Sebelum adzan subuh berkumandang, rutinitas inaya membangunkan suami dan kedua anaknya. Selesai membangunkan Farid, dia menaiki tangga untuk membangunkan Aizar dan Aira.
Setelah Aizar bangun, inaya masuk ke kamar Aira. Seperti biasanya cara inaya membangunkan Aira mengusap kepalanya dengan sayang dan menepuk-nepuk pipinya pelan. Tapi kali ini inaya merasa heran melihat wajah Aira yang merah, inaya memegang pelipis Aira dan benar saja suhu badannya sangat panas. Inaya sangat panik. Dia berteriak memanggil Aizar.
"Aizaaaaar" panggil inaya dengan suara kencang.
Aizar yang mendengar uminya berteriak kaget, tidak lama dia samapai di kamar Aira.
"Ada apa umi?"
"Tolong kamu panggilin abi, dan kamu bilangin sama pak maman siapin mobil selesai shalat subuh kita ke rumah sakit, badan Aira panas banget dia juga gak bangun hanya bergumam kecil" perintah inaya dengan panik.
Aizar yang sama paniknya langsung pergi.
"Sayang, bangun nak Aira denger umi kan?" inaya menepuk-nepuk pelan pipi Aira. Dia sangat panik karena jika sudah demam seperti ini Aira tidak akan sadarkan diri.
Tidak lama Abinya Aira muncul.
"Mi Aira kenapa?"
"Badan Aira panas banget bi" jawab inaya panik.
Farid mengambil termometer dan meletakannya di tubuh Aira. Ternyata suhu badannya Aira 38 derajat celcius.
Farid yang merupakan seorang dokter tidak terlalu panik, karena dia tahu anaknya hanya demam.
Setelah shalat subuh mereka memutuskan membawa Aira ke Rumah Sakit miliknya, bukannya Farid tidak bisa atau tidak mau merawat anaknya di rumah. Tapi mengingat peralatan di rumah sakit lebih lengkap dan waktu menuju hari H pernikahan Aira yang sudah sangat dekat, dengan perawatan insentif di Rumah Sakit insyallah Aira akan lebih cepat sembuh.
***
Aklil sedang berkutat dengan setumpuk berkas-berkasnya.
Pintu ruangan Aklil terbuka, Aklil tidak melihatnya dia sudah tahu siapa yang datang tanpa permisi kayak jelangkung. masih mending jelangkung ada yang nyebut-nyebut dulu, Lah ini boro-boro. Ya dia Ryan siapa lagi, orang lain gak bakal berani nyelonong kayak ayam ke ruangan Aklil.
Ryan duduk di kursi depan meja Aklil.
Aklil sama sekali tak mengindahkannya.
"serius amat pak bos" ucap Ryan
Aklil tidak menjawab.
"Hidup di bawa santai aja lah gak usah seriu-serius amat, nanti cepet tua"
Aklil tetap tidak menjawab.
"Lagian udah mau kawin 3 hari lagi masih aja kerja ya lo.."
Belum ada tanda-tanda Aklil akan menjawab pertanya'an Ryan, jangankan menjawab melirikpun tidak mungkin kacang di negri ini sangat mahal, kasihan sekali Ryan.
"Kayak ngomong ama tembok ya gue, mentang-mentang bentar lagi kawin yang jomblo di cuekkin, nasib-nasib.." entah yang keberapa kalinya Ryan berkata lagi.
"Yan, lo gak tahu ini masih jam kerja?" Aklil melirik Ryan sekilas kemudian fokus lagi dengan kerjaannya."
"Akhirnya bersuara juga hahaha. Bosku Kerjaan saya sudah selesai.. " Aklil kembali tidak menjawab.
"Eh.. Lo gila kerja banget sih belum bosen apa selama ini jadi penimbun uang.. "
"gak" jawab Aklil singkat.
"Ee.. Gila jawabnya irit banget kayak ngirit duit di tanggal tua.
Lo gak ambil cuti lil H-3 loh?"
"Nanti cutinya sekalian kalo udah nikah" jawab Aklil masih tetap fokus dengan pekerjaannya.
"Berapa lama? Seminggu?"
"gak akan lama-lama. Ya, palingan 3 bulan" Aklil menjawab enteng dengan senyum liciknya.
Ryan membulatkan matanya.
"Eee.. Buset ya, lo mau bikin gue kerja rodi" Nada suara Ryan naik satu oktaf.
Belum sempat Aklil menjawab Ryan lagi. Pintu ruangan Aklil terbuka berbarengan dengan munculnya Alma.
Alma menghampiri Aklil dengan tergesa-gesa.
"Bunda kenapa, kayaknya panik banget?" tanya Aklil
"kita ke Rumah sakit sekarang.."
"Ngapain? Nganterin oma chek up?" tanya Aklil dengan suara tenang.Aklil bertanya seperti itu, karena jika dia harus ke Rumah Sakit pasti berurusan dengan oma nya.
"Bukan, jengukin Aira"
"Apa? Aira kenapa bunda? Sekarang gimana keadaannya?" Aklil langsung berdiri dari duduknya.
"Giliran Aira aja signalnya langsung 4G" celetuk Ryan.
Aklil tidak mau repot-repot menjawab perkataan Ryan.
"Kamu ini. satu-satu dong nanyanya, bunda pusing jawabnya.."
"Ya udah, sekarang gimana keadaanya?"
"Ya, bunda juga gak tahu makannya kita jenguk sekarang. Bunda tadi ke rumah Aira mau ngajak inaya ke hotel untuk nanti resepsi. Pas sampai disana pembantunya bilang Aira di bawa ke Rumah Sakit pagi-pagi" jelas Alma panjang lebar.
"Ya udah, kita pergi sekarang bunda"
"Lil, habis makan siang ada meeting woy.. " Ryan setengah berteriak, karena Aklil sudah berjalan keluar dari ruangannya.
"lo handle semuanya yan" aklil mengacungkan ibu jarinya tanpa menoleh ke arah Ryan yang sudah menggerutu.
***
Sesampainya di Rumah Sakit milik keluarga sidiq, Alma dan Aklil menghampiri resepsionis untuk menanyakan Aira.
Setelah mendapat informasi dari resepsionis bahwa Aira di rawat di kamar VVIP kelas 1 nomor 001. Tanpa banyak bertanya lagi mereka langsung menuju kamar rawat tersebut.
"Assalamu'alaikum?" Alma mengucapkan salam sambil membuka pintu, di ikuti oleh Aklil di belakang nya.
"Wa'alaikumsalam" jawab inaya.
Alma dan Aklil menghampiri inaya.
Aklil menyalami tangan inaya.
"Aira kenapa nay?kenapa bisa masuk rumah sakit?"
"Aira demam mbak suhu badannya sangat tinggi.. "
"Maaf ya nay, kayaknya karena kemarin terlalu kelelahan sama pulangnya malem.." tanya Alma lagi.
"Ah bukan mbak, dia dehidrasi dan kelelahan so'alnya seminggu ini dia selalu pulang larut malam dari rumah sakit, karena jadwal operasi pengidap penyakit jantung dia yang handle semua minggu ini.
Yaa.. Jadinya seperti ini mbak" inaya menjelaskan.
Alma mengangguk mengerti dia mendekati Aira yang sedang terlelap.
Aklil posisinya berada di ujung ranjang Aira. Aklil melihat wajah cantik Aira yang sedikit pucat, sungguh dia tidak tega melihat Aira terbaring lemah seperti ini.
Aklil tersadar dari lamunannya ketika tangan Alma menyenggol sikunya.
"Penuh kasih sayang banget natapnya. itu di tanya sama uminya Aira, kamu malah ngelamun aja.. " Alma tersenyum menggoda.
"Eh, iya kenapa umi?" Aklil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Alma dan inaya saling tatap dan tersenyum menggoda Aklil.
"Emangnya Aklil gak sibuk di kantornya sampe repot-repot nyempetin ke sini?" tanya inaya.
"Nggak Umi.. " jawab Aklil sambil tersenyum
"Sebenernya lagi sibuk nay, cuma kalau buat Aira apa sih yang nggak.. Iya gak sayang?" goda Alma lagi.
Aklil tersenyum salah tingkah, Alma dan Inaya tertawa kecil.
"Oh iya, ini Airanya mau di bangunin? Dia baru aja minum obat makannya langsung tidur karena efek obat." tanya inaya.
"Eh gak usah nay , biarkan dia istirahat biar cepet sembuh"
Ketika mereka sedang berbincang-bincang tiba-tiba handphone Aklil berbunyi,
Aklil permisi keluar dari kamar rawat Aira untuk mengangkat teleponnya.
Saat Aklil kembali ke kamar Aira dia membawa satu buket mawar pink dan satu kotak warna pink ukuran sedang yang isinya donat madu yang bentuknya kepala hello kitty dan warnanya pink.
Alma dan inaya menatap Aklil heran, Aklil menyimpan barang bawaannya di atas meja.
"Bunda, Umi.. Aklil harus ke kantor lagi barusan Ryan telpon klien dari jepang memajukan jadwal pertemuannya dan Aklil harus mempersiapkan semuanya."
"Oh ya udah, nanti biar pulangnya bunda di jemput sama pak rudi" kata Alma.
"Makasih ya Aklil udah repot-repot kesini, padahal kamu lagi sibuk banget" inaya menimpali.
"Nggak ngerepotin umi, justru Aklil gak bakalan tenang kalau gak kesini"
"Ehmmm.. Akhirnya ngaku juga" Alma kembali menggoda Aklil.
"Bunda apaan sih" Aklil melirik sekilas ke Arah Alma, dia tidak mau mempermalukan dirinya dengan godaan panjang lebar dari sang bunda.
"Oh iya umi, Aklil titip itu yang ada di meja buat Aira"
Inaya melihat kerah yang di tunjuk Aklil sambil tersenyum.
"Iya nanti umi sampaikan. Gak sekalian titip pesan buat Aira?" inaya ikut-ikutan menggoda Aklil.
Tanpa di duga dan di sangka oleh Aklil calon mertuanya pun ikut-ikutan menggodanya. Seumur hidup Aklil gak pernah semalu ini.
"Nggak umi. Ya udah Aklil pamit ya assalamu'alaikum?" Aklil menyalami tangan Alma dan inaya.
"Wa'alaikumussalam" Alma dan inaya menjawab serempak.
***
Setelah Aklil berpamitan, dan tidak lama di susul oleh Alma yang berpamitan karena harus ke butiknya yang sedang ramai oleh pengunjung.
Aira masih memejamkan matanya. Satu jam kemudian mata indah Aira terbuka perlahan.
"Umi.." panggil Aira lemah..
Inaya menutup majalah yang di bacanya, dia bangkit dari sofa dan menghampiri Aira.
"Kenapa sayang? Kamu haus?"
Aira mengangguk, inaya mengambilKan Air minum dan membantu Aira minum.
"Umi Aira mau duduk.. " ucap Aira lagi.
"Iya sayang.. " inaya mengubah posisi ranjang Aira.
Pintu kamar Aira terbuka berbarengan dengan munculnya Farid menggunakan sneli putihnya dan stetoskop yang menggantung di lehernya.
"Bungsunya Abi udah bangun " Farid berkata sambil menyentuh pelipis Aira dan badannya.
"Abi sejak kapan ngerawat pasien lagi?" tanya Aira
"Sejak Anak abi sakit gak bilang-bilang.." sindir Farid.
"Abi.. Aira gak sakit "
"Iya nggak, cuma demam"
Farid dan inaya terkekeh melihat Aira yang mengerucutkan bibirnya.
Pintu kamar rawat kembali terbuka dengan munculnya Aizar.. Yang membawa satu kantong kresek dengan merk penjual bubur Ayam terkenal di jakarta.
"Assalamu'alaikum mi, bi " Aizar menyalami tangan kedua orang tuanya.
Lalu menghampiri Aira, sembari meletakkan kantong kresek yang ia bawa di meja.
"Dan ini buat Adikku yang paling cantik yang lagi terkena syndrom pra nikah. Dimakan ya.. "
Aizar meletakan bubur ayamnya di nakas dekat ranjang Aira.
Aira mengurungkan niat untuk menjawab pertanya'an kakaknya. Ketika matanya melihat satu buket mawar pink dan kotak warna pink, yang sangat indah menurut Aira yang menyukai apapun yang berwarna pink.
"Umi itu punya siapa?" Aira menunjuk ke arah meja.
"Oh iya, tadi ada yang nitipin ini buat Aira.." inaya memberikan bunga dan kotak nya.
Aira mengerutkan keningnya.
"Dari siapa?" selama Aira di jakarta dia belum punya teman dekat lagi atau ketemu sama teman lamanya.
"Udah, buka aja biar gak penasaran itu ada kertasnya.."
Aira mengambil kertas berwarna magenta yang terselip di buket bunga.
Assalamu'alaikum??
Kalau aku nggak salah ada sebuah hadis yang mengatakan bahwa jika seseorang sakit allah menyayanginya dan jika orang yang sakit tersebut sabar allah menghapus dosanya dan menggantikannya dengan pahala.
Allah yang punya penyakit, dan hanya allah yang bisa mengambil kembali penyakitnya.
Semoga cepet sembuh ya..
Aku tunggu kamu duduk di samping aku setelah mengucapkan ijab qabul di depan penghulu ya.. :-) :-*
Aklil
Setelah selesai membaca suratnya tanpa sadar Aira menyunggingkan senyumnya.
"Mi, Bi.. Kayaknya Aira langsung sembuh sakitnya habis baca surat dari Aklil" celetuk Aizar
"Eh, kok kakak tahu.. " kaget Aira, dengan mata melotot.
"Udah ketebak.. Orang senyum-senyum sendiri gitu.."
"Nggak kok.. " elak Aira.
"Udah-udah kalian ini ya.. " Farid menengahi
"Umi, emangnya mas Aklil tadi kesini? Dia tahu dari siapa Aira disini?"
"iya tadi kesini sama bundanya. Tadi pagi bundanya Aklil ke rumah. bibi yang bilang kamu di bawa ke Rumah Sakit. "
"Eh, tapi bunda pas mereka kesini Aira tetep pake hijab kan.."
"Pake sayang.. Kamu tetep cantik pokoknya"
"Umi berlebihan.. "
"Emang cantik kok.
Ya udah, kamu makan dulu sayang" Inaya mngambilkan makanan yang di bawa oleh Aizar.
Inaya menyuapkan makanan untuk Aira. Tapi Aira heran bubur ayam terkenal ini kan lumayan jauh, gak biasanya Aizar mau pergi jauh-jauh untuk membeli satu bubur ayam saja.
"kakak.. Ini beneran kakak yang beliin, kok gak mungkin ya.. " tanya Aira.
Aizar menggedikan bahunya.
"Eh sayang ini ada post-it nya di di bawah kotak makanannya." inaya memberikannya.
Aira mengambil dan membacanya.
Makan yang banyak ya.. Biar cepet sembuh, jangan lupa istirahat yang cukup, biar nanti pas hari H kuat. :-)
Aklil
Aira tersenyum lebih lebar.
"Aklil manis banget ya sayang.. "
"Eh umi.. " Aira menyembunyikan post-it nya.
"Gak usah malu-malu sayang .. " kalli ini Farid yang menjawab.
"Iya, biasanya juga malu-maluin.." ucap Aizar.
Inaya menatap tajam kakaknya.
" Aizar.. Jangan mulai"
"Iya, umi nggak.. " Aizar menjawab dengan lemah.
"Habis makan kamu minum lagi obat terus istirahat. Kalau kondisinya semakin baik kita bisa pulang besok.." ucap Farid sembari mengelus rambut Aira.
"Siap pak dokter.. " sahut Aira dengan tangan menghormat kepada Abi nya.
***
~To Be Continued~