Abimayu's 19 : Rumor

928 Kata
"Inget, ya, Abimayu," kata Azizah sesaat setelah mereka berdua keluar dari UKS. "Sebagai manager, gue bertanggung jawab atas kesehatan lo. Sekarang mungkin lo nggak papa, tapi nanti, jangan coba-coba buat ceroboh lagi. Ngerti?" Ocehnya panjang lebar. Bagaimanapun, Azizah bertanggung jawab pada Abimayu bukan hanya karena dia adalah manager, tapi karena Abimayu berkontribusi dalam penyelamatannya. "Iya, iya, Bu Manager," delik Abimayu dengan kesal. Azizah sudah mengoceh seperti itu berkali-kali, padanya. Dia mendengus. "Eh tapi lo bisa marah juga, ya?" Kekehnya pelan. Azizah berdecak kesal. Dia bersidekap d**a. "Gue juga manusia." Katanya, kadang heran kenapa orang-orang sangat terkejut dengan ekspresi-ekspresi yang ditunjukkan Azizah. Azizah juga manusia, bukannya robot. Abimayu kembali terkekeh geli. "Lo bisa khawatir juga?" "Ya bisalah," jawab Azizah cepat. "Barusan gue khawatir luar biasa sama lo." Abimayu hanya mendengus pelan. Senang sekali mendapatkan jawaban jujur dari Azizah. "Ini yang bikin gue nyaman ngobrol sama lo." "Maksudnya?" Heran Azizah, mengangkat sebelah alisnya. "Karena gue khawatir sama lo?" Abimayu kembali mendengus. "Bukan, lah! Itu karena, apapun yang keluar dari mulut lo, semuanya adalah sebuah kejujuran." Azizah mengerutkan alisnya dengan heran. Ya memang, apapun yang keluar dari mulut Azizah memanglah kejujuran. Dan karena itu dia sering dijuluki pedas karena sering mengungkapkan apa yang ada di pikirannya. Matanya mengedip, menatap Abimayu dengan pandangan heran. "Kalo gue bilang Kania punya tenaga yang besar, lo percaya?" Tanyanya kemudian. Abimayu malah tertawa terbahak-bahak mendengarnya. "Lo bisa bercanda juga." Azizah mengulum bibirnya sendiri. "Yah, yang keluar dari mulut gue emang kejujuran, tapi tetep nggak bisa dapet kepercayaan orang," katanya sambil mengedikan bahunya. Tapi tenaga Kania memang luar biasa, bisa melempar Azizah seperti itu. Tidak heran, sih. Katanya, Kania memiliki pekerjaan paruh waktu di toko retail, dan toko retail selalu memiliki pekerjaan berat. Azizah harus memberikan peringatan pada Laras agar jangan main-main lagi dengan Kania. Tenaganya bisa membuat orang pingsan. Tapi omong-omong, memangnya Indonesia ini sudah membolehkan anak di bawah umur untuk bekerja? Bagaimana bisa Kania memiliki pekerjaan paruh waktu? Mencurigakan sekali. Azizah mengedip, menatap heran pada Abimayu yang masih berada di depannya. "Ya udah, sana gih. Mau ke Kania, kan?" Ucapnya. Dia harus kembali ke dalam untuk merawat Laras yang sakit karena traumanya. Lagipula, kenapa perempuan itu harus terbawa emosi dan melempar tasnya pada orang lain? "Lo mau ke mana sekarang?" "Gue?" Azizah menatap pintu UKS, kemudian kembali menatap Abimayu. "Gue mau nungguin Laras. Lo liat kan dia tadi lebih diem dari biasanya?" Abimayu mendelik kesal. Dia menyandarkan punggungnya ke tembok. "Gue nggak peduli, sih." Azizah menghela napas panjang, mewajarkan sikap Abimayu. "Itu masalah lo," namun, tetap saja Azizah ingin berkomentar tetap sikap Abimayu. Azizah ikut menyenderkan punggungnya di tembok, tepat di samping Abimayu. "Lo terlalu sibuk sama dunia cinta lo, sampe-sampe lo sendiri nggak tau tentang apa yang cewek lo khawatirin." "Maksudnya?" "Kania," Azizah mendongak pada Abimayu. "Dia denger rumor tentang kita berdua." "Ada rumor tentang kita berdua?!" Pekik Abimayu, menatap Azizah dengan mata melotot. Kaget juga bisa-bisanya orang-orang curiga pada Azizah padahal Azizah sangat tidak pernah mencoba mendekati Abimayu. "Rumor apa?" "Jangan tanya gue," delik Azizah. "Gue sendiri jijik dengernya." Abimayu mendengus. "Separah itu?" "Diperparah separah itu," kata Azizah yang membuat Abimayu lagi-lagi terkekeh. "Jangan ketawa. Urusin rumornya. Jangan sampe nama gue disebut lagi." "Oke, oke," kekeh Abimayu. Dia berdiri tegap. "Ya udah, gue samperin Kania dulu." Katanya sambil lalu, sementara Azizah mengangguk sebelum Abimayu pergi. "Dan Abimayu," kata Azizah, membuat Abimayu menghentikan langkahnya dan menoleh. "Daripada lo sibuk lindungin Kania, kenapa lo nggak ngelakuin sesuatu yang bisa bikin lo terlepas dari tanggung jawab ngelindungin Kania?" Abimayu mengernyitkan alisnya dengan heran. "Maksud? Ngajarin dia bela diri, gitu?" Azizah menggelengkan kepalanya. "Buat sesuatu, yang bikin fans-fans lo nggak bergerak. Bukan dengan kekasaran yang biasanya lo lakuin, bukan dengan kesinisan juga. Lo harus ngerasain ada di posisi mereka dulu, dan buat mereka ngerti sama keputusan lo." Katanya, kemudian berjalan ke arah pintu UKS dan masuk kembali ke dalam ruang UKS. Sementara Abimayu terdiam dengan heran. Kata-kata masuk akal yang selalu dibuat Azizah kali ini, tidak bisa membuatnya segera berpikir mengenai apa yang dimaksud Azizah. Abimayu hanya menggelengkan kepalanya. Dia bisa bertanya nanti. Sekarang ini, dia harus menghampiri pacarnya yang sedang dalam keadaan galau gara-gara ulah Abimayu. *** "Tapasya! Tapasya!" Perempuan yang dipanggil Tapasya itu menoleh. Dia yang sedang berdiri di depan pintu kelas pun mendelik saat melihat seorang Abimayu berlari ke arahnya. "Nama gue Tafsya, bukan Tapasya!" Kesal perempuan itu. Tafsya adalah perempuan yang bertengkar di koridor dengan Laras dan mengatai Azizah dengan sebutan kasar. "Sori, sori," ucap Abimayu saat sudah berada di hadapan Tafsya. "Cewek gue mana?" Tafsya bersidekap d**a. Dia mendelik ke arah kelas. "Di dalem. Nangis dari tadi, tuh." "Serius?" Tanya Abimayu dengan panik. Tafsya mengangguk. "Lagian lo, sih, Bi. Pake bisa kegoda sama p***k itu." Abimayu mengernyitkan alisnya dengan heran. "Siapa yang lo bilang p***k?" "Temennya si Laras, lah! Si Azi—" BRAK!! Tafsya berjengit saat Abimayu menendang pintu kelasnya dengan kencang. Mata Abimayu berkilat marah saat menyorot ke arah Tafsya. Sementara wanita yang ditatap setajam itu oleh Abimayu pun hanya dapat terdiam kaku dengan terkejut, tidak menyangka Abimayu akan menatapnya semarah itu. "Lo gue maafin karna gue ngehargain Kania," bisik Abimayu dengan tajam. Dia bahkan menunjuk wajah Tafsya dengan jarinya. "Sekali lagi lo ngatain Zee macem-macem, abis lo di tangan gue!" Peringat Abimayu sambil berjalan pergi dari hadapan Tafsya yang masih terdiam kaku. Tafsya menelan ludahnya dengan susah payah. Jantungnya masih berdebar ketakutan. Matanya kemudian menatap punggung Abimayu yang masuk ke dalam kelas. Sungguh, Tafsya baru pertama kali melihat Abimayu semarah itu padanya. Biasanya, Tafsya sering menjelek-jelekan perempuan keganjenan yang berusaha menjadi pelakor. Namun, kenapa Abimayu berlaku berbeda dengan sebelum-sebelumnya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN