Aqila Balik Ke Tenda

1023 Kata
Sekitar beberapa jam Danu menemani Aqila di tenda PMI. Altha juga sudah tau, tapi Altha tidak memberi tau Seza karena masih sibuk dan belum sempat bertemu. "Tolong anterin gue ke tenda yuk, gue gak tau tenda gue di mana." Aqila meminta tolong pada Danu. "Lo uda baikan? yakin mau ke tenda? gak nginep di tenda PMI aja biar dipantau dokter terus?" tanya Danu sedikit khawatir. "Gue uda mendingan kok. Gue cuma mau minta tolong anterin ke tenda, selain takut nyasar, gue juga takut kalau gue nabrak, soalnya kepala gue masih kliengan dikit nih," Aqila memegangi kepalanya yang masih sedikit pusing. "Nah itu, uda deh gak usah ke tenda, di sini aja. Kalau lo geger otak gimana?" tanya Danu takut. "Apaan sih, gak lah. Cuma sakit biasa kok. Lagi pula lo kan panitia, masa iya lo nungguin gue terus, gak enak banget sama panitia yang lain," ungkap Aqila terus terang. "Lah kan emang gue ditugasin Altha buat jaga lo sampai pulih kan? di mana letak permasalahannya?" tanya Danu heran. "Uda deh, gue mau balik ke tenda aja. Di tenda banyak teman-teman gue, ada Seza juga. Ayo tolong anterin gue ke tenda." Aqila berusaha berdiri, meski masih sempoyongan. Dia memegang Danu supaya tidak jatuh. "Keras kepala banget sih lo, bar-bar! yaudah-yaudah, ayo! ayo gue anterin!" keluar sudah sikap lemes bawaan Danu. Danu merangkul Aqila, memapahnya pelan menuju tenda. Hari sudah mulai malam, para peserta wanita yang sedang piket sedang menyiapkan makan malam untuk semua anggota kelompoknya. "Masih jauh?" tanya Aqila tak sabaran. "Enggak dikit lagi sampai," jawab Danu jujur. Faktanya tenda perempuan memang dekat dengan tenda PMI, tribun, tenda panitia, dan juga tenda dosen. Aqila diam, dia hanya berdeham pelan. Danu dan Aqila melanjutkan perjalanan mereka. Seza yang sedang mengecek bahan-bahan masakan langsung menyipitkan matanya saat melihat Aqila dan Danu sedang berjalan mendekati tenda. "Uda, uda sampai," ujar Danu pelan. Tapi dia masih merangkul Aqila, takut kalau Aqila tumbang karena hilang keseimbangan. "Wahhh ... Aqila!!" seru Seza histeris, semua mata langsung tertuju pada Aqila dan Danu. "Gila, gercep banget kalian berdua. Biasanya uda kayak tikus sama kucing, eh ini uda deket kayak surat sama perangko aja." Seza langsung berjalan mendekati Aqila dengan senyum mengembang di bibirnya. "Ke mana aja lo dari tad-" "Eh-ehh itu jidat lo kenapa? ngapa diperban gitu?" tanya Seza panik. Semua teman-teman Seza langsung menghampiri dan melihat luka di dahi Aqila. "Tadi jidat dia kebentur kuat jendela bus yang ada besinya, alhasil berdarah dan kepala dia nyut-nyutan sampe sekarang. Itu makanya tadi gue papah dia ke PMI, dari tadi dia dirawat di tenda PMI," jelas Danu pada semua orang. "Hah?! apa?! kok gue gak tau sih? gue tadi liat kalian, tapi buram. Gue ngeliatnya mah kalian rangkul-rangkulan seperti orang pacaran, gue kira kalian lagi pdkt, makanya gue biarin aja. Astaga!! nasib bener dan punya mata rabun." Seza merutuki kebodohan dirinya sendiri. "Ya ampun Aqila, maaf ya, maafin gue, gue benar-benar gak tau kalau lo sakit gini tadi. Sumpah deh, kesel banget gue sama mata rabun gue ini." Seza mengomeli dirinya sendiri. Dia langsung memeluk Aqila. Dan Danu langsung segera melepas Aqila dari rangkulannya. "Iya-iya gak apa-apa, gue uda duga itu. Lo kan minus, selain minus otak minus mata juga," balas Aqila dengan santai. "Maafin kita-kita juga ya, Qila. Kita juga sama, gak tau. Soalnya dari tadi sibuk ngerjain tenda," ujar salah satu teman sekelas Aqila dan Seza. "Gak apa-apa kali, guys. Harusnya gue yang minta maaf karena gak bantuin kalian beres-beres," balas Aqila tak enak hati. "Uda deh bawa si Aqila masuk ke tenda. Biarin dia tiduran, kepalanya masih sempoyongan katanya. Ini nih obat dia, jangan lupa kasih makan juga." Danu memberikan obat Aqila pada Seza. "Makasih ya, Danu. Ternyata lo punya hati juga. Gue pikir lo gak punya hati dulunya. Thanks banget uda nolongin Aqila," Seza berterimakasih pada Danu. Danu mendengus, sudah dipuji eh langsung dijatuhkan lagi. Seza benar-benar keterlaluan. "Yaudah sini, biar gue anterin masuk ke tenda aja. Dia berat, entar lo gak tahan lagi. Gue aja ngos-ngosan." Danu mendekati Aqila, lalu langsung menggendong Aqila dan menidurkan Aqila di dalam tenda. Melihat tindakan Danu yang benar-benar peduli dengan Aqila membuat teman-teman sekelas Seza dan Aqila senyum-senyum sendiri, baik perempuan maupun laki-laki. "Kayaknya nyanyi yang di bus emang bener, benci bisa jadi cinta," bisik Bima pa6ds teman di sebelahnya. "Ya iyalah, benci itukan singkatan benar-benar cinta," celetuk Seza yang dengar percakapan Bima dengan temannya. "Yeee! nguping aja lo! cantik-cantik tukang nguping!" ejek Bima. "Biarin, yang penting gue cantik. Lo tau faktanya," balas Seza enteng. "Guys, perhatian, kalian balik ke tugas masing-masing ya. Gue mau ngurus si Aqila. Semua tugasnya harus siap dengan benar, alon-alon asal kelakon kalau kata ibu-ibu warteg dekat SMA gue dulu," Seza mengintruksi teman-temannya. "Uda jadi kek cowonya dia, uda kek Altha. Ceileh, ibu Presma uda mulai menampakkan aura-aura kepempimpinan yang selama ini terpendam." Bima meledek Seza sambil menahan tawa. "Heh, Bima!! jangan sampai ini sutil melayang ke kepala lo ya." Seza menunjukkan sutil besinya pada Bima. Bima menyengir lebar. "Hehehe ... sorry, minta maaf deh, gak buat lagi." Seza melotot lebar. "Awas lo main-main sama gue!!" ancamnya kemudian. "Uda tuh, dia uda di dalam. Kalau begitu gue pamit dulu ya, kerjaan masih banyak menanti gue." Danu pamit kepada Seza dan teman-teman sekelompoknya yang semua mengumpul di situ. "Iya, makasih ya Danu uda mau nolongin teman kita. Terimakasih banyak," Seza tersenyum manis, berterimakasih tulus pada Danu. "Makasih Danu ...," ucap teman-teman kelompok Seza dengan serentak. Danu tersenyum. "Iya-iya, santai aja. Uda tugas gue juga bantu peserta yang kesusahan," balas Danu. "Kalau gitu gue pamit dulu ya guys, kalian jangan ke mana-mana. Kumpul di sini aja, makan malam di sini. Karena nanti gue sama Altha bakalan absen setelah makan malam." Danu menginformasikan pada semua peserta kelompok Seza. "Ketua kelompok mohon dikoordinir anggotanya, kalau ada yang ilang kalian harus tanggung jawab, mengerti kan?" tanya Danu pada semuanya. "Siap, mengerti ...," jawab mereka dengan serentak. "Oke kalau begitu terimakasih atas kerjasamanya. Gue pamit dulu," Danu tersenyum ramah. Kemudian dia langsung pergi menuju tenda panitia. "Guys, kembali ke laptop. Kerjain tugas masing-masing, oke," Seza berteriak supaya semua anggota kelompoknya dengar. Lalu kemudian dia langsung masuk ke dalam tenda untuk memeriksa keadaan Aqila.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN