Aira turun dengan uminya untuk menemui Aklil dan keluarganya.
" Ayo duduk sini nak " ujar Farid.
Aira duduk di sebelah Abinya, dan uminya mengikuti duduk di sebelah Aira.
" Aira cantik banget sayang," ucap bundanya Aklil sambil tersenyum.
Aira membalas dengan senyum ramah.
" karena, Aira sudah ada di sini kita bisa langsung mulai acaranya. " kata Ayahnya Aklil.
Semua orang yang hadir di sana mengangguk.
" Baik, jadi maksud kedatangan kami kesini, yang pertama untuk bersilaturahmi dengan keluarga pak Farid, dan yang kedua.. kami ingin mengkhitbah putri pak Farid, yaitu Aira untuk putra kami Aklil. Bagaimana Nak Aira apa nak Aira bersedia?" tanya Ayahnya Aklil.
Aira diam, dan menunduk. Dia masih tidak percaya dengan keadaan.
"Aklil sekarang giliran Aklil, yang menanyakan langsung sama Aira." ucap Andri Ayahnya Aklil.
Aklil menarik nafasnya, sebenarnya dia sangat gugup. Tapi dia akan memberanikan diri memperjuangkan masa depannya.
" Aira, seperti yang sudah Ayah katakan, maksud kedatangan saya kesini dengan keluarga, saya ingin meminta restu kedua orang tua kamu, untuk mengkhitbahmu.
Sejak pertama kali, saya melihat kamu ada keyakinan di dalam hati saya untuk menjadikanmu sebagai kekasih halal saya.
Saya tidak punya apapun untuk saya banggakan. Saya pun masih sangat awam memahami ilmu agama, saya juga tidak punya harta yang berlimpah untuk saya banggakan, tapi jika kamu bersedia saya ingin belajar bersama denganmu, meraih ridha-Nya Allah. Saya ingin meminangmu menjadi istri saya, apakah kamu bersedia?" Aklil mengatakannya dengan penuh keyakinan,
Aira yang masih menunduk meneteskan air matanya,
Aira mendongakan kepalanya melihat ke arah Abinya, seolah bertanya'menurut abi bagaimana?'
Abinya yang mengerti mengatakan.
" Abi terserah Aira saja, keputusannya ada di hati Aira.." ucap Abinya sambil mengusap kepala Aira.
Kemudian Aira melirik uminya.
Umi nya tersenyum sambil mengatakan.
" ikuti apa kata hati kamu nak, umi yakin keputusan yang Aira berikan, itu yang terbaik buat Aira. " ucap umi nya sambil tersenyum.
Aklil sangat tegang, dia melihat Aira seperti ragu untuk menerimanya.
Aira menundukan kepalanya lagi,
Hening.. Membuat semua orang yang ada di sana tegang, terutama Aklil.
dan..beberapa detik kemudian Aira menganggukkan kepalanya
" Ya, insyallh Aira bersedia " ucap Aira.
Aklil yang merasa lega menurunkan bahunya yang tegang dan menghembuskan nafas yang di tahannya, Aklil tersenyum simetris.
Ayah dan bundanya Aklil tersenyeum bahagia.
" Alhamdulillah, akhirnya.. Kita bakal jadi besan ya Rid?" ucap Ayah Aklil mengubah bahasa formalnya kepada Abinya Aira. Yang tentu saja Ayahnya Aklil sudah lama kenal Abinya Aira. Karena sudah sejak lama menjadi rekan bisnisnya, yang sekarang di teruskan oleh anak-anaknya.
Walaupun mereka juga tidak sepenuhnya lepas tangan, mereka masih ikut Andil Membantu anak-anaknya.
" iya, gak perlu repot-repot di jodohin, yang membuat anak terpaksa, dan tertekan. kalau emang udah jodohnya mereka sendiri yang mutuskannya dengan suka rela.. " jawab Abinya Aira.
Abinya Aira memang tidak pernah memaksakan apapun, kehendak anaknya. Dia selalu memberikan kebebasan untuk anaknya, termasuk dalam hal jodoh. Dan itu membuat kedua anaknya merasa nyaman. Walaupun Abinya selalu memberika kebebasan dan pilihan, tidak membuat Aizar dan Aira menyalahgunakan kebebasan dan kepercayaan Abinya,
Justru membuat mereka lebih belajar memilih yang paling terbaik dalam hal apapun.
" iya bener Rid, oh iya kita tentuin tanggal pernikahannya sekalian. Pihak perempuan siapnya kapan?" tanya ayahnya Aklil.
"sepertinya kami kapanpun juga siap, lebih baik pihak laki-laki saja yang menentukan." jawab Abinya Aira.
"Berhubung Aklil harus pergi ke luar kota selama 2 minggu,
Gimana pernikahannya kalau di adakan 3 minggu lagi." ujar Ayahnya Aklil.
Semua orang mengangguk setuju sambil tersenyum..
"semua persiapannya biar di urus sama bunda dan uminya Aira, iyakan inaya?" tanya bundanya Aklil.
Uminya Aira mengangguk.
"pesta pernikahannya biar di adakan di Firmansyah hotel. " Ayahnya Aklil menimpali..
Semua orang kembali mengangguk setuju.
"kalo begitu kami pamit pulang dulu Rid, nanti so'al persiapan dan ini itunya biar bundanya Aklil yang langsung menghubungi ke uminya Aira."
Kemudian mereka semua beranjak dari duduknya, menuju pintu utama.
"Aira, bunda boleh peluk kamu gak?" ucap bundanya Aklil.
Aira tersenyum mengangguk, lalu mendekati bundanya Aklil dan memeluknya.
" Ya ampun bunda, kelihatan banget ya.. Udah gak sabar pengen jadiin Aira mantu" sindir Ayahnya Aklil..
" Abisnya bunda gemes banget yah so'alnya Aira cantik banget, kaya barbie. Tapi versi Arab." jawab bundanya Aklil yang masih memeluk Aira dengan sayang.
"Tau anaknya inaya dari dulu, bunda gak bakalan keheranan sendiri, waktu di rumah sakit nganterin omanya Aklil.
lihat Aira yang kecantikannya kaya orang arab, Tapi bicara bahasa indonesianya lancar banget. Ternyata... Ya iya lah kaya orang arab orang titisan dari uminya yang notabenenya orang arab asli." tambah bundanya Aklil lagi.
Semua orang tertawa..
Lalu mereka meninggalkan kediaman keluarga Sidiq.
Setelah mereka pulang, Aira dan Abi uminya duduk di ruang keluarga.
" ternyata putrinya umi udah besar ya, sebentar lagi mau jadi istrinya orang." umi memulai pembicaraan..
Aira memeluk uminya.
"Umi apa keputusan Aira benar?" tanya Aira masih dalam pelukan uminya.
"Iya sayang, umi yakin Aklil bisa jadi imam yang baik buat kamu." uminya mengelus kepala Aira,
"Aira jangan ragu sayang, Aklil sudah menunjukkan keseriusannya sama bungsunya umi, bahkan sebelum ini, dia berani menemui Abi sama umi untuk minta restu langsung. " Abinya menimpali.
"Cieeeee... Yang bentar lagi jadi bini orang, aduh.. Kayaknya rumah bakal tenang ya gak ada kamu.. " ucap Aizar yang baru datang dari kamarnya.
Kemudian Aira berdiri, dan berlari mengejar kakaknya.
Aizar yang melihat pergerakkan Aira langsung berlari lagi ke Arah tangga.
Abi dan uminya hanya bisa menggelengkan kepala, melihat kedua Anaknya yang masih seperti anak kecil.
***
Sepulangnya dari rumah keluarga Aira Aklil di sambut oleh teriakan histeris Oma dan kakaknya.
Apalagi setelah bundanya Aklil menceritakan bagimana berani nya Aklil meminta Aira untuk menjadi istrinya.
Suasana semakin heboh.
"Aklil, bunda gak nyangka anak bunda yang sama sekali gak berpengalaman sama perempuan bisa bicara seromantis itu, ya ampuuuuun... Tadi tuh bunda pengen teriak kalau gak malu sama keluarganya Aira, pokoknya bunda bangga sama kamu" ucap bundanya Antusias.
" ini kejadian langka bunda, kenapa gak di abadikan sih" ucap Andin kakaknya Aklil.
" Akhirnya ya lil, kesampean juga dapet yang cantik yang bikin senyum-senyum sendiri setiap hari" sindir omanya Aklil.
" oma apaan sih " ucap Aklil.
" kamu jadi berangkat ke surabaya besok lil?" tanya ayahnya.
" jadi yah. "
"yaah, gak lihat wajah bidadari dua minggu dong" goda kakaknya Aklil.
"kakak apaan sih, biasanya juga gak lihat tiap hari kok, biasa aja. "
"hahaha.. Biasa ko jawabnya ngenes gitu ya.
Jadi gak sabar pengen lihat seperti apa orang yang udah membuat seorang Aklil Dzikri Firmansyah yang sama sekali tidak pernah tertarik dengan yang namanya perempuan, sampai di buat bertekuk lutut."
Kakaknya Aklil berkata dengan di buat-buat dramatis.
"yang pastinya gak kayak kaka.
Udah ah, semuanya aku istirahat dulu besok berangkat pagi banget"
Aklil beranjak dari duduknya.
"ya udah sana, jangan ngebayangin Aira mulu, belum halal dosa loh." kakaknya Aklil tertawa.
Aklil hanya mlirik tajam kakaknya sekilas, dan langsung pergi ke kamarnya.
Dia langsung membaringkan tubuhnya.
Memikirkan pernikahan yang tinggal sebentar lagi.
'semoga allah meridhai langkah kita' gumam Aklil.
***
~TBC~