"Ardo, tolong sekali ini aja lo anterin si Ilyn!" pinta Regan dengan wajah memelas.
"Idih, ogah banget! Dia siapanya gue coba? Lagian gue gak tahu rumahnya di mana!" ketus Ardo sembari memutar bola matanya jengah.
Mereka sedang berada di atas motor masing-masing, sedangkan Aerilyn berada di tengah-tengah motor mereka. Ia sedang menunggu sampai Ardo benar-benar mau mengantarkannya pulang. Bukan tanpa alasan ia meminta untuk diantar pulang, meski ia bisa saja pulang sendiri tapi Regan tidak akan mengizinkannya. Apalagi saat ini taksi jarang ada yang lewat, bahkan taksi online pun susah didapat karena kebanyakan akan dibatalkan oleh mereka.
Regan sangat mati-matian memohon kepada Ardo, cowok itu bahkan sudah memberi tahu di mana rumah Aerilyn. Akan tetapi, seorang Ardo Adiraja yang keras kepala itu masih tetap bersikukuh pada pendiriannya. Ia terlalu gengsi untuk membantu.
"Please lah, gue ada urusan sama Serly. Ini acara pertemuan sama Bunda gue, cukup aja gue digebukin pas nganter lo ke klub, ya! Jadi temen gak ada rasa tolong menolongnya, heran gue." Regan sengaja berucap seperti itu agar Ardo mengabulkan keinginannya.
Aerilyn sekarang memegang tangan Ardo, lalu ia menatap cowok itu dengan puppy eyes. Bahkan gadis itu rela memohon dan mengucapkan setiap katanya seperti anak kecil. Tentu saja membuat Ardo merasa geli sendiri.
"Iya, iya! Gue anterin si Aerilyn yang manja ini buat pulang, puas, lo?! Lagian si Fano malah balik duluan," kata Ardo sembari menepis tangan Aerilyn yang tadi memegang lengannya.
"Hehe, maaci Kak Ardo ...." Aerilyn tersenyum manis sehingga matanya menyipit. Setelahnya ia mengenakan jaket tebal miliknya.
Entah kenapa Ardo yang melihat senyumnya itu malah salah tingkah sendiri. Hati kecilnya seperti merasa ikut senang.
"Oke deh, sekarang gue pamit. Harus segera ke rumah Serly, ntar dia ngamuk kalau gue telat," ujar Regan yang langsung meninggalkan mereka berdua di parkiran.
Ardo memberikan helm kepada gadis itu. Aerilyn malah tersenyum sembari menatapnya membuat sang empunya yang ditatap malah balik menatapnya dengan sinis.
"Ngapain lo, liatin gue terus? Mau gue anterin pulang, gak?! Cepetan naik!" bentak Ardo, seketika membuat Aerilyn langsung buru-buru naik ke motor Ardo.
Tanpa memperhatian Aerilyn yang belum siap karena masih memasang helm. Ardo langsung melajukan motornya, membuat gadis itu hampir saja jatuh ke belakang, untung saja ia dengan sigap memeluk pinggang cowok itu.
Tanpa gadis itu tahu, seorang Ardo pertama kalinya refleks tersenyum karena ia memeluk pinggangnya.
Aerilyn yang tersadar, ia sangat erat memeluk pinggang Ardo, segera melepaskannya karena takut jika sang empunya marah. Akan tetapi, cowok itu malah sengaja menambah kecepatan motornya membuat ia yang takut itu mau tidak mau harus kembali memeluk.
Ardo tanpa sadar terkekeh, apalagi ia bisa merasakan detak jantung Aerilyn yang sudah tidak karuan. Ia tahu mungkin karena ketakutan.
"Heh, betah banget lo meluk gue. Udah sampe, nih!" Ardo menggerakan tubuhnya agar pelukan gadis itu terlepas.
Aerilyn perlahan membuka matanya, lalu ia melepaskan pelukannya. Lalu dengan badan yang gemetar, ia turun dari motor Ardo. Setelahnya ia melepaskan helm dan memberikannya kepada pemiliknya. Kemudian ia mengatur napasnya.
"Ish, Kak Ardo ngapain kebut-kebutan kayak tadi, sih?! Kalau mau mati jangan ngajak-ngajak Ilyn, dong! Pokoknya aku gak mau lagi dibonceng sama Kakak, deh. Haduh, jantung aku hampir copot ...," cerocos Aerilyn membuat cowok itu tertawa dalam hati.
"Bacot banget, lo. Lagian gue gak mau juga kalau harus boncengin lo lagi, sesek napas gue dipeluk gitu sama lo! Mending boncengin Mbak kunti daripada lo, tahu, gak?! Lagian, gue nganterin lo karena terpaksa aja ... bukannya terima kasih, malah marah-marah!" sinis Ardo membuat Aerilyn memutar bola matanya.
Tiba-tiba saja ada seorang wanita setengah baya yang membukakan gerbang rumah Aerilyn, ia adalah Julaeha. Sontak saja cewek itu langsung memeluknya dengan manja.
"Ilyn, dia siapa? Pacar kamu, ya?" tanya Julaeha sembari mengelus lembut rambut panjangnya.
"Ih, amit-amit banget Bu, kalau dia beneran jadi pacar aku. Dia itu Kak Ardo yang badung yang sering aku ceritain ke Ibu, itu loh ... Ibu tahu gak? Dia tadi malah kebut-kebutan, bikin jantung aku rasanya mau copot!" celoteh Aerilyn membuat Julaeha terkekeh.
Ardo bahkan seperti gemas sendiri, tetapi bukan Adelardo Adiraja namanya jika tidak jago menyembunyikan ekspresinya. Ia bahkan sedikit merasa senang saat mengetahui sebuah fakta, jika dirinya sering dibicarakan oleh Aerilyn, meski itu hal buruk tentangnya.
Saat Aerilyn masih bercerita banyak dan Ardo masih enggan untuk pergi dari sana. Tiba-tiba saja terdengar suara klakson mobil, membuat seorang satpam buru-buru membuka gerbang dengan lebar.
Aerilyn tiba-tiba menghalangi jalan mobil itu, lalu ia mengetuk kaca mobilnya. Membuat Rani yang berada di dalam mobil mau tak mau harus membuka jendela mobilnya.
"Ma, Mama mau ke mana?" tanya Aerilyn sekadar basa-basi.
"Ck, gak perlu tahu saya mau ke mana ... eh, Mbak Julaeha jangan lupa bantu kemasin barang-barang Aerilyn," kata Rani dengan tidak ramah.
"I-iya, Nyonya," ucap Julaeha gugup, merasa tak enak kepada Aerilyn.
Dengan cepat Rani menutup kembali jendela mobilnya, setelahnya ia langsung melajukan mobil merahnya itu.
Di sana masih ada Ardo yang merasa heran, tadinya ia mengira jika Julaeha itu ibu Aerilyn, sebab mereka sangat akrab seperti tadi. Akan tetapi, ada seorang wanita lagi yang disebutnya mama. Setelah ia amati lagi dengan interaksi Julaeha dan wanita tadi, sepertinya yang disebut ibu oleh gadis itu adalah hanya seorang asisten rumah tangga.
Ardo memperhatikan wajah Aerilyn yang tadinya ceria kini terganti oleh gurat kesedihan. Tentu saja hal itu membuat dirinya merasa aneh, sepertinya hubungan cewek itu dengan mamanya tidak baik.
"Ehm, saya pamit dulu, ya. Permisi," ucap Ardo dengan sopan kepada Julaeha.
Lalu cowok itu segera melajukan motornya, meninggalkan kediaman Aerilyn.
"Bu, aku harus ke mana?" tanya Aerilyn kebingungan.
"Ibu ikut aja, ya, sama kamu? Biar kamu ada temennya," usul Julaeha yang langsung mendapatkan ketidak setujuan Aerilyn.
"Udah, Bu. Ayo, masuk! Bantu aku beresin baju-baju ke koper." Aerilyn tersenyum tanpa arti.
***
Dengan langkah berat, Aerilyn menyeret kopernya. Tangan yang satunya mementeng kandang kucing berukuran sedang, tentu saja di dalamnya ada Miu si kucing kesayangan.
"Ilyn, Ibu ikut kamu, ya? Ibu khawatir banget sama kamu. Apalagi cuacanya udah mendung gini, kalau misalnya hujan di jalan gimana? Ini juga udah sore banget, Nak," Julaeha tidak tahan untuk menangis.
"Ibu, aku bakalan baik-baik aja, percaya aja sama aku. Aku bakalan nyari kontrakan atau kos-an, soalnya aku masih ada uang tabungan dari celengan yang aku bongkar tadi," ujar Aerilyn sembari menghapus air mata Julaeha.
Dengan langkah berat, Aerilyn harus meninggalkan rumahnya ini. Bahkan, ia harus rela berjauhan dengan Julaeha, entah bagaimana jika nanti ia merindukan sosok wanita paruh baya itu. Ia takut jika nanti tidak pernah diperbolehkan menginjakan kaki ke rumah itu lagi.
***
"Aduh, capek banget, Miu. Aku kira nyari kontrakan atau kos itu gampang, ternyata susah ... aduh, mana langit udah gelap banget." tepat setelah mengatakan itu, tiba-tiba saja terdengar suara kilat.
"Eh, aduh ... hujan!"
Entah kenapa tiba-tiba saja rintik hujan mulai berjatuhan, membuat Aerilyn susah payah untuk berlari, karena harus menyeret kopernya yang berat. Belum lagi ia harus memeluk kandang Miu agar tidak terlalu terkena hujan.
Rasanya sangat susah untuk mencari tempat berteduh di jalan raya seperti ini. Syukurnya tidak lama kemudian ia menemukan emperan toko yang sudah tutup. Mungkin itu bisa ia jadikan tempat berteduh.
"Huh, basah kuyup jadinya aku," keluh Aerilyn menatap bajunya yang sudah basah sembari menahan hawa dingin.
Aerilyn duduk di sana, setelahnya ia mengeluarkan Miu dari kandangnya, untung saja Miu tidak terlalu basah, sebab kandang itu memiliki atap.
"Aduh, Miu ... Di sini dingin banget, ya? Kamu kedinginan, ya? Gak apa-apa deh, aku peluk meski baju aku basah, setidaknya kamu gak terlalu kedinginan sama anginnya."
Sebenarnya gadis itu tidak benar-benar memikirkan keadaan dirinya, ia hanya khawatir kepada Miu. Sedari tadi kucing kesayangannya itu terus ingin dipeluk oleh dirinya.
Tiba-tiba saja perutnya merasa sakit, mungkin karena ia belum makan sedari pagi. Bahkan di sekolah ia tidak makan apa pun, mungkin ia hanya meminum seteguk air putih saat sebelum berangkat sekolah.
Akan tetapi, sekarang pikirannya tertuju kepada Miu. Kucingnya belum makan lagi, terakhir diberi makan olehnya saat sebelum pergi meninggalkan rumah, pasti Miu sekarang kelaparan.
Aerilyn membuka kopernya dengan sisa tenaganya sekarang. Ia berusaha mengambil makanan kucing yang ia bawa. Setelahnya ia menaruh makanan itu di pahanya, lalu mempersilakan Miu untuk makan.
"Mi-Miu, makan yang banyak, ya. Biar enggak lapar, maafin aku karena harus seperti ini," ucap Aerilyn dengan bibir bergetar karena tidak tahan dengan dingin.
Sebenarnya Aerilyn tipe orang yang tidak kuat dengan hawa dingin. Ia alergi dengan hawa dingin. Sebenernya ini sangat membahayakan dirinya sendiri.
Alergi dingin atau yang dalam bahasa medis disebut dengan cold urticaria merupakan reaksi kulit yang muncul ketika seseorang berada di suhu dingin.
Tangan Aerilyn sepertinya mengalami pembengkakan, kulit Aerilyn juga sekarang memerah, bahkan merasakan gatal. Itu adalah ciri gejalanya ia terkena alergi dingin, entah ia tidak tahu harus bagaimana lagi sekarang. Ia takut keadaanya akan semakin parah, sebab yang ia tahu alergi dingin jika dibiarkan akan semakin parah dan bisa menyebabkan kematian jika tidak cepat-cepat ditangani dengan tepat.
Aerilyn hanya berdua bersama kucingnya sekarang, bahkan sepertinya keadaanya sekarang semakin memburuk. Dirinya merasa sesak napas, mungkin itu karena adanya pembengkakan di area tenggorokan.
Miu bahkan tidak menghabiskan makanannya, ia terus mengeong melihat keadaan Aerilyn yang sekarang. Mungkin ia hewan, tetapi juga bisa mengerti pada majikannya.