Sekitar beberapa jam bus sampai ke tempat tujuan, hutan yang akan mereka jadikan tempat camping peduli lingkungan.
Saat sampai di lokasi, para peserta di dalam bus semuanya sedang dalam posisi tertidur. Karena memang perjalanan sangat memakan waktu yang cukup lama.
Saat bus berhenti, Altha langsung terbangun dari tidurnya. Dia melihat Seza yang juga sedang terlelap dan menyandar di dadanya.
"Duh gak tega banget buat bangunin Seza, tapi masa iya Seza gue tinggalin sendirian di bus sih," gumam Altha pelan.
"Sayang, sayang ...," Altha menusuk-nusuk pipi Seza pelan untuk membangunkan Seza.
"Sayang, bangun yuk. Kita uda sampe nih." Altha kembali membangunkan Seza dengan lembut.
"Heummm ...," Seza menggeliat dengan mata yang masih tertutup rapat.
"Sayang, bangun yuk. Kita uda sampe ini, yuk bangun yukk." Kali ini Altha mencoba menggoyang-goyangkan tubuh Seza sedikit kencang.
Seza yang terganggu tidurnya langsung mengerjapkan matanya perlahan. "Eunghh ... apa, sih, Fandra? aku ngantuk ih, jangan diganggu," ujar Seza dengan suara khas orang bangun tidur.
"Kita uda sampai, sayang. Ayo kita keluar, kamu mau sendirian di bus ini? ayo bangun." Altha mencoba membangun Seza.
Dengan terpaksa dan sangat-sangat tidak rela akhirnya Seza bangun.
"Bentar ya, aku banguni anak-anak dulu." Altha bangkit, lalu membangunkan semua orang.
"Guys, bangun, kita uda sampai ke lokasi. Bangun-bangun!! ayo turun dan segera bangun tenda. Bangun, guys!!" Altha berteriak membangunkan orang-orang yang ada di bus. Sebagian ada yang langsung terbangun dan sebagian masih ada yang kebo dan tidur nyenyak. Orang-orang yang kebo langsung Altha datangi satu persatu, membangunkannya satu persatu.
"Bangun, heh bangun. Kita uda sampe nih." Altha membangunkan orang-orang yang masih tertidur pulas.
Beberapa menit Altha menghabiskan waktu untuk membangunkan mereka dan akhirnya saat ini mereka semua sudah bangun ya walaupun masih selalu menguap-nguap. Tinggal dia orang yang tidak bisa Altha bangunkan. Dua orang yang benar-benar kebo, Danu dan Aqila. Altha sudah lelah membangunkannya, tapi mereka masih saja tetap tertidur pulas.
"Perhatian seluruhnya," Altha mulai ambil suara.
"Teman-teman, berhubung kalian semua uda bangun. Dan hanya sisa dua teman kita yang benar-benar kebo banget ini, jadi kita langsung aja keluar dan siap-siap bangun tenda ya," ujar Altha memberitahu.
"Untuk Danu dan Aqila biarin aja mereka di sini sampe bangun. Mereka juga gak bakalan ngelakuin hal yang aneh-aneh mengingat mereka seperti tikus dan kucing yang selalu bertengkar. Mungkin perkiraan saat mereka bangun nanti mereka bakalan buku hantam. Tapi tenang aja, pasti bakalan aman, dua-duanya imbang berat kok," jelas Altha dengan tawa gelinya. Semua orang juga ikut tertawa, apa yang dibilang Altha memang sangat benar.
"Untuk kita semua, sekarang kita turun. Setelah turun kita langsung bawa semua barang-barang ke area yang uda ditetapkan untuk jurusan kalian ini. Sudah ada petunjuk di area masing-masing. Kalian tinggal baca aja nanti di mana tempat kalian membangun tenda,"
"Untuk perempuan, bawa aja semua barang-barang yang tidak terlalu berat. Walaupun bukan punya kalian ya bawa aja, bawa ke lapak kalian yang sudah disediakan. Untuk laki-laki, bawa semua barang-barang yang berat, seperti alat-alat masak dan yang lainnya. Baik itu barang perempuan atau laki-laki, taruh dan kumpulkan saja dulu di lapak tenda perempuan yah. Nanti setelah tenda perempuan dan laki-laki sudah selesai, baru masing-masing kalian bisa ambil barang kalian."
"Untuk keamanan dijamin semua aman. Kita semua saling percaya dan jujur, jangan ada niatan buruk untuk mengambil barang yang bukan punya kita. Dan tenda laki-laki areanya beda dengan perempuan, setelah meletakkan barang laki-laki bisa cek ke areanya." Altha menjelaskan panjang lebar pada semua peserta yang ada di dalam bus.
"Untuk absen, setelah semuanya beres, saya akan absen kalian satu-satu. Jika kalian tidak hadir di pengabsenan, maka kalian dianggap menghilang dan akan disidang oleh dosen pembimbing. Itu sebabnya jika sudah selesai bangun tenda dan menyusun semua barang, semuanya harus berkumpul di tenda perempuan ya," jelas Altha memberi tahu.
"Kalau ada yang bertanya-tanya, kenapa ngumpulnya di tenda perempuan? itu karena tenda perempuan lokasinya di depan, tepat di depan tribun dan terpantau jelas oleh panitia dan dosen pembimbing. Nanti untuk acara makan, kalian juga makan di tenda perempuan, karena tugas memasak itu di perempuan. Tugas lelaki mencari kayu, air, dan lainnya. Untuk perempuan, yang mengkoordinir Seza ya," Altha melihat ke arah Seza.
"Aku?" Seza menunjuk dirinya sendiri, lalu dia langsung geleng-geleng.
"Seza yang akan membagi jadwal piket dan jadwal kalian bertugas, baik perempuan maupun laki-laki. Karena kalau piket perempuan dan laki-laki digabung," jelas Altha lagi.
"Untuk para laki-laki dikoordinir sama Bima ya. Bima yang memantau kalian, bisa dibilang Bima ketua tim kalian," Altha menunjuk Bima.
"Saya dan Danu sebagai panitia yang bertanggung jawab di sini, saya dan Danu yang bertanggung jawab atas semua orang yang ada di bus ini. Jadi saya mohon tolong kerjasamanya. Kita sama-sama saling memudahkan," Altha tersenyum ramah.
"Untuk saya dan Danu, saya dan Danu gak bisa tetap stay di tenda kalian. Saya dan Danu panitia, kami yang mengurus acara. Kadang-kadang saya dan Danu bisa tidur di tenda laki-laki, kadang-kadang saya dan Danu juga bisa tidur di tenda khusus panitia. Semuanya tergantung situasi. Jadi saya ingatkan sekali lagi mohon kerjasamanya ya. Saling tolong menolong dan bantu. Kita ini satu tim, biar bagaimana pun kita harus berjuang supaya kelompok kita bisa jadi kelompok yang terbaik. Paham semuanya?" tanya Altha pada semua peserta jurusan Seza.
"Paham," jawab mereka dengan serentak.
"Baik lah, rasanya sudah cukup saya bicara panjang lebar. Sekarang semuanya bisa keluar bus dan lakukan apa yang saya bilang tadi. Terimakasih." Altha menyudahi arahannya. Semua orang langsung turun dengan teratur dan langsung mengambil barang-barang yang tadi sudah Altha jelaskan.
"Sayang, ayo turun." Altha menarik tangan Seza.
"Tapi Aqila gimana?" tanya Seza cemas.
"Uda lah biarin aja. Mereka berdua kebo banget masa. Dari tadi aku ngomong kuat, orang-orang juga jawab rame-rame masa mereka gak kebangun. Asli mah tidurnya uda kayak orang mati. Uda biarin aja, aku masih banyak kerjaan, sayang. Ayo turun." Altha membawa Seza turun dari bus. Seza turun dengan ragu-ragu.
"Aqila gak akan kenapa-kenapa kok, sayang. Aku sibuk, gak bisa nemenin kamu. Aku harus mengkoordinir semuanya biar gak salah lapak bangun tenda, mau keliling aku. Kamu mau di bus sendirian nungguin si Aqila bangun?" tanya Altha.
"Enggak deh, kayak orang oon yang ada aku," jawab Seza kemudian.
"Yaudah, yuk ambil barang yang bisa kamu bawa, aku juga ambil barang yang mau dibawa. Aku anterin kamu ke lapak tenda kamu. Setelah itu aku langsung mau keliling, sayang. Kamu baik-baik ya, kamu tuh ketua kelompok cewek lo, harus disiplin. Kamu harus menempatkan posisi sebagai pemimpin. Pimpin kelompok mu, bagi tugas mereka dengan adil. Ngerti kan, sayang?"
"Heemmm iya-iya ngerti," jawab Seza sedikit kesal. Pasalnya dia tak ingin ribet, eh Altha malah menempatkan posisinya di posisi ter ribet sepanjang masa.
"Bagus, kamu harus tegas, contoh aku pokoknya. Yauda yuk, ke tenda." Ajak Altha pada Seza. Seza sedang menggendong ransel di belakang, lalu dia juga menggendong ransel di arah depan, satu ransel dia pegang. Totalnya Seza membawa tiga ransel sekaligus. Sedangkan Altha, dia membawa beras, ember, dan alat-alat dapur lainnya.
Semua peserta sedang sibuk dengan acara membangun tenda dan beres-beres, termasuk Seza dan Altha. Hanya Aqila dan Danu saja yang masih betah tidur di dalam bus.
"Hoammm ...," Danu menguap lebar, meregangkan otot-ototnya yang kaku akibat tidur sambil duduk.
"Uda sampe belum sih, guys? masih lama lagi ya?" tanya Danu seraya membuka matanya perlahan.
Danu menyesuaikan cahaya yang masuk dalam indera penglihatannya. Lalu dia langsung menoleh ke samping.
"Yaelah, kebo banget sih si cewek bar-bar satu ini," gumam Danu saat melihat Aqila masih tertidur nyenyak dan bersandar di d**a bidangnya.
Danu mengedarkan pandangannya ke seluruh bus. Matanya membelakak lebar dan langsung terkejut saat melihat seisi bus sudah kosong melompong. Hanya tersisa dirinya dan Aqila saja.
"Hah, kok kosong sih? apa uda sampe?" tanya Danu bingung dan gelagapan.
Danu langsung melihat ke luar dari jendela bus.
"Ya ampun, di luar uda rame banget. Astaga, berarti uda sampe dari tadi. Kok gak ada yang bangunin gue sih? tega bener ini anak-anak satu bus." Danu menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Ah gila nih mereka, bisa-bisanya gue ditinggal sendirian di sini," gerutu Danu kesal.
"Malah si cewek bar-bar kebo banget lagi tidurnya." Danu langsung memutar bola matanya jengah.
"Gue bangunin aja lah," putus Danu kemudian.
"Heh, cewek bar-bar, bangun!! kita uda sampe, woy!! kebo, woy, bangun!" Danu menggoyang-goyangkan tubuh Aqila. Tapi Aqila masih saja kebo dan tidak bangun juga.
"Yaelah, bener-bener dah nih cewek," Danu menggeram kesal.
"Aqila, bangun!! woy uda sampe, woyy!! bangun!!!" teriak Danu menggoyang-goyangkan tubuhnya Aqila.
Danu mengambil nafasnya dalam-dalam, ini cara terakhir membangunkan Aqila yang tidur seperti mayat.
"WOY AQILAAAA!!! BANGUN, WOYY!! KITA UDA SAMPE, BANGUN, KEBOOOO!!!"
"HAH? APAAN? KITA NGAPAIN? UDA SAM-"
Bughhh ...
"Awshhh, sakit."
Danu berteriak kencang di telinga Aqila, sampai-sampai Aqila yang sangat terkejut sontak terbangun dan ingin bangkit dari duduknya. Tapi sayangnya nasib buruk menimpa Aqila, saat ingin berdiri kepalanya terbentur jendela bus yang besinya sedikit menganga. Akibatnya dahi Aqila langsung berdarah.
"Aduhh sakit," ringis Aqila memegang dahinya kesakitan.
"Bangun dong!! kita uda sampe tau! lo kebo banget sih! tidur uda kek orang mati!!" omel Danu kesal.
Aqila langsung menghadap Danu.
"Ehh itu kenapa jidat lo berdarah?" tanya Danu panik.
"Duhh gawat nih, lo gak geger otak gara-gara kejedot kan?" tanya Danu panik.
Danu langsung mendekati Aqila. Mengelap darah di jidat Aqila dengan kaos yang dipakainya. Kebetulan kaos yang digunakan Danu berbahan halus dan lembut.
"Duhhh ... sakit, kepala gue nyut-nyutan, puyeng, dunianya serasa goyang-goyang," rengek Aqila kesakitan.
Danu semakin panik. Dia takut kalau Aqila benar-benar geger otak dan lupa ingatan.
"Duhh ... gimana, dong? coba deh lo liat gue. Ini berapa?" Danu menunjukkan angka 3 dengan jari-jarinya lalu menanyakannya pada Aqila.
"Gak tau gue, gue ngeliatnya itu banyak banget. Ada sepuluh kali. Goyang-goyang juga jari lo, serasa gempa." Aqila semakin meringis kesakitan, memegangi kepalanya yang terasa nyut-nyutan.
"Wahh gawat nih, harus di bawa ke PMI, lo harus diobatin sama dokter. Ayo-ayo kita turun. Gue bawa ke tenda PMI. Di PMI ada dokter yang ikut kok, ayo," Danu menarik tangan Aqila perlahan.
"Gue gak bisa jalan, sakit kepala gue, nyut-nyutan, jatoh nanti," ucap Aqila jujur.
"Kan ada gue, gue tuntun kok, kayak orang-orang buta di TV itu. Gak gue sasarin deh elo nya, kali ini kita temenan, gak musuhan. Uda ayo." Danu langsung membantu Aqila berdiri. Danu merangkul Aqila, membantu Aqila berjalan pelan-pelan supaya kepalanya tak terasa sakit.
"Gue gendong aja gimana?" Danu memberi tawaran.
"Gak usah, jalan aja," jawab Aqila menolak.
"Yaudah deh, ayo, pelan-pelan gue rangkul biar gak jatoh." Danu merangkul Aqila, memapahnya dengan perlahan.
Danu berjalan melewati tenda-tenda para peserta wanita. Bukan hanya peserta wanita yang ada di sana, para peserta lelaki juga di sana untuk membantu mendirikan tenda. Dan saat ini, Danu bersama Aqila sedang menjadi pusat perhatian semua peserta.
Di area tenda, Seza menyipitkan matanya saat melihat Aqila yang sedang berjalan dan tengah dirangkul oleh Danu.
"Wahh gila, cepat banget mereka deketnya. Gercep banget uda rangkul-rangkulan segala. Malah jalannya pelan banget lagi, kek manten make kebaya," gumam Seza geleng-geleng. Seza tak melihat begitu jelas, jaraknya berada saat ini dengan Aqila dan Danu memang terbilang dekat. Hanya seja mata Seza yang sedikit rabun, membuat penglihatannya tak jelas dan buram. Aqila dan Danu sedang berjalan ke jajaran tenda panitia, dosen, kemananan dan PMI.
"Seza, buruan bagi tugas piketnya, biar gue bisa ngasih info sama laki-laki yang lain," desak Bima pada Seza.
Seza langsung beralih menatap Bima kesal. "Sabar lah, Nyet! lo kira gue robot apa yang kerja cepat dan gak ada capeknya?"
Bima langsung diam, Seza memang cerewet, Bima sendiri tak mau cari gara-gara pada Seza. Dia sudah paham betul watak Seza, sebab Bima adalah teman SMA Seza dan Aqila.
"Sabar ya, bentar lagi kita sampe." Danu membawa Aqila masuk ke dalam tenda PMI, lalu merebahkan Aqila ke atas bangsal yang lebih mirip dengan tandu. (Maaf, author gak tau apa namanya. Kalau kalian pernah ikut perkemahan kalian pasti tau bentuknya gimana. Selalu ada di tenda PMI. Author curiga itu namanya emang tandu wkwk).
"Dokter, ini tolongin si Aqila," Danu memanggil dokter yang sedang menyusun obat-obatan.
"Ada apa?" tanya dokter itu.
"Tadi dia kejedot-- ehh kebentur jendela bus yang ada besinya. Kuat pula itu dok, sampe kepalanya berdarah. Malah parahnya kepala dia langsung sakit dan nyut-nyutan, dia juga gak bisa tau angka berapa yang saya tunjukkan pake jari, katanya ada banyak, pandangan dia kunang-kunang jadi banyak gitu, dok," jelas Danu cemas dengan ala-alanya yang membuat dokter itu tersenyum.
"Baik, akan saya periksa." Dokter itu segera memeriksa keadaan Aqila. Lalu dia membersihkan luka di dahi Aqila dan langsung membalutnya dengan perban.
"Dia harus minum obat, itu ada teh hangat, itu juga ada nasi bungkus. Tolong kamu suapin dia makan ya, ini obatnya." Dokter itu memberikan beberapa obat pada Danu.
"Saya mau ke ambulance dan mengambil beberapa persediaan obat di sana. Tolong kamu rawat dia ya." Pinta dokter itu pada Danu. Lalu setelahnya dokter itu langsung meninggalkan Danu dan Aqila berdua.
"Yaelah, malah disuruh nyuapin lagi, astaga. Kampret bener dah, mimpi apa gue semalam? kenapa sih seharian ini gue selalu dekat-dekat si cewek bar-bar terus?" tanya Danu dalam hati.
"Bentar, gue ambilin nasi sama tehnya dulu." Danu langsung mengambil nasi bungkus beserta teh hangat itu. Setelahnya Danu langsung menyuapkan sesendok nasi pada Aqila.
"Uda gue aja," Aqila ingin mengambil alih sendok, tapi dia malah salah pegang dan malah mengambil udara kosong.
"Uda lah gue aja, sendoknya di mana aja lo gak tau. Yang ada entar lo bukannya nyuap ke mulut malah nyupa ke mata lagi." Danu langsung menyuapkan nasi ke mulut Aqila, Aqila pun menerimanya dengan paksa.
Untuk kali ini Aqila dan Danu lebih terlihat seperti sepasang kekasih, bukan seperti musuh. Danu merawat Aqila dengan sabar dan benar, Aqila pun tak banyak protes, dia sadar diri atas bantuan Danu dan menerima semua perlakuan Danu dengan baik.