12

1569 Kata
"Serly, pinjem Kak Regannya sebentar doang, ya ... please!" Aerilyn memelas sembari menarik-narik tangan Serly. "Haduh, bukan masalahnya gak boleh. Tapi ini gue pulang sama siapa? Gue gak bawa mobil, Erina juga udah balik duluan ... udah deh, lo sama Ardo aja. Lagian, lo masih tinggal di sana, 'kan?" ucap Serly dengan sabar, sifat manja sahabatnya itu sedang kambuh. Ardo masih menahan rasa geramnya, ia sudah ingin pulang. Tetapi, Aerilyn selalu saja membuatnya kesusahan seperti ini. Alasan gadis itu tak ingin dengannya, katanya Ardo sudah membuatnya malu saat di kantin tadi. "Ilyn, ribet banget sih, lo! Mau pulang kagak?! Kesel gue nungguin lo, nih. Gue tinggalin lo, tapi nanti Mami marah sama gue gimana?" Ardo meluapkan kekesalannya, membuat Aerilyn memberengut di tempatnya berdiri. Regan memberikan kode pada Serly agar segera cepat naik ke atas motornya. Saat gadis itu paham, ia segera naik ke atas motor pacarnya. Mereka tak peduli dengan Aerilyn dan Ardo saat ini, biar saja menyelesaikan masalahnya sendiri. Regan melajukan motornya keluar dari parkiran sekolah, membuat Aerilyn berteriak marah. Kemudian gadis itu mengumpat dengan kesal, ia sudah merasa dijahili lagi. "Mau pulang, gak?" tanya Ardo lebih lembut tidak seperti sebelumnya. Aerilyn yang luluh dan memang tidak tahu harus pulang dengan siapa selain bersama Ardo. Ia segera naik ke atas motor cowok itu, tetapi masih dengan wajah yang masam. Ardo segera melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, membuat Aerilyn memeluknya dengan erat. Untung saja gadis itu memakai jaket yang cukup tebal, jadi tidak takut alergi dinginnya kambuh. Padahal kemarin cowok itu ingin selalu membawa mobil, entahlah ia masih belum bisa melepas motor kesayangannya. *** "Mami!" Aerilyn langsung memeluk Nani yang sedang duduk di sofa sembari menyaksikan acara televisi. "Eh, Ilyn ... kenapa nih, baru pulang sekolah malah cemberut gini?" Nani membenarkan rambut Aerilyn yang terlihat berantakan. Ardo yang baru datang langsung mendengkus kesal, melihat Aerilyn begitu manja terhadap maminya. Ia hanya ikut duduk di sofa yang satunya. Belum lagi ia malah dihadiahi tatapan tajam dari gadis itu. "Mami, Kak Ardo seharian ini bikin aku kesel banget tahu! Di kantin bikin aku malu, terus pas mau pulang tadi malah marah-marahin aku ... belum lagi dia malah ngebut bawa motornya, aku takut banget dikira mau melayang ke langit!" cerocos Aerilyn dengan wajah cemberut. Ia bercerita seperti seorang anak kecil yang mengadu kepada ibunya. Ardo yang mendengar penuturannya menatap gadis itu tidak percaya. Bisa-bisanya mengadu bahkan seperti terkesan melebih-lebihkan. Ia bahkan bisa melihat raut wajah Nani yang menatapnya, lalu selanjutnya seperti yang diduganya. Mami yang merawat ia sejak lahir malah marah bahkan menasehatinya. Ardo menggaruk tengkuknya, ia merasa Nani lebih memilih Aerilyn. Saat ia mencoba membela diri saja tidak pernah digurbis. Ia semakin kesal saat Aerilyn malah menjulurkan lidah kepadanya untuk meledek. "Mami, padahal aku anak Mami, loh? Kenapa selalu aja belain Aerilyn, sih? Padahal kalian baru kenal kemarin. Pertama kalinya di marahin sama Mami, huh!" ujar Ardo mengeluarkan kekesalannya. "Ardo, Aerilyn itu udah Mami anggap sebagai anak sendiri," ungkap Nani. Aerilyn tampak membuat bibirnya menyenye pada Ardo. Meledeknya karena merasa menang, sebab ia yang sudah paling dibela oleh Nani. Ardo yang kesal malah mendekat lalu tanpa diduga ia menggelitik perut Aerilyn. Membuat gadis itu tertawa karena merasa geli, kemudian malah berlari menghindar dari cowok itu. Akan tetapi Ardo tidak akan melepaskannya, ia mengejarnya dan berusaha menggapai gadis itu. Saat Aerilyn terjatuh ia kembali menggelitiknya tanpa ampun, membuat Aerilyn kelelahan. "Ck, kalian ini benar-benar sudah seperti Abang dan Adik. Ada-ada saja tingkahnya." Nani terkekeh sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tidak lagi melihat acara televisinya, tetapi malah melihat kedekatan mereka itu sudah sangat membuatnya senang. Aerilyn berusaha melawan, ia menendang-nendang sampai Ardo tak lagi menggelitiknya. Namun, saat ia berusaha berlari, Ardo kembali mengejarnya. Rumah yang tadinya selalu sepi, sekarang malah terasa ramai oleh ulah mereka berdua. *** "Mami tahu, ah! Si Ilyn susah dibujuknya, malah gamau buka pintu kamarnya. Lagian manja bener deh, cuman gara-gara kejeduk meja aja ngambek!" ucap Ardo dengan kesal. Nani mengembuskan napas. "Tapi dia kayak gitu gara-gara kamu ... ya udah, biar Mami aja yang bujuk Ilyn buat keluar kamar." Nani menaiki anak tangga menuju lantai atas di mana kamarnya berada karena gadis itu masih ingin tidur bersamanya, tak ingin pindah kamar. Ini sudah malam, tetapi gadis itu belum makan apa pun semenjak dari pulang sekolah. "Ilyn, ini Mami. Buka pintunya ya, sayang!" Nanti mengetuk pintu kamar. Aerilyn membuka pintu, di tangannya ada Miu yang sudah tertidur pulas. Mungkin kucing itu nyaman dengan kehangatannya. "Udahan ya, ngambeknya. Kamu belum makan loh, mau gak makan sama Ardo di luar? Soalnya Mami juga ini ada jadwal pertemuan sama klien sekarang," kata Nani sembari mengelus lembut rambut gadis itu. Aerilyn merasakan hatinya menghangat, ia tidak pernah diperlakukan dengan baik seperti ini oleh Rani—ibu kandungnya sendiri. Perasaan terharu selalu saja hadir. Apalagi, ia tidak pernah ngambek dan dibujuk seperti ini. Kehadiran Nani dan Ardo yang sudah ia sayangi, semakin menyingkirkan posisi luka yang ditorekan oleh orang tuanya. "Mami, makasih udah sayang sama aku ... ehm, sebentar aku mau siap-siap dulu. Kak Ardo suruh nunggu dulu aja," ucap Aerilyn membuat Nani tersenyum dan mengangguk. *** Ardo sebenarnya tidak ingin keluar hanya untuk makan malam, ia bisa saja langsung pesan makanan yang bisa langsung diantar ke rumah. Akan tetapi, Nani memaksanya makan di luar bersama Aerilyn. Katanya untuk membujuk agar gadis itu tidak ngambek lagi. Ardo mendengar suara langkah kaki menuruni tangga. Ia menoleh, benar saja, sosok itu adalah Aerilyn. Matanya merasa terpaku melihat penampilan gadis itu. Dress hitam selutut yang ia kenali milik maminya terlihat pas di badan Aerilyn. Serta make up tipis membuatnya terlihat sangat cantik malam ini. Ia malah merasa akan kencan bersamanya, padahal hanya makan malam biasa. "Kenapa liatin aku kayak gitu? Terpesona, ya?" Aerilyn mengibaskan rambutnya sampai mengenai wajah Ardo. "Idih ... terpesona apaan, dah? Lu gak jadi makan malam, nih? Aduh Ilyn ... lo mau nyinden di mana?" Ardo meledeknya sembari menahan tawa. "Ih, udah cantik gini dibilang mau nyinden!" Aerilyn mencebikan bibirnya. "Heh, pede banget lo! Make up tebel kayak badut gitu dibilang cantik. Ini juga nih, baju yang lo pake gak cocok buat lo, ganti sana! Hapus sekalian make up-nya," ujar Ardo membuat Aerilyn menginjak lantai dengan uring-uringan. Sebenarnya Ardo tidak ingin jika nanti Aerilyn jadi pusat perhatian banyak orang karena kecantikannya. Dalam hatinya, ia ingin egois agar hanya ia saja yang melihat kecantikan gadis itu. "Mami ... Kak Ardo bilang aku kayak badut, diledek mau nyinden. Terus malah suruh ganti baju sama hapus make up!" teriak Aerilyn, membuat Nani yang ada di kamar langsung datang menghampiri. "Astagfirullah Ardo, mata kamu udah bermasalah, ya? Ini Mami yang dandanin gini, udah cantik banget kayak bidadari!" ujar Nani sembari menggetok pelan kepala anaknya itu. Ardo menggaruk tengkuknya yang gatal, ia tidak tahu harus menjawab apa. Sampai akhirnya Nani mendorong mereka berdua keluar dari rumah agar mereka cepat pergi ke kafe atau restoran. wanita setengah baya itu juga harus bersiap karena akan pergi bertemu klien penting. *** "Kak Ardo, jangan diemin terus dong!" Aerilyn memegang tangan cowok itu dengan tatapan melas, tetapi terkesan imut. Aerilyn terus saja berceloteh untuk membujuk cowok itu, ia rela berbicara banyak agar Ardo mau membuka suaranya meski satu kata. Sejak dalam perjalanan sampai mereka hendak makan. Cowok itu tidak pernah mau untuk berkata sepatah kata pun. "Ck, gue mau makan aja susah. Bacot banget lo, buruan makan! Gue mau langsung pulang," Ardo menggeram marah. Aerilyn cukup senang Ardo mulai berbicara meski dengan nada yang tidak ramah. "Tapi ini jangan diitung hutang, ya? Hm, tapi ini Kakak yang traktir, 'kan? Soalnya mahal banget, uang aku bisa langsung abis nanti," ucap Aerilyn mengedipkan matanya beberapa kali dengan pelan. "Ish, bawel banget sih, lo! Makan ya, makan aja. Tenang aja, ini gue semua yang bayarin. Ntar, kalau gue hitung hutang, ngadu lagi lo sama Mami!" Ardo memakan makanannya dengan cepat karena merasa kesal dengan gadis yang ada di hadapannya itu. Aerilyn hanya bisa cengengesan dan minta maaf, lalu ia juga mulai menikmati makananya dengan tenang tanpa mau berbicara lagi. Ia takut Ardo akan semakin marah padanya. Setelah selesai makan, Ardo menyuruh Aerilyn untuk menunggunya di luar restoran. Ia akan membayar tagihan dan numpang ke toilet sebentar. Gadis itu hanya mengangguk patuh, tak ingin lagi membantah karena takut kena amuk. Aerilyn menatap langit malam yang cerah, dihiasi bulan dan bintang. Sangat indah, hal itu membuatnya tersenyum. Ia bersyukur bisa keluar malam ini dan melihatnya seperti ini. Kemudian matanya melihat sebuah toko boneka di seberang jalan. Seketika mata bulat itu berbinar, tanpa melihat kanan kiri, ia segera menyebrang. Tidak melihat jika di arah kanan ada mobil yang melaju dengan cepat. Sampai akhirnya ia merasa tangannya ditarik dengan cepat ke sisi jalan dengan posisi ia dipeluk oleh Ardo. Ya, cowok itu telah menyelamatkannya. "Lo mau mati, hah?!" bentak Ardo melepaskan pelukannya, ia mencengkram kuat bahu Aerilyn. Ia benar-benar khawatir. Entah apa yang akan terjadi nantinya jika ia terlambat satu detik saja. Jantungnya saja sudah hampir copot. Aerilyn menunduk takut sembari memilin jari-jarinya. "Maaf, tadi aku mau nyebrang mau ke toko boneka," ucapnya hampir tak terdengar oleh Ardo. Ardo menghela napas, ia kembali membawa gadis itu ke dalam pelukannya. "Maaf, gue udah bentak lo. Gue cuman gak mau lo kenapa-napa ... sebagai gantinya, gue beliin lo boneka, mau?" Aerilyn mengangguk dalam pelukan cowok itu, kemudian ia mendongak menatap Ardo dengan mata yang berbinar. "Mau ...." ucapnya manja. Ardo mengulum senyum, ia gemas sendiri sampai mencubit pipi chubby Aerilyn. Setelahnya ia memegang tangan gadis itu untuk segera menyebrang untuk ke toko boneka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN