Eksas berdiri dengan tangan gemetar, matanya berkaca-kaca namun penuh dengan kemarahan yang tak terbendung. "Maaf?" beonya. "Ya. Aku minta maaf." "Apa Bapak pikir kata-kata itu bisa menghapus penghinaan yang Bapak hadapkan kepada saya?" suaranya bergetar, namun tajam seperti pisau. Daffa berdiri di hadapannya, tubuhnya kaku. "Aku benar-benar minta maaf, Eksas. Aku salah... aku terlalu terbawa emosi," katanya dengan nada tulus, namun jelas terdengar ragu. Dia tahu, tidak ada kata yang cukup untuk memperbaiki apa yang telah ia lakukan. Eksas mendekatinya dengan langkah tegas. "Bapak sudah melewati batas. Jadi, hentikan semuanya!" Daffa menundukkan kepala, dadanya terasa sesak mendengar tiap kata yang diucapkan Eksas. "Aku tahu aku salah, dan aku tahu aku telah menyakitimu. Tapi aku hany

