"Hallo guys, inces comeback!" seru Serly memekakan telinga orang-orang yang berada di ruangan kelas itu.
"Widih, berlagak banget lo. Cuman balik dari toilet aja hebohnya kayak ayam bertelur," kata Erina berdecak jengkel.
Aerilyn yang tadi mengantarkan Serly ke toilet langsung duduk di tempatnya dan terkekeh. Untung saja sedang free class, jadi tidak akan kena amuk guru. Memang sekarang semua guru-guru sedang ada rapat dadakan.
"Ilyn, tadi dia bukan ke toilet, 'kan? Pasti malah ngapel tuh ke kelas pacarnya, yakan? Dasar macem-macem aja lu, jangan kebanyakan ngibul deh, jadi orang!" cerocos Erina menuding.
Seketika Serly yang baru saja duduk tenang, ia langsung menampakan wajah garangnya yang siap menerkam mangsanya. Entah kenapa mendengar tudingan dari Erina, membuat ia tersulut emosi, merasa tak terima dengan tuduhan yang bahkan tidak sama sekali ia lakukan.
Sedangkan Aerilyn hanya bisa terkekeh menghadapi kedua temannya yang sekarang sedang adu mulut itu. Ia tahu pasti mereka nanti akan membaik sendiri, sudah menjadi kebiasaan memang.
"Enggak kok, tadi dia beneran ke toilet," ujar Aerilyn menghentikan perdebatan mereka. Ia mengulum senyum, sembari menggeleng melihat tingkah mereka.
"Makanya gak usah fitnah jadi orang! Gak usah juga suka berprasangka buruk sama orang, kalau kelakuan borok lo ketahuan sama semua orang ... mampus lo!" cetus Serly dengan amarah yang meluap. Serta menatap gadis itu dengan tajam.
Entah kenapa Serly sampai marah seperti itu, biasanya juga biasa saja. Mungkin gadis itu sedang kedatangan tamu merahnya, sehingga sulit mengontrol emosinya sendiri.
"Maksud lo?!" Erina ikut emosi dan mendelik ke arahnya.
"Bacot banget lo! Denger ya, masih mending aja gue mau temenan sama manusia jenis lo ini!" ujar Serly yang sepertinya sudah keluar tanduknya itu.
Aerilyn yang melihat pertengkaran yang tidak seperti biasanya ini, ia mulai melerai mereka. Terlebih ia harus membantu meredakan emosi gadis itu, sepertinya mereka memiliki masalah tersendiri sehingga tidak bisa mengontrol emosi seperti ini.
Untung saja teman-teman kelasnya yang lain tidak terlalu memperhatikan pertengkaran ini. Mungkin saja mereka mengira sudah terbiasa dengan pertengkaran di geng Aerilyn ini.
"Diem lo, Ilyn! Masih mending aja gue mau temenan sama manusia macem dia itu karena lo, ya! Kalau gak mentingin perasaan lo, udah gue buang tuh dari dulu ke comberan!" kata Serly yang sepertinya serius dengan ucapannya sendiri.
Namun, setelahnya tiba-tiba Serly diam dan duduk dengan biasa di tempatnya setelah menyadari ucapannya tadi. Meski begitu, raut wajahnya masih terlihat kesal dan marah, dadanya naik turun karena benar-benar terbawa emosi. Ia harus lebih hati-hati untuk berbicara saat bersama Aerilyn.
Di mata Serly terdapat tatapan kebencian yang tersorot jelas untuk Erina. Mereka saling menatap tajam membuat Aerilyn yang tak tahu apa-apa hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu.
"Ser, kamu sama Erina ada masalah? Gak biasanya loh kalian berantem sampe kayak gini. Terus maksud ucapan kamu tadi itu apa?" tanya Aerilyn dengan hati-hati.
Serly malah membuang mukanya, ia tidak ingin menambah masalahnya semakin rumit. Apalagi sekarang ia memang sedang PMS, semakin menambah emosinya susah ditahan.
"Woy, katanya kita pulang!" seru Angga si ketua kelas yang sekarang berada di ambang pintu.
Sontak saja semuanya bersorak girang, kecuali Serly dan Erina yang tentu saja masih bergelut dengan pikiran masing-masing.
"Beneran Angga? Wah, cepet banget dong pulangnya," kata Aerilyn dengan matanya yang berbinar. Memang siapa yang tak senang kalau sekolah pulang cepat?
"Gue serius, tapi ...," Angga tampak menggantungkan ucapannya itu.
"Tapi apa?!" ucap teman-teman kelasnya dengan geram, tak sabar untuk menunggu kata selanjutnya.
"Tapi boong! Serius boongnya, haha ... kalian kena prank! Itu kameranya gue taro di situ, haha ...."
Suara tawa Angga menggema begitu saja. Namun, tiba-tiba yang lainnya malah sibuk duduk di tempat masing-masing dan membaca buku seolah-olah menjadi rajin. Atau mungkin sedang kesal pada Angga sehingga mereka seperti itu.
"Ck, lawakannya garing banget," ujar seseorang di belakang Angga.
Angga yang mendengarnya langsung membalikan badan, seketika ia gelagapan. Ia melihat ada Bu Pretty di belakangnya, ia hanya cengengesan tidak jelas membuat guru perempuan itu berkacak pinggang di tempatnya.
"Dasar ketua kelas yang tidak patut dicontoh. Lihat tuh, yang lainnya pada baca buku ... lah, ini ketua kelasnya malah sibuk ngelawak di depan pintu, mana lawakannya garing banget kayak kerupuk," cerocos Bu Pretty sembari menggelengkan kepala.
"Basahin aja Bu, biar kerupuknya gak garing," ujar Angga cengengesan.
Angga mendelik ke arah teman-temannya yang sekarang tampak sedang menahan tawa. Ia merasa bukan dirinya yang memberikan prank, tetapi dia yang diprank balik oleh teman-teman kelasnya. Membuat ia mengumpat dalam hati.
Angga segera duduk di tempatnya saat dipersilakan oleh Bu Pretty.
"Baiklah semuanya, guru-guru hari ini sangat benar-benar sibuk. Jadi, kalian semuanya hari ini dipulangkan," jelas Bu Pretty.
Sontak saja semua murid bersorak girang, sedangkan Angga malah menganga di tempatnya. Tidak menyangka kalau yang tadinya prank malah menjadi kenyataan.
***
Aerilyn berjalan santai beriringan dengan Serly di koridor. Di sini masih tampak ramai karena yang lain juga sedang bergegas untuk pulang. Mereka hanya berdua saja, tadi Erina pergi terlebih dulu tanpa pamit. Mungkin masih merasa kesal karena dimarahi oleh Serly.
"Ilyn!"
Serly dan Aerilyn berbalik dan melihat sosok yang memanggilnya tadi. Ternyata dia Ardo, ia membawa paper bag di tangan kanannya. Tampak cowok itu segera menghampiri.
Serly yang sepertinya sadar diri takut mengganggu, ia segera pamit dengan berdalih sudah ditunggu oleh Regan di parkiran karena mereka sudah ada janji.
"Ini baju lo yang kemaren gue pinjem. Thanks, ya! Gue gak nyangka sih, lo ternyata punya kaus sama celana buat cowok. Punya mantan lo, ya? Haduh, masih aja disimpen." Ardo menyerahkan paper bag itu.
Aerilyn menerimanya dengan senyum manis yang tercetak jelas di sana, lalu ia juga seperti mengeluarkan jaket dari tasnya.
"Ini jaket Kakak, makasih juga udah pinjemin. Btw, udah aku cuci sampe wangi, kok! Ehm, sebenernya itu bajunya Kak Regan sih, waktu itu pernah minjem kan nginep di sana. Nanti aku balikin hehe," kata Aerilyn sembari mengulurkan jaket itu.
Orang-orang yang memang masih berada di sekitarnya ikut memperhatikan interaksi kedua insan itu. Mereka malah menyangka jika Aerilyn dan Ardo sedang bertukar hadiah, apalagi setelah ada gosip bahwa mereka semakin dekat akhir-akhir ini.
Gosip itu tentu saja mereka dapatkan dari sosial media GOSIP SMAP. SMAP sendiri adalah singkatan dari SMA Pelita. Pemegang sosial media itu juga ada pada salah satu anak SMA ini. Yang memang dikhususkan untuk para pelajar ini saja, bahkan guru-guru pun tidak ada yang tahu karena mereka sengaja menyimpan dengan sangat rapi.
"Ekhem, PJ-nya dong Mas, Mbak," celetuk Fano yang tiba-tiba saja datang menghampiri.
"Peje, apaan sih ogeb?!" tanya Ardo dengan sewot.
"Lah, gue kira kalian udah jadian?" kata Fano yang merasa linglung sendiri.
Ardo menjitak kepala Fano, sudah bisa ia duga temannya yang satu itu menduga-duga karena gosip yang di buat di akun IG GOSIP SMAP.
"Shh, galak bener sih, lo! Sama si Ilyn aja lo baik banget tadi," ucap Fano dengan kesal.
Ardo menatap tajam Fano, sehingga sekarang cowok itu malah cengengesan tidak jelas. Setelahnya ia meninggalkan mereka berdua, sepertinya memang tadi ia sudah cukup mengganggu.
"Btw, thanks banget ya, Ilyn. Semalem lo nemenin gue, sampai akhirnya mantan pacar gue yang disitu ngira kita emang pacaran," ujar Ardo dengan tulus meski sedikit gugup.
"Santai aja, Kak. Btw, kalau Kak Ardo mau bayar aku buat pura-pura jadi pacar, adik atau apa pun itu boleh kok, asal dibayar," kata Aerilyn dengan cengiran polos khasnya.
Ardo menatap Aerilyn dengan ekspresi yang memandang kasihan kepadanya. Tentu saja membuat gadis itu gelagapan di tempatnya, mungkin tadi ada kata-kata yang kurang tepat.
"Lo meskipun dibayar jangan mau buat dimanfaatin!" ucap Ardo dengan nada yang menahan kesal.
"Gak papa, hidup itu keras. Kan yang terpenting halal dan tidak menekan batin," ungkap Aerilyn dengan tatapan polos nan lugu kepada cowok yang ada di hadapannya ini.
Entah perasaan Aerilyn saja atau memang kenyataanya, Ardo tampak tidak suka bahkan beberapa kali berdecak jengkel. Tatapannya saja sekarang berubah menjadi tajam seperti dulu.
"Yaudah jadi simpanan Om-Om aja sana!" kata Ardo dengan ketus.
"Ih, apaan, sih? Aku emang bisa dimanfaatin, aku emang butuh duit, tapi enggak buat jadi murahan kayak gitu!" bentak Gadis mungil itu dengan nada yang bergetar.
Ardo merasa bersalah, tetapi satu sisi ia merasa gemas melihat wajah imut nan lucu yang ditampakan oleh Aerilyn. Bibir mengerucut, disertai dengan tatapan mata yang menghanyutkan.
"Hih, iya maaf-maaf ... btw lu gak mau pulang sama gue? Tadi Regan nitipin lo ke gue, dia harus nganter Serly katanya mau nganter ceweknya ke mall," kata Ardo dengan ekspresi yang sulit Aerilyn deskripsikan.
"Gak usah! Pulang sendiri aja!" Aerilyn seperti menunjukan wajah ingin menangis.
Gadis imut yang masih terlihat seperti anak kecil itu, semakin membuat Ardo ingin sekali merengkuhnya ke dalam dekapannya. Namun, ia tidak berani apalagi ini masih di lingkungan sekolah.
Aerilyn berbalik dan hendak pergi meninggalkan cowok itu. Akan tetapi, Ardo langsung menahan tangannya. Hal ini seperti kebiasaanya saja, sebab sudah beberapa kali ia seperti ini.
"Ck, lo mau pulang jalan kaki? Bisa gempor kaki lo! Hm, atau ke halte? Bukannya Regan bilang lo lupa gak bawa uang?" cegah Ardo.
Aerilyn tampak sedang berpikir sejenak.
"E-ehm yaudah ngambeknya tunda dulu, deh. Besok lanjutin lagi," ucap Aerilyn tampak salah tingkah.
'Antara gemes sama pengen nyubit ginjalnya,' gumam Ardo dalam hati.
Ardo kemudian berjalan terlebih dahulu ke parkiran. Hari ini ia sengaja membawa mobil mahal kesayangannya. Sebenernya ia sengaja, sebab takut jika alergi Aerilyn dapat kambuh sewaktu-waktu akibat terkena angin karena naik motor. Mungkin untuk ke depannya, cowok itu akan terus membawa mobilnya dan mulai menyingkirkan sebentar motor kesayangannya itu.