Aklil melajukan mobil pajero sport putihnya dengan kecepatan sedang,
Aklil sedang perjalanan pulang, setelah dua minggu dia di surabaya. Dia lebih memilih membawa mobil pribadinya menempuh perjalanan 12 jam di bandingkan harus naik pesawat, yang menurutnya ribet.
Dia bersama Ryan berangkat kemarin sore dari surabaya, tapi banyak istirahat di jalan, Aklil dan Ryan terus gantian nyetir. Sebenarnya sih lebih banyakkan Ryan yang nyetir. Pukul 01.00 dini hari Aklil dan Ryan memutuskan menginap di perjalanan.
Setelah solat subuh mereka melanjutkan perjalanannya lagi.
Pukul 08.30 pagi dia sudah tiba di jakarta. Ketika mereka sudah hampir sampai ke rumahnya Aklil, tiba-tiba Aklil melihat Aira di pinggir jalan dengan pakaian nya yang kotor.
Aklil menepikan mobilnya.
"Yan bentar deh, itu kaya Aira" ucap Aklil
"Eh iya lil bener, tapi kenapa bajunya kotor ya?"
Tanpa banya bicara lagi Aklil langsung keluar dari mobilnya, dia berjalan menghampiri Aira.
Aira sedang mengusap-ngusap bagian depan hijabnya yang kotor.
"Aira.. " Aira yang merasa namanya di panggil mendongakan kepalanya.
"Mas Aklil.." Aira kaget, mendapati Aklil yang sudah berdiri di hadapannya.
Dan entah sejak kapan Aira mengubah panggilannya untuk Aklil.
"kamu ngapain disini? Kenapa pakaina kamu bisa kotor begini?" tanya Aklil
"Rumah sakit lagi ngadain pengobatan gratis disini. terus, tadi pas aku mau beli minum, tiba-tiba ada mobil yang melaju kenceng banget , mobil itu nginjek lobang jalan yang ada Airnya. Dan air nya nyembur ke baju aku." jelas Aira panjang lebar.
"Kamu bawa baju ganti?"
Aira menggeleng sambil menundukan kepalanya.
Aklil berfikir sejenak, kemudian berkata.
"dari sini ke rumah aku deket, gimana kalo kamu ikut ke rumah aku, nanti biar bunda yang pinjemin baju sama kamu, kalo harus pulang dulu ke rumah kamu kayaknya gak mungkin " tawar Aklil
Aira masih menunduk diam,
"Emm.. Ta..ta..pi aku malu sama-.. " belum sempat Aira menyelesaikan ucapannya tiba-tiba Aklil memotongnya.
"Bunda? Bunda gak bakal apa-apa" potong Aklil
"dan kamu juga gak mungkin, pake baju ini sampe pulang, gimana? Mau ya?" Aklil membujuk lembut.
Aira tidak punya pilihan lain, Aira menganggukkan kepalanya.
"Ya udah ayo mobil aku ada disana, di mobil ada Ryan gak usah khawatir.. "
Aklil berjalan di depan, Aira mengikutinya di belakang, dengan sedikit menjaga jaraknya.
Aira masuk ke mobilnya Aklil duduk di jok belakang tapatnya belakang kursi kemudi Aklil. Ryan menyambut Aira heboh, yang hanya di balas dengan senyuman saja oleh Aira.
Aklil tersenyum penuh kemenangan, seolah berkata 'emangnya enak di cuekin, rasain'
Ryan mendengus sebal melihat senyum kemenangan Aklil.
Tidak lama mereka sampai di kediaman keluarga Firmansyah.
"Asalamu'alaikum bunda?"
Aklil memencet bel sambil berucap
Tidak lama pintupun terbuka.
"wa'alaikumsalam. Kamu udah pulang sayang?" tanya bundanya Aklil yang belum menyadari kehadiran Aira.
" iya bun, oh iya bun ini ada Ai.. " ucapan Aklil terpotong, ketika bundanya menyadari ada Aira.
"Ya ampuuun... Sayang, kenapa? Kok bajunya bisa kotor seperti ini?" bundanya Aklil menghampiri Aira, memegang pundaknya Aira.
"Aklil. Kamu apain menantu bunda?" bundanya menatap tajam Aklil meminta penjelasan.
"Bunda, ini bukan salahnya mas Akli" Kata Aira, kemudian dirinya menceritakan kembali kejadiannya, seperti yang ia ceritakan tadi kepada Aklil.
Bundanya Aklil mengangguk mengerti.
" Ya ampun kasihan sekali menantunya bunda, ya udah sayang ayo masuk. Bersihin badan badan kamu "
"Calon bunda, belum jadi menantu?" sergah Ryan.
"Aaah.. Ribet gak usah calon-calon segala, orang bentar lagi resmi kok.. "
Ujar Alma sedikit kesal.
Ryan hanya nyengir tidak bisa lagi berkata apa-apa.
Mereka semua masuk, Aklil baru saja akan duduk di sofa. Tapi perintah sang bunda mengurungkan niatnya.
"jangan duduk dulu kamu Aklil, ambilin baju ke buntik bunda buat Aira " perintah Alma.
Aira melihat ke bundanya Aklil, dia menggelengkan kepalanya.
"bunda gak usah, Aira pinjem baju yang ada aja"
"nggak papa sayang, gak mungkin bunda kasih baju bekas buat menantu kesayangan bunda ini." bundanya Aklil tersenyum
"Ayo sayang bunda anter ke kamar mandi. Bersihin dulu badannya ya" bunda Aklil merangkul pundaknya Aira mengantarkan Aira untuk membersihkan badannya.
Aklil yang melihat perlakuan bundanya ke Aira, menyunggingkan senyumnya.
"ternyata bunda sangat menerima Aira"batin Aklil.
"ngapain lo mesem-mesem gitu?" Ryan yang melihat Aklil senyum-senyum sendiri.
"nggak, biasa aja" Aklil menormalkan kembali ekspresinya.
"Aklil, kamu ngapain masih di sana, bunda nyuruh kamu ke butik ngambilin baju buat Aira." Arma sedikit berteriak.
"Aklil mau mandi dulu bun, kenapa gak nyuruh pak rudi aja." tolaknya, karena dirinya sangat lelah.
"kalau pak rudi yang ngambil. berarti Aira calon istrinya pak rudi, "
Ucapan bundanya membuat Aklil memelototkan matanya.
"Enak aja..!!" Aklil langsung mengambil kunci mobilnya, dengan segera melangkah ke luar pintu.
Membuat Ryan dan bundanya tertawa.
***
Tidak lama Aklil, sampai di butik bundanya. Butik besar milik designer terkenal
Alma Maisha Rianti bundanya Aklil adalah designer baju muslim dan baju bridal,
Tidak sedikit artis yang memakai baju design bundanya, dari kalangan pejabat pengusaha sampai orang biasa pernah menginjakan kaki di butik milik Alma.
Aklil langsung masuk kedalam butik.
Kedatangan Aklil di sambut baik oleh semua karyawan Alma.
"Eh ada Aklil " sapa mega wanita paruh baya yang menjadi asisten bundanya itu.
Mega sudah bekerja dengan Alma dari dulu bahkan sebelum Andin dan Aklil lahir. Maka dari itu mega menjadi orang yang sangat di percaya oleh Alma.
"iya bu, bunda udah telpon belum?"
"udah, ini ibu udah siapin, Aklil tinggal bawa aja, buat Aira ya?" tanyanya dengan senyum menggoda.
"Eh, ko bu mega tau?" Herannya.
"Ya, tau lah kan bundanya Aklil yang bilang" jawab mega terkekeh.
"ck, dasar ya bunda.. " Aklil berdecak menggelengkan kepalanya.
"udah gak papa, bisa banget ya kamu milih peremuan, gak pernah pacaran, gak pernah deket sama perempuan. Pas dapet eh dapet paket komplit banget. Udah cantiknya gak ketulungan, solehah lagi.." Mega berucap sambil membayangkan sosok Aira.
"bu mega apaan sih, udah ah Aklil pulang dulu ya takut di tungguin bunda.."
"Bunda apa Aira?" Goda bu mega..
"Bunda," jawab Aklil singkat.
"Aku pulang dulu ya bu, Asalamua'laikum?" pamit Aklil
"Wa'alaikumsalam, Hati-hati dijalan." pesan bu mega.
Aklil menganggukkan kepalanya keluar dari butik, menuju mobilnya. Lalu membelah jalan untuk kembali ke rumahnya.
***
Jarak dari butik ke rumahnya hanya 15 menit.
Aklil memarkirkan mobilnya dengan rapi di halaman rumahnya.
Aklil langsung masuk ke rumahnya.
"Bunda ini bajunya" Aklil menyerahkan paper bag yang di bawanya.
"iya, Sana kamu mandi dulu, Ryan udah di suruh mandi, dia mandinya di kamar mandi dapur" perintahnya, sambil beranjak dari duduknya.
Aklil langsung pergi ke kamarnya untuk membersihkan dirinya.
Saat bunda Aklil masuk ke kamar tamu, tempat Aira membersihkan diri,
Aira sedang duduk di tepi ranjang.
"ini sayang, pake baju gantinya" Alma menyerahkan paper bag yang tadi di bawakan Aklil.
"maaf ya bunda jadi ngerepotin" Aira mengambilnya dengan senyum canggung.
Alma tersenyum.
"Bunda engga ngerasa di repotin sayang, udah ayo ganti bajunya "
Aira beranjak ke kamar mandi. Dia memakai gamis maroon, dan hijab segi empat panjang dusty pink. Setelah selesai dia keluar dari kamar mandi.
"cantik banget sayang"
"emm.. Bunda kok ini pakaiannya sama, sama yang suka Aira pake, brand nya sama juga. kok.. bisa bunda? Eh tapi kata bunda ini dari butiknya bunda apa jangan-jangan.. Semua baju yang aku pakai dari butik..bunda" Aira menutup mulutnya.
Alma mengangguk sambil tersenyum..
"ya, tanpa Aira sadari sejak Aira memakai pakaian syar'i, semua bajunya dari bunda."
"kok bisa bunda, tapi kenapa umi gak kasih tau Aira ya" tanya Aira yang masih tidak percaya.
"mungkin uminya Aira lupa, bahkan umi Aira menceritakkan keinginan pertama kali anak bungsunya yang ingin berhijrah memakai pakaian yang benar-benar menutup aurat."
"Beneran bunda?"
Alma mengangguka kepalanya lagi.
"pantesan kelihatannya bunda sama umi akrab banget,
Berarti bunda udah tau sama Aira dari dulu?
Alma menggeleng..
"uminya Aira tidak pernah menyebutkan nama Aira, paling dia manggil putri bungsunya. Tanpa di duga dan di sangka eeeh.. Ternyata, anaknya bunda yang kepincut Anaknya inaya"
Aira tersenyum.
"Bunda tuh ya, pertama kali lihat Aira kaya lihat wajahnya siapa gitu, kayak kenal. Setelah kepikir sekarang, wajah Aira kan inaya banget kecampuran Abinya dikit jadi tambah cantik, sekali kedip aja Aklil langsung takluk" tambahnya lagi..
Aira tertawa..
"Bunda Aira boleh nanya gak?"
Alma mengangguk..
"boleh dong sayang, mau tanya apa?"
"Mas Aklil pernah punya pacar nggak bunda?" tanya Aira ragu.
Alma tersenyum.
"Boro-boro pacaran, deket sama perempuan aja gak pernah."Alma menarik nafasnya"
Yang coba deketin dia banyak, anak temen ayahnya, klien wanitanya, anak temen-temen bunda, bahkan ada yang nekat deketin bunda. Ya, bunda sebagai orang tua cuma nyampein aja sama Aklil ngasih tau orangnya gimana. Tapi Aklil flat-flat aja. Gak ada seorang pun yang dia respon" jelas Alma panjang lebar.
"terus, bunda sekarang gimana orang yang ngejar-ngejarnya, masih?" tanya Aira dengan raut wajah khawatir.
Alma tersenyum kemudian merangkul bahu Aira.
"udah nggak sayang, kamu tenang aja bunda yakin hatinya Aklil hanya untuk Aira, gak ada yang lain" bisik Alma. Aira tesipu.
"Ya udah ayo kita turun sayang"
Aira menaggukan kepalanya.
Mereka menuruni satu persatu anak tangga. Pemandangan yang pertama kali Aira lihat dia melihat Aklil yang sedang duduk di sopa sambil memainkan laptopnya, memakai celana jeans hitam, dengan kemeja navy lengan panjang yang digulung sampai siku. Rambut yang masih basah menandakan dia baru selesai mandi.'kenapa terlihat sangat tampan" batin Aira. Aira benar-benar tidak berkedip.
Alma yang menyadari Aira berhenti berjalan, dan matanya yang tidak berkedip.
Alma mengikuti arah pandang Aira, Alma mendapati Anaknya yang sedang fokus dengan laptopnya. Alma tersenyum.
"kenapa sayang, anak bunda ganteng ya?"bisiknya di teling Aira.
Aira terlonjak, dia tersadar dari lamunanya. 'astagfirullah' gumamnya.
"udah ayo sayang" mereka yang berhenti di tengah tangga melanjutkan kembali jalannya.
"Ya ampun Aklil, dua minggu Masih kurang ya buat ngurusin kerjaan" omel bundanya Aklil.
"nggak bunda ini ada proyek baru, ini udah selesai kok "Aklil menutup laptopnya.
"kamu ini ya" bundanya melirik Aira..
"Aira makan di siang aja ya sayang"
Aira melihat jam masih pukul 10.35 WIB
"Makasih bunda, tapi Aira harus kembali lagi ke lokasi pengobatan, so'alnya doktet spesialis jantung yang datang hanya Aira. Aira takut mereka makin lama menunggu" jelas Aira.
"Ah ya ampun, menantu bunda ini selain cantik, ternyata baik hati sekali ya, ya udah kamu tunggu sini bentar, kebetulan bunda udah masak, jadi kamu bawa aja ya makanannya.. "
"Bunda gak usah.. Nanti Aira makan di luar aja" tolak Aira
"Nggak sayang, pokonya kamu harus bawa masakan bunda, tunggu sini bentar ya" Alma pergi ke dapur untuk mengambil makanan.
Sementara disini hanya ada Aklil dan Aira. Sungguh suasananya sangat-sangat canggung baik Aklil atau Aira tidak tau harus bagaimana dan harus bicara apa.
" kamu duduk dulu, nanti pegel berdiri terus" Aklil mecah keheningan.
Saat Aklil bicara, entah kenapa badan Aira menegang.
Aira mengangguk kemudian duduk di sofa yang bersebrangan dengan Aklil.
D
ia berusaha biasa saja, untuk menyembunyikan rasa gugupnya.
"Nanti pulang jam berapa?" tanya Aklil lagi. Sebenarnya Aklil pun sangat-sangat gugup, tapi jika mereka diam tanpa ada pembicaraan pun suasana akan lebih mencekam.
"Mungkin sekitar jam 5 sore" jawab Aira seadanya. Yang di angguki dan gumaman oleh Aklil.
Mereka berbicara tanpa saling menatap. Hanya melirik sekilas dan saling membuang pandangan ke sembarang arah. bukan mereka saling marah dan saling benci atau berbagai macam alasan lainnya, mereka hanya tidak ingin menambah dosa yang di sengaja yaitu dengan jinah mata.
"Mas Aklil baru pulang tugas ya?" tanya Aira memberanikan diri.
Hati Aklil menghangat saat Aira bertanya untuk yang pertama kalinya Walaupun hanya satu pertanya'an sederhana.
"Iya, tadi pas ketemu kamu di jalan aku baru aja sampe."jawab Aklil.
Belum sempat Aira menjawab pertanyaan Aklil, bundanya Aklil datang dengan kotak makan dan tempat minum di tangannya.
"ini sayang nanti di makan ya.. " ucapnya sambil memasukannya ke tas tempat makan.
"Makasih bunda, maaf ya Aira ngerepotin bunda.." ujar Aira merasa tidak enak.
"Enggk kok.. Bunda gak ngerasa di repotin, justru bunda seneng.." jawabnya sambil tersenyum.
"Ya udah, Aklil anterin Airanya, kayanya Ryan udah nunggu di depan" perintah Alma kepada Aklil, seakan faham mereka tidak akan mau pergi berdua.
Aklil mengangguk.
"Aira pamit ya bunda sekali lagi makasih, maaf Aira ngerepotin bunda..??" pamit Aira kemudian menyalami tangan bundanya Aklil.
"Iya sayang, bunda udah bilang Aira gak ngerepotin.." Alma terkekeh sambil mengelus lembut kepala Aira.
Alma melirik ke arah Aklil.
"Hati-hati nyetirnya Aklil, kalau sampai Aira lecet sedikit saja jangan harap kamu bisa masuk rumah.." ancam bundanya.
"Ya ampun bunda, udah ya kita jalan dulu assalamu'alaikum??" Aklil berkata lemah.
***
Tidak lama mereka sudah sampai di lokasi pengobatan gratis yang di adakan oleh SIDIQ HOSPITAL,
Aira turun dari mobil Aklil.
"Makasih ya mas, maaf aku ngerepotin"
Ucap Aira setelah turun dari mobil Aklil.
"engga kok, hati-hati ya.. nanti pulang nya hati-hati juga" pesan Aklil.
Aira mengangguk.
"Mas sama kak Ryan juga hati-hati di jalannya,Aira masuk ya Asalamu'alaikum?" pamit Aira.
"Wa'alaikumsalam?"jawab Aklil.
"Aira, Makin hari makin cantik aja ya lil?"
Celetuk Ryan setelah kepergian Aira.
"Turun lo.." suruh Aklil kesal.
"Bercanda bro hehe.." Ryan cengengesan sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya.
Aklil mendengus kesal,
Lalu melajukan kembali mobilnya menuju rumahnya.
***
Saat makan siang tiba Aira membuka kotak bekal yang dikasih bundanya Aklil tadi.
"Cieee.. Dari calon mertuanya ya dok" tanya perawat yang menjadi asisten Aira.
Aira hanya menanggapi dengan senyuman.
"Gak usah malu gitu dok,
Tadi saya lihat dokter ikut sama calon suaminya terus di anterin lagi, calon suaminya dokter ganteng ya, dokter nya cantik. Ganteng ketemu cantik pokoknya pas, cocok banget." kata suster jani lagi.
Aira terkekeh, sambil geleng-geleng kepala.
"kamu apaan sih, ayo sini temenin aku makan. Ini makanannya banyak" ajak Aira, kepada asistennya yang sudah sangat akrab dengan dirinya itu.
"Beneran dok, ya ampun dokter baik banget makanan dari calon mertua aja di bagi-bagi." kata jani antusias.
Aira tersenyum lagi,
Aira makan berdua dengan suster jani.
Hati Aira menghangat. Dia sangat bahagia. Dia tersenyum mengingat kebaikan calon suaminya, perhatian dan kasih sayang calon mertuanya.
'nikmat tuhan yang mana lagi yang engkau dustakan' batin Aira.
***
~To Be Continued~