Tentangnya

1532 Kata
"Asalamu'alaikum?" Aklil mengucapkan salam, sembari membukakan pintu, "Wa'alaikumussalam Aklil... Akliiil.. Ayo sini duduk " omanya menghampiri Aklil yang baru pulang kerja dengan semangatnya, "Oma kenapa semangat banget? " tanya Aklil heran.. " kamu tau gak Aklil, saat oma chek up tadi ternyata, dokter yang menangani oma baru, bukan yang biasanya. Kamu tau gak siapa dokternya?" tanya omanya berbinar-binar. Aklil menautkan alisnya, "Siapa?" "Dokternya, orang yang kamu bilang cantik itu.. Yang bikin kamu ngelamun sama senyum-senyum sendiri itu.. " oma nya berkata dengan lantangnya.. Deg.. "Oh, jadi dia orangnya Aklil, pantes aja, cantik banget, kelihatannya baik juga.. " Ucap bunda Aklil yang baru datang bersama Ayahnya.. Bunda nya duduk di sebelah Aklil, Ayahnya di sebelah omanya. "Eh.. Hehe bunda, nggak ko bunda, Oma hanya bercanda, iya kan Oma?" Aklil melirik oma nya meminta bantuan.. "Siapa yang bercanda, oma serius kok orang kamu sendiri yang bilang CANTIK." ucap omanya Aklil membelalakan matanya.. "Iya sayang, kalo suka perjuangin dong. halalin," Kata Alma.. "Iya Aklil, kamu udah mapan. lagian umur kamu udah cukup kok untuk berumah tangga." Ayahnya menimpali "Bener tuh Aklil, percuma kamu jadi bank berjalan, kalo hidupnya jomblo seumur hidup.." sahut Mba Andin, kakak nya Aklil yang datang dari arah dapur sambil menggendong bayinya. Aklil sudah tidak kuat lagi menahan malu, dia mengambil bantal sofa kemudian menutup wajahnya yang sudah tidak tahu semerah apa. Semua orang tertawa melihat Aklil yang salah tingkah. "Bunda, Aklil belum solat isya Aklil ke kamar dulu ya." Bunda nya mengangguk, Aklil lari menuju tangga, sudah tidak tahan dengan semua orang yang menggodanya. Semua orang masih menertawakan kelakuan Aklil. "Hey.. kok sama Bunda doang siiih pamitnya?" Teriak Andin dengan nyaring, sampai tidak sadar di gendongannya Anaknya baru saja tidur, dan akibatnya anaknya menangis dengan nyaring. Membuat semua orang yang ada di sana kerepotan membujuk Anaknya Andin agar diam kembali. *** Keesokan harinya, Aklil dan Ryan pergi ke rumah Aizar karena ada beberapa hal yang harus di bicarakan langsung dengan Aizar mengenai proyeknya yang di Lombok. Sesampainya di depan sebuah gerabang yang mewah Aklil terlihat ragu. "Yan, lo gak salah ini beneran alamatnya?" Ryan mengangguk yakin. "bener kok ini sesuai sama alamat yang di kasih sekretarisnya Aizar." Meskipun Aklil sudah menjalin kerjasama sejak dulu dengan Aizar. tapi, baru kali ini dia berkunjung ke rumah Aizar. Tiba-tiba satpam yang sedari tadi berjaga di depan gerbang,  menghampiri mereka. mengetok kaca mobil Aklil. Aklil menurunkan kaca mobilnya. "Maaf, Den cari siapa ya?" tanya satpam tersebut dengan ramah, "Saya cari Aizar, Ada?" "Oh, Den Aizar ada di dalam, mari masuk Den.." satpam tersebut membukakan gerbang, memberi jalan untuk mobil Aklil masuk. *** Setelah mengucapkan salam Aklil di sambut oleh pembantu rumah tangga keluarga Sidiq, Aklil dan Ryan di persilahkan duduk di sofa ruang tamu. Saat Aklil, menunggu kedatangan Aizar. Aklil mengedarkan pandangannya, tiba-tiba pandangan Aklil menangkap sebuah foto keluarga yang cukup besar. Yang ia lihat ada 4 orang dalam foto itu, Aizar, Orang tua Aizar, dan.. Wajah itu, Sebentar, bukannya dia... Ya. Wajah itu.. Wajah yang selalu membuat Aklil penasaran, wajah yang selalu membuat Aklil senyum-senyum sendiri, dan wajah yang.... Ryan menyiku tangan Aklil.. "Cieee.. Yang mandangin wajah bidadari serius amat.." goda Ryan.. Aizar tersenyum.. Yang tidak tahu sejak kapan sudah duduk di hadapan Akil dan Ryan. "Eeeh Zar.. Sorry - sorry, tadi itu ngeliatin itu tuh, Aklil menunjuk ke sembarang Arah.. " Aklil salah tingkah.. Aizar mengulum senyumnya.. "Iya Zar, Aklil lagi mandangin bidadari yang waktu itu lo suruh nganterin berkas ke kantor. Sampe dia gak konsentrasi kerja, ngelamun mulu, senyum-senyum sendiri mulu terus dia tuh ya sering bangee...mmm..pppt " Aklil membekap mulut Ryan , "Sialan ya mulut lo." desis Aklil Aizar tertawa.. "Gak papa kali lil, orang kelihatan banget dari cara lo mandangin Foto itu." Aklil tersenyum canggung.. "Dia Aira, adek gue.." kata Aizar. Yang mengikuti arah pandang mereka pada foto keluarganya, "Pantesan aja Zar idungnya Sama, namanya juga hampir mirip" celetuk Ryan." Eeeh tapi, ko dulu-dulu gak pernah kelihatan, lo kalo ngehadirin acara-acara kolega lo cuma bertiga aja, sama bokap nyokap lo.. " tanya Ryan heran.. "Iya .. So'alnya sejak senior high school dia di jepang sampe nyelesain kuliah kedokterannya, sampe dapet gelar Sp.Jp baru dia balik, di sininya juga belum lama paling ada lah semingguan.." ucap Aizar.. "Eh, tapi Zar semuda itu udah dapet gelar Spesialis jantung dan pembuluh darah, setahu gue kalau ngambil spesialis nyelesain pendidikannya harus 10 tahun, itupun setelah nyelesain pendidikan dokter umum, kan?" tanya Ryan lagi. Aklil hanya menyimak, walaupun sebenarnya dia ingin sekali menanyakan banyak hal tentang Aira. "Iya, mungkin karena dia mewarisi otak Abi yang jenius, Aira mampu menyelesaikan pendidikan dokter umum dengan cepat. dan pendidikan spesialis yang harusnya 10 tahun jadi 5 tahun.." jawab Aizar, "Gila, jenius banget ya.. Pantesan lo juga, ide bisnisnya.. Beuuuh, gak usah di bahas lagi lah semua orang udah tahu.." sahut Ryan kagum. Aizar tertawa renyah.. Ryan melirik Aklil sambil berkata "Lil, kurang sempurna apa lagi coba.. " bisik Ryan, Aklil hanya menggedikan bahunya, pura-pura tidak peduli. Setelah membahas Aira, Mereka lanjutkan membicarakan banyak hal mengenai proyek hotel yang ada di lombok. Tiba-tiba teriakan seseorang mengagetkan mereka.. "Kakaaaaaak.." teriak Aira dari lantai atas.. "Jangan teriak-teriak Aira , ini bukan hutan, kakak.. Gak budeg " sahut Aizar sedikit berteriak, Aira menuruni tangga dengan cepat, dan terdengar suara nyaring dari sandal jepit yang di pakainya dengan lantai. "Laptop Aku gak bisa hidup, pasti gara-gara kakak yang pake kemarin, pokonyaaa.. Aku gak mau tau kakak harus ganti.. Ru-.. " Saat Aira sampai di ujung tangga Aira menghentikan ucapannya, matanya membulat, karena kaget ya.. sangat kaget. Melihat kakaknya yang tidak sendiri disana. Aizar, Aklil dan Ryan memandangi Aira, Aira yang merasa malu di tatap seperti itu langsung membalikan badannya, dan langsung berlari menaiki tangga lagi. Aizar geleng-geleng kepala, Ryan tertawa, sementara Aklil hanya tersenyum tipis. "Sorry ya.. Adek gue emang gitu," "Eh, gak papa kok Zar. Justru Aklil dapet jackpot. Iya gak bro?" Ryan menaikturunkan alisnyaa. Aklil memijat pelipisnya, "Astagfirullah Yaaaan...." "Iya, Astagfirullah banget Ya, gue mah kalau ngomong suka bener." Aklil memilih diam, tidak menyahuti omongan Ryan. "Lil?" "Apalagi?" "Kalo lagi teriak-teriak gitu, makin cantik ya Lil?" bisik Ryan pada Aklil, yang masih bisa di dengar oleh Aizar.. Aklil memyumpalkan bantal sofa ke mulut Ryan, Aizar yang melihat mereka berdua tertawa. "Kalo mau serius perjuangkan lil, dia masih sendiri ko, dia berprinsp gak mau pacaran katanya, orang yang serius bakal langsung memintanya ke Abi." kata Aizar. "Iya bener lil, gue bilang juga apa, perjuangin, dari pada lo ngelamun terus kayak orang gila, orang udah dapet lampu hijau dari calon kakak ipar." celetuk Ryan lagi.. Duh, Ryan ini membuat Aklil salah tingkah. "Iya, inn syaa Allah gue serius Zar," jawab Aklil, Aizar mengangguk sembari tersenyum. "Aaah Akhirnya jujur juga," ucap Ryan antusias.. Aklil yang merasa semakin gugup, memutuskan berpamitan pada Aizar. Meskipun dia sudah mengenal baik Aizar, tapi kali ini pembicaraan yang di bahas itu beda, membuat jantung Aklil tidak baik-baik saja. "Zar, kita pamit pulang dulu ya, nanti kita kabarin lagi, gimana perkembangan proyeknya." pamit Aklil. "Oh iya, Maaf ya.. Udah ngerepotin kalian sampe harus repot-repot ke rumah," Aizar merasa tidak enak. "Santai aja lagi Zar, kalau gak kerumah kan belum tentu Aklil lihat bidadari, iya Gak Lil?" ucap Ryan, Aklil mandang Ryan tajam. Aizar tertawa, Aklil yang sudah tidak tahu harus berbuat apa, meilih diam saja. "Oh iya Lil, gue pegang omongan lo ya." Aizar menepuk pelan bahu Aklil. Aklil yang mengerti arah pembicaraan Aizar, mengangguk mantap. "Iya Zar insyallh secepatnya.. " Aklil menjawab gugup."Cepet sembuh ya Zar..." ucap Aklil lagi, Aizar mengangguk, berterimakasih. Setelah kepulangan Aklil dan Ryan, Aizar memilih masuk lagi ke dalam kamarnya. Baru saja ia duduk di ranjangnya, Terdengar lagi ada yang membuka pintu kamarnya. Karena Umi dan Abinya sedang tidak ada di rumah, sudah pasti Adiknya, yang berani masuk tanpa mengetuk pintu. Setelah membuka pintu, Aira berjalan menghampirinya. Nah. Kaaan! "kakaaaak.. " panggil Aira, setelah duduk di sebelahnya, "kenapa, mau nanyain Aklil ya?" goda Aizar. "Apaan, nggak kok." pipi Aira memerah. Ungkapan yang sangat berbanding terbalik dengan hatinya, "Pas denger nama Aklil, kok pipinya udah kayak tomat busuk gitu?" "kakaaaaak apaan sih nggak kok, Aku kesini mau minta di beliin laptop baru, laptop aku mati gara-gara kakak." katanya dengan kesal, "Mati gimana, palingan cuma abis batre nya aja ah. Alesan kamu aja pengen di beliin yang baru." "Ya udah, kalo gak mau tuker aja sama punya kakak." tawar Aira "Eh, gak bisa gitu dong.. " tolak Aizar cepat, "Pokoknya Aku bakal tetep bawa laptop kakak kalo ga di beliin yang baru, pelit banget orang cuma beli laptop gak bakalan bikin perusahaan kakak gulung tikar " dumel Aira Aizar berdecak.. "Iya, iya nanti di beliin.. Sana ah kamu bikin kepala kakak tambah pusing. " usir Aizar Senyum Aira merekah, "Eh , beneran ya .. Janji ya?" Aizar memgangguk pasrah sembari membaringkan badannya, "Ya udah aku keluar dulu," Setelah sampai di ujung pintu Aira membalikan badannya lagi.. "kakak yang tadi, beneran kak Aklil ya?" setelah bertanya Aira langsung lari, merasa malu dengan pertanyaan nya.. Aizar tertawa melihat kelakuan sang adik yang malu-malu tapi mau. Dalam hatinya Aizar mendo'akan yang terbaik untuk adiknya dan Aklil. Aizar memejamkan mata, karena rasa pusing di kepalanya. *** ~TBC~ Semoga suka Terima kasih yang udah baca, yang belum, terimakasihnya ditunda dulu.. #ilwi alawiyah
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN