"Ehh udah-udah, gak usah ngomongin si Aqila sama Danu. Lanjut aja kita nyanyinya. Kita pantau aja perkembang biakan mereka gimana. Gosipnya uda aja. Lanjut aja nyanyi biar seru, ngilangin setres," Altha mencoba menghentikan orang-orang yang sedang sibuk menggosipi Aqila dan Danu. Dia sedikit tak nyaman mendengarnya.
"Yaudah nih gitarnya, lo aja yang main. Suara lo juga adem, biar rileks." Bima memberikan gitarnya pada Altha.
"Ya iyalah, suara Fandra emang nyaman, adem banget di kuping. Gak kayak suara lo yang aduhai, bikin gendang telinga mau pecah," sambung Seza nyolot. Matanya melototi Bima.
"Sayang ih, gak boleh gitu." Altha menutup mata Seza. Menari Seza supaya lebih dekat dengannya.
Seza nurut pada Altha, dia tak lagi menantang Bima. Sedangkan Altha, dia langsung menyambar gitar yang Bima berikan.
"Mau nyanyi apa, guys?" tanya Altha pada semua orang.
"Sahabat jadi cinta," Bima langsung menjawab cepat.
Altha menaikkan sebelah alisnya. "Sahabat jadi cinta? kenapa? lo lagi ada di dalam fase itu sekarang?" tanya Altha penasaran.
"Iya kali, lo lagi dalam fase itu, Bim?" tanya Aldo ikut-ikutan.
"Tapi lo kan gak punya sahabat cewek. Sahabat cewek lo kan cuma si Seza, kalian sekolah selalu sama. Bahkan gue dengar-dengar dulu kalian kecil tetanggaan juga sering main bareng," sambung Aldo lagi.
"Hah? apaan? gue sahabatan sama Seza? idihh ogah, ngeselin orangnya," elak Bima dengan tatapan tak suka pada Seza.
"Yeee!! lo pikir gue mau juga gitu sahabatan sama lo? ahhh gue mah ogah kali!" Seza menatap tajam pada Bima.
"Aduh udah-udah, jangan bertengkar. Lama-kelamaan kalian kayak si Danu sama Aqila, tau gak." Altha menegur Seza dan Bima.
"Ya enggak lah, itu mah keparahan si Danu sama Aqila. Aku sama Bima mah gak gitu, kita juga bisa akur kok. Cuma kalau lagi ngeselin si Bima, rasanya pengen aku tampol aja itu mulutnya make sendal jepit," jelas Seza menggebu-gebu.
"Diam deh! lo yang suka ngeselin! yang ada gue yang pengen nampol lo make panci gosong!" balas Bima tak mau kalah.
"Uda-uda, stop! jangan bertengkar lagi! uda ya, mendingan kita mulai nyanyi aja, dari pada pusing dengerin kalian adu mulut." Altha memulai memetik gitarnya, mencari nada yang pas untuk menyanyikan lagu sahabat jadi cinta.
Altha mulai memainkan gitarnya, semua orang hening. Mendengarkan Altha baik-baik.
Seza juga diam, dia menikmati petikan gitar Altha sambil bersandar di bahu Altha.
Altha mulai bernyanyi dengan suara merdunya.
Bulan terdampar dipelataran
Hati yang temarang
Matamu juga mata-mataku
Ada hasrat yang mungkin terlarang
Satu kata yang sulit terucap
Hingga batinku tersiksa
Tuhan tolong aku jelaskanlah
Perasaanku berubah jadi cinta
Semua orang mulai ikut bernyanyi, hanya Seza yang diam. Dia lebih suka menikmati suara Altha dan bersandar di bahu Altha. Menikmati malam indah yang mungkin tak bisa ia lupakan.
Tak bisa hatiku menafikkan cinta
Karena cinta tersirat bukan tersurat
Meski bibirku terus berkata tidak
Mataku terus pancarkan sinarnya
Bima menyanyi dengan serius, dia begitu menghayati lirik demi lirik lagu ini. Sepertinya lagu ini benar-benar ungkapan rasa hati Bima saat ini.
Ku dapati diri makin tersesat
Saat kita bersama Ooouooo
Desah nafas yang tak bisa dusta
Persahabatan berubah jadi cinta
Tak bisa hatiku menafikkan cinta
Karena cinta tersirat bukan tersurat
Meski bibirku terus berkata tidak
Mataku terus pancarkan sinarnya
Apa yang kita kini tengah rasakan
Mengapa tak kita coba tuk satukan
Mungkin cobaan tuk persahabatan
Atau mungkin sebuah takdir Tuhan
Altha tersenyum, melihat Seza bersandar di bahunya membuat Altha lebih nyaman.
Tak bisa hatiku menafikkan cinta
Karena cinta tersirat bukan tersurat
Meski bibirku terus berkata tidak
Mataku terus pancarkan sinarnya
Apa yang kita kini tengah rasakan
Mengapa tak kita coba tuk satukan
Mungkin cobaan tuk persahabatan
Atau mungkin sebuah takdir Tuhan
Lirik lagu Sahabat Jadi Cinta https://jogja.tribunnews.com/2020/12/18/lirik-lagu-sahabat-jadi-cintazigaz-cover-mike-mohede-tak-bisa-hatiku-menafikkan-cinta
Setelah lagu selesai, semua orang langsung melihat Bima yang sedang diam, seperti orang yang sedang meratapi nasib. Mata memandang kosong ke arah depan.
"Liat-liat, liat si Bima, lagi ngehayal tuh dia biar cewek yang dimaksud dia peka, biar dia gak jomblo lagi," Aldo menyenggol Mila, menggosipi Bima yang sedang mengkhayal.
"Siapa sih cewek yang dia suka? dia gak pernah tuh cerita-cerita ke kita. Dia pernah cerita ke lo gak, Seza?" tanya Mila pada Seza.
Seza mengedikkan bahunya acuh. "Gila, mana mungkin dia cerita ke gue. Emangnya siapa banget gue sampai-sampai dia cerita rahasia dia ke gue, aneh lo pada," jawab Seza kesal.
"Ya kan elo sahabat dia dari kecil, kali aja dia lebih percaya sama lo," balas Putri ikut-ikutan.
"Ahh ngaco lo pada, pada kurang tidur ya? udah-udah sana masuk tenda, kebanyak halu banget sih." Seza menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir, teman-temannya memang benar-benar aneh.
"Kenapa sih lo gak pernah ngakuin si Bima jadi sahabat lo? kan faktanya kalian emang sahabatan dari kecil," Mila mulai kepo.
"Ya karena gue malas aja, dia ngeselin," jawab Seza singkat.
Mila dan semua orang yang melihat Seza langsung mengangguk mengerti.
"WOYYYY!!! UDA JANGAN MELAMUN!! SADAR WOYY!!!" Aldo bertiak kencang di telinga Bima.
Sontak Bima langsung terkejut, dia langsung mengelus jantungnya yang terasa hampir mau copot.
"Heh, anjir!! gila lo ya? terkejut gue, kampret!! lo emang gak ada akhlak ya! buat gue jantungan aja! kalau gue mati gara-gara terkejut gimana? gila!" Bima langsung memaki Aldo, marah-marah pada Aldo.
"Ya santai lah, bro. Lo aja yang ngelamun gak jelas. Lagunya uda siap dari tadi, lo kebawa bapernya sampai sekarang. Duhh parah deh lo, ampun hue liatnya. Kebanyakan galau, nih. Makanya, kalau ada apa-apa tuh curhat, biar gak galau sendirian." Aldo menasehati Bima.
"Siapa yang lagi galau? sotoy banget sih lo jadi orang," Bima mengelak, dia tak terima dibilang sedikit galau.
"Itu apa namanya gak galau, hah? request lagu Sahabat Jadi Cinta segala, malah nyanyinya menghayati banget lagi. Terus pakai ngelamun lagi, itu gak galau namanya? anak kecil juga tau kali itu namanya galau," Aldo tak mau kalah.
"Uda deh, dari pada lo galau, mendingan lo tembak aja tuh sahabat lo. Ngapain galau-galau? uda gasak, jangan nunggu lama-lama. Keburu diambil orang," Syakir mulai mengompor-ngompori.
"Terus kalau sahabat dia uda punya pacar gimana?" tanya Mila tiba-tiba.
"Ya gak apa-apa, ungkapin aja perasaan lo. Kan gak salah, sih. Sebelum janur kuning melengkung, semuanya masih aman. Siapa tau keberuntungan ada di lo, dia mutusin pacarnya demi lo," jawab Aldo seenaknya.
"Terus kalau sahabat dia kayak Seza, gimana? Seza sama Altha kan uda klop banget pacarannya. Masa lo tega sih ngeganggu hubungan kayak mereka gini," celetuk Mila lagi.
"Heh, uda deh, jangan bahas begituan. Jangan kait-kaitkan gue sama Seza. Bima ya Bima, gue sama Seza kan beda cerita," ujar Altha tak terima.
Semua orang langsung hening, diam dan tak berani berbicara lagi. Altha memang sangat sensitif jika bawa-bawa masalah hubungannya dengan Seza.