Bab 9

1655 Kata
Aerilyn berjalan-jalan pada sore hari ini, ia menghentikan langkahnya di sebuah taman yang menurut ia itu lumayan memanjakan mata. Di tengah-tengah taman terdapat banyak sekali bunga warna warni yang tersusun rapi terlihat sangat indah, banyak juga pengunjung lainnya yang tampak berfoto ria bersama pasangan mereka masing-masing. Ya, kebanyakan memang mereka masih remaja yang seusianya. ia terkekeh sendiri melihat kemesraan orang-orang yang bahkan sangat terlihat bucin. Senyuman manis di bibir gadis itu tidak pernah pudar, ia bahkan masih berduduk santai di bangku panjang putih yang tersedia di sana. Ia memejamkan mata sembari menikmati embusan angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah cantiknya. Membuat anak rambut yang tak diikat itu menari-nari mengikuti arah angin. Sampai akhirnya pendengaran Aerilyn yang tajam, samar-samar ia mendengar teriakan ibu-ibu meminta tolong dari seberang jalan. Gadis itu membuka matanya, ia berjalan menuju arah sumber suara. Sampai akhirnya penglihatannya itu menangkap sosok wanita setengah baya yang sedang ditodong oleh dua orang preman dengan tampilan yang terlihat berantakan dan terlihat sangat seram. Tak luput juga dengan tatapan tajam yang mereka berikan pada ibu yang tengah ketakutan itu. Hal tersebut membuat Aerilyn berdecak kesal. Aerilyn berlari ke seberang jalan, lalu dengan gerakan cepat ia menendang perut preman yang tadi mengarahkan pisau kepada ibu-ibu itu. Sehingga pisaunya jadi jatuh. "Ck, cowok beraninya sama cewek, ya? Hais, gimana nih, kok kalian malah berani mau nodong apalagi ini ibu-ibu kayak gini? Akal sehatnya dijaga Mas, eh atau tadi jatoh di jalan?!" kata Aerilyn dengan polosnya. "Dasar bocah ingusan, banyak bacot banget lo! Gede juga nyali lo, ya? Sampe berani banget sama kita yang preman ginI," kata preman yang mengunyah permen karet itu dengan terkekeh meremehkan. "Hadeuh, tolonglah ... kasian tuh, perut buncitnya kalau dikasih asupan makanan yang dibeli pake uang haram. Kerja dong kalau mau makan, banyak tahu kerjaan. Ya, meski susah seengaknya berusaha, lah!" ujar Aerilyn menasehati. "Berasa lagi nonton ceramah gue Bro," kata preman berambut gondrong menatap teman di sebelahnya. "Ck, kalau mau selamat kasih dong itu kunci mobil sama tas yg dipegang!" bentak preman satunya dengan wajah sangarnya yang siap menerkam mangsa. Ibu-ibu itu terlihat sangat ketakutan, apalagi mungkin tadi ditodong oleh pisau. Sampai-sampai dia bersembunyi di balik tubuh mungil Aerilyn. Mengikuti nalurinya yang ingin selamat, apalagi ia masih memikirkan sang anak yang sudah ditinggal oleh ayahnya. Hanya ia tulang punggung keluarga, meski sebenarnya sang anak bisa meng-handle semuanya. akan tetapi, ia tak ingin mengganggu sekolah anaknya itu. Preman tadi hendak menarik tas yang ada di tangan ibu itu, tetapi secepat kilat juga Aerilyn menangkis tangannya. Tentu saja hal tersebut membuat kedua preman tadi sangat marah. Alhasil mereka melawan gadis itu. Akan tetapi, tidak disangka ternyata Aerilyn lumayan jago juga untuk melawan mereka, bahkan beberapa kali malah preman itu yang terkena pukulan dan tendangan dari gadis mungil itu. "Kecil-kecil cabe rawit," lirih ibu yang ada di belakangnya. Meskipun masih tampak syok karena kejadian yang ia alami ini, bibirnya tak luput untuk menarik sebelah sudut bibirnya. Aerilyn menendang kedua preman itu, sampai akhirnya mereka kembali terjembab di jalan. Mereka sudah tampak kelelahan melawannya, padahal gadis itu hanya seorang diri melawan mereka. Dua preman itu tampak saling lirik, kemudian tanpa Aerilyn ketahui, salah satunya sudah mengambil kembali pisau yang tergeletak itu. Sampai akhirnya Aerilyn hampir kecolongan, saat salah satu preman itu hendak menghunuskan pisau pada perut ibu tadi. Beruntung secepat kilat ia menghalanginya dengan cara menggenggam erat pisau itu, tidak peduli dengan tangannya yang terluka. Setelahnya Aerilyn menendang kepemilikan preman itu, ia terpaksa melakukannya karena hanya itu kelemahan pria yang bisa ia manfaatkan sekarang. Ia bersyukur juga genggaman tangan premannya pada pisau itu terlepas sehingga ia bisa langsung membuang pisau itu. "Tante, ayo cepet masuk ke mobil! Sini kuncinya biar aku yang nyetir. Tante kelihatannya masih syok, takut gak kuat bawa mobil," ujar Aerilyn, berbicara secepat kilat. Aerilyn segera mengambil kunci mobil itu dari tangannya, setelah itu ia membantu ibu itu masuk ke dalam mobil samping kemudi. Sedangkan dirinya di bagian kemudi, karena ia yang akan mengemudi. "M-makasih Dek, sudah menyelamatkan Tante. I-itu tanganmu terluka, banyak darah!" kata ibu itu dengan suara bergetar. Aerilyn merobek sedikit bagian bawah dress putihnya itu, lalu ia meminta bantuan agar ibu itu mengikatkan kainnya pada tangannya. Setelah itu dia mengemudikan mobil dengan tampak tenang, padahal ia belum tahu rumah ibu itu. Ia sengaja agar bisa menjauh dari preman yang masih tergeletak di jalanan itu dengan wajah penuh kesakitan. Sedangkan teman preman yang satunya tampak mencoba membantunya untuk berdiri. "Oh iya, rumah Tante di mana? Biar aku langsung anter ke rumahnya, agar Tante bisa istirahat," ucap Aerilyn dengan senyum manisnya. Ibu itu sontak saja menyebutkan alamat rumahnya. Akan tetapi, ia merasa heran kepada gadis yang ada di sampingnya ini, ia terlihat tenang dalam menyetir bahkan wajahnya sedari tadi tidak pernah meringis karena luka di tangannya itu. "Dek, biar saya saja yang menyetir. Apa kamu tidak merasakan sakit di tanganmu? Lukanya sangat dalam harus segera diobati, tapi sayangnya Tante tidak bawa kotak obat. Atau kita ke rumah sakit dulu, yuk!" ujarnya dengan wajah sendu. Aerilyn tersenyum menatap ibu yang ada di sampingnya itu. "Gak apa-apa Tante, bagi aku ini itu luka kecil yang gak ada apa-apanya. Lagian Tante kayaknya masih syok deh, mending sekarang Tante tiduran dulu. Kalau sudah sampai di tempat tujuannya, aku bangunin." Ibu itu hanya mengangguk saja, ia tidak ingin banyak berbicara lagi karena memang keadaanya sekarang masih syok. Terlebih jika ia mengingat saat preman-preman tadi hampir membunuh ia dua kali, kalau saja tidak ada penyelamat yang dikirim Tuhan lewat Aerilyn. Aerilyn tersenyum melihat wajah cantik ibu itu yang sedang memejamkan mata. Ia hampir membayangkan bagaimana jika dirinya bisa satu mobil dengan orang tuanya seperti ini. Sebelumnya memang ia tidak pernah merasakan hal seperti itu. Sekarang malah hatinya yang sakit kala mengingatnya. Mungkin itu maksud dari luka dari tangannya tidak apa-apa dibandingkan dengan luka hatinya sebagai seorang anak yang tak pernah mendapat kasih sayang orang tuanya, terlebih dari sosok ibu yang selalu ia harapkan pelukan hangatnya. Aerilyn harus menghapus rasa sesaknya dan tetap fokus untuk menyetir, ia tidak boleh mencelakai orang lain nantinya. Kalau sampai hal yang tak diinginkan terjadi, apa gunanya tadi ia membantu ibu yang ada di sampingnya itu. Akhirnya setelah beberapa menit ia sampai di rumah gedung nan mewah milik ibu tadi. Ia kembali melihat nomor rumah yang tadi ibu itu sebutkan, dari luar memang terlihat sangat sepi apalagi gerbang yang terbuka begitu saja. Alhasil itu lebih mudah membuatnya untuk masuk ke halaman rumah itu. "Tante, bangun! Kita sudah sampai," ucap Aerilyn dengan lembut, disertai membelai lembut pipi wanita tersebut. Ibu itu membuka matanya perlahan, lalu ia bisa melihat kalau dirinya sudah sampai dengan selamat. "Ayo, Tante keluar dari mobil! Aku antarkan Tante ke dalam, ya? Sebentar ... aku keluar duluan." Aerilyn melepas sabuk pengaman, setelahnya ia keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Ibu itu. Tentu saja perhatian darinya membuat siapa pun akan merasa terharu dan tersanjung. Layaknya perhatian seorang anak untuk sang ibu. Aerilyn membantu ibu itu untuk berjalan meski tangannya masih sakit, tetapi ia tetap peduli karena kelihatannya orang yang ia tolong masih terlihat lemas. Ya, sebenarnya ia hanya menahan rasa sakit itu. "Hati-hati Tante jalannya, Tante masih lemes banget," kata Aerilyn dengan lembut. Ia membuka pintu, lalu setelahnya ia juga membantu ibu tadi untuk duduk si sofa. Tampak ada seorang wanita paruh baya yang tergopoh-gopoh menghampiri dengan wajah yang terlihat khawatir. "Ya, ampun ... Nyonya kenapa?" tanya wanita setengah baya itu, sepertinya ia IRT di rumah ibu ini. "Saya habis ditodong, Bi Inem," jawab ibu itu dengan lemas. "Ehm maaf Bi, dapurnya di mana, ya?" tanya Aerilyn dengan sopan. "Oh itu, dari sini lurus aja terus belok kanan. Nah, mentok di situ Neng," jelas Bi Inem membuat Aerilyn mengucapkan terima kasih. Tampak dari tangga terlihat anak tunggalnya, cowok itu menuruni tangga sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk di tangannya. Tetapi, santainya itu berubah menjadi khawatir saat melihat ibu kandungnya terlihat lemah di sofa dengan pembantunya yang masih sibuk memijat kakinya. "Mami?! Oh my good, Mami kenapa lemes gini?" tanya putra semata wayangnya itu dengan sorot khawatir. Belum saja terjawab, tiba-tiba ada sosok gadis yang malah bertanya kepadanya. "Loh, Kak Ardo kok ada di sini? Ngikutin aku, ya?" tanya Aerilyn yang baru saja datang dengan segelas air putih di tangannya, sedangkan satu tangannya menunjuk wajah Ardo dengan pandangan mengintimidasi. "Huftt, lupakan lah, Kak!" ucap Aerilyn dengan tak acuh saat mendapat tatapan tajam dari cowok yang selalu membuatnya kesal itu. Kemudian, Aerilyn segera membantu minum ibu yang disebut mami oleh Ardo tadi dengan hati-hati dan penuh perhatian. "Lah? Ini rumah gue lah! Harusnya gue yang nanya, ngapain lo di rumah gue?!" bentak Ardo dengan kesal. "Ardo sayang, kamu gak boleh gak boleh kasar gitu sama dia," ujar ibu itu yang seketika membuat Ardo diam. "Iya Mi, maaf." Ardo langsung duduk di samping maminya itu. Aerilyn sudah bisa menyimpulkan kalau ibu itu adalah mami Ardo. Ia jadi salah tingkah sendiri, merasa malu karena tadi menuding kakak kelasnya itu membuntuti ia ke sini. "Ehm, emang bener ya, Tante. Kalau ada ibarat, sesangar apa pun wajah cowok kalau sudah di hadapan Ibunya, dia akan berubah menjadi anak yang sangat lemah lembut," ujar Aerilyn sembari terkekeh. Sebenernya ia hanya ingin mencairkan suasana saja karena tadi berhasil dikuasai oleh rasa canggung. Tentu saja Ardo melotot tidak percaya kepada Aerilyn. Entah sejak kapan gadis itu bisa berada di rumahnya saat ini. "Oh iya, nama Ibu ... Nani. Kalau nama kamu siapa?" tanya Ibu yang diketahui bernama Nani itu. "Aerilyn Tante," jawabnya sembari tersenyum manis. Ardo mengalihkan pandangannya, tampak ia melihat kain putih yang sudah berubah menjadi warna merah itu di tangan Aerilyn, tentu saja hal itu membuatnya kebingungan. "Lyn, tangan lo kenapa?" tanya Ardo. "Ya, ampun. Mami sampai lupa, Ardo cepat obatin tangan Aerilyn! Kalau perlu bawa ke Dokter, tadi tangannya megang pisau erat banget," kata Nani dengan wajah khawatir. Tentu saja hal itu membuat Ardo membelalakan matanya, entah bagaimana kejadiannya ia tidak tahu. Bahkan ia juga masih bingung karena Aerilyn bisa mengenal maminya. Sejenak membuat ia merasa menjadi patung di tempatnya duduk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN