"Kak Ardo, tadi aku iseng bikin popcorn, mau enggak? Kalau mau nanti aku bawain buat Kakak," ucap Aerilyn masuk ke kamar Ardo tanpa permisi karena kebetulan pintunya juga terbuka.
Aerilyn meletakan Miu di kasur Ardo, membiarkannya bermain di kasur king size itu. Ia kemudian memperhatikan Ardo yang tampak serius sekali mengotak ngatik laptop di meja belajar.
"Hm, bawa aja ke sini!" ucap Ardo datar, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
"Kak Ardo lagi sibuk ngerjain tugas?" tanya Aerilyn melihat banyak tulisan di layar.
"Iya, nih. Cuman gue gak terlalu paham sama tata cara penulisan yang baik dan benar, masa guru bahasa Indonesia nyuruh gue revisi tulisan ini yang katanya amburadul padahal suruh yang lain aja, suka gak jelas tuh kalau ngasih hukuman, aneh-aneh aja deh. Ya, gue mending ngerjain matematika sebuku dari pada harus beresin ini, gue gak ngerti!" gerutu Ardo dengan kesal, bahkan sok sekali ia lebih memilih mengerjakan soal matematika.
"Oh, itu mah gampang banget buat aku. Coba sini, biar aku aja yang ngerjain!" ucap Aerilyn menawarkan diri.
Tentu saja Ardo tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Ia tidak mungkin menolak tawaran Aerilyn. Untuk itu ia berlagak berdiri dan mempersilakan gadis itu duduk dengan cara menunduk hormat.
Aerilyn hanya terkekeh, mendapat perilaku seperti itu dari Ardo. Lalu ia duduk dan serius menatap layar laptop, selanjutnya mulai fokus memperbaiki tulisan. Baginya hal itu sangatlah mudah, ia pernah beberapa kali mempelajari soal penulisan yang baik dan benar sesuai dengan KBBI. Mempelajari itu menurutnya sangat mudah karena ia juga bisa belajar saat membaca novel. Penulisan rapi di novel bisa ia terapkan.
"Terima kasih wahai tuan putri Aerilyn Bellvania yang sangat baik hati. Saya akan menjaga kucing Miu kesayanganmu di sini dengan baik," ucap Ardo dengan nada bicara yang dibuat-buat. Hak tersebut berhasil untuk membuat Aerilyn terkikik geli mendengar suara bariton itu.
Hampir setengah jam Aerilyn berkutat dengan laptop, akhirnya selesai juga. Membuat Ardo berterima kasih padanya. Ia bisa bernapas lega dan bahkan akan dipuji oleh guru bahasa Indonesia nya, karena sudah mampu menyelesaikan tugas hukuman karena bolos pelajarannya kemarin.
"Kak Ardo, bawain popcorn sama jus dong. Kita nonton film kuy, mau gak?" tanya Aerilyn menatap Ardo yang sedang mengelus lembut kucingnya yang sudah tertidur.
Ardo segera berdiri dengan tegap dan berbicara layaknya seorang prajurit. "Tentu saja tuan putri, apa pun yang kau inginkan saya akan mengabulkannya. Bagaimana bisa saya menolak permintaan putri cantik seperti Anda?"
Ardo menuduk hormat, lalu berjalan dengan tegap keluar dari kamar. Perilakunya tak luput dari pandangan Aerilyn dan membuat gadis itu mengulum senyum.
Aerilyn menatap Miu dengan gemas, ia juga mengelusnya. Dia bahkan tidak sungkan untuk merebahkan dirinya di ranjang milik Ardo. Benar-benar sudah seperti rumah sendiri, lalu kamar ini seperti milik abang kandung. Definisi menang banyak.
Tak lama kemudian Ardo membawa nampan berisi popcorn dan dua gelas jus buah. Hal itu membuat Aerilyn bangkit dari gaya rebahannya. Kemudian ikut duduk di sofa yang ada di kamar itu.
Ardo meletakan popcorn dan jus di nakas yang berada di samping sofa. Aerilyn langsung mengambil mangkuk berisi popcorn itu, lalu memakannya satu persatu sampai mulutnya penuh.
"Mau nonton film apa, Kak? Film romance aja gimana? Seru kayaknya," ucap Aerilyn yang sudah duduk manis di samping Ardo yang sedang mencari film di laptopnya.
"Gak, gue mau nonton film horor," ucap Ardo yang tidak mengalihkan pandangannya.
Aerilyn menelan salivanya, ia malah jadi gugup sendiri. Ia tidak berani jika harus menonton film horor, takut nanti jika tidur sendiri karena Nani sedang ada urusan mendadak dan pastinya pulang larut malam. Ia tidak mau jika harus menunggu sampai larut malam di kamar wanita itu sendirian nantinya.
"Jangan dong Kak, ntar abis nonton film aku ke kamar Mami. Sedangkan Mami pulangnya bisa sampe jam satu malam kayak kemaren, gak mau aku nunggu sendirian di sana nanti," ungkap Aerilyn bergidik ngeri.
"Cie, lo gak berani nonton film horor, ya? Alah ... cemen banget, sih!" Ardo menatap Aerilyn dengan remeh.
"Idih, tadi aja sok banget manggil aku tuan putri dengan gaya bahasa yang sangat sopan. Sekarang malah ngata-ngatain kayak gitu, sangat tidak sopan ya, tuan Ardo!" hardik Aerilyn menabok bahu cowok itu.
"Yeu ... bodo amat! Lagian tadi karena lo mau bantuin aja, kalau sekarang udah kebales karena gue udah mau bawain popcorn sama jus." Ardo kembali fokus ke layar laptop.
Setelah menemukan film horor yang akan mereka tonton, Ardo menyuruh Aerilyn untuk mematikan lampu kamar agar suasana horornya bisa terasa. Gadis itu hanya menurut saja agar tidak dibully lagi, ia juga mengambil selimut cowok itu untuk menutupi tubuhnya. Agar ia bisa bersembunyi di balik selimut jikalau nanti ada hantu tiba-tiba datang.
"Nih, Kak Ardo aja yang makan popcorn- nya, aku enggak selera!" ucap Aerilyn dengan mencebikan bibirnya.
Ardo hanya menggedikan bahu lalu mengambil alih mangkuk berisi popcorn itu, sedangkan Aerilyn kembali duduk di sampingnya.
Ardo baru saja memutar film, tetapi Aerilyn tanpa sadar sudah memeluk lengan cowok itu. Takut-takut jika nanti secara tiba-tiba muncul hantu di layar laptop itu.
'Sekali-kali gue nonton film horor bareng lo, sekalian buat ngerjain lo. Jarang-jarang bisa kayak gini juga sama lo.' batin Ardo diiringi senyum manis yang tak disadari oleh Aerilyn.
Aerilyn kadang menahan jeritannya saat melihat hantu di film yang sedang mereka tonton. Bahkan tak jarang ia meremas tangan Ardo sebagai pelampiasannya.
"Yah, udah beres nih film-nya," ucap Ardo menghela napas.
Kemudian cowok itu melirik ke samping, ia bisa melihat wajah ayu Aerilyn yang ternyata sudah tertidur pulas dengan bersender di bahunya. Ardo hanya mengulum senyum ... ternyata jika diperhatikan dengan dekat, gadis itu terlihat lebih cantik dan imut.
Ardo mengusap lembut rambut Aerilyn. "Berasa punya istri kalau gini ceritanya," lirih Ardo terkekeh.
Saat masih asyik memandangi wajah Aerilyn, muncul notifikasi dari ponsel miliknya. Ia mendapatkan pesan dari maminya.
[Ardo, Mami malam ini gak bisa pulang. Mami juga di sini bareng sama Bi Inem kok, jangan khawatir gantengnya Mami. Okey, kamu di rumah cuman berdua sama Ilyn, jangan macem-macem ya, jagain dia! Awas aja kalau lecet, Mami jamin kamu jadi gembel.]
Ardo membelalakkan matanya saat membaca pesan dari Nani. Segitu besar rasa sayang maminya pada Aerilyn. Akan tetapi, ia tidak luput untuk mengembangkan senyumannya.
Setelah itu, Ardo memindahkan Aerilyn ke ranjang. Tidur bersama kucing gadis itu, sedangkan ia akan tidur di sofa.
***
Aerilyn membuka matanya secara perlahan, hal pertama yang ia lihat adalah Miu. Kucingnya itu sudah bermanja-manjaan pada tangannya. Kemudian matanya mulai menelusuri ruangan ini, sampai akhirnya ia menyadari sesuatu.
"Selamat pagi, nyenyak tidurnya?" Ardo baru saja masuk ke dalam kamar dengan stelan celana pendek dan kaus oblong. Tangannya membawa nampan berisi roti dan juga s**u.
"Kak, kok aku tidur di kamar Kakak? Ehm, maaf semalem kita gak ngapa-ngapain, 'kan? Terus tidurnya juga pisah ranjang?" tanya Aerilyn hati-hati.
Ardo mengernyitkan dahinya, sedetik kemudian ide jahil muncul di benaknya. Ia berencana untuk mengerjai gadis itu.
"Ehm, Lyn. Sebenernya semalem Mami sama Bi Inem enggak pulang ke rumah. Jadi karena rumah sepi, kita udah ngelakuin hal yang salah," ucap Ardo dengan mimik wajah yang dibuat-buat.
"Ma-maksudnya?" Aerilyn tampak serius, ia butuh penjelasan agar tidak salah paham.
"Ya, itu ... kita udah ngelakuin hal yang seharusnya gak kita lakuin. Jadi, semalem lo ngigau yang bikin gue ... ya, gitu intinya udah melakukan kesalahan yang besar!" ujar Ardo dengan akting yang langsung bisa dipercaya oleh Aerilyn.
Aerilyn menutup mulutnya sendiri, matanya sudah berembun. Jika berkedip saja langsung luruh air matanya.
"Ke-kenapa Kak Ardo ngelakuin hal itu sama aku?" Aerilyn terisak sembari memukul-mukul d**a bidang cowok itu.
"Ya, abisnya lo semalem ngigau-ngigau pengen gitu, meresahkan gue! Tapi, kalau terjadi apa-apa sama lo ... gue bakalan tanggung jawab, Lyn!" ujar Ardo memegang kedua tangan Aerilyn.
Aerilyn malah menangis histeris sampai Miu terus mengeong. Gadis itu memukul-mukul Ardo brutal dengan menggunakan bantal. Ia berteriak memaki cowok itu.
"Sorry, semalem gue khilaf, Lyn! Gue khilaf buat ngasih lo makanan sama ice cream pas lo lagi tidur. Lagian, lo ngigau pengen makan biskuit sama ice cream, jadi gue masukin aja ke mulut lo. Terus, lo juga terima gitu aja langsung dikunyah dan di telan meski dalam keadaan merem, keren ngigaunya!" jelas Ardo.
Aerilyn menghentikan perbuatannya, ia bahkan berhenti menangis. Hanya tersisa segukan saja.
"Ih, Kak Ardo gak lucu! Terus gak nyambung juga penjelasan awal sama yang tadi!" Aerilyn uring-uringan, ia kembali memukuli Ardo.
"Hah, gue gada bakat akting. Jadinya jelek gitu dramanya. Tapi, lo juga yang ogeb malah mikirnya cepet traveling. Jadi gampang banget boongin lo, gue jadi takut kalau nanti lo banyak dimanfaatkan sama orang-orang," ucap Ardo sembari meminum s**u yang tadi ia bawa.
Aerilyn tidak memperdulikan cowok itu lagi. Dengan ekspresi cemberut, ia turun dari ranjang dan saat tahu jam menunjukan pukul delapan pagi. Tentu saja ia berteriak histeris.
"Aaaa kita telat sekolah! Kak Ardo ngapain diem aja, buruan siap-siap!"
"Hari ini sekolah libur, katanya gak bakalan aktif juga karena guru-guru rapat," ucap Ardo dengan santai.
Aerilyn menghampiri cowok itu, lalu dengan sengaja Ardo memberikan pengumuman di layar handphone yang berasal dari grup chatting di kelasnya.
"Tapi aku kelas sebelas, Kak Ardo kelas dua belas! Itu ada di grup kelas Kakak, tahu. Sekarang malah aku yang bolos!" Aerilyn uring-uringan sendiri.
"Idih, punya mata itu dipake baik-baik dong! Baca pengumuman dengan benar, ini itu semua kelas libur," jelas Ardo dengan sabar.
Aerilyn hanya ber 'oh' ria sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Garuk kepala terus, ada kutunya?"
Aerilyn Kembali menghadiahi pukulan untuk Ardo. Tentu saja kali ini dengan tenaga yang full, membuat sang empunya meringis ketika mendapat serangan bertubi-tubi pada perutnya.
"Heh, kejam banget lo sama gue! Sakit nih, kalau perut gue gak punya roti sobek lagi gimana?!" sewot Ardo, sedangkan gadis itu hanya menjulurkan lidahnya lalu melenggang pergi keluar dari kamar cowok itu dengan membawa Miu.