bc

Hijrah Pengantar Jodohku

book_age0+
4.3K
IKUTI
67.3K
BACA
family
CEO
princess
doctor
heir/heiress
drama
sweet
like
intro-logo
Uraian

"Aira, seperti yang sudah Ayah katakan barusan, maksud kedatangan saya kesini dengan keluarga, saya ingin meminta restu kedua orang tua kamu, untuk mengkhitbahmu.

Sejak pertama kali, saya melihat kamu ada keyakinan di dalam hati saya untuk menjadikanmu sebagai kekasih halal saya.

Saya tidak punya apapun untuk saya banggakan. Saya pun masih sangat awam dalam memahami ilmu agama, saya juga tidak punya harta yang berlimpah untuk saya banggakan, tapi jika kamu bersedia saya ingin belajar bersama denganmu, meraih ridha-Nya allah. Saya ingin meminangmu menjadi istri saya, apakah kamu bersedia?" Aklil, mengatakannya dengan penuh keyakinan.

Itu yang dikatakan Aklil saat mengkhitbah Aira.

Ikuti kisah mereka Dari mulai Aira memantapkan hatinya untuk hijrah, sampai ada seorang laki-laki yang berani langsung mengkhitbah dan menghalalkannya.

chap-preview
Pratinjau gratis
( 1 ) Aira Nazwa Sidkia Sidiq - Aklil Dzikri Firmansyah
Setelah menyelesaikan kuliah kedokterannya di Negri terbit nya matahari, Aira Nazwa Sidkia Sidiq memutuskan pulang ke Negri kelahirannya Indonesia. Dia akan mengabdi di Rumah Sakit milik keluarganya, SIDIQ HOSPITAL, adalah salah satu Rumah Sakit besar di Jakarta. Rumah Sakit yang juga mempunyai beberapa cabang di kota-kota besar di Indonesia. dr.Muhammad Farid Sidiq Abinya Aira yang merupakan owner sekaligus menjadi pimpinan di Rumah Sakit miliknya saat ini. Pukul 08.00 WIB pesawat yang di tumpangi Aira landing di bandara soekarno hatta, gadis yang mengenakan pashmina light grey di padupadankan dengan long coat warna khaki dan celana jeans senada dengan khimar yang di kenakannya, tidak ketinggalan dengan sneekers putih yang semakin menyempurnakan penampilannya. Aira berjalan dengan sangat anggunnya, wajah cantik blasteran Indo Arab yang wajah dominannya, layaknya seperti orang Arab mata yang bulat, pas dengan bentuk hidungnya yang sangat bangir seperti Warga Negara Saudi Arabian pada umumnya. Menggeret koper di satu tangannya, sambil mengedarkan pandangan mencari keluarganya yang akan menjemputnya. Mata Aira berhenti, saat menemukan 3 orang yang sangat berarti dalam hidupnya.  Ya. Abi, Umi dan Kakaknya, sedang duduk di kursi tunggu yang di sediakan. Aira menarik sudut bibir nya ketika mereka bertiga pun sedang tersenyum kepadanya. Ketika mata Abi, Umi dan Kakaknya, bersitatap dengan mata Aira, mereka beranjak dari duduknya. Aira mempercepat langkah kakinya. Ketika jaraknya sudah dekat, tidak membuang waktu lagi Aira langsung memeluk erat El-mira Inaya Ahmed melepaskan kerinduannya. Begitupun Uminya yang tak kalah erat membalas pelukan Aira,  Inaya adalah perempuan keturunan Arab, kecantikannya sudah tidak di ragukan lagi, dan Wajah Arabiannya inilah yang menurun pada Aira, terutama bentuk hidungnya. Aira mempunyai hidung yang sama persis dengan Uminya. kecantikannya bertambah dengan gamis dan jilbab syar'i nya meski sudah berkepala empat cantiknya tidak  berkurang sedikitpun. "Masya Allah, kesayangan Umi makin cantik aja ya," Ucap umi sambil mengusap pipi Aira. Sementara, Aira yang masih betah di pelukan Uminya terkekeh kecil, "Umi, Aira kangen banget sama Umi" kata Aira, yang masih belum melepaskan pelukannya. Inaya tersenyum, kedua tangannya merangkum wajah putri Bungsunya, yang begitu ia rindukan. "Iya sayang, umi juga kangen banget sama anak umi, yang sangat cantik dan manja ini " ujar umi sambil tersenyum dan mengusap kepala putri nya. "Jadi, sama Abi gak kangen ya? Kalo gitu Abi nyesel jemput Aira kesini " Farid berucap dengan nada kesal yang di buat-buat. Seakan tersadar, Aira langsung melepas pelukan dari Umi nya dan langsung memeluk erat Abinya. Ya Seperti inilah Aira masih sangat manja kepada kedua orangtuanya. Tapi, jangan salah walaupun dia seperti anak kecil dan sangat manja dia bisa hidup mandiri bertahun-tahun di Jepang. "Abi, Aira juga lebih kangen sama Abi" Aira memeluk erat abi nya, Farid tersenyem sambil mengecup kening sang putri, "Anak abi udah besar, tapi manja nya ko gak berubah ya nak?" tanya Farid Aira hanya terkekeh, dan melepas pelukan Abinya lalu melirik kakaknya. "kakak gak nyapa Aira gitu?" Tanya Aira sambil menekuk wajahnya. "Mmm.. Gak usah makasih," Sahut Aizar dengan wajah tanpa dosanya. Ya, seperti itu lah mereka jika sudah bertemu Tom&jerry saja kalah sama keributan yang mereka ciptakan. Meskipun mereka jarang sekali akur, tetap saja.. dilubuk hatinya masing-masing mereka saling menyayangi. Aizar Zulfikar Sidiq kakak semata wayang Aira yang usianya 4 tahun di atas Aira, wajahnya mewarisi ketampanan dr.Farid namun bentuk hidungnya sama seperti Inaya dan Aira. Aizar meneruskan perusahaan sang Abi, dia menggantikan Abi nya menjadi CEO di perusahaan nya SIDIQ ENTERPRISE. dr.Farid memberikan tanggung jawab perusahaan kepada anak sulungnya agar ia bisa fokus ke Rumah Sakit saja, itu yang beliau katakan.  Selain punya Rumah Aàakit dr.Farid punya perusahaan. perusahaan yang ia dirikan dari nol, kini sudah menuai hasil yang memuaskan. Menjadi perusahaan besar yang mampu bersaing dengan perusahaan besar lainnya, SIDIQ ENTERPRISE juga mempunyai beberapa cabang di dalam dan luar negri. Aira mendelik, menatap kakanya tajam "kakak macam apa itu, Dasar... Kakak nyebelin, pantes aja gak ada cewek yang mau sama kakak, " Menggoda sang adik, adalah hobi yang paling menyenangkan baginya. Wajahnya yang tadinya menampilkan senyum kemenangan, langsung berubah datar saat Adiknya mengatakan, apa katanya tadi 'gak ada cewek yang mau'. Yang benar saja, yang ada semua cewek pada ngantri, antriannya sepanjang kalau lagi pembagian BLT atau sembako gratis. " Eeeeeehh.. Kok jadi bawa-bawa cewek gak ada yang mau. Kamu gak tau aja di luar sana banyak yang ngantri sama kakak ganteng mu ini. " Ucap Aizar dengan Percaya dirinya.. Aira hanya mencebikan bibirnya, dia masih sangat lelah, dan perlu ngumpulin energi yang banyak untuk berperang dengan sang kakak. "Ya udah, sini peluk.. "kata Aizar yang akhirnya berhenti menggoda adiknya. "Gak mau!" Aira mendelik pada kakaknya. Umi dan Abinya hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat kedua anak nya. "Bi, Mi.. Tau gak kemarin ada yang minta di beliin hadiah. katanya hadiah penyambutan kedatangannya lagi, umi sama abi tau gak hadiah yang di minta apa..??" "Wah siapa emangnya? Emang hadiah apa yang di minta? "  Ujar umi ikut-ikutan menggoda sang putri, "Hadiah yang di minta gak, tanggung2 mi dia minta Iphone x plus yang baru rilis beberapa bulan lalu Padahal masih limited lumayan susah dapetnya. Tapi, kayanya orang nya udah gak mau deh mi Aku kasih ke siapa ya? Eeh.. Apa di jual lagi aja ya?" Aizar pura-pira berfikir sambil mengetuk-ngetukan jari telunjuk di pipinya.. Aira yang mendengar itu langsung menghampiri kakak nya dan senyum semanis-manisnya lalu memeluk kakak nya mencium pipi kanan dan kiri Aizar Sambil berkata. "kakak.. Aira kangen bangeet sama kakak, kok kakak makin ganteng sih Aira makin sayaaaang.. banget sama kakak apalagi kalo Iphone nya di kasih sekarang kadar kegantengannya bertambah " Aira nyengir. Aizar mengangkat alisnya mendengarkan Aira merayunya. "Huuuuuh, dasaar ya tahu keuntungan langsung ijo mata nya," Aizar menjawil hidung Adiknya.. Aira mengerucutkan bibirnya, "Bi, Mi Lihat deh lama di jepang pas pulang udah matre aja," adu Aizar, Abi dan uminya tertawa melihat kelakuan keduan anak kesayangan nya. "Aizar udah ah jangan di godain terus adiknya, kasihan Aira pasti sangat lelah," Inaya memperingati putra sulungnya, "Ayo sayaaang, kita ke mobil sekarang" Inaya menggandeng tangan putrinya lalu berjalan menuju pintu keluar bandara. Aira yang berjalan terlebih dahulu bersama uminya, menengok pada kakaknya, menjulurkan lidah ke arah Aizar membalas dengan delikan matanya, pura-pura kesal pada adik satu-satunya ini. Mereka semua berjalan keluar dari bandara, masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu. *** Di balik pintu jati berukir elegan yang terdapat sebuah ukiran nama CEO. di ruangan itu ada seorang pria muda sedang memfokuskan perhatiannya pada laptopnya jari-jarinya bergerak lincah di atas keyboard.. disamping nya terdapat berkas-berkas yang menumpuk. Saking fokusnya pada pekerjaan, ia tidak menyadari ada seorang wanita paruh baya yang masuk keruangannya seraya mengucapkan salam. Wanita paruh baya yang memakai hijab dan gamis berwarna hijau toska itu menghela nafasnya. Dia sudah tidak asing lagi dengan sikap anaknya jika sudah mengalihkan dunianya pada pekerjaan, Anaknya akan lupa segalanya. "Aklil, Assalamu'alaikum??" Bundanya lebih mengeraskan panggilannya. Aklil Dzikri Firmansyah Putra dari pasangan Andri Firmansyah dan Alma Maisha Rianti. di usianya yang masih terbilang muda, Aklil di percaya oleh Ayahnya untuk menjadi CEO di perusahaan sang Ayah. FIRMANSYAH GROUP merupakan salah satu perusahaan besar di Indonesia, yang mempunyai anak cabang di kota-kota besar seluruh Indonesia bahkan sampai ke luar negri, saat ini FIRMANSYAH GROUP terus mengupayakan untuk memperluas jaringan bisnisnya, agar berada di setiap Negara. Selain wajah yang sangat tampan, Aklil terkenal dengan kesholehannya, sikap ramahnya kepada setiap orang, sikap dermawannya, tapi.. jangan lupa ketegasannya dalam memimpin perusahaan. Jika sudah berurusan dengan yang namanya pekerjaan jiwa tegas dan kepemimpinannya keluar,  Juga ada satu Fakta lagi, dia selalu menjaga pandangannya dari perempuan, tidak pernah dekat dengan yang namanya perempuan, selain rekan kerjanya, lebih tepatnya bukan dekat melainkan melakukan sebuah profesionalitas dalam pekerjaan. Tapi, justru inilah yang menjadi daya tarik setiap perempuan. Banyak rekan bisnisnya yang selalu mencari perhatian dan mendekatinya, tapi Aklil tak pernah meresponnya. Dia berprinsip 'buat apa pacaran ngumpulin dosa, kalo udah sama-sama siap mendingan langsung nikah aja, ngumpulin pahala sama meraih ridho Allah' itu prinsip Aklil. Aklil terlonjak kaget, dia melihat Bundanya sedang berdiri di hadapannya.. Aklil mengusap dadanya, "Wa'alaikumussalam Bunda, Bunda kapan kesini?" ucap Aklil cengengesan menghampiri Alma dan menyalami tangannya. "Bunda udah dari tadi nonton anak bunda yang lupa sama dunia nyata" Alma menggerutu. "Maaf ya bunda, ini lagi banyak kerjaan banget " Aklil cengengesan lagi Dia merasa tidak enak dengan Bundanya. "Gak papa bunda udah biasa kok. Udah biasa di cuekkin maksudnya" Aklil hanya menanggapi perkataan sang Bunda dengan cengiran andalannya, pasalnya memang benar dirinya selalu seperti itu.  "Oh iya.. Oma titip pesan buat kamu katanya besok temenen oma chek up ke Rumah Sakit ya, dia mau di temenin sama cucu kesayangannya." Alma menyampaikan pesan dari Mamanya, kalau Aklil tidak di beri tahu sekarang, takutnya dia gak pulang ke rumah. Alma sudah tahu sifat Anak laki-lakinya ini, jika di kantor sedang sibuk.. Pasti anaknya itu memilih tidak pulang,  Ya..karena memang di ruangan kerjanya sengaja di sediakan satu kamar yang di dalamnya berisi semua perlengkapan Aklil dari mulai ranjang king size, pakaian, dan segala kebutuhan Aklil lengkap di kamar ini. maka dari itu Aklil sering memilih istirahat di kantor dari pada harus pulang ke rumah orang tuanya larut malam.  Sebenarnya kalau Aklil tidak pulang pun, bisa saja di hubungi melalui telepon, tapi kali ini kebetulan Alma lagi ada janji dengan temannya di restaurant sekitar kantor suaminya, yang kini sudah berpindah tangan pada anaknya ini. jadi.. Di sampaikan langsung saja, Karena sejak pagi Mamanya terus mengoceh ingin di antar chek up oleh Aklil, yang namanya orang tua kalau belum di turuti perkataanya mulutnya tidak berhenti bicara, makannya Alma cepat-cepat menyampaikannya pada Aklil. Aklil berpikir sejenak, "Mmmm..tapi Bun aku lagi banyak kerjaan banget," Aklil berusaha menolak. Dia bukannya tidak mau, namun belakangan ini Aklil benar-benar di sibukkan dengan pekerjaan kantor yang sangat menyita waktunya, Alma menghela nafas, "Iya bunda tahu, tapi kamu juga tahu kan sikap Oma kayak gimana kalau keinginannya gak di turuti?" Alma tetap keukeuh, Aklil mengusap wajahnya. bagaimana pun Aklil paling tidak bisa menolak perintah kedua orang tuanya, "Iya, Bunda Aku usahain," sahut Aklil dengan suara yang sangat lemah. Begitu mendengar jawaban sang putra, Alma tersenyum bahagia.  "Ya udah.. Bunda pulang dulu ya jangan lupa makan, Bunda gak mau ya denger kabar lagi kamu ngelewatin makan siang gara-gara tanggung nyelesain kerjaan." Aklil mengangguk patuh, dia jadi kesal sama sekretaris sekaligus sahabatnya, Ryan. yang selalu melaporkan apapun pada Bundanya tentang dirinya. "Iya, Bunda Inn Syaa Allah enggak lagi." Aklil tersenyum, untuk meyakinkan Bundanya. "Bagus. Bunda pulang ya sayang. Assalamu'alaikum?" "Iya bun.. Wa'alaikumssalam" Aklil kembali menyalami tangan Bunda nya. Alma mengusap sayang kepala Aklil, lalu beranjak dari ruangan putra bungsunya, Setelah kepergian sang Bunda Aklil kembali berkutat dengan dokumen-dokumen yang menumpuk, dan harus ia selesaikan secepatnya. *** ~To Be Continued~

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Skylove

read
115.1K
bc

Stuck With You

read
75.8K
bc

Dear Pak Dosen

read
434.2K
bc

Aira

read
93.1K
bc

Daddy Bumi, I Love You

read
36.0K
bc

Love Match

read
180.3K
bc

Symphony

read
184.7K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook