Aerilyn sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah. Matanya terlihat sedikit bengkak dan di bawahnya terdapat kantung hitam, mungkin karena semalaman ia terus menangis hingga jam tiga subuh.
Seperti biasa, Aerilyn menghampiri Julaeha di dapur. Melihat wanita setengah baya itu tengah mempersiapkan bekal untuk ia bawa ke sekolah seperti biasanya. Memang, sebenarnya ia hanya merasakan kasih sayang seorang Ibu dari Julaeha yang notabenya adalah asisten rumah tangga di sini.
"Wah, Ibu siapin bekal aku menu apa, nih?" tanya Aerilyn sembari memeluk wanita itu dari belakang. Hanya memeluknya agar bisa merasakan kehangatan seorang Ibu.
Julaeha terkekeh dengan perlakuan manja dari anak majikannya ini. Sebenarnya memang ia juga sudah menganggap Aerilyn sebagai anaknya sendiri. Bahkan, ia menyalurkan semua perhatian dan kasih sayangnya untuk gadis itu.
"Ini, Ibu siapin tiga sandwich buat kamu," ucap Julaeha dengan senyuman sehangat mentari.
Julaeha melepas pelukan Aerilyn, lalu menatap gadis itu dengan hangat. Lalu mengelus lembut rambutnya dengan penuh kasih sayang.
"Nak, kalau kamu keluar dari rumah ini. Ibu akan berhenti bekerja di sini lagi dan mau ikut kamu," kata Julaeha membuat Aerilyn menggeleng cepat.
"Aku gak papa, Bu. Aku gak akan kenapa-napa, Ibu jangan keluar dari rumah ini. Sebab yang aku tahu rumah ini akan ditempatin sama Mama, jadi Ibu sekalian jagain Mama di sini, ya? Nanti sesekali aku ke sini buat ketemu sama Ibu, kok," ujar Aerilyn tersenyum untuk penutup guratan sedih yang hanya ingin ia simpan sendiri.
Julaeha sebenarnya tidak ingin jauh dari Aerilyn, ia juga tidak ingin terjadi sesuatu dengannya. Namun, semua keputusan ada pada gadis itu, ia tidak bisa berbuat apa-apa.
***
Setelah sampai di kelasnya, Aerilyn menuju kelas seniornya di kelas 12 IPS 1 di sana ada Regan, kakak kelasnya sekaligus orang yang ia anggap kakak kandungnya sendiri . Regan Abrizan, cowok yang selalu menjadi sayap pelindungnya.
Aerilyn melihat kelas itu, ternyata Regan ada di sana bersama dua sahabatnya yaitu Adelardo Adiraja dan Fano Anggara. Setelah itu ia mengetuk pintu kelasnya, lalu masuk menghampiri mereka.
Siswa siswi yang di dalam sana juga sudah tidak heran lagi dengan adik kelas mereka itu. Pasti sebelum bel berbunyi akan menghampiri Regan dan dua temannya.
"Hallo, Kak Regan, Kak Fano. Ehm, sama Kak Ardo." Aerilyn memelankan suaranya saat menyebut nama Ardo.
"Yaelah, bawa apa lagi lo hari ini?!" sinis Ardo membuat Aerilyn cemberut.
"Dasar, Kak Adelardo Adiraja itu ternyata sifat galaknya gak bisa ilang, ya? Ih, Kak Regan, lihat tuh ... sahabatnya gitu banget!" ucap Aerilyn mencebik.
Regan terkekeh, ia mencubit gemas pipi Aerilyn. Adik kelas yang sudah ia anggap adik kandungnya sendiri, memang sebenarnya gadis itu sangat dekat dengannya, sebab sudah dari SMP mereka saling mengenal.
Aerilyn menyengir kuda, ia menyerahkan kotak bekal yang ia bawa pada Regan.
"Kak Regan, Ibu Julaeha bikinin ini. Makannya boleh berdua sama Kak Fano, kalau Kak Ardo mah gak usah dikasih, kebiasaan suka dibuang ke tong sampah, sih." Aerilyn memeletkan lidahnya pada Ardo.
Ardo merebut kotak bekal itu, lalu ia membuka penutupnya. Kemudian ia mengambil satu potong sandwich itu dan langsung melahapnya dengan sarkas. Mereka yang melihatnya merasa kebingungan. Biasanya cowok itu akan membuang makanan yang Aerilyn bawakan untuknya.
"Widih, aneh banget lo? Biasa Aerilyn bagi makanan buat kita, cuman lo aja yang bakalan nolak bahkan sampe ngebuang ke tong sampah," ujar Fano kebingungan.
"Bacot, banget lo pada! Gue lagi laper," ujar Ardo dengan wajah sangarnya.
"Eh, Ilyn mata lo kenapa? Lo abis nangis, ya? Putus cinta? Yah, kadar keimutan dan kecantikan lo jadi agak berkurang satu persen, mending kalau mau jatuh cinta itu sama gue aja. Pasti kebahagiaan lo bakalan gue jamin, lo juga gak akan sakit hati," cerocos Fano membuat Regan menampol pipinya.
"Dih, omongan buaya!" cibir Aerilyn.
"Lo pacaran?" tanya Regan heran, pasalnya gadis itu pasti akan selalu bercerita tentang apa saja kepadanya, tetapi ini dia tidak tahu.
Aerilyn tertawa hambar, ia membantah perkataan Fano tadi. Ya, jika dilihat dari kenyataanya juga memang dia begitu bukan karena putus cinta. Akan tetapi, ia malah berdalih jika ia semalam menangis karena Miu sempat hilang semalam.
"Lo segitu sayangnya sama si Miu, sampe mata bengkak gitu. Padahal kalau kucing kabur pasti bakalan balik lagi," ujar Regan sembari mengelus rambut Aerilyn, meski sebenarnya ia masih ragu akan hal itu.
Aerilyn mengangguk dengan lugu, ia meminta Regan mengantarnya ke kantin untuk mencari minum. Padahal sebenarnya ia ingin menceritakan hal yang sebenarnya. Cowok itu juga paham maksudnya dan langsung menyetujui permintaanya.
***
"Sebenarnya lo kenapa?" tanya Regan, ia melihat sekitar kantin yang lumayan sepi.
Aerilyn mulai menjelaskan, jika sebenarnya mama dan papanya akan segera bercerai. Namun, ia sangat sakit hati karena mereka sangat tidak menginginkannya, sampai-sampai ia tidak diberi pilihan untuk tinggal bersama siapa ataupun bergantian tinggal di rumah papa dan mamanya nanti. Bahkan, mereka menganggapnya yang sudah dewasa itu harus membiayai kehidupannya sendiri dan mandiri. Akan tetapi, dia tidak bercerita jika hari ini ia harus pergi dari rumahnya karena diusir.
"Terkadang aku mikir, sebenarnya aku ini anak pungut. Mereka hanya berpura-pura kepada Nenek, kalau aku anak kandung mereka," ujar Aerilyn meneteskan air matanya.
"Udah, jangan mikir aneh-aneh." Regan menghapus air mata Aerilyn, memang sebenarnya sifat kuat dan cerianya itu hanya ditunjukan untuk orang lain. Jika ia bersama dengan dirinya, pasti pertahanan gadis itu runtuh.
"Ilyn, nanti kalau lo mau pergi dari rumah. Lo tinggal sama gue dan Bunda aja. Lagian, Bunda juga udah bilang kalau dia udah anggep lo sebagai anaknya sendiri, bahkan gue sendiri anggep lo kayak Adek kandung gue," kata Regan sembari menangkup wajah gadis itu.
Aerilyn menggeleng. "Aku gak mau, kalian udah terlalu baik banget sama aku. Aku gak harus terus-terusan ngerepotin kalian, aku juga harus bisa belajar mandiri."
Regan memeluk Aerilyn, ia tahu gadis itu sangat kuat batin dan raganya. Padahal, mungkin jika dirinya yang ada di posisi itu, dia tidak akan kuat begitu. Sebagai sahabat dari SMP, ia tahu kalau gadis itu sudah sangat menderita akibat keegoisan orang tuanya.
"Tapi, aku tetep bersyukur. Bagaimanapun keadaanya, Tuhan itu sangat baik karena sudah mengirimkan orang-orang baik buat aku. Kayak Kak Regan dan sahabat Kakak, ada Serly sama Erina, terus ada Bunda dan Ibu." Aerilyn megusap jejak air matanya, lalu tersenyum manis.
Regan menepuk pelan kepala Aerilyn beberapa kali, gadis itu memang benar-benar membuatnya takjub karena pemikirannya itu.
"Kak Regan cariin aku kerjaan, ya? Jadi apa aja, pokoknya bisa buat menyambung hidup dan bayar biaya sekolah, jaga-jaga kalau nanti gak akan dikasih uang lagi sama Mama Papa," ucap Aerilyn sembari menyengir.
Regan mengeraskan rahangnya kuat, memang orang tua Aerilyn sangat tidak layak menjadi orang tua. Mereka hanya memanfaatkan anak mereka sebagai alat agar Ibu dari mama Aerilyn itu bisa senang memiliki cucu.
'Dasar, gak pantes banget buat jadi orang tua, kalau gak niat punya anak bilang aja kalau mereka itu belum bisa kasih keturunan. Jangan malah sekarang punya anak tapi Aerilyn malah jadi korban mereka.' Regan membatin marah.
***
"Udah kasih bekalnya?" tanya seorang gadis dengan rambut sebahu itu.
"Ya, kalau dia udah balik berarti udah dong, oon banget lo!" ucap seorang gadis di depan mejanya, mendelik kesal.
"Iya, tapi Kak Ardo yang malah makan semuanya. Tumben banget, 'kan?" ucap Aerilyn membuat kedua teman perempuan terkekeh.
Aerilyn memang memiliki dua sahabat perempuan. Gadis berambut sebahu itu, memiliki nama Erina Aulia dan yang satunya lagi memiliki nama Serly Andini.
"Eh, gue ke toilet dulu, ya? Kebelet banget aduh," ucap Erina yang langsung berlari ke luar kelas.
Serly dan Aerilyn hanya terkekeh dan geleng-geleng kepala melihat tingkah teman mereka itu.
"Eh, tadi pacar gue sehat-sehat aja, 'kan?" Serly menaik turunkan alisnya saat Aerilyn duduk di sampingnya.
"Hadeh, iya baik. Aku juga udah pastiin kok, dia enggak dideketin sama cewek-cewek ... eh, lagian kamu sama Kak Regan lagi marahan?"
Serly mencubit perut Aerilyn, membuat sang empunya meringis. Cewek itu membantah, mereka tidak sedang ada masalah.
"Biasalah orang pacaran, gue lagi ngambek sedikit karena semalam dia nemenin si Ardo lagi, pergi ke klub malam," jelas Serly meringis.
Aerilyn mengangkat satu alisnya, ia benar-benar bingung. Kenapa kakak kelasnya yang sekaligus sahabat Regan itu, sangat suka pergi ke klub. Ini untuk kesekian kalinya Serly ngambek karena pacarnya mengantarkan Ardo ke klub.
"Nanti aku bakalan laporin ke Bunda, deh. Emang dasar nakal banget, kamu harus lihat secara langsung kalau Kak Regan lagi dipukulin Bunda pake sapu, lucu banget." Aerilyn mengakhiri ucapannya dengan tertawa terbahak-bahak saat mengingat hal itu.
Serly juga ikut tertawa, ia juga pernah mendapatkan kiriman video dari sahabatnya itu. Pastinya isi video itu tentang pacarnya yang dipukuli oleh bundanya, sebab cowok itu ketahuan pergi ke klub malam.
"Ilyn, gue janji sama lo. Gue gak akan pernah terhasut sama ucapan orang yang bilang kalau lo sama Regan itu saling suka. Apalagi kalau orang itu bilang di antara sahabat cowok dan cewek gak akan pernah bisa tidak memiliki rasa ... gue tahu kok, lo sama Regan itu beda, kalian itu udah seperti Abang dan Adek. Gue tahu semua seluk beluk kalian, bahkan latar belakang kalian," ucap Serly tiba-tiba dengan tatapan penuh makna pada Aerilyn.
Aerilyn tersenyum, ia kemudian memeluk sahabatnya itu. Di balik hal itu, ia seperti memahami sesuatu, seperti ada orang yang sudah menghasut Serly agar ikut membenci dirinya. Hanya saja ia tidak tahu orangnya.