Untuk pertama kalinya Ardo berangkat ke sekolah bersama dengan seorang perempuan. Apalagi sosok perempuan itu adalah Aerilyn.
Saat mereka berdua keluar dari mobil, banyak sekali mata yang memandang ke arah mereka dengan pandangan yang entah apa itu. Sepertinya mereka memiliki pertanyaan tersendiri, mengapa dua sejoli itu berangkat sekolah bersama untuk pertama kalinya. Bahkan, sepertinya akhir-akhir ini mereka berdua terkenal lebih dekat karena Ardo sering mengantarkan Aerilyn. Memang sangat jauh berbeda dengan dulu, saat mereka hampir setiap bertemu akan seperti Tom and Jerry.
"Waw, gercep banget, nih. Perasaan kemarin baru PDKT. Eh, sekarang udah jadian," celetuk Fano yang tiba-tiba menghampiri. Diikuti oleh Serly dan Regan di belakangnya.
"Pantes aja, sekarang udah hampir gak pernah berantem. Ya, gak ayang?" kata Regan menyenggol bahu Serly.
Serly hanya terkekeh, sedangkan Aerilyn malah tampak salah tingkah. Ardo hanya menatap mereka dengan pandangan datarnya, seperti biasa.
"Aku sama Kak Ardo bareng juga karena nginep di rumahnya. Di suruh sama Mami Kak Ardo," jelas Aerilyn dengan lugunya.
"Wah, ekhem ... udah sampe dikenalin aja. Udah jauh banget nih, kayaknya. Eh, tapi si Ardo enggak macem-macem sama lo pas di rumahnya, Lyn?"
Dengan kesal, Ardo menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Tentu saja yang lain juga tampak menyimak. Biasanya jika mendengar Aerilyn sakit atau terluka, mereka akan terlihat sangat cemas memikirkan kondisi gadis itu. Akan tetapi, kali ini sepertinya mereka tampak sangat biasa saja bahkan hanya tersenyum.
"Ya, syukurnya udah diobatin. Udah tanggung jawab, Ilyn juga jadi punya tambahan orang yang sayang sama dia, yaitu Maminya Ardo," ungkap Regan, sembari mengacak-acak rambut Aerilyn dengan gemas.
Mereka juga tidak pernah untuk berhenti menggoda Aerilyn dan Ardo. Membuat keduanya tampak mati kutu di tempat, tak tahu harus berbuat apa.
"Ish, Serly ayo masuk ke kelas. Pelajaran pertama itu matematika, ada ulangan harian, loh!" Aerilyn langsung menarik tangan Serly dan berjalan dengan cepat menghindari mereka.
Fano dan Regan saling lirik, lalu mereka menatap Ardo dengan senyuman aneh yang membuat cowok itu merasa merinding.
"Ehm, kalian sehat?" tanya Ardo gugup, menatap kedua sahabatnya bergantian.
"Hadeh ... pantes aja tuh, semalem tumben gak minta temenin buat mabok. Ternyata pas di rumah ada pawangnya," kata Fano meledek sembari memberi tatapan aneh.
"Hm, ubah sifat lo yang suka mabok itu. Gue sama Fano males kalau harus keluyuran kayak gitu, mending jalan sama pacar. Soalnya gue sama Regan kan, bukan jomblo. Semalem aja kita double date, ups!" Fano menutup mulutnya seolah-olah dia tidak sengaja berbicara seperti itu.
Ardo memutar bola matanya malas, semenjak kemarin Fano sudah jadian dengan Adik kelasnya yang bernama Rania. Cowok itu sering meledek dirinya yang masih jomlo, di antara mereka bertiga hanya ia yang masih sendiri. Akan tetapi, ia merasa tidak peduli, menurutnya mempunyai hubungan dengan seorang wanita itu rumit. Bagaimana tidak? Regan bahkan Fano sering curhat jika sedang galau hanya karena seorang wanita.
"Hm, akhir-akhir ini lo udah akrab dan deket banget sama Aerilyn. Hm, ya ... sebenarnya dari tahun lalu juga gue udah tahu gelagat lo sebagai cowok, gue tahu tatapan mata lo ke Aerilyn itu beda dan gue tahu perasaan lo sama dia. Hm ya, btw kalau gue lagi sibuk, gue nitip Aerilyn ke lo, jagain dia dan jangan sampai bikin dia lecet sedikit pun hatinya ataupun fisiknya karena ulah lo!" ungkap Regan membuat Ardo menatap sahabatnya itu dengan tidak percaya.
Ardo pikir, Regan sedang kesambet penghuni pohon yang ada di dekat parkiran itu.
"Ya, kalau sampai dia nyakitin Aerilyn. Siap-siap aja Abang angkatnya yang ini penggal pala lo, meskipun lo sahabatnya," kata Fano terkikik.
Setelah mengobrol, mereka langsung bergegas untuk pergi ke kelasnya. Berjalan dengan gaya cool khas mereka, apalagi Fano yang cari-cari perhatian kaum hawa dengan selalu menyugar rambutnya ke belakang.
***
Sudah menjadi hal lumrah, ketika bel istirahat berbunyi. Semua siswa siswi mulai berhamburan keluar dari kelas, mereka beramai-ramai pergi ke kantin untuk memanjakan perut mereka yang sudah keroncongan.
"Fano, lo itu baru jadian. Traktir kita kek, jangan pelit-pelit lo! Nanti Rania jadi ilfeel lagi sama lo, iya gak, Ran?" Serly menaik turunkan alisnya untuk menggoda Rania yang merupakan pacar barunya Fano.
Ya, mereka sekarang sedang kumpul untuk meminta di traktir Fano. Sepertinya Rania akan sering bergabung bersama mereka. Aerilyn juga dia akan selalu ikut ke kantin, sebab dirinya tidak lagi membawa bekal kalau bukan Julaeha yang membuatnya ia merasa malas juga untuk menyiapkan itu sendiri.
"Asek, makan gratis!" Erina berteriak heboh membuat semua mata memandangnya.
"Bro, yang ini bukan temen gua! Soalnya malu-maluin!" celetuk Serly, mengundang gelak tawa yang lainnya.
"Ayang tunggu bentar ya, aku mau pesen makanan dulu buat para dugong-dugong ini. Nanti balik lagi ... cuman mesen doang sebentar, tinggal sat set sat set, nanti balik lagi. Jangan kangen!" Fano menepuk pelan rambut Rania.
Rania yang tahu teman-teman pacarnya itu sedang menahan tawa, ia hanya bisa menunduk malu. Memang biasanya dia akan manja, tetapi tetap saja jika di depan orang lain rasanya akan sangat memalukan.
Rania masih merasa canggung duduk bersama dengan teman-teman pacarnya itu. Akan tetapi, bagaimanapun juga ia harus bisa membiasakan diri dan berbaur dengan mereka. Dikenalkan saja sudah cukup membuatnya senang, apalagi sekarang ia diajak duduk dan akan makan bersama.
"Maklum aja ya, Ran. Si Fano emang gitu, tapi meskipun dia malu-maluin. Dia sayangnya gak main-main, kok," ucap Regan, membuat Rania tersenyum tipis.
"Kalau gue jadi cewek, bucin akut kayak gitu udah dibuang," lirih Ardo yang masih terdengar oleh yang lainnya.
"Alah, Kak Ardo mah kalau udah punya pacar palingan nanti juga langsung berubah bucin kayak Fano. Soalnya Kak Ardo itu wajah aja sangar, tapi hatinya kayak Hello Kitty!" celetuk Aerilyn dengan polosnya, membuat yang lain harus menahan tawanya agar tidak kena amuk Ardo.
Ardo menyentil jidat Aerilyn, membuat gadis itu mengerucutkan bibir karenanya. Saat melihat wajah lucunya yang sedang cemberut itu, ia malah menampol pelan bibir mungilnya dengan telapak tangan.
"Ish, apalagi?!"
"Jangan diimut-imutin, deh! Pengen banget kelihatan imut sama orang banyak," ujar Ardo dengan spontan, membuat yang lainnya langsung menatapnya bingung.
Fano yang baru saja datang membawa makanan serta minuman yang dibantu ibu kantin. Merasa kebingungan dengan keadaannya, entah apa yang sudah dilakukan oleh para temannya itu.
Ibu kantin saja sampai menggeleng-geleng dengan keramaian ini. Kemudian meninggalkan mereka, kembali melaksanakan tugasnya untuk melayani pembeli yang lain.
Ardo yang seakan tidak rela orang-orang memperhatikan wajah Aerilyn yang tampak semakin imut, entah kenapa ia menjadi sangat kesal. Membuat dirinya secara refleks meraih kepala Aerilyn dan menenggelamkan di d**a bidangnya. Sontak saja hal itu berhasil membuat semua mata yang mengarah pada mereka seketika melotot tidak percaya. Sesuatu yang langka, mungkin harus diabadikan oleh admin sosmed Gosip Sekolahnya ini.
"Wow, saya sungguh tidak percaya, bung! Apakah kerasukan hantu genit penunggu sekolah?!" Fano berteriak heboh membuat orang-orang menahan tawanya.
Ardo yang menyadari tingkah konyolnya itu langsung saja melepaskan Aerilyn. Lalu ia duduk dengan biasa sembari menetralkan rasa canggungnya.
"Ih, Kak Ardo bajunya bau keringet!" Aerilyn berteriak sembari menutup hidungnya, ia juga menggeser sedikit duduknya dari Ardo yang berada di sampingnya.
Tentu saja hal itu mengundang gelak tawa dari yang lain. Bisa-bisanya Aerilyn malah bersikap seperti itu, biasanya para perempuan akan malu-malu dan merasa salting. Apalagi jika cowok itu sangat populer di sekolah mereka.
Rania ikut terkekeh dengan tingkah teman-teman pacarnya itu. Ia merasa sudah tidak canggung lagi, mereka sangat baik dan ramah kepadanya. Apalagi sangat mudah untuk mencairkan suasana meski canggung sekalipun. Tentu saja, semua itu membuatnya merasa nyaman berada dekat dengan mereka.
"Udah, mending kita makan aja, yuk! Kasihan kalau makanannya terus dianggurin," ucap Rania membuat mereka mengangguk.
Ardo masih kurang fokus, ia terus memperhatikan Aerilyn yang sedang makan. Wajahnya terlihat sangat cantik, cara makannya saja membuat ia gemas sendiri. Sehingga sampai tidak sadar ia sudah memasukan sambal sangat banyak. Lalu mengaduk rata baksonya itu.
Hingga ia memasukan satu suap ke dalam mulutnya, tentu saja karena sambal yang terlalu banyak. Mulutnya langsung merasa panas dan kepedasan.
"Arghh, Pedes woy!"
Aerilyn dan Erina refleks menyondorkan botol air mineral ke arahnya. Tetapi, Ardo menerima air yang diberikan oleh Aerilyn.
Serly dan Rania melihat wajah Erina yang tampak kecewa, entah bagaimana perasaan gadis itu. Mungkin kah jika ia memiliki perasaan terhadap Ardo?
"Heh, Fano temen gue yang paling uwwu. Lo mau ngeracunin gue, ya?!" bentak Ardo dengan tatapannya yang tajam.
"Dih, najong banget lo! Bisanya nyalahin gue, padahal lo sendiri yang masukin sambel kebanyakan, saksinya tuh si Regan sama Serly!" ungkap Fano tidak terima.
"Dasar, lo! Sendirinya yang masukin sambel ke baksonya, malah nyalahin orang lain," ujar Regan membela Fano.
Ardo hanya mengernyit kebingungan, ia merasa mereka sedang menjahilinya.
"Segitu cantiknya Aerilyn, sampe terus diperhatiin. Sampe gak sadar masukin sambel banyak ke baksonya," ungkap Rania terkekeh.
Seketika Ardo malah gelagapan sendiri, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Tidak tahu harus berkata apa, belum lagi Aerilyn yang sepertinya malah ikut memperhatikan.
"Hadeh, Kak Ardo yang paling tampan seantero sekolah. Aku tahu sih, aku itu cantik ... tapi gak usah sampe segitunya juga, lah!" Aerilyn mengibaskan rambutnya dengan PD.
"Heleh, cantikan Bi Inem, meskipun usianya lanjut tapi tetep lebih cantik daripada lo! Heran, PD nya setinggi langit sampe gak sadar masih nginjek bumi. Lagian, tadi gue cuman ilfeel aja ngeliat lo makan belepotan kecap. Makanya juga gue ngeliatin wajah lo yang sok cakep itu!" elak Ardo membela diri.
Aerilyn malah mengernyit bingung, padahal ia tidak memakan kecap atau pun memasukannya ke dalam bakso. Tentu saja ia mengira Ardo itu gengsi. Hal itu membuat mereka terus saja berdebat, tidak lagi peduli dengan perut yang tadinya meronta minta makan.
Sedangkan yang lainnya hanya fokus makan sembari menonton perdebatan mereka yang lumayan untuk hiburan, apalagi gratis.