Tidak terasa, 5 hari lagi Aira akan melepas masa lajangnya, jangan di tanya bagaimana perasaanya. Benar-benar campur aduk. Semua wanita yang sudah menikah pasti merasakannya.
Saat Aira sedang memeriksa data-data pasiennya, tiba-tiba handphone Aira bunyi.. menandakan ada panggilan masuk. Aira melirik handphone-nya
Di layar handphone-nya tertulis nama bunda.
Jujur dia sedikit kaget, ada apa calon mertuanya itu menghubungi dirinya. Aira menghentikan pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk di hatinya, tangannya meraih handphone-nya itu mengusap tombol jawab.
"Asalamu'alaikum bunda? Ucap Aira ketika menganggkat teleponnya.
"wa'alaikumusalam, Aira masih di rumah sakit? Suara Alma terdengar antusias di sebrang sana.
"Iya, ada apa bunda? Tanya Aira.
"Pulang dari rumah sakit, Aira bisa mampir dulu ke butik bunda nak, kita fitting baju." jelas bundanya Aklil.
"Oh iya insya allah bisa bunda"
"Ya udah, bunda tunggu ya sayang, nanti bunda kirimin alamatnya. Eh, apa mau di jemput aja sama Aklil?" tawar Alma antusias.
"Eh, apa. gak usah bunda.. " tolak Aira cepat.
Bundanya Aklil terkekeh. Membuat Aira bertambah malu saja,
"Ya udah sayang, bunda tutup dulu ya semangat kerjanya, jangan lupa nanti bunda tunggu asalamu'alaikum?"
"Waa'laikumussalam bunda"
Kemudian sambungan telpon terputus,
Aira melanjutkan pekerjaannya lagi.
2 jam lagi dia akan pulang. Menemui calon mertuanya lebih tepatnya.
***
Aklil memarkirkan mobilnya di halaman butik bundanya.
Dia di suruh pulang cepat oleh bundanya.
Aklil tersenyum ramah saat beberapa karyawan Alma menyapanya.
Aklil langsung naik ke lantai tiga, dan masuk ke ruangan bundanya.
"Asalamu'alaikum bunda?" Aklil menghampiri bundanya yang sedang merapikan beberapa gaun bridal rancangannya.
"Wa'alaikumussalam, lebih cepet dari dugaan bunda ternyata pulangnya.. " bundanya tersenyum,
Aklil menyalami tangan bundanya.
"Iya bunda, Aira belum kesini?" tanya Aklil sambil mengedarkan pandangannya terlihat mencari-cari seseorang.
Bundanya Aklil tersenyum menggoda.
"belum, kenapa? Kangen ya?"
"Eh, nggak kok.. Nanya doang" elak Aklil.
"kamu udah salat Asar belum?" Tanya Alma.
"Udah bun.."
Aklil membaringkan badannya di sofa panjang yang ada di ruangan bundanya, dia memejamkan matanya.
Alma yang melihat kelakuan anaknya hanya menggelengkan kepalanya, di sangat tau waktu untuk anaknya istirahat sangat sedikit.
"Jangan tidur dulu Aklil, "
"Nggak kok.. Bun, mengistirahatkan mata saja sebentar.." kilahnya,
Belum sempat Alma membalas perkataan Aklil, tiba-tiba pintu ruangan di buka oleh mega,
Sahabat sekaligus asistant bundanya itu, yang sudah menganggap Alma adik sendiri, juga menganggap Aklil anaknya sendiri. Begitupun sebaliknya Alma sudah menganggap mega keluarganya.
"Al ini calon menantu cantiknya udah datang" mega sedikit menarik Aira yang ada di belakangnya.
"Oh iya, sini sayang.." Alma melambaikan tangannya ke arah Aira.
Aklil langsung bangun dari tidurannya.
Mega bergegas pergi lagi.
Dengan langkah pelan Aira masuk ke ruangan Alma. Alma menghampiri Aira, dan Aira menyalami tangan Alma.
"Aira kesini sama siapa?" tanya Alma.
"Sendiri bunda" Sahut Aira, sebenernya Aira sangat gugup. Dia masih agak canggung dengan calon mertuanya. Di samping itu kehadirannya Aklil di ruangan ini. Dia tahu Aklil ada di sini walaupun Aira tidak memandang ke arahnya.
"Kamu nyetir sendiri? Ya ampuun sayang, pasti cape banget ya.." Alma mengelus kepala Aira, dia mengerti calon menantu, ahh.. ralat katakan saja menantunya karena beberapa hari lagi insya allah atas izin allah mereka akan sah.
Alma melihat kegugupan Aira yang sangat kentara sekali, maka dari itu Alma berusaha membuat sikapnya lebih cerewet dari biasanya. Agar Aira tidak merasa canggung.
Aira tersenyum. Sekarang senyumannnya sudah terlihat sedikit rileks
"Nggak.. Bunda Aira udah biasa nyetir sendiri"
Alma menganggukkan kepala sembari tersenyum mendengar jawaban Aira.
"Oh iya, Aira udah salat Asar belum?"
Tanya Alma lagi.
"Udah bunda,"
"Ya udah, kalau gitu kita langsung cobain aja ya bajunya, biar Aira pulangnya gak kemaleman."
Aira mengangguk.
"Ayo sayang kita ke lantai 4 khusus untuk gaun bridal" Alma melirik Aklil yang masih diam di tempat duduknya.
"Aklil ayo ah.. Jangan duduk aja, kayak ada akarnya aja." Alma menggoda anaknya yang mendadak diam sejak Aira datang. Penyebabnya tentu saja karena Aira, Aklil pun sama gugupnya dengan Aira.
Aklil beranjak dari duduknya,
"Bunda apaan sih.."
Mereka mulai berjalan, Aklil mengikuti dari belakang.
Aklil dan Aira tidak bertegur sapa, bukan karena mereka terpaksa menikah, atau saling marah, apalagi saling benci, bukan.
Mereka hanya tidak ingin bertatap-tatapan berlebihan, yang menjadikan jinah mata.
Mereka tidak ingin dulu membicarakan banyak hal sebelum mereka halal.
Sesampainya di lantai empat, Alma langsung menunjukkan gaun-gaunnya pada Aira.
"Nah sayang, ini ada lima gaun buat acara resepsi, dan satu gaun untuk akad. Ini Bunda sendiri yang rancang, pemilihan warnanya di bantu sama uminya Aira, makannya untuk warnanya bunda pilih warna-warna soft kesukaan Aira" jelas Alma sambil menunjukan baju untuk Aira.
"Untuk modelnya, semuanya gak jauh berbeda. Yang bunda bedakan hanya di payetnya, Bunda juga ingin Aira nyaman pake nya Bunda buat sesimple mungkin, dengan tidak menghilangkan kesan elegan untuk bajunya. Untuk bagian belakanya juga Bunda gak buat panjang-panjang banget, Ada dua baju yang ekornya lumayan panjang untuk baju pertama dan kedua.." jelas Alma panjang lebar pada Aira,
Aira memandang takjub baju-baju yang Alma buat untuk dirinya.
"Gimana sayang suka nggak? Atau ada yang Aira gak suka, nanti biar Bunda perbaiki lagi.." tanya Alma lagi yang melihat Aira diam saja.
"Eh, nggak kok.. Bunda ini semua bagus banget, Aira suka banget semuanya. Aira hanya takjub sama karya bunda, Bunda hebat banget.." jawab Aira dengan suara cerianya..
Alma tersenyum bahagia.
"Bunda seneng sayang, kalo kamu suka"
"Oh iya bunda, untuk hijabnya gimana? Biasanya kalo gaun bridal hijabnya hanya di gulung di leher saja?"Tanya Aira khawatir.
"Gak usah khawatir sayang, Bunda udah mempersiapkannya, Aira tetep pake khimar yang panjang tapi nanti kita kasih variasi sedikit, kemudian di tutup sama veil yang panjang, terus Bunda juga udah nyiapin sarung tangan transfaran yang senada sama warna gown nya. Tadinya bunda mau nyiapin handshock aja, tapi kata Aklil sarung tangan aja biar nanti kalau salaman sama laki-laki gak bersentuhan kulit.
Iya kan Aklil?"
"Eh i..iya " Aklil salah tingkah ketika bundanya mengatakan semuanya Aklil yang minta.
Aira yang mendengarkan itu Aklil yang minta, entah kenapa Aira merasa lebih yakin bahwa Aklil bisa menjadi imam yang baik untuk dirinya.
"Mmm.. Tapi Bunda, apa lima baju gak kebanyakan?" tanya Aira.
Alma menggeleng
"Nggak sayang, justru ini udah paling sedikit kalau menurut bunda, mengingat 5000 undangan yang akan menghadiri pernikahan kalian"
Aira dan Aklil kompak membulatkan matanya.
"Bunda, kok.. Bisa sebanyak itu?" kaget Aklil.
"Yah, mau bagaimana lagi.. Kolega-kolega Abinya Aira, kolega Ayah kamu, karyawan SIDIQ ENTERPRISE dan FIRMANSYAH GROUP seluruh karyawan kantor cabangnya sampai yang di luar negri di undang semua, belum lagi para dokter dan suster SIDIQ HOSPITAL sama juga, yang dari Rumah sakit cabangnya di undang semua.
itu udah keputusannya Abinya Aira sama Ayah kamu, katanya mereka tidak ingin berpilih kasih sama semua karyawannya. Makannya dari yang jabatannya terendah sampai yang tertinggi mereka undang semua.. " Alma menjelaskan dengan sejelas-jelasnya.
Aira dan Aklil mengangguk mengerti.
Saat mereka sedang melihat-lihat gaun untuk Aira. Tiba-tiba mega dan satu orang karyawan lainnya membawa baju untuk dua keluarga.
"Al, ini baju keluarganya udah selesai"
Ucap mega.
"Oh iya, gantungin di sana dulu meg" tunjuk Alma.
"Nah, Aira itu baju keluarganya yang warna grey buat keluarganya Aira,yang warna brown untuk keluarganya Aklil, itu Bunda mix and match sama batik. Batiknya bunda expor dari solo, itu juga pemilihan warna, dan yang lainnya di bantu sama uminya Aira.." Alma menjelaskan lagi sambil tersenyum.
"Iya bunda, itu semua bagus banget.. Bunda hebat.." Aira mengatakannya sambil tersenyum.
"Alma ngasih yang paling terbaik untuk calon menantu kesayangannya" celetuk mega.
Aira tersenyum malu.
"Tuh kan, malah jadi kemana-mana ngobrolnya. Ya udah sayang, sekarang cobain semua baju nya. Di bantu sama mega ya Bunda mau bantuin Aklil, nanti Bunda lihat Aira."
Aklil dan Alma, masuk ke ruang ganti yang ada di sebelah kanan. Sedangkan Aira dan mega masuk ke ruang ganti yang sebelah kiri.
***
Alma menunjukkan Enam tuxedo untuk Aklil.
"Ayo sayang, cobain dulu"
"Semuanya bun?" Aklil membulatkan matanya.
"Ya iya semuanya" gemas Alma.
Dengan ogah-ogahan Aklil mengambil satu tuxedo. Tapi Aklil berhenti ketika melihat salah satu tuxedo kemeja di dalamnya berwarna pink.
"Bunda, kok ini warnanya pink?"
"iya kan, itu senada sama gaun yang Aira pake"
"Ngga, Aku gak mau pake," protes Aklil.
"Ya ampun Aklil itu bukan pink juga tapi dusty pink, cobain dulu ayo sini"
Aklil membuka kemeja yang di pakainya, memakai kemeja itu, bundanya memasangkan tuxsedo putih.
"Bagus kan? Bunda tuh udah perhitungin Aklil, bunda juga gak mau anak bunda keliahatan feminin. "
"iya bunda iya" pasrah Aklil.
"sekarang cobain yang ini sekalin sama celananya," bundanya menyerahkan tuxsedo warna navy dengan kemeja baby blue. Aklil mengambilnya dan masuk ke balik tirei. Setelah memakainya Aklil menunjukannya kepada Alma.
Alma melongo menatap Anaknya. tuxsedo yang melekat begitu pas di badan Aklil yang memiliki tinggi dan berat badan yang proposional.
"Bunda gimana?" Tanya Aklil.
"Ya ampuuun anak bunda ganteng banget sih, ternyata bener ya kata orang-orang kamu ganteng. Pas banget sayang." Alma mengusap-ngusap baju Aklil.
"Bunda, kemana aja baru tahu anaknya ganteng"
Alma mendengus.
"Nyesel bunda muji kamu"
Aklil tertawa.
Kemudian, Aklil mencoba semua tuxsedonya sampai selesai.
"Udah ya, semuanya pas gak ada yang harus di perbaiki lagi"
"Ada bunda."
"Yang mana?" heran Alma.
"kemeja yang pink"
"kamu ini, gak ada penolakan ya, pake atau gak jadi nikah"
"Ya ampun ancamannya Antara hidup dan mati banget" keluh Aklil.
Alma tertawa tanpa suara.
"Udah ya, bunda mau lihat Aira dulu. Kamu mau lihat juga?"
"Nggak, lihatnya nanti kalo udah halal" ucap Aklil.
Alma sangat bangga sama Aklil, ketika diluar sana banyak yang melakukan free s*x sebelum nikah. Bahkan ada yang lebih parah lagi.
Tapi, melihat cara Aklil memperlakukan wanita yang sudah menjadi tunangannya. Untuk sekedar menelpon Aira saja atau hanya bertukar pesan singkat sampai saat ini Aklil belum pernah.
"Bunda bangga sama kamu nak" Alma tersenyum, dia mengusap kepala Aklil dengan sayang.
Aklil yang mengerti kenapa bundanya seperti itu.
"Aklil hanya tidak ingin membuat dosa yang di sengaja saja bunda. dosa yang tidak di sengaja aja kita gak pernah tahu seberapa banyaknya.." ucap Aklil.
Alma tersenyum, dia merangkul Aklil yang duduk di sofa.
"Bunda sangat bangga sama kamu nak, perjuangan bunda, mendidik dan membesarkan kamu gak sia-sia.
Udah ah, bunda mau lihat Aira dulu kamu mau tunggu di sini?" Alma sengaja mengalihkan pembicaraan dia tidak mau menangis di hadapan Aklil, walaupun itu tangis bahagia.
"Aklil tunggu di ruangan bunda aja ya, mau mandi gerah, boleh gak ambil baju baru buat ganti?" Aklil tersenyum
"iya Ambil aja, biasanya juga ngambil baju baru tiap mandi di sini." sindir bundanya.
Aklil cengengesan.
Alma pergi ke ruang ganti Aira, dan Aklil turun ke lantai bawah menuju ruangan bundanya.
***
Mega membawakan semua baju yang akan Aira coba.
"Aira ini cobain dulu yang warna baby blue ya" mega memberikannya.
Aira mengangguk dan masuk ke balik tirei di ikuti mega. Aira terlihat sangat canggung mengganti baju di hadapan orang lain.
"kamu gak usah malu, sama ibu anggap aja ibu ini sama kayak umi dan bundanya Aklil ya."
Aira tersenyum dan mengangguk.
Aira membuka gamisnya, di dalamnya dia memakai celana panjang dan manset jadi dia tetap aman, mega tidak melihat auratnya, walaupun sama perempuan tapi Aira tetap saja malu.
Mega membantu mengancingkan bagian belakang gaun Aira, dan merapihkannya.
Mereka keluar dari tirei.
Mega tersenyum.
"Wah, kamu makin cantik.. Gaun nya pas banget di tubuh kamu, Aklil pasti ngga bisa berkedip nanti" ujar mega.
Aira tersenyum malu, wajahnya memerah.
"ibu berlebihan,"
"ibu serius kamu emang udah cantik, di tambah gaun yang elegant jadi ngasih nilai plus, pokonya mantap banget mega mengacungkan kedua jempolnya.
Saat mencoba baju terakhirnya, tiba-tiba pintu terbuka dengan munculnya sosok Alma.
Alma yang melihat Aira memakai baju rancangannya begitu pas di badan Aira tersenyum puas.
"Sayang, kamu cantik sekali bunda gak yakin Aklil tidak meneteskan Air liurnya melihat kamu secantik ini"
Aira tersenyum malu dan wajahnya kembali merah.
"Tadi juga udah di bilangin, Aklil gak bakaln berkedip." mega menjawab.
"iya, ini udah semua bajunya di cobain?"
"sudah bunda" jawab Aira.
"Gimana semuanya pas kayak yang ini di pake gak?"
"iya semuanya pas kayak gini, pokonya semuanya bagus di pake Aira" jawab mega.
"Dipake nya gimana syang nyaman nggak?"
"nyaman bunda, hanya yang ekornya panjang agak berat sedikit" jawab Aira jujur.
Alma tersenyum.
"itu udah keharusan sayang, jadi kamu harus bertahan untuk beberapa jam ya.."
Aira tersenyum dan menganggukan kepalanya.
Ketika Aira sudah selesai mereka bertiga turun ke lantai bawah. Sebentar lagi adzan magrib akan berkumandang sementara Aira masih disini dan jarak dari buntik Alma kerumahnya Aira lumayan jauh.
Alma menyuruh Aira untuk shalat magrib dulu di sana sebelum pulang, akhirnya Aira menurutinya.
Alma, Aira, dan mega shalat di butik sementara Aklil pergi ke masjid terdekat.
Seusai shalat magrib Aira memutuskan untuk pamit pulang.
Alma dan mega mengantarkan Aira ke depan butik.
"Bunda, bu mega Aira pamit ya" Aira menyalami tangan Alma dan mega.
"iya sayang, bunda sebenernya khawatir ngebiarin kamu pulang sendiri"
"Tidak apa-apa bunda, Aira sudah biasa jalan sendiri dan selalu baik-baik aja."
"Ya udah, hati-hati ya sayang jangan lupa juga jaga kesehatan tinggal beberapa hari lagi"
Aira mengagguk mengerti.
"Asalamu'alaikum bunda, bu mega?"
"Wa'alaikumsalam hati-hati nak."
Baru beberapa langkah Aira melangkahkan kakinya. Dia berpapasan dengan Aklil yang baru pulang dari masjid. Aira tidak bisa berkonsentrasi melihat Aklil Dengan wajah yang bersih khas orang sesudah wudhu yang tentu saja menambah kadar ketampanannya, Aira langsung menundukan kepalanya.
"Mas, aku pamit pulang dulu" pamit Aira.
"Sendiri?" tanya Aklil.
"iya mas, Asalamu'alaikum?
"Wa'alaikumsalam,"
Aklil menimbang-nimbang, sesuatu yang ada dalam pikirannya. Antara mengatakannya atau tidak.
Sebentar ia diam, bergelut dengan pemikirannya.
Dan berakhir...
Memilih, menyuarakan pemikirannya.
"Eh bentar aku anterin ya?"
Tidak ada jawaban dari Aira.
"Maksudnya, aku ngikutin kamu dari belakang pake mobil aku. Gimana? Mau ya? Aku gak mau kamu kenapa-napa." Kata Aklil yang mengerti, diamnya Aira.
Aira tidak bisa menolak, dia mengangguk mengiyakan tawaran Aklil.
Aklil yang melihat Alma dan mega masih di depan butik menghampiri mereka untuk berpamitan.
"Jangan di apa-apain dulu belum sah loh lil "mega menggida Aklil.
"Astagfirullah bu mega, Aku gak kayak gitu ya" Aklil berkata dengan cepat.
Alma dan mega tertawa. Mega juga tahu Aklil tidak akan seperti itu, mega hanya ingin melihat respon Aklil. Menyenangkan saja menggoda Aklil.
Setelah berpamitan Aklil mengantar Aira, dengan mengikuti mobil Aira dari belakang. Kurang lebih 30 menit mereka menempuh perjalanan.
Satpam yang melihat mobil Aira langsung membukakan pintu gerbangnya, Aira memasukannya sedikit dan memberikan kuncinya kepada satpam tersebut.
Aira menghampiri Aklil yang mobilnya berada tepat di depan gerbang.
Aklil mebukakan kacanya.
"Aira aku pamit ya.. " Aklil menatap.Aira sekilas.
"Mas, gak mampir dulu.." tawar Aira dengan pandangannya yang memandang mobilnya Aklil.
"Nggak usah, nanti aja mampirnya kalau udah halal"
Dan entah kenapa perkataan Aklil membuat wajah Aira blushing.
"Aku pamit ya, selamat istirahat jaga kesehatan juga" ucap Aklil
Aklil menstater mobilnya dia baru saja akan menginjak pedal gasnya, tapi suara Aira menginterupsinya.
"Mas.."
"kenapa?" tanya Aklil
"Hati-hati di jalannya"
Hanya ucapan itu saja yang Aira katakan tapi, membuat Aklil begitu bahagia.
"Iya, Asalamu'alaikum?"
"Wa'alaikumsalam" jawab Aira.
Ketika mobil Aklil sudah menghilang dari pandangannya Aira masuk kerumahnya.
"Asalamu'alaikum?" salam Aira sambil membukakan pintu.
"Wa'alaikumsalam, baru pulang sayang" sambut inaya.
"Iya Umi.."
"Aklilnya kok gak di ajak masuk dulu sayang?"
"Umi tahu??" kaget Aira
Inaya tersenyum dan mengangguk.
"Aira tawarin kok mi, katanya nanti mampirnya kalo udah halal"
Aira menutup mulutnya yang udah kaya rem blong, kalo di depan uminya dia tidak bisa menyembunyikan apapun.pipi Aira sontak memerah.
Inaya tersenyum menggoda.
"Jadi gimana sayang? Udah gak sabar dong pengen di halalin?"
Aira refleks mengangguk, saat Aira tersadar dia membulatkan matanya dan menggelengkan kepalanya.
"Jadi, putri abi ini udah gak sabar ya ingin dinikahin Aklil."
Aira yang masih berdiri dengan inaya saat menolehkan kepalanya ternyata di sofa ada Abinya dan Aizar.
"Ya allah, ternyata di balik wajah polos adik hamba dia ngebet pengen di kawinin, ampuni hamba yang tidak tahu ya allah" Aizar menengadahkan tangan nya.
Aira menyembunyikan kepalanya di pelukan inaya.
Rasanya dia ingin menenggelamkan diri saja di pulau selatan. Eh kok serem ya.
"Sudah sayang, kakak kamu gak usah di dengerin dia iri keduluan sama adiknya" inaya membela Aira.
Aira menjulurkan lidahnya, Aizar mengerucutkan bibirnya.
"Eh sayang, kok badan kamu anget gini, kamu sakit?"
Aira menggeleng.
"Nggak kok umi, Aira sedikit pusing aja"
Padahal dari tadi Aira sudah merasakan badannya sedikit lemas dan terasa dingin kepalanya pusing, tapi Aira yakin setelah istirahat malam ini badannya akan kembali membaik.
"Ya udah, kamu bersihkan badan dulu, makan, shalat terus istirahat ya"
Aira melangkahkan kakinya menuju tangga.
"Cieee.. yang ngebet pengen di kawinin"
"Bodo amat, dari pada kakak gak laku" Aira menjulurkan lidahnya.
"skakmat" ucap Abinya.
Aizar diam seribu kata, Umi dan Abinya sudah tertawa terpingkal-pingkal.
***
~To Be Continued~