Abimayu's 20 : Kania dan Larasati

1008 Kata
Abimayu berjalan masuk ke dalam kelas yang dipenuhi oleh siswa itu. Waktu UTS dari kelas ke kelas dilakukan secara berbeda. Dilihat dari kondisi kelas yang sekarang, berarti kelas ini sudah melewati UTS itu. Dan bahkan, sekarang Abimayu malah teringat dengan Azizah. Jika Azizah sekarang menunggui Laras di UKS, ada kemungkinan Azizah tidak akan masuk tepat waktu untuk mengikuti UTS. Apakah perempuan itu tidak apa-apa dengan itu? Azizah pasti disuruh susulan. Sementara pikiran Abimayu dipenuhi oleh Azizah, orang-orang di dalam sana malah terpaku oleh kedatangan Abimayu yang masuk ke dalam kelas. Pria populer sesekolah itu, sukses menjadi pusat perhatian bagi orang-orang di sana. Abimayu berjalan santai ke arah Kania yang menidurkan kepalanya di meja dan menghadap ke tembok. Sampai di meja Kania, Abimayu menyenderkan bokongnya di sisi meja. Dia menyapu pandangannya ke seisi kelas. "Semua yang ada di sini, bisa keluar dulu? Gue mau ngobrol sama cewek gue." Dengan serempak, hanya dengan beberapa kalimat saja, orang-orang di sana segera berjalan keluar karena suruhan Abimayu. Seseorang yang bahkan sedang tidur pun dibangunkan hanya untuk menuruti perintah Abimayu. Satu persatu orang di sana pun keluar atas perintahnya. Disaat mereka sedang mengungsi, Kania mulai mengangkat wajahnya dan berdiri. Dia berjalan keluar dari tempat duduknya, namun tangannya ditahan oleh Abimayu. "Mau ke mana?" Tanya Abimayu sambil tersenyum manis pada Kania. Kania hanya sesegukan dan menatap ke arah lain, enggan menatap ke arah Abimayu. Abimayu sendiri menggerakkan tangannya ke arah pintu, menyuruh orang-orang yang masih belum keluar, untuk buru-buru pergi dari sana. "Nia, liat aku," kata Abimayu sambil menarik Kania ke arahnya. Kania menggeleng, dan masih menatap ke arah lain. "Aku mau pergi." Isaknya. "Syutt, jangan nangis terus," Abimayu terkekeh sambil mengusap air mata Kania yang mengalir. "Kamu kenapa? Sini ngobrol sama aku." Kania masih enggan menatap Abimayu. Dia sesegukan sebelum Abimayu memaksanya menatap Abimayu dengan menyentuh dagunya. "Liat sini, sayang ...." "Kamu manggil aku sayang, tapi nolongin dia!" Amuk Kania, mengusap air matanya dengan kasar. "Kamu selingkuh sama dia?! Iya?!" "Nggak gitu, Nia. Dia cuma manager voli." "Manager tapi dianterin pulang?! Manager tapi ke kantin bareng?! Ke UKS bareng?! Iya?! Yang kayak gitu manager?! Kak Fifah aja nggak kamu gituin!" Sial. Abimayu mengumpat berkali-kali di dalam hati. Inilah kerugian dari menjadi anak populer sesekolah. Apapun pergerakannya, sering disorot dan membuatnya menjadi bahan gosip. "Semuanya cuma kebetulan, Nia ..." Tidak sepenuhnya benar, namun tidak sepenuhnya salah. Jadi, Abimayu memilih jalan tengah. "Kamu suka sama dia?! Iya?!" "Siapa? Aku?" Tanya Abimayu sambil terkekeh pelan. "Orang datar kayak dia, mana mungkin sih aku bisa suka sama dia?" "Kalau gitu, bilang kamu masih suka aku dan akan suka aku sampai kapanpun!" Amuk Kania, masih dengan tangisannya. "Nia—" "Bilang! Bilang kalau kamu cuma punya aku dan nggak akan berhenti suka sama aku! Bilang kalau kamu cuma cinta sama aku dan apapun yang terjadi, kamu pasti bakal balik lagi ke aku!" Abimayu menelan ludahnya dengan susah payah. Bingung harus menenangkan emosi pacarnya bagaimana. Ini adalah pertama kalinya Kania se-ngamuk ini kepadanya. Seharusnya, Abimayu menuruti ucapan Kania dengan gampangnya. Apa salahnya dengan itu? Mereka pacaran. "Nia ..." Namun, yang Abimayu bisa katakan hanyalah memanggil nama Kania saja. Mulut Abimayu kelu saat harus mengatakan apa yang Kania suruh. "Bilang, dong, Bi!" Kania merengek. Tangisnya makin menjadi. "Bilang, ayo! Kamu nggak suka sama aku lagi? Iya?!" Abimayu menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. "Kamu mau kita putus, Bi? Iya?!" Seharusnya, Abimayu segera menyangkal dan memarahi Kania karena mengatakan ingin putus. Namun, Abimayu kembali menelan ludahnya dengan susah payah. "Nia, kamu tenang dulu ya—" "Ya bilang! Baru aku bakal tenang!" Potong Kania. Abimayu menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. "Bilang, Bi! Atau kita bakal putus sekarang juga!" Ancam Kania lagi, kali ini meninggikan suaranya. Abimayu menghela napas panjang. "Oke," ucapnya sambil mengambil napas dalam-dalam. "Kania ..., aku sangat suka sama kamu. Rasa suka aku nggak akan pernah hilang. Dan apapun yang terjadi, kalaupun—" Abimayu menghentikan ucapannya sejenak, dan menatap pacarnya yang masih menatapnya dengan tangisan. "—kalaupun aku bilang aku nggak suka kamu lagi, itu semuanya bohong. Dan ..., dan apapun yang terjadi, aku ..., aku pasti bakal balik lagi ke ..." Abimayu memejamkan matanya erat. Sangat berat saat berucap, "... Kamu." Demi Tuhan! Apa yang sebenarnya terjadi pada Abimayu?! *** Azizah menghela napas panjang. Dia menaikkan selimut UKS hingga menutupi tubuh Larasati yang lemas di atas kasur UKS. Larasati terlihat pucat. Sesekali dia mengernyitkan alisnya dan mengganti posisi tidurnya. Sahabatnya itu pasti sedang bermimpi buruk. Azizah lalu menyilangkan kakinya. Dia bersandar ke sandaran kursi dan mengetikkan balasan pada Fifah. Larasati harus ada yang menjaga, dan Azizah tidak bisa melakukannya karena sebentar lagi sudah masuk jam pelajaran. Namun, Azizah juga tidak bisa meninggalkan Larasati sendirian di ruang UKS. "Zee!" Panggilan itu membuat Azizah mengangkat wajahnya dan berkedip saat melihat Fifah di sana. Terlihat cantik dengan penampilan yang berbeda. "Kak Fifah." "Gimana keadaan Laras?" Tanya Fifah saat berjalan mendekat ke arah Azizah. Azizah hanya mengedikan dagunya ke arah kasur. "Masih tidur. Dia kayaknya nggak akan ikut UTS. Paling susulan." Fifah melihat Larasati dengan pandangan takjub. "Ini dia kayak gini cuma gara-gara lempar tas doang?" Azizah mengangguk sambil berdiri. "Ya. Semua orang punya ketakutannya tersendiri." "Tapi gue masih agak nggak percaya, sih," balas Fifah sambil menatap Larasati yang terbaring. "Cewek tukang rundung kayak dia, punya fobia mukul orang?" "Hm. Ceritanya panjang." Dan kebetulan, Azizah ada di dalam cerita itu. Fifah hanya mengangguk-angguk saja mendengar penjelasan dari Azizah. "Ya udah, Zee. Lo pergi aja duluan. Gue bakal nungguin si Laras di sini." Azizah hanya mengangguk saja. "Makasih, Kak." "Hm. Sama-sama." Azizah membenarkan barang-barangnya. Dia sempat belajar selagi menunggu Larasati di UKS. Azizah mengambil tasnya yang berada di permukaan lantai. Dan saat akan pergi, sebuah tangan menahannya. "Zee ...." Azizah mengedip. Dia menoleh pada Larasati yang membuka matanya dengan lemas. "Lo udah sadar?" Larasati mengernyitkan alisnya dengan kesakitan. "Zee ..." bisiknya. "Gue mau Abi, Zee ... bikin gue deket sama dia, Zee ... tolong ...." Azizah terdiam. Dia hanya dapat menatap Larasati yang sesekali mengedip dengan lemah. Sementara Fifah terlihat terkejut mendengar ucapan Larasati. Masalahnya, apa Azizah bisa menolak ucapan sahabatnya yang satu ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN