo, selamat malam," sapanya lemas.
Sontak tatapan semua orang langsung tertuju pada Danu.
"Malam," jawab sebagai orang.
"Gimana? aman gak kalian? ada hambatan atau kesulitan? ada yang tengkar-tengkar gak? jambak-jambakan? atau cakar-cakaran?" tanya Danu.
Semua orang sontak tertawa mendengar pertanyaan Danu.
Danu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Lahh kenapa pada ketawa? emangnya ada yang salah?" tanya Danu bingung.
"Enggak, gak ada yang salah kok," jawab Bima cepat.
"Kalian uda makan belum?" tanya Danu lagi.
"Belum, itu tuh nasinya belum matang, palingan 3 menit lagi matang," tunjuk Seza pada dandang nasi yang masih berdiri di atas api kompor.
"Oke, kalau begitu kita absen dulu ya. Semuanya mohon berbaris dengan rapih." Danu mulai mengeluarkan ponselnya, masuk ke dalam aplikasi tempat mengabsen yang sudah mereka sepakati. Di aplikasi itu, nama-nama peserta yang ikut, kelas, jurusan dan fakultas apa sudah lengkap. Hanya tinggal mengabsen dan membuat keterangan hadir atau sedang tidak hadir.
Semua orang berbaris dengan rapih, lalu Danu memanggil nama mereka satu persatu.
Sekitar 5 menit lebih Danu menghabiskan waktunya untuk mengabsen para peserta.
"Seza,"
"Hadir,"
"Aqila,"
Hening.
Danu melihat ke barisan, mencari-cari keberadaan Aqila.
"Mana si cewek jadi-jadian? ehhh maksudnya gue si Aqila? kok gak ada?" tanya Danu bingung.
"Noh molor di tenda," jawab Bima cepat.
Danu menghela nafasnya lega. Akhirnya semua sudah lengkap, jadi dia tidak ada kerjaan tambahan untuk mencari-cari peserta yang tak nampak batang hidungnya.
"Oke, semuanya uda lengkap. Serangan saya ingin menyampaikan beberapa hal yang tadi sudah disampaikan oleh ketua kita. Beliau menghimbau untuk para panitia meneruskan apa yang ia sampaikan," ujar Danu memulai.
"Baiklah, tidak usah panjang lebar, jadi adanya saya di sini tentu saja dan sudah pasti untuk mengabsen kalian, untuk memantau kalian dan untuk mengamankan kalian. Ada beberapa hal penting yang harus kalian ketahui, dan kalian pahami."
"Yang pertama, dihimbau pada seluruh peserta untuk tidak berbuat m***m. Untuk para peserta yang punya pacar, yang pasang-pasangan, tolong jaga sikap. Jangan berbuat m***m di acara ini. Jika sampai tertangkap basah, maka kalian akan langsung disidang oleh ketua dan dosen, sanksinya kalian bisa langsung di DO dari kampus. Jangan ada yang menyeleweng, laki-laki tidur di tenda laki-laki, perempuan tidur di tenda perempuan. Jangan belok, jangan aneh-aneh, jangan ada laki-laki yang tidur bareng perempuan. Itu namanya menyeleweng, tolong sangat-sangat dihindari. Mengerti semua?" tanya Danu serius.
"Mengerti," jawab mereka dengan kompak.
"Kita camping di dalam hutan. Percaya tidak percaya kita hidup berdampingan dengan makhluk lain, binatang, tumbuhan atau bahkan makhluk tak kasat mata. Jadi untuk para peserta diharapkan bisa jaga sikap, ucapan dan perilaku. Mohon jangan merusak alam, jaga kebersihan, jangan ngomong yang aneh-aneh, yang kotor-kotor dan yang gak pantas untuk diucapkan. Mohon hargai apa pun yang hidup berdampingan dengan kita."
"Kalian kalau mau ke mana-mana itu juga harus bilang sama teman, atau pimpinan kelompok kalian. Jika saat pengabsenan kalian tidak ada, maka ketua kelompok harus dan wajib langsung mencari kalian. Kalau tidak ketemu juga, maka panitia pembimbing, dan ketua acara harus turun tangan. Selanjutnya jika masih menghilang, dosen yang harus turun tangan. Jadi kalian kalau misalnya mau ke mana-mana, mohon pamit ke salah satu teman kalian, biar semua orang gak panik mencari-cari. Mengerti kan, para peserta?" tanya Danu lagi.
"Mengerti," jawab para peserta lemas. Mereka sudah lelah berdiri.
"Dan yang terakhir, malam ini itu malam bebas, tidak ada kegiatan apa pun, dikarenakan semua peserta pasti masih lelah habis berberes tenda dan lain-lainnya. Tapi jika ada yang mau bernyanyi, stand up komedi, dance, atau acara menghibur apa pun itu, di persilahkan dengan senang hati. Kalian bisa ke tribun dan tampil di situ. Kalau gak ada yang nonton, ajak aja dulu teman-teman sekelompok. Kalau sudah tampil kan lama-lama banyak yang nonton. Jadi boleh ya kalian tampil di sana, tapi tidak dipaksa," jelas Danu secara detail.
"Yang wajib dan harus kalian lakukan, yaitu makan. Kalian harus wajib makan, jangan sampai ada yang sakit karena tidak makan. Kalian pergi ke acara ini dengan keadaan sehat, maka kalian pulang juga harus dalam keadaan sehat."
"Oke, cukup segitu saja himbauan saya untuk kalian. Mohon sekali untuk diingat dan diamalkan. Jika ada masalah apa-apa, kalian bisa lapor ke saya, tau ke Altha. Kalian sangat-sangat bersyukur seharusnya, kalian bisa mendapatkan panitia pembimbing yang statusnya seorang ketua panita. Jadi jika apa pun masalah kalian, ketua acara langsung turun tangan. Walaupun ketua belum ke sini juga, tapi nanti dia pasti ke sini. Ketua sedang sibuk berdiskusi dengan dosen. Setelah selesai, dia pasti ke sini untuk memantau kalian semua. Jadi kalian harus baik-baik, jangan sampai ada tingkah yang aneh, yang memantau kalian itu ketua, ketua acara. Kalau ada apa-apa, bisa-bisa kalian langsung kena sanksi sama dia." Danu mengingatkan para peserta.
"Oke, baiklah, sepertinya cukup ya. Setelah saya bubarkan, kalian bisa langsung makan malam. Semuanya harus wajib makan, saya pantau. Sekian himbauan dari saya, terimakasih atas perhatiannya, selamat malam."
"Selamat malam," jawab para peserta.
"Oke, kalian bisa bubar sekarang, selamat makan," ucap Altha dengan senyum paksanya.
Semua peserta mulai menyiapkan makan malam mereka, sedangkan Danu, dia duduk di depan tenda. Melihat kegiatan mereka dengan seksama.
"Woy," Seza datang ke samping Danu.
"Ngapa lo di sini? sana makan," perintah Danu.
Seza menggeleng cepat. "Enggak ah, gak mau gue. Gue nanti aja makannya," jawab Seza menolak.
"Wah jangan ngadi-ngadi lo ya. Bisa-bisa marah nanti si Altha. Uda sana makan, lo mau si Altha ngamuk?" tanya Danu kesal.
"Enggak! gak mau gue. Gue mau makan bareng sama Altha. Gue gak mau makan sekarang. Nanti gue juga makan kok. Tapi nanti. Ya kali gue gak makan, rugi lah, bawa beras, sayur dan ikan, tapi gak ikut makannya. Bodoh itu namanya mah." Seza mendudukkan dirinya di samping Danu.
"Serah lo deh. Kalau Altha marah gue tunjuk elo, pokoknya lo yang ngeyel," ucap Danu pasrah.
"Siappp!! gak mungkin juga Altha marah ke gue," balas Seza senyum-senyum. Dia tak sabar menunggu Altha datang.