Ardo mengangkat alisnya, ia merasa heran saat tiba-tiba Angga—ketua kelas Aerilyn menghampiri mereka. Mungkin lebih tepatnya menghampiri gadis itu, bahkan mereka tampak sangat akrab mengobrol tidak seperti biasanya. Bahkan ia merasa tidak dianggap ada oleh mereka. Padahal mereka baru saja turun dari mobil.
"Angga, skuy masuk ke kelas! Masih ada banyak yang mau aku obrolin, bakalan seru banget ini mah!" ucap Aerilyn antusias sembari menarik tangan Angga.
Ardo melongo melihat adegan itu, ia merasa ada perasaan aneh yang muncul dalam hatinya. Ia tidak suka melihat kedekatan mereka, apalagi jika dirinya diabaikan dan tinggalkan begitu saja. Merasa sangat tidak dihargai sama sekali karena tidak dianggap ada oleh mereka.
Ardo mengikuti sampai mereka masuk ke dalam kelas. Ia hanya bisa memperhatikan di ambang pintu, Serly dan Erina yang sudah teriak-teriak minta tugas saja Aerilyn abaikan.
Gadis itu malah sibuk mengobrol berdua dengan Angga di bangku belakang. Tampaknya mereka sangat akrab, bahkan terlihat seperti orang yang sedang berpacaran. Tertawa bahagia tanpa beban. Ardo sudah merasa tak tahan, ia segera melenggang pergi menuju kelasnya. Ada rasa aneh yang menjalar di hatinya.
***
Waktu istirahat sudah tiba, saat hampir seluruh siswa siswi pergi ke kantin untuk makan. Ardo malah repot mencari Aerilyn, ia tidak melihat gadis itu di mana-mana. Entahlah, hatinya memilih untuk mencari gadis itu ingin mengajaknya makan bersama di kantin.
Sampai akhirnya, ia mencari ke taman belakang sekolah. Benar saja, di sana ada Aerilyn yang sedang duduk di bawah pohon bersama dengan Angga.
Samar-samar Ardo mendengar tawa mereka berdua. Matanya juga bisa melihat, kalau Angga menjawil hidup Aerilyn lalu mencubit pipi gadis itu dengan gemas. Bahkan yang membuatnya semakin merasa tak suka, ketika Angga mengacak-acak rambut gadis itu. Rasa tak suka selalu saja menghampirinya, seperti orang yang tidak rela melihat kekasihnya lebih dekat atau disentuh oleh laki-laki lain.
"Udah deh, jangan cemberut kayak gitu, Ilyn ... lo itu kayak barbie, gemesin banget tahu!" kata Angga tertawa terbahak.
"Eits, tapi meskipun begitu. Cowok sejati gak main barbie, jadi gue gak bakalan mainin hati cewek!"
Ardo memang tidak terlalu jauh dari mereka, ia masih bisa mendengar sedikit percakapan mereka. Cowok itu hanya bisa tersenyum miris dengan tangan yang selalu terkepal sampai buku-buku tangannya memutih.
"Bahagia banget kayaknya lo, ngobrol berdua sama Angga. Mana ketawa-ketawa gitu lagi," lirih Ardo tertawa hambar.
"Hih, ini hati gue kenapa, dah? Kok rasanya gak suka lihat mereka berduaan kayak gitu? Ada yang salah kayaknya sama ni hati. Mana mungkin juga gue harus suka sama cewek jenis lampir kayak dia!" Ardo mencoba menepis rasa aneh yang memenuhi hatinya.
Masih dengan perasaan yang campur aduk, Ardo berbalik dan pergi. Sepertinya ia harus minum air dingin yang banyak, agar hatinya tak merasa panas lagi.
***
Area Parkiran pada jam pulang sekolah lumayan masih terlihat ramai. Apalagi saat ini sedang ada drama rebutan Aerilyn. Ardo dan Angga sedang memperebutkan gadis itu untuk diantarkan pulang oleh siapa.
"Ck, Ilyn sama gue aja! Lagian dia masih sama gue ... Lyn, yuk pulang sama gue, biar Mami nanti gak nanyain kenapa lo gak pulang bareng gue!" Ardo menarik tangan Ilyn, tetapi Angga juga menariknya.
Aerilyn menghentakan kedua tangannya, membuat dua cowok yang tadi berdebat itu segera menghentikan aksi mereka dan malah saling menatap tajam.
"Lyn, sama gue aja! Enak kalau di gue pake mobil, gak kayak dia di motor. Nanti kalau misalnya alergi dingin lo kambuh gimana?" kata Ardo dengan lembut berusaha membujuk, tetapi ada unsur menyindir Angga yang akan membawanya dengan motor.
"Huft, Kak Ardo maaf banget ... aku sama Angga mau makan siang bareng dulu karena ada hal yang harus kita urus bareng juga. Soal Mami nanti aku bisa ngabarin kalau aku pulangnya sama Angga. Terus nanti aku pinjem jaket dia aja buat aku pake dan nyuruh dia gak ngebut bawa motornya," jelas Aerilyn hati-hati agar Ardo mau mengerti.
Ardo menatap dengan penuh kekecewaan pada gadis di depannya itu. Selain itu, seluruh siswa siswi yang masih ada di sana saja sampai dibuat melongo tak percaya. Mereka ikut merasakan bahwa sepertinya Ardo kecewa karena sudah dibuat malu membuat harga diri cowok itu terasa terinjak-injak. Memang hal sepele, tetapi baginya itu sudah sangat memalukan.
Serly, Rania, dan Erina saling memandang tak percaya. Sedangkan Regan dan Fano hanya terkekeh melihat adegan itu. Kedua cowok itu sudah yakin, dugaan yang ada di benak mereka itu benar.
"Oke, gue pulang duluan!" Ardo segera masuk ke dalam mobilnya dan melaju meninggalkan gedung sekolah dengan perasaan yang tidak karuan.
Aerilyn menatap Angga dengan mata yang berkaca-kaca. Akan tetapi, cowok itu hanya mengusap lembut rambutnya seraya mengisyaratkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
***
"Kak Ardo mau ke mana?" tanya Aerilyn saat Ardo turun dari tangga.
"Kepo banget, lo! Gak usah ngurusin urusan gue deh, urusin aja pacar lo itu. Nanti cemburu kalau tahu gue deket-deket sama lo!" bentak Ardo emosi.
Aerilyn mengerucutkan bibirnya. Semenjak ia pulang dari sekolah, Ardo lebih suka mendiamkannya. Jika akan berbicara kepadanya pun, selalu dengan nada yang tidak bersahabat.
"Kak, aku ikut, ya? Di rumah gak ada siapa-siapa, Mami sama Bibi lagi ke luar. Aku takut kalau ditinggal sendirian, Miu juga udah bobo." Aerilyn merengek, ia juga terlihat seperti menggandeng tangan cowok itu dan menatapnya dengan menggemaskan.
"Huft, lo di apartemen berani, di rumah gue gak berani? Gak jelas banget, lo!" Ardo menghempaskan tangan gadis itu dengan kasar.
Aerilyn tahu, sebenarnya cowok itu akan pergi ke klub. Ia mendapatkan informasi dari Regan tadi sore, ia tidak ingin jika Ardo selalu ke sana. Ia harus bisa mencegahnya sebisa mungkin.
"Kak Ardo ... aku bikinin nasi goreng spesial, deh. Asal jangan keluar!" Aerilyn menangis terisak membuat cowok itu membelalakkan matanya.
"Ish, yaudah iya!" ketus Ardo. Dengan terpaksa cowok itu harus mau menerima permintaan Aerilyn yang manja itu.
Cowok itu langsung saja menghempaskan dirinya ke sofa. Ia merasa tidak tega juga jika meninggalkan Aerilyn sendirian di rumah.
Aerilyn tersenyum senang, gadis itu berjingkrak-jingkrak dan langsung pergi ke dapur untuk membuat nasi goreng sesuai janjinya tadi.
Saat sudah hampir sepuluh menit Ardo menunggu, tetapi gadis itu belum juga kembali dari dapur. Hal itu membuatnya sedikit merasa cemas, takut-takut jika dapurnya dihancurkan oleh Aerilyn.
"Duh, tu cewek semedi apa bikin nasi goreng, sih?!" gumam Ardo kesal.
Ardo beranjak dari duduknya dan ingin menghampiri gadis itu di dapur. Saat ia sampai di sana, ia melihat Aerilyn tengah mengelap lantai yang terlihat ada air berwarna coklat tumpah di sana. Tetapi, matanya seketika langsung fokus pada tangan kanan gadis itu terlihat merah.
"Heh, tangan lo kenapa?" tanya Ardo panik.
"Gak papa, Kak. Ini tadi cuman kena air teh ini aja!" jawab Aerilyn dengan santai disertai senyuman manisnya.
"Dih, lu itu manusia atau bukan, sih?!" geram Ardo.
Cowok itu langsung menarik tangan Aerilyn dan membasuh tangannya di tempat cuci piring. Ia membiarkan tangan gadis itu terkena air yang mengalir beberapa menit. Kemudian, ia mengambil perban, dan menutupi luka yang terkena air panas tadi.
"Kak Ardo jangan lebay, deh. Ini cuman luka kecil tahu!" kata Aerilyn dengan kesal.
"Lo bilang luka kecil?! Ini kalau dibiarkan bisa bahaya tahu, emangnya lo gak panas atau sakit gitu? Fiks, gue makin yakin kalau lo robot! Emang pantes aja gak punya perasaan," hardik Ardo dengan penuh amarah.
"Ya maaf, lagian cuman kena air teh aja. Tadi abis bikin nasi goreng langsung bikin air teh buat minumnya," ucap Aerilyn dengan lirih.
Ardo memutar bola matanya malas, padahal mereka bisa hanya meminum air putih saja. Apalagi hanya makan nasi goreng, tidak perlu dengan minum air teh.
"Udah, sekarang kita makan aja! Gue laper banget, terus lo juga biar gue yg suapin. Tangan kanan lo baru aja kena musibah," kata Ardo mulai memelankan nada bicaranya.
Aerilyn yang ingin menolak langsung mengangguk patuh saat mendapat tatapan tajam dari cowok itu. Ia tidak ingin semakin menambah masalah dan membuatnya semakin marah. Ia takut akan terkena masalah besar nantinya.
Saat sedang disuapi Ardo, Aerilyn mendapat notif dari ponselnya. Ia segera paham dengan isi pesan yang dikirimkan oleh seseorang.
"Kak, abis makan ke luar, yuk! Aku bosen banget di rumah terus," kata Aerilyn dengan mimik wajah yang dibuat-buat.
"Keluar aja sama Angga, sana! Lo kan pacaran sama dia," ujar Ardo dengan ketus.
"Ish, kan aku maunya sama Kak Ardo! Ini juga udah malem, pengennya sama Kak Ardo aja. Lagian aku sama Angga gak pacaran tahu, kita itu cuman teman." Aerilyn merengek dan terlihat ingin menangis, membuat Ardo tak bisa apa-apa selain menuruti kemauannya.
Setelah makan, Aerilyn mengajak Ardo ke taman kota. Mereka ke sana dengan mobil Ardo, katanya ia tidak ingin gadis itu harus merasakan hawa dingin malam hari jika menggunakan motor. Cowok itu juga menyuruhnya menggunakan jaket yang sangat tebal, agar di taman nanti tidak kedinginan.
Setelah sampai, mereka duduk di bangku taman yang ada di sana. Suasana di taman kota tidak terlalu ramai. Mereka bisa menikmati suasana malam ini dengan tenang.
"Kak, sekarang baru jam sembilan. Nanti kita pulang agak larut, ya? Aku pengen ngabisin waktu berduaan sama Kak Ardo. Kan, besok aku udah mau balik ke Apartemen," ucap Aerilyn sembari menatap langit malam yang tampaknya banyak dihiasi bintang.
Ardo menghela napas, ia tidak bisa lagi terus-menerus menahan gadis itu agar tetap tinggal di rumahnya. Cowok itu langsung membawa Aerilyn ke dalam dekapannya. Gadis itu hanya tersenyum dan membalas pelukannya.
"Kak, kita di sini sambil cerita-cerita aja, ya!"
Mereka saling berbagi cerita satu sama lain, menceritakan momen lucu sampai mereka tertawa terbahak. Mereka sampai tidak sadar bawa waktu semakin larut dan hampir menunjukan pukul 12 malam. Akhirnya mereka begergas pulang.
Saat mereka sampai di rumah, tampak suasana rumah sangat sepi dan gelap. Sampai akhirnya lampu menyala dan terdengar suara balon meletus.
"Happy birthday, Ardo!" ucap semua orang yang berada di dalam rumah.
Di sana ada banyak orang, ada maminya, teman-teman kelasnya, serta Angga dan teman-teman Aerilyn. Mereka langsung menyanyikan lagu happy birthday dan menyuruh cowok itu meniup lilin.
Meskipun sudah setengah satu malam, mereka tetap menikmati pestanya dengan makan-makan.
"Ardo, lo tenang aja. Gue sama Ilyn gak ada hubungan apa-apa. Pas kita barengan itu cuman lagi ngerencanain acara ulang tahun lo ini atas izin Mami lo," jelas Angga dengan berbisik.
Ardo menautkan kedua alisnya. "Ya, bodo amat. Terus apa urusannya sama gue?"
"Lah? Lo cowok atau bukan, deh? Sama perasaan sendiri aja enggak tahu. Padahal semua orang juga tahu kali, kalau lo itu suka sama Aerilyn. Kenapa lo gak coba nyatain cinta aja sama dia, lagian si Ilyn itu cewek lugu yang pasti nge-iyain aja," cerocos Angga membuat Ardo memutar bola matanya jengah.
'Gue suka sama Ilyn? Masa sih? Yang bener aja?'