Extras 15 : Abimayu Marah

1296 Kata
Aku memakan siomayku dengan tenang. Sementara satu tanganku menyuapkan makanan, satu tanganku yang lain menggeser layar ponselku. Kali ini aku mempelajari posisi-posisi jabatan dalam voli beserta gerakan-gerakan dalam voli. Aku bisa melanjutkan menonton haikyuu nanti, ketika Abimayu tidak ada lagi di hadapanku. "Lo baca apaan, sih?" Tanya Abimayu, terlihat kesal. "Yang di hadapan lo sekarang ini Abimayu, loh. Abimayu. Seorang Abimayu! Tau, kan? Abimayu Kai Damian." "Lagi baca tentang voli," jawabku, sambil menyuapkan siomay dengan pelan. Takut-takut malah masuk lubang yang lain dan bukannya mulutku. "Hm ..., voli. Gue kira lagi belajar." "Hm. Lagi belajar. Belajar voli," kataku sambil mengunyah makananku dengan pelan. "Posisi lo di voli itu spiker?" "Spiker itu bukan posisi, cuma sebutan. Posisi gue mah middle block." "Middle block?" Tanyaku, lalu menoleh pada Abimayu, tidak lagi menatap ponselku. "Kayak Hinata?" "Hinata?" Heran Abimayu, mengangkat sebelah alisnya. "Siapa dia?" "Hinata. Pemain voli. Dia lucu." "Hah? Cewek atau cowok?" "Cowok lah!" Kataku, mendelik kesal. Aku bahkan menyimpan ponselku di meja, ingin membicarakan Hinata dengan serius. "Dia bisa lompat tinggi banget. Walaupun pendek, dia bisa ngalahin orang setinggi 2 meter." Abimayu mendelik. Dia terkekeh, namun nadanya terdengar sinis. "Emangnya masuk akal yang kayak gitu? Dia cuma meninggikan diri doang. Aslinya ya mana tau." "Gue nonton sendiri, kok!" Dan lagi, mana bisa Hinata meninggikan diri sendiri di hadapanku? Dia pikir Hinata manusia, apa? Abimayu terlihat terkejut. Dia bahkan menghentikan kegiatan makannya. "Lo nonton sendiri pertandingannya?!" Tanyanya, sedikit menaikkan nada bicaranya. "Um!" Aku mengangguk semangat. "Walaupun dia bodoh dalam pelajaran, tapi kalau soal voli, dia juaranya!" Aku bahkan mengangkat jempolku untuk memuji Hinata Shouyo. Mulut Abimayu terbuka setengah. Pandangannya padaku terlihat ..., kesal? Dia kesal karena apa? Apa aku salah berbicara? "Lo bahkan tau nilai dia?" "Um ... ya," aku menjawab ragu, masih bertanya-tanya kenapa dia terlihat kesal. Namun, mengingat adegan Hinata membicarakan nilai, aku mendengus geli. "Dia bilang bahkan nggak pernah dapet dua digit di semua mata pelajaran. Dia payah banget kalo pelajaran Bahasa Inggris." "Kalo dia bego banget gitu, kenapa lo seneng banget ngomongin dia?!" Lagi-lagi, nada suara Abimayu terdengar meninggi. "Lagipula, lo sama dia tuh nggak bakalan berhasil! Berbanding terbalik banget, tau nggak?! Dia bego, dan lo butuh nilai sempurna. Lagian, masa depan dia bakal kayak gimana kalau dia males belajar gitu?! Trus, apa tadi?! Dia payah banget kalo pelajaran Bahasa Inggris?! Udah! Tamat idup dia! Lo nggak akan berhasil! Kalian nggak akan berhasil!" Aku mengedipkan mataku dengan heran. Apa maksudnya dengan kami yang tidak akan berhasil? Aku dan Hinata Shouyou? Tentu saja, bukan? Dia memang anime. Lagipula, "kenapa lo marah-marah gitu?" Heranku. Abimayu malah memaksakan tertawa. "Siapa yang marah? Gue?! Sama siapa? SAMA HINATA?!" Nah kan, dia malah berteriak. Dia kembali tertawa walaupun raut marahnya terlihat kentara. "Kenapa gue harus marah sama si Hinata, coba?! Emangnya dia siapa?! Gue aja belum ketemu, sama dia! Nggak perlu lah gue marah-marah tiba-tiba cuma gara-gara lo muji-muji dia!" Ocehnya panjang lebar. Napasnya bahkan terengah kasar. Dia mengambil gelas di sampingnya dan minum dengan cepat. Aku mengedipkan mataku pelan. Sepertinya, aku salah dalam bahasan obrolan dengan Abimayu. Yah, selera orang-orang memang berbeda-beda. Sepupuku juga pernah marah-marah karena aku membicarakan k-pop karena dia suka anime. Dan kali ini, mungkin Abimayu kebalikan dari sepupuku. Dia k-pop garis keras, berarti. "Lo suka Twice?" "Twice?" Abimayu menyimpan gelas yang airnya sudah habis itu di meja. Napasnya masih terengah. "Kenapa ngomongin Twice?" Aku mengangguk, dan memulai gerakan dance Cheer Up dari Twice. "Cheer up baby, cheer up baby, jom deo himeul lae~ Yeojaga swipge mameul jumyeon andwae, geuraeya niga nal deo johahage doelgeol~" nanyiku, dan berakhir di sana karena aku memang hanya hafal bagian itu saja. Itu karena sepupuku selalu memaksaku menghapalkan tarian untuk konten feed Instagramnya. Selesai dengan tarian singkatku, Abimayu malah terdiam melamun di tempatnya. Apa aku salah? Dia non-kpop? Kalau non-kpop, kenapa dia membenci Hinata Shouyo? Apa dia membenci keduanya? "Pfftt!" Abimayu malah menahan tawanya. Dia bahkan menutup mulutnya dengan tangannya yang terkepal. Sedetik kemudian, Abimayu tertawa pelan. Dia menatapku dengan binar terhibur. "Lo gemesin banget, tau nggak?" Aku mengedip. Siapa yang menggemaskan? "Gue?" Abimayu mengangguk. Dia bahkan mengalihkan pandangannya dariku. "Ah ..., gue nggak nyangka lo punya sisi itu juga. Dan gue nggak nyangka lo bisa nyanyi." "Well, thank you," ucapku datar. Aku kembali meraih ponselku ketika mendapatkan pesan tiba-tiba dari Reno. "Reno nanya lo lagi di mana." Kataku pada Abimayu, karena pesan Reno berkata demikian. Reno Zee, lo tau nggak Abi ada di mana? Dia lagi voli kah? Zee Nggak. Lagi ngantin "APA?! RENO?! LO PDKT SAMA DIA?!" Teriakan itu menggema di seluruh kantin. Dan aku yang baru selesai mengirimkan pesan pun bahkan melompat dari kursi, kaget dengan teriakan Abimayu. Aku menyentuh dadaku, sedangkan mataku segera mengecek monitor jantungku. "Lo ngagetin! Bisa nggak sih, nggak usah teriak?" "Maaf tentang itu!" Katanya dengan ketidaktulusan yang sangat kentara. "Tapi apa kata lo tadi? Reno?! Lo PDKT sama temen gue?!" "Cuma bertukar pesan nggak jadi PDKT, kan?" Kesalku, dan kembali mengecek pesan yang baru masuk. "Dia bilang Kania nyariin lo." "Sejak kapan lo punya nomor Reno?" Tanya Abimayu kemudian, membuatku menatapnya yang sedang memelototiku. "Sejak dia manggil gue dan lo yang kabur?" Jawabku yang sengaja menyindirnya, sementara jariku sibuk membalas pesan Reno. "Reno nanya mau dia sama Kania yang ke sini, atau lo yang balik ke kelas?" "Lo udah ngapain aja sama dia? Jalan?" Abimayu malah bertanya, padahal aku sedang menunggu jawabannya untuk diberikan pada Reno. "Jalan?" Heranku, lalu menggeleng. "Enggak. Kita cuma ngobrol." "Nggak usah bohong deh!" Abimayu tiba-tiba berucap kesal. "Reno tuh biangnya gerak cepet! Dia aja udah tiba-tiba punya nomor lo! Nggak mungkin, kan, cewek secantik lo dianggurin sama cowok playboy kayak dia?!" "Makasih atas pujiannya, tapi Reno nanya jadinya gimana, katanya." Kataku kemudian, memperlihatkan layar ponselku padanya. "Sini! Biar gue yang bales," kata Abimayu, merebut ponsel milikku dengan tidak sopannya dan mengetikkan sesuatu di sana. "Ini nomor gue. Simpen, ya! Jangan diblokir." Dan kenapa juga aku harus memblokir nomornya? Dia ini terus mengatakan segala yang ada di pikirannya, ya? Ngaco sekali pikirannya. Dia memang hanya bagus dalam akademik saja. "Nih!" Katanya sambil mengembalikan ponselku dengan tatapan mata yang terlihat sangat tidak bersahabat. "Lo marah?" Tanyaku saat meraih ponsel milikku. "Siapa?! Gue?! Sama siapa?! RENO?!" Teriaknya, sama seperti ketika aku membicarakan tentang Hinata Shouyo. Dia bahkan tertawa dalam kemarahan, seperti saat mengoceh tentang Hinata. "Kenapa gue harus marah-marah sama temen gue sendiri?! Gue nggak marah, kok!! Respons gue gini, bukan berarti gue nggak suka lo punya nomor dia DAN SERING CHATAN SAMA DIA!! Gue nggak marah! Sama sekali nggak marah karena Reno ngedeketin lo!" Lagi-lagi dia mengoceh panjang lebar. Dia kemudian berdiri, dan pergi dari sana dengan pandangan yang masih berkilat dengan emosi. Aku menghela napas panjang, kemudian kembali memainkan ponselku. Melihat balasan yang diberikan Abimayu pada Reno. Zee Asal lo tau aja kalo lo tuh jelek luar biasa dan sama sekali nggak bisa bareng gue Nggak usah hubungin gue lagi Gue jijik sama lo Dan balasan Reno, sukses membuatku mendengus geli. Reno Bi, balik yah Udah dicariin bini lo Melihat percakapan Reno dan Abimayu, sukses membuatku teringat dengan aku dan Laras. Mereka memang teman yang cocok. "ZEE!!!" Nah kan. Baru saja dibicarakan, sudah datang lagi. Laras, dengan seragam kemejanya yang belum dimasukkan ke dalam rok itu terlihat berlari ke arahku dengan terburu-buru. Dia terengah ketika sudah berada di sampingku. "Mana Abi?!" Pekiknya padaku. "MANA ABI, ZEE?! KOK LO NGGAK NGASIH TAU SIH KALO LAGI SAMA ABI?!!" Aku menghela napas panjang dan memberikan ponselku pada Laras. Melihat percakapan di sana, Laras menggeram kesal. "NYEBELIN!!! KANIA SIALAN!!" Teriaknya sambil pura-pura menangis dan memelukku dengan erat. Aku hanya menepuk-nepuk bahunya dengan pelan. Kasihan sekali pemeran antagonis yang satu ini. AKAN DINEXT SAAT VOTE SAMPAI 150 DAN KOMEN SAMPAI 80!!!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN