"Ya, ampun. Ilyn, lo kenapa? Kenapa ada di sini?!" Tiba-tiba saja Ardo menghampiri, diikuti oleh Fano di belakangnya. Entah dari mana mereka berasal sampai menemukan Aerilyn tergeletak tak berdaya di sini.
Sepertinya mereka terkejut melihat keadaan gadis itu yang bahkan terlihat susah payah untuk menghirup oksigen di sekitarnya.
Tanpa basa-basi lagi, Ardo segera membantunya untuk duduk, lalu memasangkan jaket miliknya ke tubuh Aerilyn. Gadis itu tersenyum, ia seperti mendapatkan sosok penolong di saat seperti ini.
"A-aku alergi dingin," lirih Aerilyn dengan terbata-bata, setelahnya ia memejamkan matanya kembali. Ia merasa ingin sekali mencuri banyak oksigen di sekitarnya.
"Hah?!" Seketika Fano dan Ardo terkejut dengan hal itu. Tanpa basa-basi lagi, Ardo langsung menggendong Aerilyn untuk masuk ke dalam mobilnya, diikuti oleh Fano yang membawa kucing serta koper gadis itu.
Ardo berada di kursi belakang, ia terus memeluk tubuh Aerilyn agar gadis itu tidak terlalu merasa kedinginan. Bahkan cowok itu menyuruh Fano untuk mematikan AC mobil.
Setelahnya Fano segera melajukan kendaraan itu menuju rumah sakit yang untungnya saja tidak jauh dari sana. Meski sebenarnya Fano tidak terlalu mengerti dengan jenis alergi yang dialami Aerilyn, tetapi melihat Ardo di kursi belakang terus mencoba memeluknya, membuat ia ikut panik luar biasa.
"Cepetan! Dia udah sesak napas banget, nih. Jangan lelet kayak keong deh, lo!" bentak Ardo, membuat Fano semakin menambah kecepatan mobilnya.
Setelah sampai di rumah sakit, Ardo dengan tergesa-gesa membopong Aerilyn, sampai ada suster yang membantu. Lalu Aerilyn tampak dibawa ke ruang IGD saat diberi tahu penyebabnya adalah alergi dingin.
Fano merasa heran kenapa Ardo terlihat sangat gelisah seperti itu. Membuat ia mengerutkan dahi, ia juga jadi menduga-duga jika cowok itu suka dengan Aerilyn.
"Heh, lo suka sama si Ilyn? Kok, sampe segitunya, sih? Emangnya dia kenapa? Gue sampe ikutan panik kayak mau digebukin sama Emak gue aja. Sebenernya kenapa, sih?" tanya Fano bertubi-tubi, sembari mengelus-elus kucing milik Aerilyn yang tadi ia bawa.
"Bukan gitu, ogeb! Lo tahu gak, kalau alergi dingin, jika sudah masuk tahap anafilaksis bisa menyebabkan kematian? Gue harap Aerilyn enggak masuk sampai tahap itu!" cetus Ardo pada Fano dengan mata merah yang menatapnya nyalang.
"Hah, serius lo? Terus anafilaksis itu apaan?" tanya Fano seraya menautkan kedua alisnya.
"Anafilaksis itu reaksi sistem imun yang terjadi mendadak, akibat tubuh terpapar oleh alergen atau pemicu alergi," jelas Ardo membuat Fano mengangguk paham.
Fano tidak heran jika Ardo bisa sangat paham, tak lain dan tak bukan adalah karena ibu cowok itu juga memiliki alergi dingin. Jadi, sepertinya dia takut terjadi sesuatu yang buruk terhadap Aerilyn.
"Btw, gue heran banget. Kenapa si Aerilyn bawa-bawa koper sama kucingnya segala? Mana malah diem di emperan toko lagi, kayak orang yang berteduh gitu. Masa sih, dia kabur dari rumahnya? Hm, kalau cuman gara-gara ngambek sama orang tuanya parah, sih. Dasar cewek, kalau ngambek malah kabur-kaburan!" cerocos Fano merasa bingung dengan segala dugaan yang ada di benaknya.
Ardo jadi teringat sesuatu, ia kembali mengingat perkataan mama Aerilyn yang menyuruh Julaeha membantu membereskan barang-barangnya. Tidak mungkin jika gadis itu kabur, sepertinya ini sudah direncanakan.
"Btw, ini pertama kalinya lo batalin buat mabuk-mabukan. Ck, udahlah lu berhenti aja ke klub buat mabuk gitu ... gue ataupun Ardo males kalau harus bawa lo pulang yang lagi mabok, mana suka ngelindur gak jelas!" ceteluk Fano.
Ardo seketika mendelik ke arah Fano, membuat nyali cowok itu seketika ciut. Kemudian ia mengangkat dua jari membentuk huruf V disertai cengiran khas yang membuatnya terlihat semakin bodoh.
Ardo hanya bisa menghela napas panjang. Ia tidak bisa marah-marah di rumah sakit seperti ini, sedangkan Fano hanya bisa cengengesan tidak jelas.
***
Aerilyn membuka matanya, ia melihat langit-langit berwarna putih. salah satu tangannya terpasang selang infus, serta ia dibantu oleh alat oksigen untuk bernapas. Ia menduga, sekarang sedang berada di ruangan rawat inap, rumah sakit.
"Ilyn, lo udah sadar?" kata Regan yang terlihat bernapas lega, lalu mengelus lembut kepalanya.
Orang pertama yang ia lihat setelah Regan adalah Ardo, kemudian Serly.
"Mi-Miu?" tanya Aerilyn saat tidak melihat keberadaan kucing kesayangannya.
"Tenang aja, ada di sofa lagi diajak main sama Fano," jawab Regan membuat hatinya merasa lega.
"Aneh banget lo, pertama yang dicari malah si Miu! Padahal yang nolongin lo tadi itu Ardo sama gue," ujar Fano menghampiri mereka sembari menggendong Miu.
Aerilyn tersenyum singkat mendengar celoteh Fano itu, hal tersebut membuat dirinya sedikit lebih baik. Melihat ternyata masih banyak yang peduli kepadanya, ia merasakan hatinya menghangat, sehangat sang bagaskara pada pagi hari.
"Ilyn, kenapa lo pergi dari rumah saat hujan gini? Padahal lo itu alergi dingin, untung aja ada Ardo yang dateng bagaikan pahlawan!" cerocos Serly membuat Ardo memutar bola matanya jengah karena merasa terlalu ditinggikan.
Aerilyn tidak ingin menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu, ia tetap diam sembari menelusuri setiap sudut ruangan, mencari seseorang. Di saat seperti ini ia senang ada banyak yang menemani dirinya, tetapi ia sedikit kecewa saat tidak ada Erina di sini. Jika mama dan papanya, ia tidak akan berharap banyak, sebab ia tahu mereka tidak akan peduli.
"Lo nyari Erina? Dia lagi ada acara keluarga, tadinya mau ke sini, tapi dilarang sama orang tuanya," jelas Serly saat tahu Aerilyn mencari sosok Erina yang juga sahabat mereka.
Setelah mendapatkan penjelasan dari Serly, gadis itu sedikit lega. Ia kira Erina tidak peduli padanya, ternyata sedang ada acara. Entah hanya perasaanya saja, jika ia selalu merasa tidak pernah diperhatikan oleh Erina.
"Ilyn, bilang sama gue! Lo kenapa bawa-bawa koper kayak gitu? Mana diem di emperan toko lagi. Lo kabur apa gimana?!" tanya Regan dengan sewot.
Jujur saja, cowok itu merasa marah dengan keadaan Aerilyn sekarang, apalagi saat mendengar penjelasaan dari Fano dan Ardo yang menemukannya dengan keadaan yang tidak baik-baik saja. Ia seperti seorang Abang yang tidak becus menjaga adiknya sendiri.
Aerilyn menarik pelan tangan Regan, membuat ia sedikit mendekatkan wajahnya pada gadis itu. Ternyata memang dia ingin menceritakan kepadanya dengan berbisik, agar yang lain tidak mendengar. Lebih tepatnya, agar tidak mengetahui inti permasalahannya.
Setelah mendapatkan penjelasan dari gadis itu, wajah Regan seketika menjadi merah padam karena merasa emosi. Entah kenapa, orang-orang di sana sangat penasaran dengan apa yang Aerilyn ceritakan kepadanya. Apalagi Regan terus mengumpat, bahkan Serly mencoba menenangkan pacarnya itu.
"Sebenernya yang dibisikin Aerilyn ke Regan itu apaan, sih?" bisik Fano kepo pada Ardo.
Sedangkan Ardo hanya menggedikan bahunya, tanda tidak tahu. Sebenernya ia juga sangat penasaran dan ingin mengetahuinya. Akan tetapi, ia kembali menyadari posisinya, jika ia bukan siapa-siapa Aerilyn yang tidak berhak tahu.
"Gue gak bisa biarin ini ... awas aja, gue bales perbuatan mereka!" geram Regan.
Regan hendak pergi dari sana, tetapi Aerilyn langsung memegang tangannya, membuat cowok itu berhenti dan menatap gadis yang terbaring lemah itu dengan tatapan penuh kecewa.
"Ja-jangan, Kak!" lirih Aerilyn dengan tatapan sendu, membuat Regan mengembuskan napas lelah.
"Gue sedikit kecewa sama lo, Ilyn. Kenapa lo gak bilang sama gue tentang hal ini? Lo mulai rahasia-rahasiaan sekarang? Kenapa gak jujur tentang hal ini ke gue, sih?! Terus kenapa lo gak telepon gue?" tanya Regan dengan sorot penuh kekecewaan.
"Maaf, aku gak mau bikin Kakak khawatir terus sama aku. Lagian, handphone aku rusak karena kena hujan," ungkap Aerilyn seiring dengan matanya yang berembun disertai pipi dan hidungnya memerah, menahan tangis.
Fano dan Ardo malah semakin bingung sekarang, kenapa mereka berdua sama sekali tidak paham apa yang sebenarnya sedang diperbincangkan.
"Ilyn, lo bahkan tumben banget gak cerita sama gue sama sekali. Lo selalu ngerasa takut jadi beban buat kita, padahal enggak sama sekali, Lyn ... kita itu udah kayak saudara tahu, gak? Gue sama Regan sayang banget sama lo," ucap Serly menahan sesak.
Tanpa sadar setetes air mata jatuh lewat ekor mata Aerilyn. Ia ikut merasakan sesak di d**a, ia tahu mereka sayang kepada dirinya. Akan tetapi, ia tidak bisa jika harus terus-menerus membuat mereka khawatir padanya yang menurutnya ia selalu menyusahkan.
"Huft, okey gue gak akan macem-macem sama mereka. Tapi, gue ke rumah lo buat kasih tahu Ibu Julaeha aja, biar dia tahu keadaan lo," ujar Regan mengalah.
"Biar aku sama Regan yang ke sana," putus Serly.
Aerilyn menggeleng cepat. "Jangan, aku takut Ibu bakalan ikut sama aku. Aku gak mau, biarin Ibu di sana aja, Kak. Supaya Mama ada yang jagain."
"Lo gila, ya?! Ibu mau ikut sama lo, malah gak boleh? Lo malah biarin buat temenin nyokap lo yang sinting itu?!" bentak Regan, amarahnya yang sempat mereda kini kembali tersulut dan membara.
"Kak ...." Aerilyn memperingatkan agar Regan tidak berbicara yang macam-macam, apalagi di sini masih ada Ardo dan Fano.
Serly juga ikut mengingatkan cowok itu lewat kode matanya, tentu saja seketika Regan harus bisa menahan amarahnya. Sepertinya memang tadi dirinya sudah sangat berlebihan sekali.
"Kak Ardo, Kak Fano, makasih udah tolongin aku," ucap Aerilyn sepenuh hati, ia baru bisa berterima kasih saat suasana hening sekarang.
"Sama-sama."
Regan memaksa Ardo dan Fano untuk pulang saja, biarkan hari ini ia dan Serly yang menjaga Aerilyn di sini. Apalagi ini sudah sangat malam, hampir jam 11 malam.
Serly kemudian mengantarkan dua cowok itu keluar dari ruangan, sesuai dengan perintah Regan tadi. Setelahnya nanti ia akan memberikan makan kepada Aerilyn.
"Serly, lo sama sekali enggak cemburu sama Regan dan Aerilyn?" tanya Ardo pernasaran.
"Hah? Serius lo, nanya hal itu? Ya, gue gak bakalan cemburu sama mereka, lah ... mereka itu udah kayak Abang sama Adek. Udah deh, gue itu lebih tahu seluk beluk mereka dari pada lo!" kata Serly, lalu mengambil paksa Miu dari tangan Fano.
Serly segera masuk kembali dan menutup pintunya, membuat Fano merasa kesal sendiri. Dia merasa sudah menolong, tetapi malah diusir.
"Hih, padahal gue kalau disuruh nginep juga bisa. Lagian besok sekolah itu libur," sungut Fano kesal.