Aqila Ngamuk

1070 Kata
Sekitar hampir setengah jam akhirnya Aqila dan Danu kembali dari tenda PMI. Aqila sudah minum obat, dia juga diberi obat penurun panas oleh dokternya. "Gue mau gabung sama mereka, gue kesepian di tenda sendiri. Uda turunin gue di situ," pinta Aqila yang saat ini sedang ada dalam gendongan Danu. Danu kembali menggendongnya dengan alasan tak sabaran memapah Aqila yang berjalan sangat lambat seperti siput. "Lo yakin? di luar dingin loh. Lo kan lagi sakit," Danu sedikit ragu jika Aqila ikut bergabung dengan yang lain. "Gue uda gak apa-apa kok, uda mendingan juga gue. Turunin gue di situ ya," Aqila kembali memohon. Danu menghela nafasnya pasrah. "Yaudah iya, entar gue ambilin selimut di dalam tenda ya," ujar Danu. "Elangnya itu selimut siapa?" tanya Aqila bingung. Selimut itu memang selimut yang sejak tadi ia kenakan, tapi Aqila sendiri tak tau itu aslinya selimut siapa. "Gue juga gak tau, kayaknya punya Seza deh. Uda pake aja, bersih kok. Dari pada lo makin sakit karena angin malam, kan repot tambahan." "Yaudah deh, tolong ambilin ya," Aqila meminta tolong pada Danu. Danu mengangguk mengiyakan. "Wopss ... ini dia pasangan fenomena kita, guys. Mereka uda datang. Kasih tempat spesial untuk mereka, guys," Aldo bersorak gembira atas kedatangan Danu dan Aqila. "Gue hajar ya lo, Aldo! awas aja lo ledekin gue lagi. Gue hajar lo biar mampus! jangan mentang-mentang gue gak sehat, lo bisa seenak-enaknya ngeledek gue. Gak usah balas dendam, lo, gue habisin lo nanti!" Aqila langsung mengamuk, dia mulai marah-marah pada Aldo. Aldo tertawa geli. "Lo sakit aja masih galak ya. Astaga, dasar." Danu langsung menurunkan Aqila pelan, lalu dia membantu Aqila duduk. "Makasih," ucap Aqila pada Danu. "Heem," balas Danu berdeham. Lalu Danu langsung pergi menuju tenda. "Lo gimana, Aqila? uda baikan belum?" tanya Seza sambil menyengir. "Heh! dasar temen gak ada akhlak ya lo semua!! gue kalian tinggal sendirian di tenda, kelaparan, malah gak ada makanan lagi, astaga!! sinting ya lo pada!" Aqila langsung nyerocos, dia mulai mengomel pada semua teman-temannya. "Pala gue pusing, mual gue, badan gue panas dingin, eh lo pada malah ada di sini, bukannya liatin gue di sana. Emang bangke ya kalian semua!" Aqila memaki-maki temannya, dia kesal pada teman-temannya yang saat ini hanya cengar-cengir seperti orang gila. Aqila sudah emosi marah-marah, teman-temannya malah asik cengar-cengir gak jelas. "Gila ya lo pada? ngapain lo nyengir-nyengir gak jelas, hah?!" bentak Aqila kesal pada teman-temannya. "Ya kita sengaja aja, memberi ruang dan waktu untuk lo dan Danu. Ini kan momen langka ya, belum tentu 5 tahun ke depan kalian bisa akur gitu. Kita pada senang liat kalian akur, jadi kita kasih kalian ruang dan waktu untuk berduaan," jelas Seza cengar-cengir. Aqila menghela nafasnya kasar, lalu dia menggaruk-garuk kepalanya, efek kesal. "Dasar sinting ya lo pada!" omel Aqila dengan tatapan tajamnya. "Hehehee ... sorry Qila cantik kami semua, maafin kami semua ya, Cinta," Seza tersenyum sok imut, mengedip-ngedipkan matanya pada Aqila. "Sinting! malas gue sama lo!" Aqila masih ngambek. "Uda, gak usah ngomel-ngomel lo. Ingat kan tadi kata dokter apa? jangan banyak pikiran, jangan capek-capek. Lo kalau marah-marah jadi setres, kalau ngomel-ngomel ngabisin tenaga, capek." Danu datang, dia langsung memakaikan selimut pada Aqila. Danu juga mengintai Aqila supaya tak marah-marah. "Opp oppp ... oppp ... asekk!! aduh perhatian banget sih, bang? adek juga mau diselimuti, bang," Aldo langsung histeris saat Danu memakaikan selimut ke tubuh Aqila. "Ini dunia masih aman kan? masih oke kan?" tanya Mila shock. "Heh, uda deh, gak usah lebay! gak gue maafin nih lo pada kalau masih ngeledekin gue," ancam Aqila pads teman-temannya. "Huuu ... takut ... kita diancam, guys ... huuu takut ihh serem," Aldo langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan. Seolah-olah sedang ketakutan. Plakkk!! Aqila melempar Aldo dengan cangkir kosong yang ada di dekatnya. "Awww!! anjir, sakit tau, Aqila!" Aldo meringis kesakitan. Cangkir yang Aqila lempar mendarat dengan mulus di kepala Aldo. "Itu masih cangkir ya, guys. Kalau lo semua masih ngeledikin gue, bakalan gue lempar lo pada make gas LPG, mau lo?" tanya Aqila pada teman-temannya. Teman-teman Aqila langsung geleng-geleng kepala. Danu tertawa geli, dia geli melihat teman-teman Aqila yang takut pada Aqila. "Tapi btw, kalian emang cocok kok, Qil. Serius dah, gak bohong gue. Sumpah, kalau kalian jadian, wahhh ... bakalan jadi pasangan terhits di kampus deh pasti. Bakalan jadi couple goals dong, iya enggak, guys?" tanya Seza pada teman-temannya. Teman-teman Seza hening, diam, mereka tak ingin menjawab Seza, mereka takut dengan wajah Aqila yang sudah seperti singa kelaparan. Seza mengerutkan dahinya bingung. "Loh, kok kalian semua diam sih? kenapa diam? kalian takut sama Aqila?" tanya Seza pads teman-temannya. Teman-temannya tak menjawab Seza, mereka sudah tak ingin berurusan dengan singa betina, Aqila. Seza tertawa. "Hahahaa ... ngapain sih kalian takut sama Aqila? Aqila ini kan manusia, cewek cantik. Cewek cantik kok ditakuti, dasar aneh kalian. Ya kan, Aqila?" tanya Seza pada Aqila. Aqila sudah memasang wajah sangarnya. Tapi Seza malah masing cengar-cengir pada Aqila. "Uda ah, sayang, uda jangan ngomong lagi. Tuh liat tuh, mukanya Aqila uda berubah, aku takut kamu diterkam," bisik Altha di telinga Seza. "Ahahahahaa ...," Seza langsung tertawa terbahak-bahak saat mendengar bisikan Altha. "Apa sih kamu, Fandra? emangnya Aqila singa apa pake nerkam-nerkam segala. Aqila tuh manusia tau, sama kayak kita." Seza berdiri, dia duduk di samping Aqila. Posisinya Aqila berada di tengah-tengah antara Seza dan Danu, tapi Aqila lebih dekat pada Danu. Sedangkan Altha ada di depan Seza. "Ini Aqila manusia loh, guys, bukan singa. Ngapain kalian takut coba?" tanya Seza pads teman-temannya. "Nihh nihh liat nih. Nih Aqila punya mulut, punya mata, punya telinga juga." Seza menunjuk mulut Aqila, mata Aqila dan menarik kedua telinga Aqila. "Nih liat, Aqila juga punya hidung manusia, hidung mancung kayak kita, kaya gue," Seza menekan hidung Aqila ke atas. Sontak karena perilaku Seza barusan, semua orang langsung tertawa terbahak-bahak saat melihat hidung Aqila ditekan ke atas. "Ahahahahaa ...." "SEZAAAA!!!!!!! GUE BANTING YA LO!!!!!" teriak Aqila kencang. Habis sudah kesabarannya kali ini. "NGESELIN YA LO!! SINI!! GULAT SAMA GU-" "Utuu utuu utui tuuu ... tayang tayang tayang tayang ... cupp cupp cupp ... tenang ya." Saat Aqila marah-marah, Seza langsung memeluknya erat. Menyadarkan kepalanya ke bahu Aqila. Aqila menghela nafasnya pasrah. Jika sudah sama Seza, mana bisa Aqila marah. Aqila balas memeluk Seza. Menetralkan emosinya yang sejak tadi menggebu-gebu. Semua orang langsung tersenyum melihat Aqila dan Seza akur. Termasuk Altha, dia sangat senang melihat tingkah Seza yang absurd, tapi Seza mampu mencairkan suasana mencekam dengan tingkahnya. Itu yang Altha suka dari Seza, penenang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN