Bab 6

1572 Kata
"Ih, kalian gak mau mampir dulu gitu ke apartemen aku?" tanya Aerilyn memajukan bibirnya. "Sorry, kita gak bisa. Gue sama Erina harus banget nyalon hari ini. Kalau lo mau ikut, ayok!" ujar Serly merasa tidak enak hati pada sahabatnya itu. "Huft, okey ... tapi kapan-kapan main, ya? Sekalian jugalah nginep," kata Aerilyn memastikan, menatap mereka dengan sendu. Erina dan Serly saling menatap, kemudian mengangguk. Mungkin lain waktu mereka akan berkunjung ke apartemen gadis itu. Sebenernya mereka merasa tidak enak hati, tetapi bagaimanapun juga mereka sudah ada janji dengan pemilik salonnya dan tidak bisa dibatalkan begitu saja. "Ya, udah. Kita pergi dulu, ya ... dah, Bep!" Erina dan Serly melambai, seraya buru-buru memasuki mobil mereka masing-masing, lalu pergi meninggalkan Aerilyn seorang diri di parkiran. Aerilyn menatap langit dengan nanar, langit biru yang cerah tidak secerah hatinya saat ini. Pada hari ini tidak ada yang bisa menemaninya di apartemen. Lagi-lagi ia akan merasa kesepian, tidak ada teman untuk bisa ia ajak bercanda dan tertawa agar luka di hatinya bisa sedikit membaik. Akan tetapi, pikirannya itu segera ia buang jauh-jauh. Ia tidak boleh egois juga, tidak harus orang lain selalu berada di sisinya saat ia butuh. Lagi pula ia masih memiliki Miu, kucing yang bisa dijadikan tempat curhat. Ia bisa puas bermain dengannya juga, tanpa ada yang memarahinya dan mengangganggunya saat seperti di rumahnya dulu. Suara klakson motor tiba-tiba saja membuyarkan lamunan Aerilyn. Membuat gadis itu menoleh pada motor di sampingnya, lalu ia dapat melihat siapa orangnya. Ternyata ia adalah Ardo, kakak kelasnya yang menyebalkan. "Lo ngapain di situ?" tanya Ardo kepo. "Berdiri," jawab Aerilyn dengan polos. Ardo berdecak jengkel, merasa kesal atas jawaban dari gadis itu. Semua orang juga tahu, ia berdiri bukan duduk. "Gak pulang?" tanya Ardo dengan sabar dan lebih lembut. "Ini mau pulang, kok. Ya, udah deh, aku mau jalan dulu ke halte. Dah, Kak!" ucap Aerilyn. Gadis itu baru saja ingin melangkah, tetapi tangannya sudah lebih dulu dicekal oleh Ardo. Membuat Aerilyn harus kembali diam di tempat. "Apa lagi sih, Kak?" tanya gadis itu sembari mengerutkan kedua alisnya. "Gue anter," ucap Ardo datar. Ardo tahu jika Regan tadi sedang ada urusan penting yang ditugaskan oleh bundanya. Jadi tidak bisa mengantar Aerilyn pulang, malah ia yang tadi ditugaskan untuk mengantarkannya pulang. Sebenernya ingin menolak. Namun, sahabatnya itu selalu kembali mengungkit pengorbanan yang dilakukan untuk dirinya. Ia menjadi kesal sampai akhirnya mau memenuhi permintaannya. Aerilyn terus menolak Ardo dengan berbagai alasan terbaiknya, tetapi Ardo yang keras kepala juga terus memaksanya. Hingga Aerilyn mau dengan ajakannya itu. "Lo pake jaket gue aja, takut nanti kena angin terus alergi dingin lo kambuh. Gue janji gak bakalan ngebut," ujar Ardo yang langsung memberikan jaket miliknya. Aerilyn hanya menurut saja, tidak ada gunanya juga jika dia terus membantah ucapan cowok itu. Bisa-bisa mereka terus berdebat dan hanya akan menjadi pusat perhatian saja. "Tapi pulangnya gak ke rumah yang waktu ya, Kak. Pulangnya ke apartemen, nanti aku tunjukin jalannya," jelas Aerilyn karena nanti takut cowok itu malah mengantarkannya ke sana. Meski kebingungan, Ardo hanya mengangguk menurut saja. Tidak ingin memperpanjang semuanya. Setelah memakai jaket dan helm, Aerilyn lalu naik ke atas motor besar milik Ardo. Setelahnya, cowok itu langsung melajukan kuda besinya itu. Akhirnya setelah hampir setengah jam, mereka sampai di gedung apartemen. Membuat Aerilyn turun dari motor Ardo. Aerilyn yang belum sadar masih memakai helm dan jaket milik cowok itu, ia langsung saja beranjak pergi tanpa berterima kasih. Sampai Ardo harus memanggilnya. "Kenapa, Kak?" tanya Aerilyn bingung. "Lo mau masuk ke apartemen pake helm? Jaket gue juga jangan diambil, mahal tahu!" cetus Ardo membuat Aerilyn cengengesan di tempatnya. Lalu Aerilyn mengembalikan helm dan jaket itu kepada Ardo. Setelahnya ia langsung beranjak pergi, tetapi tangannya ditarik oleh cowok itu. "Apa lagi sih, Kak? Capek tahu, pengen rebahan!" sentak Aerilyn dengan kesal. "Lo kira gue tukang ojek, gitu? Gak ada makasih-makasihnya sama gue!" kata Ardo dengan sinis. Aerilyn gelagapan di tempatnya berdiri. "E-ehm, iya-iya ... makasih Kak, sorry ya, emosi. Soalnya cemas juga si Miu belum aku keluarin dari kandangnya. Mana belum di kasih makan ...." Ardo menghela napas panjang, lalu ia melonggarkan cekalannya pada tangan Aerilyn. Ia ikut turun dari motornya. "Lo gak mau ngajakin gue mampir ke apart, lo? Sekalian nih, gue laper banget pengen makan! Itung-itung tadi lo bayar bensin, lah," ujar Ardo memelas sembari menggenggam kedua tangan gadis itu. Aerilyn menahan tawa, ia tidak kuat melihat ekspresi wajah Ardo yang terlihat seperti anak kecil yang minta dibelikan ice cream pada ibunya. Ardo yang menyadari hal itu, membuatnya melepaskan genggaman tangan itu. Setelahnya ia juga langsung mengubah ekspresi wajah menjadi datar kembali. "Ya, udah ... ayo, masuk!" Aerilyn menggenggam tangan Ardo dengan erat. Ardo hanya pasrah dan mengikuti langkah kaki gadis mungil itu. Hingga saat berada di lift, ia merasa seperti diperhatikan oleh Aerilyn. Dan benar saja saat ia meliriknya, gadis itu sedang senyum-senyum sendiri sembari menatap dirinya. "Kenapa lo, lihatin gue kayak gitu? Naksir, lo?" tanya Ardo dengan sinis. Seketika wajah Aerilyn yang tadi manis sekarang tiba-tiba menjadi masam. "Sembarangan aja! Aku cuman seneng aja, sih, soalnya ada yang mau nemenin aku biar gak kesepian banget berdua sama Miu. Tadi ngajakin Serly sama Erina, tapi mereka gak mau," ungkap Aerilyn, membuat Ardo tanpa sadar tersenyum. Tentu saja, Aerilyn sekarang sudah heboh sendiri. Sebab, untuk pertama kalinya dia melihat senyum manis cowok itu. "Omaygat! Semalem aku mimpi indah, ya? Buset, apa ini juga bagian dari mimpi ya, Kak? Ya Allah, pertama kalinya hamba melihat senyum manis menawan dari seorang Kakak kelas nyebelin gada obat ini! Fiks sih, kalau ini mimpi aku bakalan minta mimpi ini terus!" celoteh Aerilyn, membuat Ardo hampir saja tertawa karenanya. Sebenernya tangan cowok itu sudah gatal sekali, ingin mengacak-acak rambut Aerilyn. Akan tetapi, ia tidak ingin membuat gadis itu semakin heboh nantinya. Apalagi sekarang pintu lift sudah terbuka dan mereka sedang berjalan di lorong untuk menuju kamar apatermen gadis itu. Ardo sampai dibuat kagum saat sudah berada di dalam apartemen Aerilyn. Bukan tanpa alasan, melainkan seisi ruangan itu tampak sangat rapi sekali. Bahkan penataan barang-barang saja seperti pas pada tempatnya. sangat indah untuk dipandang. "Bentar ya, Kak. Aku mau ngeluarin Miu dari kandang, terus ngasih dia makan. Baru aku masak buat Kakak," ucap Aerilyn membuat Ardo tersadar. "Ehm, lo masak aja. Biar gue yang urus kucing lo," kata Ardo sembari menunjuk kandang kucing yang berada di pojokan. Aerilyn mengangguk sebagai persetujuannya. Setelahnya ia melepas sepatu dan menyimpan tas nya di sofa, lalu ia beranjak pergi ke dapur. Ardo kemudian berjongkok dan mengeluarkan Miu dari kandangnya. Ia menggendongnya. 'Benar-benar kucing yang sangat menggemaskan, pantes aja Ilyn sayang banget sama ni kucing,' batinnya. Ardo tidak perlu repot-repot lagi mencari makanan Miu, ia sudah bisa melihat di sisi kandang itu. Lalu ia menaruhnya sedikit pada wadah makanan kucing itu. "Kucing manis, sekarang waktunya makan." Ardo duduk di sofa sembari mengelus Miu di sampingnya yang sedang makan. Ardo tersenyum melihat kucing dengan bulu abu-abu itu, serta kalung bertuliskan Miu yang setia menggantung di lehernya. Tidak heran jika Aerilyn sangat menyayangi kucingnya itu. "Lo di kasih makan berapa kali, sama si bocil heum? Sampai lo jadi se-gemoy ini," ujar Ardo terkekeh. "Siapa yang dibilang bocil?" tanya Aerilyn sembari membawa panci yang kapan saja siap untuk melayang. Ardo memutar bola matanya, lalu ia menujuk Aerilyn sebagai jawabannya. Tentu saja hal tersebut membuat gadis itu merasa tidak terima dipanggil dengan sebutan bocil. "Itu panggilan baru gue buat lo! Lagian, lo itu orangnya ngeselin terus sifatnya masih kayak bocil. Selain itu, gue umurnya lebih tua satu tahun dari lo. Jadi, gak usah marah kayak gitu!" jelas Ardo membuat Aerilyn menghentakan kakinya ke lantai, setelahnya ia kembali ke dapur. Ardo kembali beralih menatap kucing gembul itu dan mengelusnya dengan gemas. Ia tidak berhenti untuk tersenyum saat memandangi Miu yang sedang makan dengan tenang itu. "Lo kalau boleh gue ambil, gue adopsi deh. Gemes banget! Pastinya gue bakalan jamin, lo bakalan lebih keurus daripada sama si bocil itu," ujar Ardo. Tanpa cowok itu duga, wajan sudah membuat kepalanya benjol. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Aerilyn. Gadis itu menatap nyalang pada Ardo, membuat sang empunya meringis. Ardo mengusap kepalanya yang sudah benjol akibat tercium wajan penggorengan berukuran kecil. Aerilyn dengan tanpa bersalah, langsung mengambil wajan itu dan kembali ke dapur. "Heran gue, kenapa dia bisa denger gitu ya, Miu? Padahal gue kira dia itu budeg," kata Ardo masih sambil mengusap kepalanya. "Aku denger!" teriak Aerilyn dari arah dapur. "Gue kira lo gak galak, tapi ternyata selain tukang ngadu ke Regan, lo juga judes plus galak minta ampun!" Ardo menatap tajam ke arah dapur. Di mana gadis itu sedang sibuk memasak mie instan. Setelah beberapa menit, Aerilyn menghampiri Ardo dengan membawa dua mangkuk mie goreng dan dua gelas air putih. Setelahnya ia duduk di samping cowok itu. "Ini mie goreng, tapi kenapa tapi gue liat lo masaknya direbus?" tanya Ardo basa-basi agar ada topik pembicaraan. Aerilyn menghela napas pelan, "basi banget sih, Kak. Ini mie goreng maksudnya enggak ada airnya, kalau yg ada airnya mie kuah." "Oh," jawaban singkatnya membuat gadis itu mendelik kesal ke arahnya. "Biasa aja kali itu mata, mau gue colok?" tegur Ardo membuat Aerilyn mengembuskan napas lelah. Setelah itu mereka mulai menikmati mie goreng yang tadi disiapkan oleh Aerilyn. "Sorry, Kak ... aku belum belanja, jadinya cuman bisa masak mie instan," ucap Aerilyn tak enak hati. Ardo menggeleng, padahal seharusnya ia yang meminta maaf. Sebab, ia dengan tidak malunya meminta makan di sini. Mereka kembali makan dengan tenang, Miu juga sudah entah ke mana. Mungkin saja ke kamar Aerilyn.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN