Umi Inaya sedang berkutat di dapur menyiapkan makan malam untuk keluarganya. Inaya termasuk salah satu wanita yang mampu membagi waktu antara urusan rumah tangga dengan kerjaannya. Dia bekerja bukan karena Farid tidak memenuhi segala kebutuhannya. Namun ia memilih kerja karena memang senang berbagi ilmu yang dia tahu. Yang paling dia senangi ya ini.. membagi keilmuan seputar Bahasa Arab, pada orang lain.
"Mi Aira masih tidur? " tanya Aizar yang baru keluar dari kamarnya.
"Sepertinya iya, kayanya cape banget dia" jawab inaya tanapa menoleh, karena sedang fokus pada masakannya.
"Coba kamu bangunin dia Zar suruh makan malam dulu. inget ya umi suruhnya bangunin, bukan ngerjain adik kamu, " Inaya berkata seperti itu, karena memang hafal sekali kebiasaan anak-anaknya itu seperti apa. Meski sudah besar, tetap saja tidak menghentikkan keisengan mereka.
"Ya ampuun, umi suudzon mulu sama anak umi yang ganteng ini," sahut Aizar sambil naik ke tangga menuju kamar adiknya.
Sesampainya di kamar adiknya Aizar melihat Aira meringkuk dengan selimut hello kitty menutupi seluruh bagian tubuhnya.
"Dek.. Bangun dek" ucap Aizar sambil menepuk-nepuk pipi sang adik, tapi Aira tidak terganggu sama sekali.
Aizar berdecak, dia memencet hidung Aira cukup lama. Aira yang tidak bisa bernafas membuka matanya sontak memukul lengan kakaknya dengan keras.
"kakak.. Apa sih ah, pake mencet-mencet idung orang sakit tahu.." Aira membenarkan selimut hello kitty kesayangannya sambil memejamkan matanya lagi.
"Ya salam.. Gue punya adek satu aja kebo banget ya tidurnya, buruan bangun dulu di tungguin sama Umi dan Abi di meja makan, maka malam dulu katanya,"
Aizar mengguncang-guncang badan Aira,
"Iya kak.. Iyaaaa " Aira duduk dengan mata masih terpejam.
Seketika ide jahil muncul di kepala Aizar.
Aizar membuka paksa mata adiknya dengan kedua tangannya, sontak Aira teriak histeris..
"kakakaaaa..."
Aizar tertawa terbahak-bahak.
Setelah itu, dia langsung mengambil jurus lari maraton dari kamar Adiknya.
***
Aira turun dari kamarnya dengan wajah yang sudah segar karena baru saja mandi dan salat isya, dengan memakai piama hello kity pink favorit nya. Di ruang makan sudah ada Abi, Umi, dan kakaknya yang sudah menunggunya cukup lama.
"Malam cantik nya umi, nyenyak banget tidur nya," sapa inaya, dengan senyum lembut yang selalu tercetak di wajah cantiknya.
Aira duduk di sebelah Aizar..
Dia tersenyum ke arah uminya.
"Iya umi.. Aira capek banget." sahutnya dengan kekehan.
"Biasanya juga kalo gak capek tetep aja ngebo tidurnya.. " celetuk Aizar sekenanya,
Aira memelototkan mata pada kakaknya.
Nah..kan? pasti saja seperti ini.
" Sudah jangan ribut, ayo sekarang kita mulai makan nya, ayo Bi pimpin baca do'anya."
Mulailah Farid memimpin membaca Do'a,
Usai membaca Do'a mereka berempat memakan makannya dengan diam, karena di keluarganya di biasakan untuk tidak bicara selagi makan.
Setelah selesai dengan makan malamnya, mereka semua bersantai di ruang keluarga sembari menonton tv.
"Oh iya sayang, kapan kamu mulai dinas di Rumah Sakit?" tanya Farid pada Aira yang menyandarkan kepala di pundaknya.
"Besok Bi, boleh kan?" Jawab Aira antusias sembari membenarkan posisi duduknya.
Farid, menautkan kedua alisnya.
"Gak kecepetan sayang, Abi sih terserah kamu aja siap nya kapan?"
"Iya besok aja Bi, Aira kan udah gak sabar pengen cepet-cepet ngamalin ilmu yang udah Aira dapet." jawab nya lagi sambil tersenyum.
Abinya mengangguk, sambil mengacak rambut anak gadis nya itu dengan sayang.
"Ya udah sayang kamu istirahat lagi, supaya besok lebih fresh." saran Inaya.. yang sedari tadi tersenyum melihat anak bungsunya, yang begitu antusias untuk segera bekerja di rumah sakit.
Inaya sangat bangga pada kedua anaknya, di balik sifat manja yang mereka tunjukkan pada dirinya dan Farid. Mereka sangat mandiri, itu yang membuat dirinya bahagia.
"Iya sana, biar besok gak salah kasih suntikan ke pasien," Lagi-lagi kakaknya nyeletuk asal.
"Ih.. Kakak apaan sih, aku tuh udah profesional tahu," Aira yang tidak terima, menatap penuh perhitungan pada Aizar.
"Iya.. Iya dokter manja" Aizar menjulurkan lidahnya yang di balas perlakuan yang sama oleh Aira.
"Udah sayang, cepetan tidur gih," lerai Farid.
"Iya Abi, Aira ke kamar dulu ya.. Malam Umi, Abi." Aira mencium mereka satu-persatu,
Lalu menghampiri Kakanya,
Mencubit kecil tangan Aizar.
"Aww..." teriak Aizar yang merasa kesakitan,
setelah puas dengan kejahilannya, Aira berlalri menaiki tangga pergi ke kamarnya dan langsung tidur lagi di kamar hello kitty kesayangan nya, yang sudah lama ia tinggalkan selama Aira tinggal di jepang.
Aira tersenyum saat memasuki kamarnya, yang ia anggap sebagai istananya. Kenapa? Karena rata-rata semua orang menjadikan kamar tempat ternyaman untuk segala hal yang akan kita lakukan. Kalau menurut Aira, rasanya hanya kamar yang selalu mengerti kondisi sang pemiliknya.
Meskipun Aira sudah dewasa, kecintaan terhadap apapun yang berkaitan dengan hello kitty tidak pernah berubah. Dan sepertinya tidak akan pernah berubah.
Setelah memposisikan badannya di ranjang, dia menggulung badannya dengan selimut, Aira melafalkan Do'a yang selalu dibacanya sebelum tidur, tidak lama setelah itu dirinya benar-benar terlelap.
***
Pukul 21.05 WIB Aklil baru sampai di kediaman keluarga Firmansyah. Berhubung di kantornya sedang banyak sekali pekerjaan, akhir-akhir ini dia selalu pulang malam hari.
Sebenarnya.. pulang malam hari buat dirinya itu tidak masalah, dia bahkan sesekali menginap di kantor, jika harus lembur.
Tapi.. jika sudah menikah nanti, dia akan berusaha meminimalisir waktunya di kantor.
Setelah memarkirkan mobilnya, Aklil bergegas masuk ke dalam rumah.
Ketika Aklil sampai di ruang keluarga, Dia melihat oma nya sedang membaca majalah sambil menonton tv, lebih tepatnya tv yang menonton omanya.
"Asalamua'laikum Oma?"
"Ehh..Wa'alaikumssalam, cucu Oma baru pulang?" Oma menutup majalah, menyambut ularan tangan Aklil. Senyumnya langsung mengembang ketika melihat cucu kesayangannya.
"Iya oma," Aklil balas tersenyum sembari duduk di sebelah Oma nya.
"Kamu jangan terlalu cape, nanti sakit loh."
"Iya enggak kok,"
"Ckk kamu ini susah banget di bilangin." Oma menghela nafas, kalau urusan di larang jangan terlalu cape kerja, Aklil tidak pernah menurut. "Oh iya, Bunda kamu udah bilang besok kamu harus nganterin oma chek up. gimana. bisa?" tanya oma.
"Udah. iya Inn Sya Allah bisa Oma, besok Aklil anterin ya."
Oma tersenyum lebar, karena memang jarang sekali cucunya ini bisa meluangkan waktu.
"Nah, gitu dong! Kamu udah makan?"
"Udah oma, tadi di kantor."
"Udah salat?" tanya oma nya lagi.
"Udah dong Oma, oh iya Bunda sama Ayah ke mana oma, apa udah tidur?"
"Ayah sama Bunda kamu lagi pergi kondangan rekan kerjanya."
"Oh.. " Aklil menganggukkan kepalanya.
"Oma, Aklil istirahat dulu ya.. Cape banget ini,"
"Iya, sana cucu ganteng Oma.. Besok jangan lupa, anterin Oma.. "Oma nya mengingatkan
"Iya, iya oma, Aklil gak bakalan lupa. Aklil masuk dulu ya Oma."
Aklil beranjak dari duduk nya, menaiki tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
Aklil memasuki kamarnya yang dominan berwarna hitam putih, warna favorite nya.
Langsung saja Aklil menuju kamar mandi, untuk membersihkan badannya.
Setelah selesai, dia merebahkan badannya, matanya terasa sangat berat.
Aklil termasuk orang yang cepat tidur, mungkin karena rasa lelahnya karena rutinitasnya seharian.

***
Adzan subuh sudah berkumandang, tetapi Aira masih belum membuka mata, dia masih tidur dengan pulasnya.
Umi nya masuk ke kamar Aira, untuk membangunkan putri bungsunya itu.
inaya duduk di samping aira dan mengusap-usap wajah putrinya dengan sayang.
"Sayang, bangun nak udah adzan salat dulu." Uminya berbisik di telinga Aira, perlahan Aira membuka matanya.
"Iya Umi," Aira memejamkan lagi matanya yang terasa begitu berat.
"Eeh.. Kok matanya di tutup lagi, ayo sholat dulu, terus siap2 katanya mau ke Rumah sakit Hari ini, masa hari pertama udah telat aja,"
Mendengar itu, Aira langsung duduk, tersenyum pada Uminya. Setelahnya bergegas ke kamar mandi.
***
Saat Adzan subuh berkumandang Aklil langsung membuka mata nya,
Terdengar ada yang mengetuk pintu kamarnya.
"Aklil udah bangun belum?" Tanya Ayahnya dari balik pintu kamar.
"Iya Yah udah" jawab Aklil dengan suara khas orang bangun tidur.
"Ayo siap-siap kita pergi ke Masjid. Ayah tunggu di bawah." kata Ayahnya lalu beranjak dari depan pintu kamar Aklil.
Aklil beranjak dari tempat tidurnya pergi ke kamar mandi, membersihkan badannya dan ber wudhu.
Setelah selesai siap-siap, Aklil dan Ayahnya pergi ke Masjid dekat komplek.
***
Pagi harinya, Aira sudah bersiap-siap mengenakan celana kerja hitam. kemeja pink dan pashmina peach garis-garis hitam.
Dia terlihat sangat cantik.
Aira turun untuk sarapan. Yang terlihat di dapur hanya umi nya, yang sedang menyiapkan sarapan.
"Pagi umi " Aira mengecup pipi umi nya.
" Pagi sayang.. Anak nya umi cantik banget." umi nya melihat Aira sambil tersenyum.
"Iya dong, kan cantiknya dari umi."
Umi nya hanya tersenyum, tidak lama keluar Abi nya.
"Pagi abi.. " ucap Aira menghampiri Abi nya, dan mengecup pipinya..
"Wah.. Anak abi semangat banget ya." ucap Farid.
Setelah selesai sarapan Farid, Aira, Dan Aizar bersiap - siap pergi.
"Mi, bi.. Aizar berangkat duluan ya lagi buru-buru, so'alnya mau ketemu sama investor dari rusia assalamu'alaikum?"
"Wa'alaikumsalam.. " jawab mereka kompak.
"Sama aku gak pamit, jahat." Aira mengerucutkan bibir nya.
"Gak penting." Teriak Aizar yang sudah beranjak meninggalkan ruang makan. Tanpa di duga tidak lama setelah itu, Aizar balik lagi menghampiri Aira mengacak-acak kepala Adiknya, mencubit kedua pipinya, masih belum puas Aizar melanjutkannya dengan menjawil hidung Aira. "Kerja yang bener ya, Dokter Manja." Setelah mengatakannya Aizar berlari menghindari balasan Aira.
"KAKAKAAA.. AWAS YAAA!!!"
Umi dan Abinya tertawa, "Gak ada lagi kata sepi di rumah ini, kalau anak kita dua-duanya ada di rumah Bi."
Farid mengangguk, setuju dengan pendapat istrinya.
Aira, masih dengan ekspresi wajah yang di tekuk. "Awas aja, nanti aku balas lagi pokoknya."
Inaya dan Farid kembali terbahak, mendengar penuturan anak bungsunya.
"Sayang, kamu berangkat nya bareng sama Abi ya." Ucap Inaya kemudian, setelah berhasil menghentikan tawanya.
Aira mengangguk.
"Siap Mi," tangannya membentuk hormat dengan wajah yang lucu. " Umi sama Abi do'akan ya, hari pertama aku kerja, semoga Aktivitas aku di lancarkan."
"Pasti dong Nak, tanpa kamu minta Abi sama Umi selalu mendo'akan yang terbaik buat anak-anak kami. Iya kan Mi?"
"Benar kata Abi. Umi do'akan semoga hari ini aktivitasnya Aira di lancarkan sama Allah, di berikan keberkahan juga sama Allah Swt. Aamiin..."
"Aamiin,"
"Anak Abi udah siap kan? Ayo berangkat." ajak abi nya.
"Udah Bi, ayo."
Usai berpamitan pada Inaya, Farid dan Aira berangkat ke Rumah Sakit.
***
Setibanya di Rumah Sakit, Farid mengumpulkan semua staf SIDIQ HOSPITAL di Departemen miliknya. Untuk menyampaikan kepada semuanya, bahwa mulai hari ini Aira, anaknya. akan mulai dinas di Rumah Sakit ini bergabung dengan mereka semua.
Tentunya, kedatangan Aira mendapat sambutan hangat, khususnya dari kamu Adam. para dokter muda yang paling bersemangat, dengan kabar tersebut. Kaum hawa pun tidak sedikit yang mengagumi paras dokter cantik yang tak lain, adalah anak pemilik Rumah Sakit
Saat itu juga Farid mengatakan, untuk tidak memperlakukan spesial anaknya, dengan alasan karena anak pemilik Rumah Sakit.
Di sini, tetap menjunjung sebuah profesionalitas. Jika anaknya melakukan sesuatu yang keluar dari aturannya sebagai dokter, tidak di siplin misalnya. Farid tetapa akan memperlakukannya sama rata dengan yang lainnya.
Setelah menyampaikan hal tersebut, semua staf di persilahkan untuk melanjutkan kembali pekerjaannya.
***
Aklil, dan Oma nya menuju ruangan dokter spesialis jantung, yang menangani Oma nya. Pada saat Omanya masuk ke dalam Ruangan praktek dokter.
Aklil menunggu di ruang tunggu.
Teringat sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaannya, Aklil berinisiatif untuk menelepon Ryan.
Pada saat Aklil akan menelpon Ryan sekretarisnya, ia meraba-raba saku celananya, tapi tak menemukan Handphone yang ia cari. Aklil menepuk jidatnya pasti hp nya ketinggalan di mobil, Pikir Aklil.
Aklil bangkit dari duduk nya, dia berjalan dengan cepat.
Pada saat di sebuah lorong yang berbelok, tiba-tiba....
Bruuuuukk!!!
Aklil menabrak seseorang yang membawa berkas banyak. dan sekarang.. berkasnya berserakan di lantai.
"Maaf, ya maaf saya lagi buru-buru." Ucap Aklil yang membantu memunguti kertas yang berserakan tanpa melihat siapa yang di tabraknya itu.
"Iya gak papa, saya juga kurang hati-hati." jawabnya.
Suara nya sangat lembut, batin Aklil.
Setelah selesai memunguti kertas tersebut, Aklil mendongakan wajah, seorang perempuan tersenyum ramah padanya.
Subhanallah senyumnya, batin Aklil.
Rasanya.. Aklil ingin melihat senyuman itu setiap saat, dan suara yang ia dengar barusan. Betapa sangat berharapnya Aklil akan mendengar suara itu setiap waktunya.
Namun..cepat-cepat akal sehatnya kembali, menyadarkan Aklil untuk tidak memikirkan apa yang seharusnya tidak ia pikirkan. Mungkin, lebih tepatnya belum wakyunya Aklil pikirkan.
'Astagfirullah.. apa yang ia pikirkan, ampuni dosanya ya Allah'
"Oh iya, ini." Aklil menyerahlan berkas yang semula di bereskannya.
"Terima kasih, saya permisi dulu." Setelah berterima kasih, ia menganggukkan kepalanya sopan pada Aklil.
"Oh iya, iya.. silahkan." Aklil membalas senyum nya.. ' siapa dia? Dia memakai sneli khas dokter, Apakah dia seorang dokter? wajahnya seperti orang Arab tapi bicara bahasa indonesianya fasih.'
Aklil tersenyum.. 'cantik' tanpa sadar Aklil mengucapkan kata tersebut.
"Ehmmm.. Siapa yang cantik Aklil?" Goda Oma nya.
"Ee..eeh Oma udah selesai?" Aklil tidak menyadari kedatangan Omanya.
'Ya Allah, ampuni Aklil. Ada apa dengan pikirannya ini'
Belum waktunya, ingat belum waktunya. Aklil menjadikan sebuah mantra dalam hatinya.
"Udah, tadi oma nyariin kamu di ruang tunggu tapi nggak ketemu-ketemu, eee..hh tahu nya disini lagi ngelamun sambil senyum-senyum ngomong cantik lagi, siapa yang cantik Aklil?" Tanya Omanya lagi.
"Eee..eeeh itu oma..emmm..apa itu tadi.." Aklil menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.
"Udah ayo ah kita pulang, nanti lagi aja yang cantik nya di cari lagi kesini" Oma nya tertawa.
"Oma apa siiih.. Tadi tuh bukan apa-apa Aklil cuma..cuma.. Emmm..." kenapa kosa katanya yang Aklil tahu mendadak hilang semua sih?
"Udaah, gak papa oma tahu kok, malahan tadi Oma lihat kejadiannya." Bisiknya di telinga Aklil, sontak Aklil membulatkan matanya. dia sangat malu sekali sama Oma nya.
"Ayo Oma kita pulang." Aklil mengalihkan pembicaraan, menggandeng tangan Oma nya menuju parkiran, kemudian bergegas pulang.
***
~To Be Continued~