Aira bersiap dengan penampilan barunya, mengenakan gamis grey list hitam dan hijab hitam segi empat panjang.
Saat Aira sedang bersiap-siap akan pergi ke Rumah Sakit panggilan sang kakak dari kamar sebelah menginterupsinya..
Aira duduk di samping ranjang kakaknya, merasa heran juga kakaknya belum bersiap ke kantor, masih membungkus seluruh badannya dengan selimut.
"Apaan kak.. Pagi-pagi udah ngabsen aja kayak guru BP, eeehh.. Kok badan kakak panas sih, kakak sakit ya.." Aira menyentuh kening kakaknya..
" Dasar ya.. Kamu adik gak peduli sama kakaknya,
Kakak udah sakit dari kemarin, kamu gak tahu??"
"iya maaf-maaf, kan aku full di Rumah sakit kemarin. Eeh.. Atau mau aku suntik biar sembuh.. " Aira tersenyum jahil.
" Ogah!!! Nanti di kasih suntik mati" tolak Aizar.
Aira tertawa terpingkal-pingkal
Aizar berdecak,
"Anak gadis kok ketawanya kaya kuntilanak ya "
Aira menekuk wajahnya langsung terdiam..
" Nyebelin banget siiih. Kakak ngapain nyuruh Aira kesini?"
"Nih tolong anterin ke Firmansyah Group, kasihin langsung ke CEO nya, Bilang aja ke resepsionisnya mau ketemu Aklil."
Kakaknya mberikan sebuah map ke Aira
" Ya Ampuuuun.. kakak, Aira mau ke Rumah Sakit " Aira berusaha menolak permintaan sang kakak.
"Ya makannya, kakak nyuruh kamu biar sekalian. Orang searah juga, ribet bangeet." Aizar mendengus.
" Gak mau!!?" keukeuh Aira.
" Ya udah IPHONE yang kemarin kakak kasih balikin.. " Ancam Aizar
"Eee..eeh gak bisa gitu dong.. " sahut Aira cepat,
" Ya, makannya anterin ini." Aizar menyodorkan map yang di pegangnya,
" iya..iya siniin.." Aira mengambilnya dari tangan Aizar.
Aizar tersenyum puas.
"Sekalian bilangin,kakak lagi sakit Makan siangnya gak jadi, kalo ada yang kurang paham suruh dia hubungin kakak, atau suruh langsung ke rumah.
Bilang ke pak maman sebelum ke Rumah Sakit ke Firmansyah Grup dulu, dia tahu kok alamatnya."
" Iya.. Iya bawel banget sih.." sahut Aira dengan wajah kesalnya,
Aizar meneliti penampilan Adiknya yang berbeda hari ini.
"Eeh ngomong-ngomong kamu makin cantik dek pake baju syar'i.." puji Aizar
" Baru nyadar ya Adek nya kayak bidadari.. " senyum Aira merekah,
" Ya ampuuun, nyesel banget ya muji orang yang pede nya naudzubillah.
Udah sana kamu berangkat.."
Aira tertawa dengan kencang.
"Astagfirullah.. Anak gadis ketawa nya kayak orang kesurupan.. " Aizar membekap mulut adiknya dengan tangan yang tertutup selimut.
Aira manyun, tapi masih menahan tawanya.
"Sana berangkat, nanti kesiangan.. " ucap Aizar lagi.
Aira bangkit dari duduknya lalu mencium pipi kakak nya..
" Cepet sembuh Kakak, nanti aku bawain obat yah, dah kakak.."
Aizar hanya tersenyum lemah..
Begitulah mereka memang seperti itu Akurnya sekali sehari, sisanya berantem.
***
Setibanya di Firmansyah Group Aira langsung menghampiri Resepsionis,
" Permisi, saya mau bertemu dengan pak Aklil.. " ucap Aira, Resepsionis itu tersenyum ramah.
" Sudah buat janji? Tanya resepsionis itu.
" Belum, " Aira menggelengkan kepalanya,
" Tunggu sebentar saya akan menghubungi sekretaris pak Aklil.
Maaf sebelumnya, dengan ibu siapa?"
" Bilangin aja dari SIDIQ ENTERPRISE " Resepsionis itu mengangguk, dia terlihat berbicara dengan seseorang di teleponnya.
" Baik bu, silahkan langsung saja menuju lantai 20, sekretarisnya pak Aklil akan menunggu ibu di dekat lift.
Aira berterimakasih kepada resepsionis itu, dan langsung bergegas menuju lift.
Dia keluar dari lift, dan benar saja disana sudah ada seseorang yang menunggu.
Ryan yang baru saja melihat ke arah Aira langsung ternganga. Ryan benar-benar mengagumi kecantikan perempuan yang di depannya ini,
Seketika, Ryan benar-benar lupa dunianya
" Maaf sekretarisnya pak Aklil ya?" tanya Aira, tapi Ryan masih tak bergeming.
Aira mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Ryan..
Ryan langsung tersadar,
" Eee..eh iya, iya mari saya antar kamu, eh maaf.. maksudnya ibu sudah di tunggu " Ryan menggaruk rambutnya yang tak gatal..
Aira hanya tersenyum tipis.
Mereka menuju ruangan Aklil.
Sesampainya di sana Ryan mengetuk pintu ruangan Aklil, dan membukakannya untuk Aira.
Aklil yang sedang fokus dengan berkas-berkasnya, mendongakan kepala saat mendengar pintu terbuka.
Dan betapa kagetnya Aklil, melihat seseorang yang sedang berdiri di ruangannya, orang yang selalu memenuhi pikirannya beberapa hari ini.
Aira yang sama kagetnya dengan Aklil, hanya menundukan kepalanya.
" Silahkan duduk " Aklil tersenyum ramah mempersilahkan Aira duduk untuk menutupi ke canggungannya.
Aira pun duduk, pandangan Aira kesembarang arah, dia ingin belajar menjaga pandangannya dari lawan jenis.
" Emmm.. Jadi, kedatangan saya kesini mau ngasih ini dari Kak Aizar " Aira memberikan map nya. Aklil mengambilnya, membuka map tersebut, dan membacanya.
"kata kakak makan siang nya di batalkan, karena kakak sedang sakit. Dan, katanya, kalau ada yang kurang Faham, bisa langsung menghubungi kakak, atau bisa datang ke rumah langsung " ucap Aira lagi.
Jantung Aira sangat deg-degan saat Aira bicara dengan Aklil.
Aklil mengangguk mengerti..
" Baik, Terima kasih " ucap Aklil, Aira hanya mengangguk.
Aklil merasa sangat gugup, dia mendadak tidak bisa bicara banyak.
Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya, padahal dalam hatinya sangat banyak pertanyaan, yang ingin ia tanyakan.
" Kalau begitu saya permisi " Aira beranjak dari kursinya.
Baru dua langkah Aira berjalan, suara Aklil menghentikannya..
" Tunggu... Kalau boleh saya tahu Nama kamu siapa ?" tanya Aklil memberanikan diri dengan perasaan gugupnya.
Sejenak Aira terdiam.
" Aira. Saya permisi Asalamua'laikum?? Ucapnya..
Tanpa menunggu jawaban dari Aklil, Aira melanjutkan langkahnya, dan keluar dari ruangan Aklil.
" Wa'alaikumsalam" jawab Aklil, ketika Aira sudah pergi.
Aira.. Gumam Aklil, tanpa sadar Aklil menariksudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman kecil.
"Oooh.. Jadi ituu toh.. "kata Ryan, yang entah sejak kapan ada di ruangan Aklil.
Aklil terlonjak,
" Astagfirullah... Yan, lo hobi banget yaa.. Ngagetin gue "
" siapa juga, yang ngelamun gak ketulungan..
"Dia cantik ya lil?" goda Ryan, menaik turunkan alisnya.
" iya emang.. " jawab Aklil Refleks,
Ryan tertawa terpingkal-pingkal sambil memegang perut nya.
" Akhirnya kena ya umpan gue.. Dia toh yang mengalihkan dunianya seorang Akli, pantesan aja bening gitu"
" Apaan sih yan, gak jelas banget," elak Aklil.
Ryan mencebikkan bibirnya,
"Alah, udah. Ngaku aja lo?"
"Apaan?"
"Beneran, dia. Kan?"
Aklil, memutar bola matanya.
"Iya dia. PUAS?"
"Hahahahaha.. sangat,"
" Gila.. Gilaa Aklil Dzikri Firmansyah seumur hidup gak pernah deket dengan makhluk yang namanya cewek, Eeeehh.. sekali ngegaet dapetnya wajah arab, apalagi.. Hidungnya beuuuuuh.. Mantaep banget lah pokoknya lil.. "
Ryan yang baru sadar Aklil Menatapnya tajam, cengengesan sambil mengacungka jari telunjuk dan jari tengahnya..
" Santai bro.. Gue gak bakalan nikung lo, yaaa.. Palingan cuci mata dikit wajar lah"
Aklil melempar balpoin besi ke jidat Ryan..
Ryan memekik, tangannya, mengusap-ngusap jidatnya.
" Lo masih betah kerja di sini gak sih?" ucap Aklil.
" Gila ya ancamannya setajam silet gitu.
Eh tapi lil, dia siapanya Aizar?"
" Tau "
" Ya elah, irit banget.. Tapi lo sadar gak sih dia sama Aizar mirip, apalagi idungnya " ucap Ryan lagi.
" Aneh Lo ya dari tadi idung-idung, heran gue, kayaknya di perhatiin banget wajahnya." ucap Aklil mulai kesal.
Ya, bagaimana tidak kesal. Perempuan yang ia taksir, di perhatikan dengan detail seperti itu.
" Gak merhatiin juga sih, orang kelihatan banget idungnya bangir banget gila.. " Ryan mulai membayangkan wajah Aira, sembari senyum-senyum.
Aklil melempar gumpalan kertas ke arah Ryan,
" Lo.. Ngebayangin apaan, ngebayangin gak bener ya?"
Ryan menghindari lemparan Aklil.
"Ngebayangin wajah barbie Arab lah."
"Rese ya lo. Kerja sana jangan makan gaji buta"
Aklil, sudah benar-benar muak dengan guyonan sahabatnya,
" Gue kerja banting harga, bukan banting tulang lagi, gak kepake ya sama lo. "
Ucap Ryan sambil meninggalkan ruangan Aklil, pintu ruangan Aklil di tutupnya dengan sangat kencang.
Bayangan wajah Aira benar-benar memenuhi pikiran Aklil,
Aklil sangat penasaran Aira siapanya Aizar, kenapa mereka terlihat mirip? Apa mungkin sepupunya? Aklil terus bertanya-tanya.
'Astagfirullah, kenapa jadi mikirin dia terus sih'Aklil mengusap wajahnya kasar, kemudian dia melanjutkan lagi pekerjaannya.
***
Karena Aira dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dia tidak terlalu kerepotan, setiap harinya kalau tidak ada jadwal operasi, atau operasi dadakan Aira hanya bertemu beberapa pasien yang punya jadwal chek up rutin.
Aira duduk diruangannya, tiba-tiba dia teringat kejadian tadi pagi, ternyata orang yang menabraknya tempo hari di Rumah Sakit namanya Aklil.
' selain tampan dia juga ramah' fikir Aira..
" Ya allah , gak boleh mikirin dia gak boleh" gumam Aira sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tok..tok..tok
Pintu ruangan Aira terbuka dan muncul seorang suster.
" Dokter, Ada pasien kolaps karena serangan jantung dok.. " ucap suster panik..
" Baik kita kesana sekarang.." Aira beranjak dari duduknya, keluar dari ruangannya berlari menyusuri lorong rumah sakit menuju pasien tersebut.
***
~To Be Continued~