"Zee, jadinya gimana? Ikut, kan?"
Aku yang sedang mencatat rekor latihan para anggota voli pun, menoleh pada Kak Fifah yang berada di sampingku. Kak Fifah terlihat menunggu jawabanku tentang sesuatu. Masalahnya, "jadi apa, Kak?"
Kak Fifah mendelik kesal. "Jadi ikut pelatihan camp, kan, Zee?! Diizinin, kan?!" Ucapnya dengan antusiasme yang tidak bisa ditahannya. Matanya menatapku dengan sangat tidak sabaran.
Aku hanya mengangguk-angguk sambil kembali menatap lapangan. "Ya, ikut." Jawabku.
Sepulangnya dari klub di hari Kak Fifah membicarakan pelatihan camp denganku, aku langsung menelepon kedua orangtuaku dengan segera. Mereka sempat mengalihkan pembicaraan ketika aku meminta izin. Namun pada akhirnya, aku membicarakan tentang pelatihan camp lagi dan mereka mengizinkan. Walaupun terdengar terpaksa.
Padahal, kalau mereka tidak mengizinkanku, aku tidak akan pergi dan akan menuruti ucapan mereka. Namun memang dasar, kedua orangtuaku itu terlalu baik untuk jadi seorang orangtua.
Lalu sedetik kemudian ketika ujung pulpenku akan menyentuh kertas, aku baru sadar jika aku tidak bisa lanjut mencatat lagi karena sudah ketinggalan poin para anggota karena diajak ngobrol oleh Kak Fifah.
"BENERAN, ZEE?!" Pekik Kak Fifah, dia bahkan melompat di tempatnya dengan antusias.
Aku mendengus geli melihat kelakuan Kak Fifah. "Iya, Kak Fifah. Lucu banget deh reaksinya." Padahal, aku saja tidak sesenang itu ketika mendapatkan izin dari orangtuaku.
Kira-kira, akan seperti apa kegiatan diluarku pertama kali ini?
Kak Fifah makin menatapku dengan mata yang berbinar. "Zee, kalo lo cowok, lo udah gue pacarin deh, sumpah!" Katanya sambil memelukku dengan senang.
"Sebenernya, gue nggak keberatan dipeluk lo. Tapi untuk sekarang, tolong sadar diri kalo lo bau." Kataku datar.
Kak Fifah melepaskan pelukannya seketika. Dia cemberut kesal. "Nggak jadi, anjir! Gue tarik omongan gue yang sebelumnya!" Kesalnya, namun malah menggandeng tanganku dan kepalanya bersandar di kepalaku, membuat kepalaku benar-benar berat.
"Istirahat 15 menit! Lanjut latihan receive nanti!" Seru Ridwansyah, sang kapten.
Kak Fifah buru-buru mengambil handuk dan botol minuman, lalu segera menghampiri kapten dengan cepat. Aku menggelengkan kepala melihatnya. Kak Fifah pernah bercerita, dia dan kak Ridwan adalah teman sedari kecil. Mereka selalu masuk ke sekolah yang sama, dan ekskul yang sama. Namun, voli pria berbeda dengan ekskul sebelum-sebelumnya yang mencampur perempuan dan laki-laki. Maka dari itu, kak Fifah memutuskan untuk menjadi manager voli dan sayangnya, kak Ridwan tidak pernah mengajaknya berpacaran sampai sekarang. Biasa, masalah friendzone. Bisa dibilang, Kak Fifah adalah pemeran utama lain dari sebuah cerita. Pemeran antagonisnya ..., siapa ya kira-kira? Apa cerita mereka tidak punya pemeran antagonisnya? Bagus sekali. Sepertinya cerita mereka lancar-lancar saja. Tinggal menunggu ending.
"Mau gue bantuin?"
Pertanyaan itu membuatku menoleh, dan mendapati Abimayu yang sudah mengambil beberapa handuk dan botol minum. Aku menggeleng. "Gak usah. Lo ambil punya lo aja." Kataku.
"Gue bantuin." Kata Abimayu, bersiap menyebarkan botol minum dan handuk. Kalau begitu, untuk apa dia bertanya padaku?
"Nggak usah. Kita yang datengin, kok."
Kembali, ucapan dari arah lain, membuatku menoleh dan mendapati anak-anak voli menghampiriku dan Abimayu di sisi lapangan. Yang tadi berbicara adalah Caesar. Aku langsung dikerumuni pemilik botol dan handuk, mereka mengambil barang-barangnya dariku dan berterima kasih padaku.
"Dih, tumben. Biasanya langsung tepar di lantai," komentar Abimayu. Tangannya yang sudah kosong malah menyentuh kepalaku, dan diam di sana.
"Peraturan baru, tau! Ini juga mau tepar abis ngambil barang." Balas Caesar sambil meminum air dari botol.
"Peraturan apa?" Tanyaku, karena aku merasa tidak diberitahu apapun oleh kak Fifah.
Caesar menelan airnya, mendesah nikmat dan menatapku. "Kita nggak boleh nyapein lo, katanya."
"Nggak boleh nyapein gue?"
"Hm. Kayaknya, si kapt suka sama lo."
Aku mengernyitkan alis, kemudian mendongak menatap Abimayu. Tangannya yang berada di kepalaku, membuatku kesulitan untuk menatapnya. Namun ternyata, Abimayu juga menatapku disaat bersamaan. Kami saling tatap dengan heran.
"Kata siapa kapt suka sama Zee?" Tanya Abimayu, mengeluarkan isi pikiranku.
Caesar terkekeh pelan. "Keliatan kali, Bi. Cowok normal pasti suka sama Zee. Orang bening gini, mana bisa dia anggurin? Lagian, kapt udah dari kecil jomblo. Masa SMA, pasti nyari jodoh akhirnya. Dan nggak mungkin juga, kan, dia suka sama Kak Gorila?"
"Kenapa nggak mungkin?" Wah. Pendek sekali pikirannya. Makanya dia dijelek-jelekkan kak Fifah. Orang mulutnya saja tidak bisa dijaga. "Menurut lo, cinta dinilai dari apa?" Kataku kemudian, bersidekap d**a.
Caesar mengedipkan matanya. "Gue nggak tau, lah. Kalau tau, gue nggak akan jomblo."
Kasihan sekali, memang. Tapi aku harus melanjutkan ucapanku untuk memberinya pelajaran. "Karena lo masih kecil—"
"Hah? Kita seumuran."
"—gue bakal kasih tau lo sekarang. Ini semua ...," aku melanjutkan ucapanku sambil menunjuk tubuhku dari atas ke bawah. "... menurut lo bakal terus ada sampai kapan?"
Caesar mengedipkan matanya dengan bingung, sedangkan anggota voli yang lain ikut menguping pembicaraan kami. "Gue nggak tau. Emangnya ada kadaluwarsanya?"
"Ada," aku menjawab yakin. Tanganku bersidekap. "Gue selalu mikirin tentang bentuk tua gue. Semua orang pasti bakal tua, kan? Nggak mungkin, orang-orang tua di sekitar kita, baru lahir udah tua lagi. Maka dari itu, karena penuaan adalah proses, apa yang kita lihat sekarang cuma fatamorgana. Cinta itu fatamorgana."
"Fatamorgana?" Tanya anggota voli yang lain. Dari tingginya, namanya adalah Raja.
Aku mengangguk. "Bisa jadi, cinta lo ke pacar lo adalah fatamorgana," jawabku sambil menunjuknya. "Cinta itu, adalah tentang saat ini, dan bukan tentang masa depan. Padahal, lo harus memilah, dengan siapa lo harus hidup? Lo harus memilah, siapa yang sebenarnya lo butuhkan buat masa depan lo? Apa dia pantes? Apa dia nggak pantes? Sifat buruk dia, apa lo sanggup nerima itu?"
"Intinya apa, Bu Manager?" Tanya Sagara yang berdiri di barisan paling depan. "Kita harus putusin pacar kita?"
"Intinya adalah kata-kata yang klasik; jangan liat seseorang dari penampilannya. Emang sih. Kadang, yang good looking itu lebih setia daripada yang burik," kataku, sukses mendapatkan tawa menggelegar dari anak-anak voli. Dan aku mengernyitkan alisku heran karena tidak mengerti apa yang mereka tertawakan.
"Tapi untuk kak Fifah, walaupun gue lebih cantik daripada dia," aku kembali mendapatkan tawa dari anak-anak voli. Dan aku lagi-lagi heran karenanya. "Kak Fifah itu seseorang yang setia banget. Dan dia juga cewek yang perhatian banget. Kalau kak Fifah jadi cowok, gue mau nikah sama cowok yang setia kayak dia."
"Emang, setia sama siapa?" Tanya Sagara lagi, terlihat tertarik dan penasaran.
Aku mengedipkan mataku berkali-kali. Aku menatap ke arah kak Fifah yang masih bercengkerama dengan kak Ridwan. Kak Ridwan terlihat mengangguk-angguk dan tersenyum sambil memperhatikan kak Fifah berbicara. "Kak Fifah!" Panggilku.
Kak Fifah menoleh ke arahku, begitupun dengan kak Ridwan. "Ada apa, Zee? Napa anak-anak pada ngumpul di situ?"
Aku melengokan kepalaku ke samping untuk melihat ekspresi Kak Fifah dengan jelas. "Apa gue boleh ngasih tau ke mereka kalo lo suka sama kapten dari kecil?" Tanyaku.
"EH?!!!!!"
Semua orang yang ada di sana terlihat terkejut. Sedangkan aku menatap heran pada mereka, lalu pada kak Fifah yang terdiam dengan wajah memerah. Dan kak Ridwan yang mematung di tempatnya dengan mulut yang terbuka setengah.
Kenapa reaksi mereka seperti itu? Apa aku salah berbicara?
AKAN DINEXT SAAT VOTE SAMPAI 150 DAN KOMEN SAMPAI 20!!