Tidak Sengaja Bertemu

1534 Kata
"Sayang, kamu yakin mau bawa mobil sendiri?" Tanya uminya, pertanyaan yang sama dan entah yang ke berapa kali inaya mengucapkannya, mungkin karena terlalu khawatir kepada putri bungsunya itu. "Iya Umi, Aira gak mau ngerepotin Pak Maman terus, pak Maman kan harus Anter jemput umi ke universitas, masa harus double tugas siih kan kasian.." katanya, Memang, belakangan ini Aira sudah jarang pulang pergi bersama Abinya, karena selalu ada perbedaan jadwal. Apalagi Abinya banyak tugas ke luar kota, ke luar Negri juga. Makannya Aira memutuskan, belajar Mandiri mulai saat ini. Uminya Aira adalah dosen Sastra Arab di universitas Islam Negri Jakarta. Walaupun kedua orang tua Aira sibuk, Aira sama sekali tidak kekurangan kasih sayang dari orang tuanya, mereka selalu memperhatikan Aizar dan Aira. Merekapun selalu menyempatkan waktu untuk kedua Anaknya. Uminya tersenyum.. Walaupun di hatinya masih merasa khawatir. "Ya udah, kamu hati-hati jangan ngebut-ngebut, jangan ngelamun juga, apalagi ngelamunin.. Temen kakak kamu itu siapa sih namanya.. Aaa.. Ak.. " uminya pura-pura berpikir, "Iiiiiiih Umiii apaan sih.. Engga kok.. " pipi Aira sudah memerah. Ia mengerucutkan bibirnya Membuat Uminya tertawa.. "Ya sudah sana, Aira berangkat." Aira menyalami uminya.. " Asalamu'alaikum umi?" " wa'alaikumssalam sayang, hati-hati.." Aira mengangguk, memasuki mobil honda jazz merah, kado ulang tahun dari Abinya. *** Ketika sedang di perjalanan, tiba-tiba mobil yang Aira kemudikan mati mendadak, Aira sudah mencoba menstater beberapa kali tapi tetap gak bisa jalan. Aira keluar dari mobilnya, dia mondar mandir panik.. Aklil dan Ryan, sedang di perjalanan menuju kantornya.. Tiba-tiba mata Ryan melihat seseorang yang baru di kenalnya sedang berdiri di depan mobil, dengan wajah yang panik. "Eh bentar.. bentar. Lil,?" "Hng... apa sih riweuh!" "Bukannya, riweuh-riweuh noh.. liat di depan, itu.. bukannya Aira Yaa?" Ucap Ryan sambil menunjuk seseorang. Aklil mengikuti arah yang di tunjuk Ryan. Ternyata benar, yang berdiri di tengah jalan dengan wajah panik. Dia adalah Aira, orang yang selalu memenuhi pikirannya akhir-akhir ini. "Iya Yan.. dia kenapa ya?" Tanya Aklil, yang mulai khawatir. "Mending lo samperin gih, kasihan dia kayak panik gitu." Ryan mendorong tubuh Aklil. Sementara Aklil masih belum bergerak, karena bingung. "Buruan lo.. Kalau nggak, gue yang nyamperin tapi Aira buat gue" ancam Ryan.. "Enak aja..!!" Aklil turun dari mobilnya, lalu berjalan mendekati Aira. "Aira kenapa?" Tanya Aklil memberanikan diri sesampainya di dekat Aira. Aira sedikit kaget, dengan suara yang tiba-tiba menyapanya. Dan.. Aira lebih kaget lagi saat tahu pemilik suara yang menyapanya. "Ee..h ka..kak Aklil. Mmm.. ini gak tau mobil aku tiba-tiba mati. hp aku ketinggalan di rumah, jadi gak bisa telepon siap-siap." Aira berucap dengan gugup bercampur panik. "Aku cek, boleh?" Aira menganggukkan kepalanya, Tanpa berkata Aklil langsung masuk ke mobil Aira dan mencoba menstaternya beberapa kali, tapi tetep gak hidup. "Aira kayaknya akinya habis, tetep gak bisa hidup walaupun di paksain juga." Aklil keluar lagi dari mobil Aira. "Ya ampun gimana ini.." Aira semakin panik. "Mmm gimana.. kalau ikut mobil aku aja.. " tawar Aklil. "Maksudnya dari pada kelamaan nunggu di sini, apalagi kayaknya lagi buru-buru, biar nanti aku yang telepon montir.. " Aklil memperjelas ucapannya takutnya Aira salah mengartikan, takut dikira mengambil kesempatan dalam kesempitan, padahal tidak ada maksud ke sana sekali Aira hanya diam, dia memikirkan tawaran Aklil, kalau gak ikut dirinya pasti terlambat sampai ke rumah sakit, apalagi sekarang ada jadwal operasi. Tapi kalau ikut, Aira gak mau hanya berdua di dalam mobilnya, itu tidak baik. "kamu tenang aja, gak cuma berdua kok di mobil ada Ryan " ujar Aklil, yang tahu Aira kebingungan. "jadi, gimana mau ikut?" tanya Aklil lagi tanpa menatap Aira, mereka saling membuang pandangan masing-masing dengan jarak yang lumayan jauh, karena keduanya tahu seorang laki-laki dan perempuan dewasa yang bukan mukhrim tidak boleh berdekatan. Aira menunduk, dan mengangguk. Mereka pun mulai berjalan menuju mobil Aklil, Dengan Aklil yang terlebih dahulu berjalan, dan Aira mengikutinya. Aira masuk ke mobil milik Aklil, dia duduk di kursi belakang. "Hai Aira.. ?" sapa Ryan sambil melambaikan tangannya.. Aira hanya tersenyum sekilas, tanpa menatap Ryan.. "Yan, ngapain sih lo" Aklil menatap Ryan tajam "Ya ampun Lil, dikit aja pelit amat.. " Ucap Ryan. Aklil menatap Ryan tajam, lalu mulai menjalankan mobilnya. *** Sekitar dua puluh menit perjalanan yang di tempuh mereka sampai di depan SIDIQ HOSPITAL, Salah satu rumah sakit besar, yang di kenal dengan kebijaksanaanya. Salah satu contohnya, pasien yang benar-benar tidak mampu, pengobatannya di gratiskan tidak di pungut biaya apapun. "Aira, Rumah Sakit ini milik Aira ya" tanya Ryan "Bukan kak, ini milik Abi " jawab Aira Ryan menggaruk tengkuknya.. Merasa salah bicara. "Rasain.. !!  "  desis Aklil, dengan senyum mengejeknya. "Emm..m Kak Aklil makasih ya, maaf udah ngerepotin " kata Aira, merasa tidak enak. "Eeeh .. Nggak ko gak ngerepotin lagian searah juga, " Jawab Aklil. Aira keluar dari mobil Aklil, "Aira masuk dulu ya.. Kak, Assalamua'laikum?" ucap Aira yang tidak langsung menatap Aklil. "Wa'alaikumsalam, hati-hati ya" ucap Aklil Aira mengangguk, dan berjalan menuju rumah sakit. Pandangan Aklil seakan tidak ingin terlepas dari Aira, yang semakin tidak terlihat.. "Udah kali mandangin nya.. Bukan mukhrim.. " ucapan Ryan menyadarkan Aklil. "Astagfirullah" gumam Aklil sambil mengusap wajahnya. "makannya cepetan halalin, nanti keburu keduluan orang lain, dan ya... Orang lainnya itu gue.. " Ryan tertawa terpingkal-pingkal, "Ya, walaupun gue gak seganteng lo, duit gue juga gak sebanyak lo.. Tapi, ya cukup lah untuk kasih nafkah Aira.." sambung Ryan lagi.. "Astagfirullah Yan.. Lo mau gue turunin disini " kesal Aklil. "Ya ampuun lil, orang bercanda juga, habisnya gue gereget sama lo yang gak ada pergerakan tau engga sih?" ucap Ryan, "Oke, terus kalo, gue nikah seminggu lagi, lo mau apa?" Ancam Aklil lagi, " Ya, gak mau apa-apa juga sih" Ryan mengedikan bahunya.. "Dasar ya lo " Sesampainya di kantor Aklil, tidak bisa konsentrasi, bayangan Aira selalu memenuhu pikirannya. Begitupun dengan Aira yang berada di Rumah Sakit. *** Sore harinya, dengan terpaksa Aira pulang dari Rumah Sakit Naik taksi. Aira meminta taksinya untuk berhenti di depan pintu utama, karena terlalu lelah untuk berjalan, Setelah menyelesaikan pembayaran, dengan gontai Aira melangkahkan kakinya menuju pintu. "Asalamu'alaikum?" Aira mengucapkan salam ssmbari membuka pintu rumahnya. "Wa'alaikumsalam sayang, udah pulang." ucap uminya menghampiri Aira. "Iya umi. Umi kapan pulang? Tanya Aira sambil menyalami tangan Uminya. "Ba'da dzuhur umi udah di rumah sayang. Eh.. Tapi. Kok umi gak denger suara mobil pas kamu datang ya? Tanya uminya lagi. "Mobil Aira mogok Mi, pas perjalanan menuju Rumah Sakit." " kenapa kamu gak nelpon ke rumah sayang?" " Hp, Aira ketinggalan mi.. " jawab Aira "Terus kamu naik apa tadi ke Rumah Sakit, sama Mobil kamu dimana sekarang?" tanya uminya tidak sabaran. "Tadi di perjalanan Aira ketemu sama kak.. " Aira menggantungkan ucapnya.. Aira cengengesan.. Salah tingkah " sama.. Kak.. Aklil mi, dia nganterin Aira ke Ruma Sakit, sama tadi katanya dia bakal nelpon montir kenalannya biat ngurus mobil Aira .. Mi" Aira masih salah tingkah.. Uminya tersenyum menggoda.. "Eeeh.. Tapi Aira gak berdua kok mi Ada temennya ka Aklil. Aira juga duduk di belakang, umi gak boleh berfikiran macem-macem ya.. " Aira meraih tangan umi nya.. Uminya tersenyum, dia menatap Aira.. "Umi percaya, sama anak umi, yang cantik dan solehah ini.. " ucap umi sambil mengelus kepala Aira Aira memeluk uminya. "Aira sayang banget sama umi, Aira bahagia banget, punya umi yang pengertian banget.. " ucapnya masih memeluk uminya.. "Umi juga lebih sayang sama Aira. " ucap umi nya.. "Aira lagi gak solat kan? Sekarang makan dulu.. Terus istirahat, kayaknya putri bunda lelah banget.. " ucap bundanya, beranjak dari duduknya. Aira mengangguk mengikuti bundanya. *** Karena terlalu lelah sesudah makan tadi, Aira langsung tidur, dan sampai ba'da isa dia masih tidur dengan nyenyaknya. Uminya masuk ke kamar Aira, untuk membangunkan putri kesayangannya. "Sayang, bangun.. " umi mengguncang pelan badan Aira. Bukan Aira namanya kalau dibangunkan langsung bangun.. "Aira, bangun nak.. " umi menepuk-nepuk pipi Aira.. Aira menggeliat.. "kenapa mi? Umi tau kan, Aira lagi gak solat, sama Aira juga gak mau makan malam mi.. " ucap Aira dengan mata masih terpejam. "bukan itu nak. Ayo sekarang bangun mandi, pake baju yang rapi. Keluarga Aklil di bawah sudah nungguin kamu.." Aira langsung terduduk.. "Haaaah... Mau ngapain mi?" Aira membelalakan mata nya. "Ya..Mau khitbah kamu, mau ngapain lagi" jawab umi dengan santainya sambil tersenyum.. Aira menganga.. "Udah itu mulutnya di tutup nanti ada nyamuk yang masuk, ayo cepet mandi umi tungguin.." "Tapi umi.. " umi menuntun Aira masuk ke kamar mandi, "Nanti udah mandi umi jelasin " Selesai Aira mandi uminya memberikan gamis baby blue dengan khimar pastan syar'i senada. Aira memakainya, dia hanya memakai bedak sangat tipis. Namun hasilnya terlihat sangat cantik dengan penampilan sederhananya. "Putri umi cantik banget " puji uminya. Aira tersenyum.. "Umi, belum jawab pertanyaan Aira, kenapa dadakan gini?" tanya Aira penasaran. "Sebenernya gak dadakan sayang, tanpa sepengetahuan kamu Aklil sudah mendatangi umi dan Abi, meminta ijin untuk mengkhitbah kamu, dan Abi mengijinkannya, karena Abi sama umi yakin kalau Aklil orang yang tepat untuk kamu. dan malam ini Aklil menyanggupi membawa kedua orang tuanya untuk mengkhitbah kamu secara resmi.." ucap uminya. Aira meneteskan air matanya, ia sangat terharu dengan kesungguhan Aklil.. " Udah, jangan nangis nanti cantiknya luntur loh " umi mengusap air matanya Aira. "Ayo turun sayang, semua orang pasti sudah nungguin kamu. " Umi menuntun lengan Aira. *** ~TBC~ Semoga suka Tidak bosan-bosan aku mengucapkan terima kasih yang sudah berkenan membaca. #ilwi alawiyah
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN