Tangan Aerilyn sekarang sedang diobati oleh Dokter Anggita. Tadi Ibu Nani sengaja meminta Ardo untuk memanggil Dokter pribadi keluarga mereka agar bisa cepat diobati. Meski gadis itu menolak tetapi bagaimanapun juga mereka tetap kekeuh, apalagi takut jika luka tangannya infeksi. Mereka harus bertanggung jawab mungkin balas budi nantinya, sebab telah ditolong olehnya.
Ardo juga sudah tidak lagi bingung tentang persoalan yang tadi, sebab sudah dijelaskan oleh maminya dengan detai. Ia bahkan sangat harus berterima kasih kepada Aerilyn, karena gadis itu sudah menyelamatkan nyawa orang yang ia sayang. Ia tidak tahu bagaimana jika gadis itu tidak datang, ia akan menjadi anak yang merasa tidak becus menjaga ibu kandungnya sendiri. Mungkin nantinya ia harus menyewa bodyguard untuk menjaga sang ibu agar hal yang tak diinginkan seperti kejadian hari ini tak kembali terulang lagi ke depannya.
"Sudah selesai ya, coba jangan terkena air dulu. Takutnya nanti malah perih ... jangan khawatir, ini akan cepat sembuh karena beruntungnya tidak terlalu dalam terkena pisaunya," jelas Dokter Anggita membuat mereka mengembuskan napas lega atas penjelasannya.
"Terima kasih, Bu Dokter," ucap Nani seraya tersenyum.
Dokter itu membalas juga dengan tersenyum lalu pamit untuk pulang karena sudah selesai mengobati Aerilyn.
"Kalau gitu, aku juga mau pamit pulang ya, Tante. Kasihan Miu sendirian di apartemen," kata Aerilyn dengan wajah cemas. Sebenarnya sedari tadi pikirannya terus tertuju pada Miu, kucing kesayangannya. Ia khawatir apalagi seingatnya sejak dari sore belum diberi makan olehnya.
"Kamu punya Adik? Terus kalian hanya tinggal berdua di apartemen?" tanya Nani.
"Bukan Adik, Mi. Tapi Miu itu nama kucing, dia emang sayang banget tuh sama kucingnya, lebih-lebih sayang sama orang dia mah. Bahkan Mi, si Ilyn lebih perhatian sama tu kucing daripada dirinya sendiri. Masa dia itu kurus kecil gitu, sedangkan kucingnya malah gembul banget karena keseringan dikasih makan." Ardo ikut nimbrung, membuat Nani terkekeh karenanya.
"Ya, ampun, segitu sayangnya kamu sama kucing kamu ... tapi sayang, tangan kamu masih luka gitu, takutnya nanti agak kesusahan kalau mau apa-apa. Kalau di sini, kan bisa minta bantuan Bi Inem atau Tante dan Ardo," kata Nani memberikan pengertian sembari mengelus tangan gadis itu.
Nani malah menyarankan kalau Aerilyn menginap saja di rumahnya. Nanti ia akan diantar ke apartemen terlebih dahulu oleh Ardo untuk mengambil kucing dan seragam sekolah untuk besok serta beberapa baju ganti.
Ardo juga bahkan sangat setuju dengan pendapat maminya, ia ingin berbuat baik seperti ini hanya karena gadis itu telah menyelamatkan sang ibu. Tadinya Aerilyn tetap menolak, tetapi karena terus didesak, akhirnya ia hanya pasrah saja untuk menyetujui hal itu.
***
Setelah makan malam tadi, Aerilyn diajak oleh Ardo dan Nani ke ruangan lain untuk menonton acara televisi. Sebenarnya hanya Nani saja yang benar-benar menonton televisi dengan duduk manis di sofa, sembari mengelus lembut Miu yang berada di pangkuannya, sedangkan Aerilyn malah sibuk menganggu Ardo yang sedang bermain game online di handphone, duduk di bawah yang beralaskan karpet bulu.
"Ish, jangan ganggu dong! Gue lagi mabar, nanti temen-temen gue nyalahin gue nih, kalau kalah," kata Ardo kesal, tentu saja membuat Aerilyn mencebik.
"Tante lihat, tuh! Kak Ardo mah baiknya sama Tante aja, kalau sama aku dia suka galak," ucap Aerilyn mengadu sembari menatap Nani dengan lugunya.
Nani hanya terkekeh melihat tingkah mereka. "Kalian ini ya, udah kayak Abang sama Adik aja. Tante jadi seneng ada anak cewek di sini."
"Halah, dia mah emang kayak gitu, Mih. Si tukang ngadu, di sekolah sukanya apa-apa ngadu sama Regan, padahal gak aku apa-apain. Mentang-mentang deket banget kayak perangko sama si Regan, seenaknya apa-apa ngadu sama temen dia Mih," ujar Ardo yang masih fokus dengan game yang ia mainkan di ponselnya.
Aerilyn segera pindah duduk, ia ingin duduk bersebelahan bersama Nani, sekalian ingin ikut mengelus Miu. Ia sepertinya sangat tidak bisa jika tidak mengelus kucingnya yang menggemaskan itu.
"Oh, jadi kamu juga kenal deket sama Regan?" kata Nanti mengangguk paham.
Aerilyn seketika langsung berceloteh ria, ia menjelaskan bahwa Regan dan dirinya sudah sahabatan sejak dari SMP. Ia bercerita banyak sekali, kecuali tentang masalah hidupnya tentunya. Ardo bahkan rela menghentikan bermain gamenya, agar tidak kehilangan momen melihat wajah menggemaskan gadis itu saat berceloteh dengan polosnya. Ia terlihat sangat imut.
"Tante, Kak Ardo mah emang beneran galak tahu sama aku. Dulu ya, kalau aku kasih dia makanan, dia malah buang ke tong sampah. Ehm, satu lagi nih, Kak Regan suka dipukulin sama Bundanya gara-gara ngater Kak Ardo ke klub mulu," ucap Aerilyn, ia mengakhirinya dengan menyebutkan keburukan Ardo.
Ardo yang tadinya tersenyum mendengar celotehan gadis itu, ia sekarang malah memutar bola matanya jengah karena mengadu lagi pada maminya. Merasa sia-sia karena menghentikan acara main bareng game online-nya
"Iya, maafin Ardo ya, sayang. Dia kalau udah keras kepala sangat susah sekali dibujuknya, semenjak Papanya meninggal memang Ardo berubah jadi galak kayak gitu," jelas Nani.
"Mih, itu aib ... jangan mulai, deh!" kata Ardo dengan tidak suka.
"Hm, tapi meski begitu. Kak Ardo itu beruntung banget punya seorang Ibu kayak Tante Nani. Jadi iri aku," ucap Aerilyn sembari cengengesan.
"Hum, Tante juga pengen punya anak perempuan juga sebenarnya biar lengkap sepasang gitu. Kalau kamu suka sama Ardo boleh tahu pacaran malah seneng loh Tante," kata Nani, tentu saja membuat kedua remaja itu terkejut bukan main, tetapi tetap saja bahasa tubuh tidak bisa membohongi rasa.
"Bercanda, tapi kalau serius juga boleh, sih. Oh iya, mulai sekarang kamu panggil Tante dengan sebutan Mami aja," ujar Nani.
Aerilyn sepertinya tidak keberatan, ia merasa jika semakin banyak orang-orang yang menyayangi dirinya. Itu cukup membuatnya merasa lebih bahagia, meski ada setengah jiwanya yang selalu meronta meminta kasih sayang orang tua kandungnya. Akan tetapi, sepertinya Ardo rela tidak rela untuk membagi kasih sayang maminya pada adik kelasnya itu karena ia tak bisa membantah ucapan sang ibu.
"Hadeuh, awas aja lo kalau Mami gue lo rebut! Siap-siap duel sama gue," kata Ardo tanpa beban, sedangkan Aerilyn hanya memeletkan lidahnya sembari terus memeluk Nani dengan erat.
"Yakin? Yang ada nanti malah kamu yang patah tulang," kata Nani membuat Ardo membelalakan matanya tidak percaya.
"Ya udah, Ilyn ... kamu tidurnya sama Mami, ya? Biar kita makin deket," ucap Nani yang diangguki oleh Aerilyn.
"Bye, Kak Ardo! Aku mau tidur sama Mami baru aku ini. Btw jagain Miu ya, ajakin aja tuh si Miu buat tidur bareng Kak Ardo," Aerilyn melambaikan tangannya dengan songong kepada Ardo.
Dengan masih memeluk Nani, ia terus berjalan mengikuti langkah wanita itu menuju kamar yang akan mereka tempati.
"Ilyn, kamu gerah enggak? Maaf ya, kalau mau tidur Mami harus matiin AC, takut nanti malem kedinginan terus alergi dinginnya Mami kambuh."
"Eh, Mami punya alergi dingin? Wah ... sama dong, aku juga punya alergi dingin," kata Aerilyn melirik Nani.
Setelah itu entah bagaimana mereka malah heboh sendiri, kemudian mereka terus berbincang-bincang tanpa mengenal waktu. Bahkan tertawa terbahak-bahak, sungguh Aerilyn bahkan Nani sepertinya baru pertama kali bisa sefrekuensi begini meski baru saja dekat.
Sedangkan Ardo yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu kamar itu sembari mendengarkan pembicaraan mereka. Bukan tidak sopan, ia hanya sedikit kepo saja.
"Oh iya, kamu kok berani ya tinggal di apartemen hanya sama kucing kamu? Orang tua kamu di luar negeri?" tanya Nani.
Seketika wajah Aerilyn yang tadinya ceria seketika menjadi murung. Entah bagaimana lagi sekarang tiba-tiba rasa sesak itu muncul begitu saja. Tentu saja perubahan itu disadari oleh Nani.
"Eh, kamu kenapa sayang? Ucapan Mami salah, ya? Aduh maaf," Nani mencoba memeluk gadis itu dan mengelus lembut punggungnya.
Tiba-tiba saja tanpa diduga, Aerilyn menangis dengan kencang. Ardo saja yang menguping merasa heran dan khawatir.
Entah kenapa pertahanan Aerilyn selalu runtuh kala orang bertanya keadaanya, apalagi jika ia mendapatkan pelukan hangat seperti tadi. Itu akan sangat membuatnya ingin menangis, menumpahkan segala sesak yang selalu ia tahan.
"Kamu mau cerita? Mami siap dengerin, siapa tahu kamu bisa lega."
Aerilyn memeluk erat Nani, meski dengan suara sesegukan ia terus berusaha menjelaskan permasalahan hidupnya. Ia adalah anak broken home, korban keegoisan orang tua. Bahkan, mereka tega menelantarkan, jikalau Regan tidak meminta haknya untuk mendapatkan tempat tinggal. Bahkan dirinya saja harus mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya itu.
Ardo mengepalkan tangannya, hingga buku-buku tangannya memutih. Ia merasa emosi dengan orang tua Aerilyn, apalagi saat mendengar dari setiap katanya yang mengandung luka. Ternyata sedari kemarin itu alasannya dia meminta pekerjaan kepadanya.
"Sudah sayang, kamu jangan terus seperti ini. Ingat ya, masih banyak sekali orang-orang yang menyayangi kamu dengan sangat tulus. Kalau kamu mau, kamu bisa jadi anak angkat Mami, sayang ...," ucap Nani dengan tulus.
Entah untuk keberapa kalinya Aerilyn merasa tersanjung dengan kebaikan-kebaikan orang yang ada disekitarnya. Dia merasa menjadi orang yang kurang bersyukur karena selalu berdiam diri di lubang hitam, tanpa mau menerima uluran tangan orang-orang baik yang ingin menariknya pada kebahagiaan.
"Mami, sekarang aku bener-bener lega. Aku harap, Mama sama Papa aku gak akan pernah libatin aku lagi buat masuk ke dalam penderitaan yang mereka buat untuk aku," lirih Aerilyn dengan sendu.
"Iya Sayang, nanti kalau ada apa-apa kamu jangan sungkan untuk cerita sama Mami ya. Malah Mami akan senang sekali kalau kamu mau selalu terbuka.
Aerilyn mengangguk, kemudian Nani juga membantu ia menghapus air matanya. Gadis itu memang benar-benar lega karena bisa berbagi cerita selain pada Regan ataupun Serly dan Bu Julaeha.
Ardo mengembuskan napas panjang, ia merasa jadi laki-laki jahat karena dulu selalu membuat Aerilyn sakit hati atas perlakuannya.