Aklil tersadar dari tidurnya, Tidur ternyamannya setelah dua belas hari tidak merasakan pelukan hangat sang istri. Dia melirik jam yang menggantung di dinding pukul 04 : 05 WIB, Sesudah melaksanakan salat malam Pukul 12 : 30 WIB mereka tidur kembali. Baik Aklil maupun Aira tidur sangat nyenyak seakan baru menemukan cara bagaimana rasanya tidur yang sangat nyaman. Aklil meneliti wajah Aira yang menyusup di dadanya, memeluk tubuhnya begitu erat. Aklil mengecup beberapa kali puncak kepala istrinya, lalu.. menggeser sedikit tubuhnya mensejajarkan dengan wajah Aira. "Permaisuriku.. Bangun bentar lagi adzan subuh.. " bisik Aklil tepat di telinga Aira. Bukan Aira namanya, kalu sekali di bangunkan langsung tersadar dari tidurnya. Aklil tersenyum, istrinya ini masih belum berubah. Semen

