bc

Gadis Malang

book_age12+
139
IKUTI
1K
BACA
family
badboy
goodgirl
student
sweet
humorous
school
friends with benefits
stepmother
friends
like
intro-logo
Uraian

Aerilyn ingin menjerit, mengeluarkan semua emosi yang ada dalam dirinya. Berharap hal itu bisa menyembuhkan goresan-goresan luka di hatinya. Luka yang diciptakan oleh orang tuanya sendiri. Kenapa ia harus dilahirkan untuk hidup yang rumit.

Aerilyn merasa semesta tidak adil kepadanya, selalu saja mengajaknya bercanda. Ia seperti hidup dalam sebuah game yang mengerikan. Sebab, hanya merasakan selalu dipermainkan dalam hal keluaga, percintaan, bahkan pertemanan. Tidak pernah berjalan mulus seperti kulit bayi. Entah takdir apa yang Tuhan berikan kepadanya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1
"Mas, sudahlah! Aerilyn itu anak kita juga, aku capek dari dulu selalu ribut tentang masalah ini. Kita sudahi saja pertengkaran ini!" Rani membentak tidak suka. "Kamu pikir, aku enggak capek?! Aku capek banget ... bisa-bisa kena darah tinggi jika hal ini lebih lama lagi. Ini sudah bertahun-tahun, penyebabnya juga adalah tentang perjodohan kita ini. Sehingga kita punya anak yang tidak diinginkan!" ucap Tio dengan suara yang melengking. Seorang gadis dengan seragam putih abu berdiri tidak jauh dari sana, ia menatap kedua orang yang ada di depan sana dengan perasaan yang tidak karuan. Ini sudah tidak heran lagi untuk dirinya, sejak ia masih kecil pun sering merasakan tekanan batin akibat tidak harmonisnya keluarga ini. Aerilyn Bellvania, ia adalah anak dari pasangan suami istri yang sekarang sedang bertengkar hebat itu. Sebenarnya hal ini sudah biasa ia saksikan, tetapi perasaan terluka sebagai seorang anak itu selalu hadir. Aerilyn sangat benci, ia merasa tidak pernah berguna menjadi seorang anak. Hanya menjadi beban saja, ia selalu merasa jika pertengkaran orang tuanya pasti selalu membawa namanya. Bisa ia simpulkan mereka tidak pernah menginginkan kehadirannya sekecil apa pun itu. Ia memang tidak pernah meminta untuk dilahirkan. Namun, ia juga bukan anak haram, tetapi kenapa mereka sangat merasa menyesal sudah menghadirkan dirinya ke dunia ini? Bahkan yang ia ketahui, sejak dari lahir ia diserahkan kepada asisten rumah tangga mereka, yaitu Mbak Julaeha. Gadis itu malah menganggap Mbak Julaeha seperti ibu kandungnya sendiri. Meski hanya seorang asisten rumah tangga, wanita itu sangat sayang padanya. Sebenarnya Aerilyn tidak ingin segala harta yang dimiliki orang tuanya, ia tidak membutuhkan kasih sayang dari orang lain. Ia hanya ingin kasih sayang dari orang tuanya sendiri. Sedikit perhatian dan kasih sayang tidak pernah sekalipun ia dapatkan dari mereka. Gadis itu hanya selalu mendapatkan bentakan, hukuman, juga cacian, dan hal menyakitkan lainnya hanya karena sedikit kesalahan. Aerilyn hanya seorang anak, korban dari keegoisan orang tuanya. Padahal ia juga berhak mendapatkan hak-nya sebagai anak dari mereka. Namun, Tio dan Rani seperti merasa ia adalah orang asing. "Mas, asal kamu tahu. Perjodohan yang dilakukan oleh Ibu aku ini adalah suatu hal yang paling aku benci! Seandainya Ibu tidak melakukan semua ini dan menginginkan seorang cucu, mungkin semua penderitaan ini tidak akan terjadi. Aku merasa menjadi wanita yang paling kotor karena memiliki anak dari kamu!" ujar Rani sangat menusuk hati Aerilyn. "Kamu pikir, aku gak nyesel nikah sama kamu?! Aku melakukan hal ini karena menghargai Ibu kamu, aku sangat berhutang budi kepadanya. Hanya itu alasanku menikahimu Rani! Andai saja hutang budi bisa dibayar dengan uang. Mungkin aku akan membayarnya dengan sepuluh kali lipat!" Tio mendorong sebelah bahu Rani. Rani tidak tinggal diam, wanita itu membalas dengan menampar sang suami. Bahkan sampai mendorongnya hingga tersungkur di lantai. Sedari tadi, tenggorokan Aerilyn tercekat membuat ia tidak bisa bersuara. Jika ia mengeluarkan sedikit suara saja, air matanya akan luruh. Untuk itu, ia tidak ingin melihat pertengkaran orang tuanya lagi, ia segera menaiki anak tangga menuju lantai atas untuk ke kamarnya. Setelah sampai di kamar, ia melemparkan tas sekolahnya dengan sembarangan. Lalu memasang earphone di telinganya yang tersambung dengan ponsel. Setelah itu, ia merebahkan diri di kasur dan memejamkan mata. Menikmati lagu yang sedang diputar, mendengarkan lagu yang sedang mewakili perasaanya untuk sekarang ini. Memang terkadang ia menyukai musik itu karena setiap lirik lagunya mewakili setiap perasaanya. Meski memakai earphone, telinganya masih bisa mendengar kala ada yang membuka pintu kamarnya dengan paksa. "Ilyn, dengarkan! Mama sama Papa bakalan pisah. Toh, kamu sudah besar dan tidak membutuhkan lagi sosok orang tua," ujar Rani sinis. Dia tahu anaknya pasti mendengarkan ucapannya. Lalu, dia menutup pintu dan meninggalkan kamar itu. Setetes air mata Aerilyn akhirnya luruh juga. Gadis itu melepas earphone dari telinganya, lalu mengubah posisi menjadi duduk dan bersandar. "Bodo amat, mau punya orang tua atau enggak. Masih bakalan terasa sama aja, kayak gak punya orang tua. Mereka pikir, aku juga gak capek apa terus menyaksikan pertengkaran mereka yang bikin hati panas? Mending udahin aja semuanya, biar sama-sama enak, mungkin ini lebih baik," ucap Aerilyn, tersenyum pahit. Meow Dari sampingnya ada seekor kucing berwarna abu-abu dengan bulu yang lebat. Kucing itu terus bergelung manja pada tangan Aerilyn. Ia tersenyum melihat tingkah menggemaskan dari kucing kesayangannya, lalu ia menggendong sembari mengelusnya dengan penuh kasih sayang. Kucing yang ia beri nama 'Miu' itu baginya bukan sekadar hewan peliharaan, tetapi sekaligus teman curhatnya. "Miu, mereka itu aneh, ya? Aku kayak anak yang gak dianggap banget sama mereka. Tapi, sekarang aku mungkin bisa bersyukur mereka akan bercerai karena aku gak akan lagi menyaksikan mereka bertengkar," ujar Aerilyn mengelus lembut Miu. Meow, Meow. Aerilyn sangat gemas, meski responnya hanya seperti itu, ia tahu bahwa kucingnya pasti mengerti akan perasaannya. Memang Miu adalah kucing peliharaan sekaligus teman terbaik yang ia miliki. "Aku gak tahu lagi, kalau Miu enggak pernah ketemu sama aku," ucap Aerilyn tersenyum pada Miu yang ikut menatapnya. *** Aerilyn tersenyum hangat, hatinya juga ikut menghangat karena perlakuan orang tuanya yang sangat langka ini. Pertama kalinya mereka makan malam dengan satu meja seperti ini. Sebenarnya ia bingung, apa yang membuat mereka menjadi bersikap manis dengan mengajaknya makan malam bersama. "Sayang, kamu sudah selesai makan?" tanya Rani dengan penuh kelembutan. Hal itu berhasil membelai hati Aerilyn. "Udah, Ma. Aku udah kenyang juga," ujar Aerilyn tersenyum membuat matanya menyipit. Hal ini di luar dugaannya, mama dan papanya seolah-olah sekarang sedang ingin berbaik hati kepada dirinya. Apa mungkin mereka sudah tersadar dan ingin memperbaiki semuanya dari awal? Untuk membangun keluarga yang bahagia dan harmonis. Jika benar begitu, ia sangat bersyukur dan tidak menginginkan apa pun lagi. "Ilyn, Mama sama Papa akan tetap bercerai. Setelah bercerai, kami akan menikah dengan orang yang dicintai. Memang sebenarnya sejak dari perjodohan itu dilakukan, kami tidak pernah mencintai dan tetap menjalin hubungan dengan orang lain sampai waktu sekarang yang tepat untuk berpisah. Aerilyn, kamu memang anak kami, tetapi kamu sangat tidak diharapkan. Satu-satunya yang mengharapkan kamu hanyalah Nenekmu, Ibu dari Mama," ungkap Rani membuat senyum di bibir Aerilyn memudar, tergantikan oleh gurat kekecewaan. Aerilyn menundukan kepalanya, memang sejatinya mereka pasti tidak akan pernah bisa bersatu dan membangun keluarga yang harmonis seperti impian masa kecilnya. Kehidupannya sudah tergariskan menjadi anak broken home yang menyakitkan. Batinnya sungguh tersiksa, tetapi ia masih bersyukur karena sudah diberikan kekuatan yang luar biasa sehingga masih bisa bertahan hidup hingga di titik ini. "Jadi, jika kami sudah tidak menjadi suami istri lagi. Kamu harus bisa menghidupi dirimu sendiri, makan dan biaya sekolah bayar sendiri. Mulai belajar mandiri, jangan lebay karena kamu sudah besar! Kamu jangan ikut sama Papa, ikut saja sama Mama kamu!" ketus Tio, membuat goresan-goresan luka di hati Aerilyn semakin bertambah. "Apaan, sih, Mas?! Suami aku nanti gak akan menerima Ilyn, mending sama kamu saja. Aku juga tidak mau jika kehidupan keluarga baru aku nanti terganggu oleh dia!" Rani membentak tidak suka. Pertengkaran yang sudah reda kini kembali membara di meja makan. Aerilyn tidak tahu harus bersikap bagaimana lagi. Hatinya sangat sakit sekali selalu tidak pernah dianggap seperti ini oleh mereka. Memang dari luar dia selalu terlihat ceria dan baik-baik saja, tetapi secara batin dan psikologis ia sangat jauh dari kata baik. "Ma, Pa, gimana kalau aku tinggal sama Nenek?" tanya Aerilyn dengan suara bergetar. "Gak boleh!" bentak Tio dan Rani membuat Aerilyn berlonjak kaget. "Kamu tahu, kalau kamu hadir ke dunia ini dan masih dirawat sampai saat ini itu karena Nenek! Kita gak mau sampai Nenek tahu tentang kamu yang tidak dianggap. Nanti Nenek sakit, memang kamu mau bertanggung jawab, hah?!" ucap Rani membentak dengan emosinya. Aerilyn mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku tangannya memutih. Ia harus selalu diingatkan seperti itu agar tidak lupa, jika dirinya hanyalah benalu bagi kedua orang tuanya. Alasan dia masih berada di sini karena Neneknya, entah ia harus berterima kasih kepada sang Nenek atau tidak karena keadaanya sekarang. Ia selalu saja berpikir, jika dirinya adalah orang yang paling tidak beruntung di dunia ini. Sebab, dilahirkan di keluarga yang super tidak harmonis. Kehidupannya memang enak karena segala berkecukupan selama ini, tetapi batinnya terasa terkurung oleh rasa sakit. "Ma, Pa, cukup! Apa, salahnya Aerilyn? Ilyn gak pernah minta dilahirkan dari rahim Mama, gak pernah minta harus lahir di keluarga ini. Kalian gak pernah peduli, kalian gak pernah memberikan perhatian dan kasih sayang sejak dari aku lahir, tapi aku selalu diam dan enggan berkomentar! Tapi tolong ... sekali aja ngertiin perasaan Ilyn, bisa enggak kalian gak siksa batin anak kalian yang malang ini, heum?" ujar Aerilyn dengan air mata yang mengalir deras, disertai segukan. Akhirnya, semuanya terluapkan begitu saja. Untuk pertama kalinya gadis itu berkomentar di hadapan kedua orang tuanya. Dadanya terasa sesak, seperti ada batu yang menghimpit hatinya sekarang. Plak! Ia pikir, semua beban yang ia curahkan kepada mereka, akan membuat mereka sedikit iba kepadanya. Namun, ia malah mendapatkan satu tamparan dari Rani yang disusul oleh tamparan berikutnya dari Tio. Akan tetapi rasa sakitnya itu tidak akan pernah sebanding dengan rasa sakit di hatinya. "Jangan banyak tingkah kamu! Sudah syukur selama ini numpang hidup. Anggap saja Mbak Julaeha itu Ibu kamu, dia yang ngerawat kamu sejak dari lahir!" bentak Rani. Aerilyn sudah tidak tahan, ia segera meninggalkan mereka. Ia ingin menangis sepuasnya di kamarnya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.0K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

TERNODA

read
199.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.4K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
67.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook