Bab 7

1584 Kata
"Eh, Kak Ardo udah bangun?" tanya Aerilyn dengan lembut, tetapi hanya dibalas dehaman saja oleh cowok itu. Ardo memang tadi setelah makan, ia merebahkan dirinya di sofa karena Aerilyn juga sedang bermain di kamar bersama Miu. Ternyata ia sampai ketiduran di sini, tetapi gadis itu tidak membangunkannya. Bahkan malah memakaikannya selimut. Aerilyn juga masih punya perasaan tak tega, apalagi takut mengganggu istirahat Ardo. Ia tidak sejahat itu kepada orang lain. Mungkin kakak kelasnya itu kecapekan atau seperti yang ia tahu, Ardo selalu bergadang. "Jam berapa?" kini giliran Ardo yang bertanya dengan suara serak khas baru bangun tidur. Cowok itu sudah mengubah posisinya menjadi duduk. Ia juga menyingkirkan selimut yang ada di tubuhnya. "Jam delapan malam, Kak," jawab Aerilyn yang langsung membuat Ardo melotot tidak percaya. Berarti selama 5 jam ia tidur di sini, sekarang ia seperti merasa malu tidur lama di apartemen Aerilyn. Untung saja bajunya masih utuh, ia juga tidak ingin Aerilyn melakukan hal yang tidak-tidak kepadanya. "Lo beneran gak apa-apain gue, 'kan?" tanya Ardo memastikan. Aerilyn mengangkat sebelah alisnya, ia selalu bermain bersama Miu. Bahkan ia juga sempat tidur dengan kucingnya di kamar selama 2 jam. "Enggak Kak, masa iya anak gadis kayak aku ngapa-ngapain cowok nyebelin kayak Kakak, sih?! Udah, sana pulang, gih! Ntar malah dicariin sama mamanya," ujar Aerilyn membuat Ardo berdecak sebal. Tiba-tiba saja perut Aerilyn mengeluarkan bunyi, tentu saja bisa ditebak jika ia sedang merasa lapar sekarang. Membuat Ardo seketika langsung menatapnya dengan satu alis terangkat. "Ehm, itu suara perut Miu. Ehm, aku mau ngasih makan dia dulu," ucap Aerilyn gelagapan. Saat Aerilyn hendak berjalan menjauh karena malu, Ardo malah menarik tangannya sampai-sampai teruduk di sebelah cowok itu. "Lo ngasih makan kucing lo mulu, dah. Mending sekarang lo ikut gue buat makan malem di luar," ujar Ardo seraya menatap gadis itu dengan lembut. Cowok itu tahu sepertinya Aerilyn sedang lapar, tetapi enggan untuk mengakui. Mungkin ia sungkan atau malu kepadanya, padahal ia tadi sudah menumpang makan juga di sini. Terliha jelas bahwa mata gadis itu berbinar mendengar ajakannya, tanpa basa basi ia segera menarik tangan cowok itu ke arah pintu untuk segera keluar. Akan tetapi, Ardo menahan diri, hingga Aerilyn susah untuk menarik dirinya lagi. "Ish, apalagi sih, Kak Ardo? Hm, nge-prank aku, ya?" tanya Aerilyn dengan mata yang menatapnya seperti mengintimidasi. "Ck, gue mau cuci muka dulu. Belum aja ngumpulin nyawa, lo jangan pake celana pendek banget gitu. Kurang bahan tuh, sekalian jangan bawa Miu nanti lo sendiri yang ribet," ungkap Ardo menjelaskan agar gadis itu tak salah faham. Sudah dipastikan sekarang pipi Aerilyn yang chubby itu menjadi merah bak udang rebus. Bukan karena salah tingkah, tetapi karena dirinya merasa malu sekali. Ia seperti orang yang sangat tidak sabar untuk diajak makan, belum lagi ia tidak sadar bahwa dirinya sedang mengenakan celana pendek, ia lupa di sini ada Ardo. Biasanya gadis itu memang tidak berani keluar memakai pakaian yang kurang bahan, ia hanya berani saat di dalam rumah. "Oh iya, gue sekalian minjem baju sama celana. Lo punya gak buat gue? Malu kalau malam-malam gini pake baju sekolah," ucap Ardo yang diangguki Aerilyn. Dengan segera Aerilyn masuk ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian. Ia juga meletakan Miu di kasurnya, terlihat kucingnya itu sepertinya sudah tertidur lagi. "Hm, serasa punya bayi," kekeh Aerilyn menatap kucingnya dengan gemas. *** "Kak Ardo, beneran loh ini gratis? Awas aja kalau nanti jadiin ini hutang, terus minta yang aneh-aneh! Aku takut gak bisa bayar loh, makanan yang Kakak pesen ini mahal-mahal," cerocos Aerilyn, ia masih ingin memastikan sebelum makan. "Ck, banyak bacot banget lo. Udah tinggal makan aja, ribet banget! Lagian kayaknya lo juga mampu kan, beli ini semua? Tinggal minta orang tua lo apa susahnya?" ujar Ardo dengan kesal sembari memakan makanannya. Aerilyn hanya cengengesan di tempatnya, mungkin Ardo mengira seperti itu karena sempat mengantarkannya ke rumah. Padahal sekarang ia sudah diusir dari rumah itu dan harus membiayai hidupnya sendiri mulai sekarang. Aerilyn mengingat tentang ia yang sangat membutuhkan pekerjaan, mungkin saja cowok yang ada di depannya ini mau membantunya. "Kak, ada lowongan pekerjaan gak? Ehm ... maksud aku, Kakak mau memperkerjakan aku, gak? Jadi apa aja deh, yang penting halal. Soalnya aku butuh banget duit," ujar Aerilyn dengan mulut penuh makanan. Ardo yang hendak menyuapkan potongan steak daging itu tidak jadi. Dia beralih menatap gadis di depannya dan mengangkat sebelah alisnya dengan bingung. "Lo orang berada, gue juga tahu rumah orang tua lo itu gedungan. Masa gak mau ngehidupin lo, sih? Orang tua macam apa yang tega sama anaknya sendiri. Masa iya, lo sampai kekurangan apalagi butuh," kata Ardo dengan menekan kata terakhirnya. "E-enggak gitu Kak, aku cuman mau hidup mandiri. Makanya kan, waktu itu aku pernah bawa-bawa koper? Nah, itu aku pergi dari rumah karena pengen mandiri." Aerilyn menunduk sembari memilin jari-jarinya. Ardo tertawa meremehkan, ia benar-benar baru tahu kalau ada orang seperti Aerilyn ini. Ingin mandiri sampai harus seperti itu, keluar dari rumahnya dan ingin mencari uang sendiri saat masih sekolah seperti ini. Ia tahu, orang tua gadis itu masih sangat mampu membelikan semua keperluannya. Akan tetapi, bukan Aerilyn namanya jika tidak mudah berdalih. Ia mengatakan memang apartemen itu diberikan oleh sang mama untuknya. Dia hanya ingin mencoba membiasakan diri untuk mandiri. Dia bahkan menawarkan dirinya untuk menjadi ART di rumah Ardo. "Sekali enggak, ya enggak! Lo minta uang aja sama mereka, lo gak usah minta kerjaan ke gue. Lo itu masih sekolah, masa mau jadi asisten rumah tangga, sih. Lagian, orang tua lo pasti mampu bayar sekolah dan ngasih biaya hidup lo!" tegas Ardo dengan raut wajah yang tidak suka dengan keinginan gadis itu. Entah kenapa, hatinya merasa sakit ketika merasa Aerilyn seperti sedang kesusahan. "Pasti ngeraguin aku, ya? Ish, aku bisa semuanya, kok. Ehm tapi kalau gak boleh jadi ART, aku bisa jadi asisten pribadinya Kak Ardo. Disuruh jadi apa aja deh, pasti mau. Disuruh ngerjain pr, masakin, disuruh jadi bodyguard juga boleh. Gini-gini jago bela diri soalnya," jelas Aerilyn yang masih tidak putus asa membujuk cowok tampan itu agar bisa membuatnya bekerja, demi mendapatkan pundi-pundi rupiah. Kali ini Ardo tidak ingin berdebat lagi, ia kembali makan makanannya yang tadi sempat tertunda. Entah kenapa dirinya sama sekali sangat tidak suka dengan keputusan Aerilyn yang katanya ingin mandiri itu. Ia juga masih merasa janggal dengan hal ini. Aerilyn tampak mengembuskan napas kecewa, ia bener-bener tidak tahu lagi harus meminta bantuin pada siapa. Regan saja sampai marah saat ia menelepon lagi untuk meminta pekerjaan. Katanya jika ia butuh uang, cowok itu akan memberikan berapa pun kepadanya. Tentu saja ia tidak mau, itu akan semakin membuat dirinya seolah-olah menjadi beban. "Wah, Ardo? Kebetulan banget ya, kita ketemu di sini?" ucap seseorang yang tiba-tiba saja datang menghampiri. Ardo memutar bola matanya malas saat tahu siapa yang menghampirinya. Ia bahkan kembali melanjutkan makannya tanpa mempedulikan keberadaan cewek itu. "Ish, makin sombong ya sekarang. Dulu aja bucin banget sama gue ... sekarang malah kayak orang asing," ucapnya yang kemudian duduk tanpa izin di kursi yang tersisa di meja mereka. "Ck, dasar gak tahu sopan santun," geram Ardo malah membuat cewek itu terkekeh. Sedangkan Aerilyn hanya menyaksikan itu sembari menikmati makanannya. Seolah-olah sekarang ia sedang menonton drama. Cewek cantik itu kemudian baru menyadari jika sedari tadi ada orang lain juga di antara mereka. Siapa lagi kalau bukan Aerilyn. "Eh, lo Adiknya Ardo, ya? Kenalin gue Anastasya Gabriella, mantan pacar Ardo. Panggil Kakak dengan sebutan Kak Tasya aja," ujar gadis itu mengulurkan tangannya. "Hah, gelar mantan aja bangga," celetuk Aerilyn tanpa menerima uluran tangan cewek itu. Tasya hanya gelagapan di tempatnya, mungkin merasa malu. Membuat Ardo menyeringai di tempatnya, sekarang giliran dirinya yang menonton drama ini. "Y-ya, bisa jadi kalau misalnya gue sama Ardo itu jodoh, 'kan? Jadi bangga aja gitu, apalagi kalau kita deket. Lo sebagai calon adik ipar gue, jadi gue mau minta nomor hp lo," ujar Tasya sembari menyerahkan HP miliknya. Aerilyn terkekeh pelan, sembari masih santai menyantap makanannya itu. Benar-benar seorang wanita yang tidak tahu malu menurutnya, seolah tidak sadar sudah menjatuhkan harga dirinya di depan cowok apalagi seperti Ardo. Belum lagi, mengira bahwa ia adalah adik cowok itu. "Ngarep! Malu dikitlah jadi cewek, harga diri dinaikin jangan rendah gitu. Ntar Kak Ardo bukannya jadiin Kakak cewek satu-satunya, tapi salah satunya. Abisnya Kakak murah, sih! Dasar tukang caper," cerocos Aerilyn dengan santainya, membuat Tasya menganga di tempatnya. Sedangkan Ardo ikut tersenyum meremehkan ke arah Tasya Ardo baru tahu kalau Aerilyn bisa lebih berani juga ternyata, kali ini ia seperti menemukan sosok baru di dalam diri gadis itu. Bisa dilihat sekarang Tasya sedang menahan amarah, mungkin dirinya tidak ingin terlihat jahat kepada orang yang ia anggap adalah adik Ardo itu. "Dek, kamu kok gitu, sih? Kan Kakak bicara baik-baik," ujar Tasya terlihat menahan sabar. Aerilyn tersenyum misterius, ia ingin tahu bagaimana jika Tasya tahu jika dia bukan adik dari Ardo. Dia ingin melihat tanduknya. "Ck, katanya mantan. Tapi pengetahuan tentang keluarganya aja gak tahu, Kak Ardo itu gak punya Adik," jelas Aerilyn dengan nada yang masih santai. "Lo—" Baru saja Tasya hendak menamparnya, tetapi tangan Ardo lebih dulu menahannya. Tatapan tajam tak luput ia berikan kepada mantan yang tidak tahu diri itu. Padahal dulu ia hanya main-main saja, tidak pernah serius. "Berani lo sentuh pacar kesayangan gue, mati lo dalam sekejap!" ujar Ardo dengan penuh amarah. Tasya yang sudah keburu malu, apalagi banyak dilihat pengunjung. Ia segera pergi keluar dari kafe itu dengan perasaan yang campur aduk, meninggalkan dendam dalam hatinya Ardo dan Aerilyn saling tatap dengan serius, tetapi setelahnya mereka tertawa dan ber-tos ria. Sejenak Ardo tiba-tiba kembali diam, sebab ia baru sadar kalau tadi ia tertawa lepas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN