Bab 5

1544 Kata
Mentari pagi sudah menampakan sinarnya, begitu pun Aerilyn yang sudah membuka matanya. Alat oksigen yang membantunya untuk bernapas juga sudah dilepaskan, hanya tinggal infus saja yang melekat di salah satu tangannya. "Udah bangun, Lyn?" tanya Regan dengan lembut. Regan baru saja masuk bersamaan dengan Serly yang membawa bungkusan plastik, berisi makanan untuk Aerilyn. "Dasar oon, mata lu di kemanain Ayang? lihat itu sahabat tercantik gue udah buka mata, noh!" seloroh Serly menggetok dahi pacarnya itu dengan kesal, membuat Aerilyn terkekeh dengan tingkahnya itu. "Yaelah, gitu doang juga. Malah dipermasalahin," ucap Regan mengusap dahinya yang sedikit nyeri akibat ulah sang pacar. "Lyn badannya udah ngerasa enakan?" tanya Serly penuh perhatian, dibalas anggukan dan senyum simpul oleh Aerilyn. Regan berjalan ke arah sofa, lalu ia duduk di sana sembari memainkan ponsel miliknya. Sedangkan Serly membuka bungkus makanan itu. "Oke, sahabat gue yang paling gue sayang. Sekarang waktunya lo sarapan, abis itu minum obat yang dikasih sama suster tadi," ujar Serly membantu sahabatnya itu untuk duduk. Aerilyn melihat jam dinding, ini baru jam 6 pagi. Lalu ia melirik ke arah Regan dan beralih menatap Serly. "Aku yakin, kalian belum makan, 'kan? Haduh, kalian ini gimana, sih? Masa ngasih aku makan, tapi kalian sendiri belum makan," kata Aerilyn memutar bola matanya malas. Regan dan Serly langsung saling tatap, mereka heran kenapa Aerilyn bisa tahu jika mereka belum makan? Padahal perut mereka tidak mengeluarkan bunyi, sebagai pertanda lapar. "Gak sempet," balas Serly jujur, sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Saat suasana menjadi hening itu, tiba-tiba saja pintu terbuka. Menampakan sosok Fano dan juga Ardo, mereka masing-masing membawa bungkusan plastik yang entah apa itu isinya. "Hello, everybody! Kita datang kembali, membawa makanan yang super lezat. Gue yakin, kalian pasti di sini sedang kelaparan." Fano berteriak membuat yang ada di sana harus menutup kuping mereka, bisa-bisa nanti nanti budeg. "Sok tahu lo, siapa juga yang laper? Gue sama Serly udah makan, itu Ilyn juga mau makan," bantah Regan berdusta. Hingga setelah mengatakan hal itu, tiba-tiba saja perut cowok itu keroncongan. Membuat mereka tertawa, kecuali Ardo yang hanya memutar bola matanya jengah. "Jangan kau ucapkan kebohongan, roma! Sebab, sejatinya kebohongan pasti akan terbongkar juga!" ucap Fano dengan penuh dramatis. "Bacot lo semua, mending makan!" ujar Ardo dengan ketus. Cowok tampan itu lalu membuka bungkusan plastik, mengeluarkan isinya yang ternyata karpet lipat segi empat. Ia membuka talinya lalu menggelarnya di lantai. Setelahnya giliran Fano membuka bungkusan plastik satunya yang ternyata berisi nasi dan juga sate ayam beserta lauk pauk yang lainnya. "Wah, kayaknya enak, tuh. Mau ikutan duduk di bawah juga," ucap Aerilyn dengan mata yang berbinar. Lalu Serly membantunya turun dari ranjang dan ikut duduk di sana, serta membantu meletakan tiang infus itu di sampingnya. Regan juga ikut duduk bersama mereka. Nasi uduk yang tadi Serly bawa, malah diambil alih oleh Fano. "Ish, dasar lo. Tahu aja pengen nasi yang enak," ketus Serly sembari menatap jengkel pada cowok itu. "Udah, gak papa. Sekarang mending makan sama-sama," lerai Aerilyn dengan senyuman manisnya. "Makasi Kak Fano, Kak Ardo," ucap Aerilyn dengan tulus. "Jangan makasih sama gue, makasih sama si Ardo, noh! Dia yang beliin makanan ini," ungkap Fano dengan mulut penuh makanan. "Dasar mulut ember bocor," lirih Ardo dengan memutar bola mata khasnya. *** Mereka sudah selesai makan, bahkan sudah merapikan bekas tempat makan mereka tadi. Aerilyn juga tidak lupa untuk memberi makan kucing kesayangannya. Aerilyn bahkan sudah menyuruh Ardo dan Fano untuk pulang saja. Meski sebenarnya merasa tidak enak, tetapi ia tidak ingin jika mereka akan tahu ia memang benar-benar tidak akan pulang ke rumahnya hari ini. Sekarang Regan dan Serly sedang membantu Aerilyn berisap-siap untuk pulang. Mereka merapikan barang-barang Aerilyn. "Huh, di rumah sakit cuman sehari. Tapi ini barang-barang kayak kelihatan lo udah nginep satu bulan di sini," Serly berdecak seraya menggelengkan kepalanya. "Hehe, sorry. Tapi, aku nginep di rumah kamu dulu buat sementara, ya?" ujar Aerilyn mengedipkan matanya beberapa kali, membuat ia terlihat sangat imut. "Gak usah, Mama lo udah kasih lo apatermen. So, lo tinggal di sana, gak usah repot-repot cari kontrakan lagi nantinya," tukas Regan. Aerilyn mencerna perkataan Regan. Kemudian ia merasa, sepertinya sahabat cowoknya itu sudah menghubungi mamanya. Sehingga Rani dengan sukarela memberikan sebuah apartemen untuknya. Regan yang mengetahui Aerilyn menatapnya seperti mengintimidasi itu, langsung meminta maaf padannya. Ia juga melakukan itu untuknya. "Gue itu hanya meminta hak lo sebagai anak, kepada mereka. Seengaknya lo dikasih tempat tinggal yang layak, kalau mereka gak mau lagi nampung lo! Apalagi, sekarang mereka benar-benar kayak udah ngebuang lo gitu aja, Ilyn. Mereka aja sekarang udah gak mau ngasih uang, 'kan?" ungkit Regan membuat Aerilyn tersenyum kecut. Aerilyn berterima kasih kepada Regan. Mungkin dia memang benar, ia juga tidak boleh menolak hal itu. Karena bagaimanapun itu demi dirinya sendiri, terlebih agar tidak merepotkan orang lain secara terus-menerus. Sekarang tempat tinggal sudah ia punya, hanya saja harus mencari pekerjaan. "Kak Regan sama Serly, bantuin aku cariin pekerjaan aja gimana? Aku gak mau ngandelin tabungan terus, lama-lama juga pasti bakalan abis kalau terus-terusan dipake," pinta Aerilyn. Regan dan Serly hanya mengangguk. Sebenarnya mereka sangat khawatir dengan keadaan sahabat mereka saat ini. Mereka takut keadaan mental gadis itu tidak baik, tetapi jika dilihat dari luar sepertinya Aerilyn baik-baik saja. Namun, penampilan luar bisa saja menipu karena kesedihan yang ada di dalam itu tidak bisa terlihat. *** "Pagi, Aerilyn sahabat gue yang paling cantik!" sapa Serly dengan heboh, ketika baru saja memasuki ruang kelas. Teman-teman kelasnya hanya menggelengkan kepala, sudah tidak heran lagi dengan sifat Serly yang selalu seperti itu. Seolah-olah suara merdunya itu sudah biasa mengalun dengan indah. "Selalu aja Aerilyn mulu lo puji, gue mah, enggak!" sewot Erina mendelik ke arah gadis itu. "Hehe, sorry darling. Lo kayak gak tahu aja, kalau gue lagi godain dia. Kan, kunci tugas sekolah ada di dia semua." Serly cengengesan tidak jelas. "Lo itu, cuman partner adu bacot gue sayang ... kalau Aerilyn, partner bisnis tugas sekolah!" ucap Serly dengan dua tangan bersidekap. Erina dan Aerilyn hanya bisa terkekeh dengan tingkah sahabatnya yang satu itu. Serly memang jagonya untuk berceloteh, membuat mood siapa saja yang buruk akan seketika membaik. Akan tetapi, jika gadis itu sudah mengamuk, orang-orang akan takut kepadanya. Ya, terkecuali untuk guru BK. "Ck, kenapa kamu gak pernah ngerjain tugas, sih?" Aerilyn memberikan bukunya kepada Serly yang sudah duduk manis di sampingnya. "Hadeh, kalau lo bisa. Kenapa harus gue?" ucapnya acuh sembari menggedikan bahunya. "Biasalah Ilyn, micin kalau dikasih nyawa bakalan kayak gini," kata Erina menoyor kepala Serly dari belakang. Serly benar-benar kesal, ia ingin menulis ulang tugas dari Aerilyn saja harus terganggu oleh Erina. Temannya yang satu itu memang tidak bisa diandalkan, seperti tidak berguna. Selalu menganggu dirinya saja. "Ish, Erina! Gue mau nulis dengan tenang aja susah banget, tulisan gue jadi kecoret, nih! Hadeh, lo jadi teman berguna dikit, kek. Gak pernah sehari aja gak gangguin gue," ucap Serly dengan kesal. "Lo juga gak berguna, nyusahin orang terus. Tiap hari malakin tugas orang, kalau ujian juga enak banget nyontek sama si Ilyn. Gue juga kadang minta sih, ke Ilyn ... tapi, gak beban banget kayak lo!" Erina membalas kata-kata Serly. Serly membalikan badannya, menghadap kepada Erina yang duduk di belakangnya. Lalu mereka saling menatap tajam, sedangkan Aerilyn hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal karena bingung dengan situasi. Akan tetapi, setelahnya mereka tertawa terbahak-bahak. Mungkin ini yang dinamakan persahabatan? "Gak kuat gue lihat muka lo," kata Serly dengan masih tertawa. Aerilyn hanya bisa terkikik melihat tingkah mereka itu. Memang mereka berdua ini selalu saja bertengkar tetapi tidak sama sekali untuk benar-benar perang hebat. Namanya juga persahabatan, tentu akan ada saja hal-hal kecil yang membuat pertengkaran, tetapi hal itu tidak akan berlangsung lama. *** "Hallo, Kak Ardo. Udah makan belum? Jadi, hari ini aku spesial bawaain sandwich buatan aku sendiri, untuk Kakak," ucap Aerilyn menyondorkan kotak bekal berwarna biru itu kepadanya. Kotak bekal yang masih belum diterima itu, membuat Aerilyn mengerlingkan matanya. Sedangkan Ardo hanya menatapnya malas. Tentu saja membuat gadis itu harus mengembuskan napas, menetralisir rasa kesalnya. Dia bahkan kembali fokus menatap layar ponselnya, mungkin sedang berselancar di sosial media. Aerilyn membuka kotak bekalnya, lalu ia mengambil sepotong sandwich dan berniat untuk menyuapi cowok itu. Tentu saja, Ardo yang sepertinya terlalu fokus itu tanpa sadar membuka mulutnya dan menerima makanan itu untuk masuk ke dalam mulutnya. Ia terus menyuapinya sampai sandwich yang berisi empat potong itu habis tanpa sisa. "Huh, laper banget ya, Kak?" tanya Aerilyn setelah selesai menyuapi Ardo. "Hah?" Ardo dibuat kebingungan. "Kak Ardo tadi aku suapin, sampe abis empat sandwich, loh." Aerilyn menunjukan kotak bekalnya yang kosong. Menandakan makanannya sudah habis termakan. "Gue yang makan?" tanyanya masih bingung, tetapi ia tidak bisa menyangkal karena di dalam mulutnya pun, masih terasa rasa sandwich itu. Aerilyn terkekeh, "saking fokusnya, Kakak gak sadar udah makan semua sandwich-nya." Dengan perasaan gugup, Ardo berterima kasih kepada Aerilyn. Sebenernya mereka juga sekarang sedang berada duduk di taman belakang sekolah, tempat ini sangat sepi. Hanya ada mereka berdua yang sedang duduk di kursi panjang. Tadi gadis itu yang menghampirinya. Sekian lama hening, membuat Aerilyn membuka suara, "Kak Ardo. Aku boleh minta pekerjaan gak, sih? Ehm, Kak Ardo butuh Asisten rumah tangga, gak? Kakak tenang aja, aku bisa bersihin rumahnya sampe bersih." Seketika Ardo langsung menatapnya dengan lekat, ia masih tidak percaya kalau gadis itu meminta pekerjaan kepada dirinya. "Gak!" Ardo langsung beranjak dari tempatnya, meninggalkan Aerilyn seorang diri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN