Pukul 17.00 Aira bersiap untuk pulang. Abinya masih ada pekerjaan yang harus di selesaikan, kalau pulang naik taksi sendiri, gak berani. Bagaimanapun kan Aira baru hari ini aktif berkativitas kembali di Jakarta.
Setelah beberapa menit memutar otaknya, akhirnya dia memutuskan untuk mengirim Pesan pada kakaknya.
Aira nazwa sidkia sidiq
Kak, lagi di mana?
Aizar Zulfikar Sidiq
Dimana-mana hatiku senang
Aira nazwa sidkia sidiq
Kakaaaaaaaak aku serius
Aizar Zulfikar Sidiq
Iya.. Iya, masih di kantor,
Ngapa Aira sayang? Pasti ada maunya nih?
Aira nazwa sidkia sidiq
Kak... Jemput aku dong, Abi masih ada urusan,
Yaaa... Yaaaananti aku traktir mie ayam yang di depan komplek..
Aizar Zulfikar Sidiq
OGAH !!! Kakak sibuk,
Gak elit banget penawaran
Aira nazwa sidkia sidiq
Kakak.. Ayolah,
Kalo gak mau aku bilangin
Umi
Aiza Zulfikar Sidiq
Iya.. Iyaaa tunggu, gak usah bilang Umi segala, kakak berangkat sekarang
Begitu mendapat balasan dari kakaknya Aira tersenyum penuh kemenangan, dia sudah tahu kelemahan sang kakak dan dirinya yaitu Umi dan Abinya,
Aira menunggu kakak nya di luar Rumah Sakit dia duduk di salah satu kursi yang di berada di sana.
Tiba-tiba ia teringat dengan wajah orang yang tidak sengaja menabraknya tadi pagi.
'orang nya baik, ramah' fikirnya.
Saat ia sedang melamun, tiba-tiba suara klakson mobil kakaknya membuatnya kaget, dan menyadarkan Aira dari lamunannya.
Segera Aira beranjak dari duduknya, dan masuk ke dalam mobil kakaknya.
"Lama banget sih,"
Begitu mendengar perkataan adiknya, punggung tangan Aizar menyentuk kening Aira. Yang segera Aira tepis.
"Apaan sih!"
"Kamu yang apaan, lima belas menit di bilang lama."
Aira melihat jam tangannya.
"Hehe, iya!"
"Haha hehe, kenapa sih? Tadi juga di sana melohok gitu. Kenapa? Beneran salah kasih obat suntikan ya..hahahaha"
Plak!!!
Satu pukulan, mulus mendarat di tangan Aizar.
"Kenapa sih suntik mulu yang di bahas, emang semua dokter ngobatin pasiennya harus selalu di suntik apa!" Aira cemberut,
"Hahaha.. ya kali aja, udah gak usah di tekuk gitu mukanya, nanti tambah jelek."
"Gak usah banyak ngomong, cepetan aku mau pulang."
Aizar mulai melajukan mobilnya,
***
Sepulang mengantar omanya dari Rumah Sakit, Aklil langsung pergi ke kantor nya.
Dia tidak bisa konsentrasi, karena teringat dengan wajah seorang wanita berparas cantik yang di tabraknya tadi.
Sampai-sampai Aklil tidak menyadari, Ryan yang masuk ke ruangannya.
"Woooooy... Firmansyah ngelamun aja, nanti kesambet lo.." Teriak Ryan sekretaris sekaligus sahabatnya itu.
"Astagfirullah lo Yan bikin gue jantungan tau, gimana kalo gue mati mendadak, mau tanggu jawab lo hah? Lagian datang udah kayak setan aja gak salam, gak ngetuk pintu juga." Dumel Aklil sambil ngelus d**a nya.
"Haha.. Ya bagus dong, kalo lo mati nanti gue yang ambil alih posisi lo. Jadi CEO Firmansyah Group, Waaaah... Menarik sekali lo idenya. Boleh di coba tuh!
Eeeeh.. Kenapa lo gak mati aja barusan?"
"Sialan.. Denger ya Ryan Bagaskara, gue gaji lo disini buat kerja, bukan buat ngerecokin gue."
"Siapa yang ngerecokin lo, gue cuma mau ngasih tauh jadwal lo hari ini,
Eeeeeh.. Lagian tumben banget seorang Aklil Dzikri Firmansyah yang selalu berkonsentrasi tinggi, ketika bekerja. Sekarang malah ngelamun, bentar-bentar.. pasti bukan hal yang enteng-enteng nih yang bikin dunia seorang Aklil teralihkan.." telunjuk Ryan mengetuk-ngetuk di bawah dagunya,
"Ya ampuuun Yan-Yan mulut lo ya. Terserah gue lah, mau ngapain juga, gak ngerugiin lo kan? Udah sana kerja, atau gue potong gaji lo setengah nya?" Ancam Aklil
"Masya Allah sekali ya ancamannya, pak bos. Kejam bener ya.. Ya udah deh gue pergi."
Ryan pergi menutup pintu, tapi dia kembali membuka lagi pintunya.. Menyembulkan kepalanya..
"
Pak bos, gue penasaran deh, gue tebak.. gara-gara cewek ya.. Lo ngelamun"
Aklil sudah siap melemparkan jidar besinya.
Ryan tertawa terbahak-bahak, sambil membanting pintu.
Aklil memijat pelipisnya 'Astagfirullah ya Allah, kenapa jadi kepikiran di terus, jika memang dia takdir jodoh ku, mudahkanlah jalannya Ya Allah' batin Aklil dalam hati.
***
Setelah sampai d rumah, Aira merasa bosan berada di rumah sendirian, sebenarnya gak sendirian juga. ada bi Asih asisten rumah tangga ini. Dan semua pegawai-pegawai di luar yang bertugas di luar rumah. Abi nya masih di rumah sakit, sedangkan Uminya lagi belanja bulanan, dan Kakaknya balik lagi ke kantor.
Aira berfikir akan jalan-jalan di sekitar komplek rumahnya, dia mengambil Sling bag nya, lalu keluar dari rumah.

"Neng teh mau ke mana?" tanya mang ujang satpam rumah Aira dengan logat sunda nya.
"Aira mau jalan-jalan ke depan mang, bosen di rumah gak ada siapa-siapa.." jawab Aira.
"Oh gitu, mau jalan kaki aja Neng? Apa mau mamang anter pake motor aja, so'alnya mobilnya di pake pa Maman nganterin ibu." Tawar mang Ujang
"Gak usah Mang, aku jalan kaki aja, "
"Yakin neng?"
Aira mengangguk,
"Yakin dong mang, aku jalan dulu ya mang, Asalamu'alaikum?"
Mang ujang menjawab salamnya,
Kelur dari pagar rumahnya, Aira mulai berjalan menyusuri jalan raya komplek.
Dia melihat-lihat sekitar kompleknya, lama di jepang ternyata cukup banyak yang berubah,
Aira terus berjalan, saat keluar dari gerbang komplek di sebrang jalannya terdapat sebuah Pondok Pesantren yang lumayan besar,
Aira memperdekat jarak pada pesantren tersebut, samapi posisinya ada di depan gerbang utama pesantren.
Ia melihat santri hilir mudik disana, Aira juga melihat santri wati, mereka semua mengenakan gamis yang menutupi mata kaki nya hampir menyapu tanah dengan hijab syar'i, bahkan ada beberapa yang memakai niqab. Dan kakinyapun terbungkus rapi dengan kaos kaki.
Sebuah pandangan yang membuat matanya begitu membuat jiwanya terasa damai.
Hatinya, terasa tercubit.
Aira benar-benar sangat iri melihat mereka, yang menutup Aurat nya dengan sempurna.
Dia mulai lagi berjalan, menyusuri trotoar dia bermaksud akan membeli jajanan di depan, tapi baru beberapa langkah Aira melihat Ada anak perempuan kira-kira berumur 7 tahun memakai gamis dan hijab syar'i, jatuh ke aspal.
Buru-buru ia menghampiri anak tersebut.
"Awww.. " pekiknya
Aira lari menghampirinya.
"Adek.. Gak papa? " Aira membantunya berdiri..
"Sakit kak.. Hiks..Hiks " dia menangis.
Aira membawa nya ke trotoar, dan mendudukannya.
"Mana yang sakit, coba kakak lihat, kakak obati yaa." Aira mengeluarkan kotak P3K dari tasnya yang selalu ia bawa kemana-mana , takut terjadi hal yang tidak di inginkan seperti ini.
"Tangan aku yang sakit kak.. "
"mana coba kakak lihat " tawar Aira
"Nggak kak, disini tempat umum, banyak orang nanti aurat aku terlihat oleh mereka, aku akan menambah dosa buat ayah aku, kalo mereka melihat aurat aku," ucap nya.
Aira tertegun mendengar penjelasan anak itu, bahkan hanya sebagian tangannya saja tidak mau terlihat oleh orang lain.
Sedangkan dirinya sangat sering memakai baju yang lengan nya 3/4 .
Sungguh Aira sangat malu dengan anak sekecil ini, yang bahkan belum baligh dan belum berkewajiban menutup aurat sudah pandai menutup auratnya.
"kakak.. Kenapa?"
Aira tersadar dari lamunan nya.
"Eeh.. nggak, ya udah kita cari tempat tertutup buat ngobatin lukanya ya?" Gadis cilik itu mengangguk, menyetujui saran Aira.
Dan akhirnya, Aira membawa nya ke salah satu Stand penjual Mie ayam.
"Nah, sekarang kan gak ada siapa-siapa hanya ada ibu penjual yang sama perempuan jadi kakak boleh lihat tangan aku.. " ucap anak itu.
Aira tersenyum, dan langsung mengobati luka anak itu.
"Oh iya nama kamu siapa?" tanya Aira
"Nama aku, Sibila kakak. panggil aku Bila aja, kalo nama kakak siapa?"
"Nama kakak, Aira.. Rumah kamu di mana?"
"Kak Aira cantik.. Kayak orang Arab.
Rumah aku jauh dari sini kakak, tapi sekarang aku tinggalnya di pesantren yang ada di sana." telunjuknya menunjuk pesantren yang tadi.
'Subhanallah, anak sekecil ini Sudah tinggal di pesantren,' batin Aira.
Lagi, lagi hati Aira merasa tertamar dengan hal yang menjadi pelajaran berarti dalam hidupnya.
"Oh iya, bila mau makan mie ayam gak? Kalo mau kakak teraktir.."
"Mau kakak.. Mau " ucapnya semangat,
Setelah mereka makan, mereka meninggalkan stand mie ayam tersebut.
"Bila kakak antar Bila sampe sini aja ya.." ucap Aira ketika sudah sampai di Gerbang pesantren yang tadi.
" Kenapa gak sampe dalam kak?"tanya Bila.
"Ngga, lain kali aja." kakak malu gak pake gamis sama hijab panjang, seperti semua santriawati yang ada di pondok ini. Lanjut nya dalam hati.
"Oh ya udah kakak, Bila seneng ketemu sama kakak, kakak baik udah nolongin Bila sama udah jajanin bila, makasih ya kakak.. Kapan-kapan kakak main kesini, kita belajar ngaji bareng." cerocos bila.
"Iya Bila, inn Sya Allah nanti kapan-kapan kakak kesini, sana gih masuk nanti di cariin."
"Iya kakak, Asalamu'alaikum " Bila melambaikan tangannya
"Wa'alaikumsalam " Aira melakukan hal yang sama.
Aira pulang kerumahnya, setelah adzan magrib berkumandang.
Malam harinya ia benar-benar tidak bisa tidur, Aira terus kepikiran ucapan Bila tentang menutup aurat, dan dosa untuk Ayah nya jika aurat nya terlihat oleh orang lain.
Aira bukan tidak berhijab, hanya saja dia belum se tertutup mereka, dia masih sering memakai jeans, hijab yang pendek nyaris tidak menutupi dadanya, lengan baju 3/4 dan yang lainnya.
Aira benar-benar gelisah,
Sampai dini hari pun, dia tak kunjung menutup mata nya.
Aira keluar dari kamar tidurnya masuk ke kamar sebelah, yaitu kamar kakaknya.
"kakak... Banguuuun dong aku gak bisa tidur.. " Aira mengguncang badan kakaknya..
Aizar yang merasa terganggu membuka mata nya..
"Ya ampuuuun Aira kamu ngapain ke sini jam segini, di kamar kamu gak ada jam ya.. Ganggu aja" tanyanya dengan suara khas bangun tidur.
" iya emang gak ada jam, kakak.. Aku tidur di sini ya.. " ucap nya dengan wajah memohon
"Oh pantesan, kamu kira ini masih jam 8 malem apa, main masuk kamar orang aja, nggak ada.. Nggak ada, sana balik ke kamar kamu."
Aizar bangkit mendorong badan Aira sampai ke luar dari kamarnya. Lalu menguci pintu agar Aira tidak bisa masuk.
Setelah kakaknya menutup pintu, Aira bingung. Apa yang harus di lakukannya saat ini.
Menuruni tangga, niatnya ingin mengambil minum.
Setelah Aira sampai di dapur, ia menemukan Bi Asih di sana.
"Loh, Bibi ngapain?"
"Eh, Neng Aira.."
"Iya. Bibi ngapain di dapur jam segini?"
"Oh ini, mau ambil wudlu mau salat tahajud Neng."
Salat tahajud?
Kapan Aira terakhir kali melaksanakan salat tahajud. Ia sering bangun tengah malam tapi tidak hampir tidak pernah melaksanakan salat sunnah yang satu itu.
"Neng?"
"Eh, iya Bi."
"Neng teh gak papa?"
Aira tersenyum, "Nggak kok Bi,"
"Syukurlah, Ya udah.. Bibi wudlu dulu ya non." Bi Asih berjalan menuju pintu kamar mandi.
Namun.. baru saja akan membuka pintu kamar mandi, suara Aira menginterupsi.
"Oh ya.. Biii,"
"Iya Neng kenapa?"
"Emmm.. aku boleh, ikut salat tahajud bareng Bibi nggak. Bibi yang jadi imam." Aira menggigit bibirnya, takut Bi Asih menolak keinginannya.
"Berjama'ah Neng?" Tanya Bi Asih meyakinkan,
Aira mengangguk lambat,
"Iya, boleh nggak?"
Bi Asih tersenyum, "Boleh dong Neng, masa Enengnya mau melaksanakan kebaikan bibi tolak."
Senyum Aira merekah.
"Ehh, tapi salatnya di mana? Bibi sih biasanya salatnya di kamar Bibi. Tapi kalau sama Neng kan gak mungkin?"
"Gak papa, di kamar Bibi aja."
"Eh, jangan Non. Kamar bibi kan-"
"Beneran gak papa, Bibi. Ya.. ya."
Dengan cepat Aira memotong ucapan Bi Asih,
Menghela nafas,
"Baiklah Neng geulis, bentar ya Bibi yang Wudlu duluan,"
"Siap Bibi.." Sahut Aira bersemangat,
***
~To Be Continued~