Gosipin Danu dan Aqila

1141 Kata
Danu dan Aqila makan bersama, Danu menyuapi Aqila dan dirinya bergantian. "Uhukk uhukk ...," Danu keselek. "Heh minum! mati keselek nanti lo," "Gak minum, gue lupa bawa minum, uhukk uhukk ...," Danu batuk-batuk. "Ini minum aja teh manis gue. Nih minum, dari pada mati entar gimana." Aqila langsung memberikan teh manis hangatnya pada Danu. Danu mengambil teh manisnya, lalu dia langsung meminum dengan cepat supaya tidak tersedak lagi. "Makanya, jangan rakus jadi orang, jangan pelit. Gitu lah akibatnya jadi orang pelit bin medit bin rakus. Rasain, syukur aja gak mati keselek kan lo." Bukannya prihatin, Aqila malah semakin mengata-ngatai Danu. "Ihh bener-bener ya lo, cewek bar-bar. Uda berbaik hati gue ngasih lo makan, eh lo nya gak tau diri. Astaga, muntahin itu yang gue kasih! muntahin lagi! gak ridho gue ngasih tuh mie ke elo!" Danu mendesak Aqila supaya memuntahkan mie yang sudah dimakannya tadi. "Ya Allah, lo jahat banget ya. Gue lagi sakit, gak lo kasih makan. Lagian itu cuma mie, cuma mie doang lo pelitin. Emang parah ya lo jadi manusia, gak bisa kepake!" Aqila mengomeli Danu. "Uda deh!! ini nih makan lagi!! gak usah banyak omong! nih makan nih! kalau perlu abisin nih piringnya!" "Ya uda sini, dengan senang hati gue menerimanya. Sini-sini," Aqila menarik piring yang ada di tangan Danu. "Eh-eh ... enak aja lo main rebut-rebut. Gue juga mau makan kali, ini punya gue. Tolong sadar diri ya, mbaknya," Danu melirik sinis ke arah Aqila. "Gue masih laper, mau makan ... entar gue makan obat perut kosong gimana? pala gue beneran pusing ini. Sakit juga, mual juga. Tolong dong, kasih gue makan." Aqila merengek, meminta makanan pada Danu. "Ini nihh!! nihh!! nihh makan! gak usah banyak omong, makan nih!" Danu menyuapkan mie pada Aqila. Aqila tersenyum lebar, lalu dia langsung melahapnya. "Jadi berkurang deh jatah makan gue," gumam Danu pelan. Lalu Danu menyuapkan mie ke mulutnya sendiri, setelah itu dia kembali menyuapkan pada Aqila. Begitu juga seterusnya. Tak jauh dari Danu dan Aqila berada, teman-teman sekelompok Seza sedang heboh menggosip tentang mereka. "Ehh liat tuh si Danu sama Aqila. Bau-baunya ada yang mau jadian nih." Bima memandang ke arah Danu dan Aqila yang sedang suap-suapan, lebih tepatnya Danu yang menyuapi Aqila. Seza langsung menoleh, melihat apa yang Bima lihat. Bukan hanya Seza, tapi semua orang juga langsung melihat ke arah Danu dan Aqila. "Astaga, sepertinya ini camping bawa keajaiban deh. Si tom and jerry kampus kita bisa akur gini karena camping. Ingat gak kalian waktu di bus? mereka berdua sweet banget tau, uda kayak orang yang pacaran aja. Padahal mah biasanya mereka kayak tikus sama kucing, gak pernah akur." Seza geleng-geleng kepala, seperti tidak yakin dengan apa yang terjadi di depan matanya. "Kalau semalam si Aqila lagi tidur di bus, jadi mungkin dia gak sadar. Tapi sekarang si Aqila tuh melek, matanya kebuka lebar-lebar, mana mungkin dia lagi ngigo bisa nelen makanan kan?" tanya Mila memandang takjub. "Wahh salah satu keajaiban dunia bener ini mah," timpal Bima geleng-geleng tak percaya. "Mungkin ini salah satu contoh apa yang dikatakan pepatah 'Jangan terlalu membenci, terkadang benci bisa menjelma menjadi benar-benar cinta'. Iya kan guys? bener kan gue? ini contoh nyatanya, ada di depan kita, guys." Kali ini Aldo yang berbicara, dia juga sama takjubnya seperti yang lain. "Kalau kalian tebak, akhir cerita mereka gimana? bakalan happy ending dengan hidup bersama atau bakalan sad ending dengan kembali menjadi musuh?" Dita bertanya pada teman-temannya. "Kalau gue mah sukanya mereka samaan aja deh, lebih aman dan tentram dunia kalau mereka gak ribut terus," jawab Putri. "Kalau gue mah maunya sad ending. Aqila mah cantik, lebih baik sama gue aja," jawab Syakir. "Kalau gue mah liat keduanya aja, gak bisa milih. Tapi sih gue berharap mereka bisa akur ya walaupun akhirnya gak menjadi sepasang kekasih," Bima yang menjawab. "Kalau gue mah berharap mereka jadian, happy ending, biar gue bisa double date. Kalau gue sama Fandra jalan, si Danu sama Aqila suka buat rusuh karena bertengkar. Ngerusak momen gue sama Fandra," kali ini Seza yang menjawab. "Sayang, ihh jangan ikut-ikutan deh," tegur Altha. "Kenapa sih? kan bener kan apa yang aku bilang. Kita kan suka kesel sama mereka kalau kita jalan bareng mereka. Seandainya mereka tuh pacaran, bisa aman kita, adem ayem," jelas Seza membela diri. "Kalau kamu maunya gimana? mau mereka tetap jadi musuh apa mau mereka pacaran?" tanya Seza pada Altha. "Ya aku maunya yang terbaik aja. Gak mesti harus pacaran, kalau mereka mau berteman aja aku uda bersyukur banget. Malah yang perlu dikhawatirkan tuh kalau mereka pacaran. Mau jadi apa nanti hubungan mereka kalau mereka begitu? sama-sama keras kepala. Yang satu pelatih karate yang cerewet plus gak ada takut-takutnya. Yang satunya lagi mulutnya kelicinan kebanyakan ngedot oli, gak bisa disaring kalau ngomong. Sama-sama suka ngotot juga. Bayangin kalau mereka sampai pacaran, gimana hari-harinya kalau mereka bertengkar? yang lebih parahnya kalau mereka sampai nikah, bisa hancur jadi kapal pecah deh itu rumah mereka buat." Altha menyampaikan pendapatnya panjang lebar. Semua orang langsung mengangguk mengerti. Apa yang dibilang Altha juga ada benarnya. "Tapi aku sih tetap timnya Aqila Danu love forever ya," timpal Seza cepat. "Danu sih salahnya di situ doang ya. Mulutnya lemes bener, kebanyakan makan oli, licin. Kalau ngomong gak disaring, asal jeplak, malah suka ngomong apa adanya lagi, nyinyir dan buat sakit hati. Tapi kalau masalah wajah mah dia oke, mukanya mah ganteng tuh, bodynya juga gue suka, gayanya juga keren. Pokonya kalau diliat dari penampilan mah oke si Danu mah, sayangnya yang gak oke tuh mulutnya. Kalau mau pacaran sama dia mah harus tahan-tahan emosi, harus ekstra sabar." Mila menatap serius ke arah Danu. "Mil, jangan bilang kalau lo suka sama si Danu," Bima mencurigai Mila. "Ya gue suka sama siapa aja yang good looking. Siapa aja yang ganteng mah gue embat," balas Mila cengengesan. "Ya Allah emang dasar ya jomblo bekarat, matanya jelalatan banget." Aldo geleng-geleng tak percaya. "Ya udah kali, Do, kalau lo mau sama Aqila juga boleh. Guenya sama Danu. Gimana? impas kan?" tanya Mila cengar-cengir. "Ahh ... ogah gue sama Aqila. Cantik sih cantik, tapi galak bener. Salah dikit bisa di embat gue sama dia," Aldo menolak mentah-mentah tawaran Mila. "Ehh udah-udah, gak usah ngomongin si Aqila sama Danu. Lanjut aja kita nyanyinya. Kita pantau aja perkembang biakan mereka gimana. Gosipnya uda aja. Lanjut aja nyanyi biar seru, ngilangin setres," Altha mencoba menghentikan orang-orang yang sedang sibuk menggosipi Aqila dan Danu. Dia sedikit tak nyaman mendengarnya. "Yaudah nih gitarnya, lo aja yang main. Suara lo juga adem, biar rileks." Bima memberikan gitarnya pada Altha. "Ya iyalah, suara Fandra emang nyaman, adem banget di kuping. Gak kayak suara lo yang aduhai, bikin gendang telinga mau pecah," sambung Seza nyolot. Matanya melototi Bima. "Sayang ih, gak boleh gitu." Altha menutup mata Seza. Menari Seza supaya lebih dekat dengannya. Seza nurut pada Altha, dia tak lagi menantang Bima. Sedangkan Altha, dia langsung menyambar gitar yang Bima berikan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN