13

1503 Kata
"Idih, muka lo tumben banget pagi ini berseri-seri. Ada apa gerangan wahai tuan putri? Padahal Tugas banyak sekali." Serly berdecak sembari menggelengkan kepalanya. Tak lupa kedua tangan yang ikut ditaruh pada pinggangnya. "Iya, lo kenapa, deh? Kayaknya bahagia banget," ujar Erina yang duduk di belakang bangku mereka. Aerilyn hanya menggelengkan kepalanya sembari terus tersenyum, membuat Serly malah menjadi ngeri melihat temannya seperti itu. Gadis itu menautkan kedua alisnya, ia jadi takut sahabatnya itu sedang mengalami gangguan mental karena terlalu banyak tekanan. "Ehm, kalau begitu ... mumpung lo lagi bahagia, pasti bakalan ikhlas banget kalau gue minta nyontek tugas, ya?" ujar Serly ingin mencuri kesempatan. Ia ingin berpikir positif dulu, tak ingin berpikir macam-macam. "Ya, ambil aja sendiri bukunya. Aku mau baca novel dulu, mumpung bel masuk belum bunyi," ujar Aerilyn tetap terus mengulum senyum. Bahkan sepertinya gadis itu tidak benar-benar membaca novel. Sebab buku novelnya saja terbalik, bagaimana mungkin bisa dibaca? Aerilyn semakin terlihat aneh karena senyum manisnya itu selalu terukir dan tak pernah pudar. Serly beranjak dari duduknya, ia pindah duduk ke bangku Erina yang berada tepat di belakangnya. Lalu mereka saling pandang dan bisik-bisik. "Eh, dia kesambet bukan, sih? Heran gue sama dia, perasaan dari dateng tadi senyum terus kayak orang stress. Jadi ngeri begini gue," bisik Erina membuat Serly meringis. "Eh, gue duduk sama lo dulu, ya? Biar temen sebangku lo duduk sama Aerilyn. Pindah sehari doang." Serly meminta dengan wajah memelas, membuat Erina mengangguk. Mereka belum pernah melihat sosok Aerilyn yang selalu ceria seperti ini. Bukan karena tam senang melihat sahabat mereka selalu tersenyum seperti itu. Namun, malah terlihat aneh karena melakukan setiap hal saja dengan tersenyum. Bahkan tadi ada yang tak sengaja menabrak mejanya sehingga posisinya terjepit saja malah ia berikan senyuman. Aneh bukan? *** Aerilyn sedang menikmati kesendirian di taman belakang sekolah, duduk sendiri di bawah pohon yang melindungi dari teriknya matahari. Bibir manisnya itu tetap setia untuk selalu tersenyum bahagia. Ia merasa tidak pernah sebahagia ini sebelumnya, hanya karena tadi malam telah dibelikan boneka oleh Ardo. Selain itu, ia juga merasa berhutang nyawa karena jika cowok itu tidak datang tepat waktu untuk menyelamatkannya dari maut yang ingin menghampiri dirinya. Meskipun hidupnya berat, tapi ia masih ingin tetap hidup. Bahkan sangat tidak ingin mati konyol. Sikap manis Ardo saat mencoba menenangkannya dan menghiburnya semalam, membuat cowok itu terlihat manis di matanya. Benar-benar cowok yang sangat perhatian dan tentunya membuat ia merasa kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya. Aerilyn memegang dadanya dengan kedua tangan, jantungnya berdegup tidak karuan saat mengingat betapa manisnya sikap Ardo. Entah kenapa dengan dirinya, ini adalah pertama kali ia merasakan sesuatu yang aneh pada hatinya. "Ya, ampun ... Ilyn, kamu harus tetap bisa menjaga kewarasan! Haduh, sadar dong, sadar! Pantes aja Erina sama Serly tadi keliatan takut!" Aerilyn memejamkan matanya dan menepuk-nepuk pipinya sendiri. Sebuah tangan menghentikan perbuatannya itu, ia merasa tangannya di genggam erat. Setelahnya dengan keadaan mata yang masih memejam, ia bisa merasakan tangan seseorang merapikan rambut nakal yang menghalangi wajah cantiknya. Perlahan Aerilyn membuka matanya. Dalam keadaan posisi mereka sangat dekat, gadis itu bisa melihat orang yang ada di hadapannya adalah Ardo, cowok yang baru saja memenuhi pikirannya. Hal ini semakin membuat jantungnya berdetak tidak karuan, ia bahkan merasa membutuhkan banyak oksigen sekali. Ia mengerjapkan mata beberapa kali untuk membenarkan kalau ini nyata, bukan haluan semata. "Lo gak papa?" tanya Ardo menatapnya dengan lembut. Aerilyn terdiam sejenak, ia meneliti wajah tampan Ardo dan manik mata indah cowok itu membuatnya hampir membawanya ke alam halu. "Ah, aku gak papa kok, Kak." Aerilyn menunduk malu saat tersadar. "Oh, gue kira lo kenapa. Hm, sempat mengira lo kesurupan tadi, tepuk-tepuk pipi sendiri." Ardo melepaskan pegangan tangannya, lalu ikut duduk di samping Aerilyn. "Ih, mana ada kesurupan tepuk-tepuk pipi! La-lagian tadi aku cuman baper aja gara-gara baca novel ini!" ucap Aerilyn dengan gugup. Gadis itu berbohong, untung saja ia membawa novel yang bisa dijadikan sebagai alasan untuk mengelak. Mana mungkin ia harus jujur, jika tadi sedang memikirkan cowok yang ada di sebelahnya ini. Bisa-bisa nanti ia malah diledek dan ditertawakan, hal itu pasti akan semakin membuat Ardo geer dan tentunya ia akan malu sekali. "Emang seru banget ya, baca novel?" tanya Ardo menaikan alisnya sembari membuka asal halaman-halaman novel itu. "Ya, seru banget lah! Asal Kakak tahu aja, baca novel itu bisa ningkatin mood apalagi baca yang baper-baper gitu bikin hati ngerasa keisi! Terus bisa menghilangkan rasa bosan, tentunya juga seolah-olah membawa aku ke dalam ceritanya. Aku bakalan ngerasain apa yang si tokoh utama rasain," cerocos Aerilyn menjabarkan keseruannya. Entah kenapa, ia selalu bersemangat untuk menceritakan betapa serunya membaca novel. Aerilyn terus bercerita panjang lebar, ia juga bahkan menceritakan sebagian kisah dari novel yang ia baca. Ia menceritakan pengalamannya yang sampai galau selama satu minggu karena membaca novel sad ending. Katanya ia tidak suka novel sad ending karena selalu membuatnya susah move on dengan tokoh yang dibuat meninggal. Gadis itu terlihat sangat lucu di mata Ardo, ia bahkan tidak sadar jika cowok itu hanya tertarik untuk memperhatikannya dari pada apa yang ia ceritakan. "Lo ternyata gemesin juga, ya? Gue kira lo bisanya cuman ngeselin doang, ternyata enggak." Ardo menyelipkan rambut gadis itu ke belakang telinganya. Seketika Aerilyn yang tadi asyik bercerita, ia terdiam mematung karena perlakuan tiba-tiba dari Ardo lagi. Semakin membuat jantung yang baru pulih sekarang kembali berdetak tidak karuan, ia merasa harus memeriksa jantungnya ke dokter. Ia tidak ingin masih muda sudah punya penyakit jantung, jangan sampai! "Lyn, gue mau nanya sama lo. Seandainya kita itu berada dalam sebuah cerita, lo mau ending yang seperti apa?" tanya Ardo menatap Aerilyn dengan dalam. "Aku pasti akan berharap untuk mendapatkan happy ending pada ceritanya. Akan tetapi, semuanya tergantung author pengatur jalan cerita itu. Hm, sama halnya dengan hidup kita yang diatur oleh Tuhan, kita tidak bisa berbuat apa-apa selain menjalankan semua kehidupan ini. Mengikuti alur kehidupan yang Tuhan berikan," ucap Aerilyn sembari menatap langit berwarna biru itu dengan senyum manisnya. Ardo ikut tersenyum, pandangannya tak teralihkan selain untuk melihat wajah cantik Aerilyn. Ia sedikit merasa kagum pada gadis itu, apalagi dengan pemikirannya. "Kalau misalnya lo jadi author kehidupan lo sendiri dalam cerita?" tanya Ardo membuat Aerilyn menatapnya dengan dalam. "Selain aku, mungkin orang lain juga ingin menulis jalan ceritanya dengan lurus mulus tanpa ada batu kerikil satu pun yang menghambat. Akan tetapi, kamu pasti tahu kalau cerita tanpa konflik itu hambar banget dan ngebosenin. Kalau bisa diberi pilihan, aku bakalan milih konflik yang ringan buat jalan ceritanya," ujar Aerilyn tersenyum penuh arti. Ardo terkekeh, lalu ia mengacak-acak rambut Aerilyn dengan gemas. Cowok itu bahkan tidak luput untuk mencubit pipi chubby yang menggemaskan itu. "Btw, lo mau gak kalau tinggal di rumah gue selamanya? Biar di rumah gue bisa ada temennya juga kalau mama misalnya lagi ke luar negeri atau keluar kota karena pekerjaan," kata Ardo. "Enggak, Kak. Aku gak mau harus ngerepotin orang lama-lama. Aku masih nginep di rumah Kak Ardo paling sehari dua hari lagi, nanti pulang kalau aku udah mau he he ...." Aerilyn cengengesan sendiri, sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Yaelah, ngeselin lo! Kan enak tinggal sama gue, bakalan ngerasa punya sodara juga gue di rumah dan gak kesepian. Ehm, kalau misalnya lo kerja jadi asisten gue mau?" Ardo menatap Aerilyn penuh harap. "Lah? Aku bisa kerja sama Kakak, tapi kalau harus nginep gitu enggak banget, deh. Kalau Kakak butuh aku tengah malem juga aku bakalan siap dateng, kok," ucap Aerilyn membuat Ardo memutar bola matanya. "Sampe segitunya, yaudah gak jadi aja!" *** "Mami, Kak Ardo hari ini kesambet hantu centil, ya?" tanya Aerilyn yang baru saja pulang dan memeluk Nani. "Loh, emangnya Ardo kenapa sayang?" tanya Nani sembari mengelus lembut rambut gadis itu. "Masa seharian ini Kak Ardo perhatian banget, terus bujuk-bujukin aku biar terus tinggal di sini. Padahal Ilyn mau mandiri," ucap Aerilyn mengadu. Nani hanya terkekeh, apalagi saat melihat ekspresi Ardo yang terlihat jengah. Sampai akhirnya anak lelakinya itu naik ke lantai atas untuk ke kamarnya. "Ilyn, gak papa. Kamu tinggal aja terus sini, kamu udah Mami anggep sebagai anak sendiri. Terus si rumah Ardo biar ada yang nemenin dan kamu gak sendirian di apartemen. Mami juga yakin Ardo gak bakalan macem-macem sama kamu," ucap Nani memberikan pengertian tetapi Aerilyn tetap kekeuh dengan keinginannya untuk tetap menolaknya. Aerilyn hanya akan menginap beberapa hari lagi, lalu ia akan pulang ke apartemen miliknya. Mungkin ia akan sering-sering juga main ke rumah Nani bersama Regan dan teman-temannya yang lain. "Ehm, gitu ya Mami? Nanti deh, aku pikirin lagi. Soalnya aku masih berharap kalau nanti Mama atau Papa nikah, aku bisa diajak tinggal bareng sama mereka," ujar Aerilyn seraya tersenyum membuat matanya menyipit. "Ya, ampun ... kamu ini manis banget ya, kalau senyum. Pantes sih, kalau Ardo candu banget liat senyum kamu," kekeh Nani membuat pipi Aerilyn seketika merah merona seperti tomat. "Apa sih, Mami! Jangan godain ih ...," rengek Aerilyn merasa malu. Akan tetapi, malah ditanggapi tawa oleh Nani. Nani hanya menggelengkan kepalanya, tangannya terulur untuk mencubit gemas pipi chubby Aerilyn. Tidak heran jika ia bisa sangat sayang sekali dengan gadis yang menggemaskan itu. Meski sudah SMA kelakuannya yang masih seperti anak-anak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN