Aerilyn baru saja sampai di sekolah. Kemudian bola mata besar itu seketika langsung melihat ke arah parkiran, alisnya bertaut saat tidak menemukan motor Ardo di sana. Biasanya sebelum ia sampai, motor cowok itu sudah terparkir dengan manis di sana. Hal itu sudah terjadi seminggu belakangan ini, semenjak ia pulang ke apartemen miliknya saat setelah merayakan ulang tahun cowok itu.
"Ehm, kenapa perasaan aku jadi ngerasa gak enak, ya? Aneh aja rasanya, kayak ada yang hilang." Aerilyn bermonolog.
Aerilyn mengembuskan napas kasar, lalu ia kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang kelas. Meski begitu, tak membuat bayangan Ardo dalam benaknya menghilang.
Entah kenapa akhir-akhir ini, suara cowok itu sangat membuatnya candu. Hingga saat ini tidak ada lagi suara yang akan mengejutkannya di koridor dan mengantarkannya sampai ke kelas sambil berceloteh. Semua itu membuat ia merasa ada yang hilang, tentu saja ia sedang dilanda rindu. Mereka selalu melakukan hal tersebut, tetapi rasanya sekarang menjadi asing sebab tak ada lagi sapa hangatnya, membuat semangat Aerilyn menurun.
***
Aerilyn menatap ponselnya sendu, puluhan panggilan telepon untuk Ardo, tidak ada satu pun yang diangkat. Mengetahui cowok itu tidak masuk sekolah, membuatnya semakin khawatir. Entahlah, ia benar-benar menginginkan dia berada di sampingnya saat ini. Agar menjadi seperti biasa, di mana mereka selalu bertukar cerita tentang apa saja yang sudah mereka lalui.
Waktu istirahat sudah berlalu lima menit. Akan tetapi, Aerilyn masih berdiam diri sendirian di kelas. Tidak ada lagi semangat di matanya yang biasa berbinar kini menjadi sayu dan sendu. Bibir yang selalu tersenyum merekah, kini terganti menjadi guratan sendu tak seceria biasanya.
"Ish, kenapa enggak tanya sama Kak Regan aja? Dia pasti tahu semuanya! Kenapa gak kepikiran dari tadi aja sih, dasar Ilyn! Haduh, untuk otaknya masih bisa dipake mikir nih." Aerilyn merasa mempunyai secercah harapan membuat matanya sedikit berbinar.
Ia mencari nama Regan di kontaknya, kemudian setelah menemukannya ia segera menekan tombol panggilan. Tidak menunggu waktu lama, cowok itu sudah mengangkat telepon darinya.
"Hallo, Kak Regan! Kak, kenapa Kak Ardo enggak masuk sekolah?" tanya Aerilyn serius.
[Idih, ada yang kangen, nih! Kenapa? Baru aja Ardo gak masuk sehari, lo ngerasa udah kehilangan.] suara Regan di seberang sana terkesan sedang meledeknya. Diikuti dengan suara tawa yang lain, ia tahu itu suara teman-temannya juga.
"Ish, Kak Regan ... aku serius tahu! Bukannya jawab malah ngeledek. Ayo cepat jawab! Keadaanya lagi genting tahu!" kata Aerilyn dengan nada suara yang meninggi.
[Hati lo yang lagi genting Lyn? Gitu amat saking kangennya sama Ardo. Padahal dulu dia jadi cowok yang masuk list buat lo musnahin. Eh, sekarang malah jadi cowok yang paling lo rinduin dan gue yakin lo gak bisa lepas dari dia, 'kan?] cerocos Regan di seberang sana malah semakin membuat gadis itu kesal.
Aerilyn menjambak rambutnya sendiri ia malah uring-uringan, merasa khawatir pada Ardo. Lebih parahnya Regan seolah-olah menyembunyikan cowok itu, tak ingin memberitahunya. Hal itu semakin membuatnya frustrasi. Padahal hanya dia yang bisa dijadikan sumber informasi yang akurat, secara Regan adalah sahabat Ardo. Jika bukan demi mencari informasi, sudah ia pastikan sedari tadi ia memutuskan panggilan teleponnya.
"Kak Regan gak usah banyak omong, deh. Sekali ini aja ya, Ilyn mohon cepetan Kak Regan kasih tahu!" sentak Aerilyn yang sudah geram mendengar ocehan yang tak penting dari cowok itu.
[Ck, lo emangnya gak tahu, kalau Ardo itu kecelakaan?! Gue kirain lo tahu. Gue kira Mami si Ardo udah ngasih tahu lo, tapi ternyata belum, ya?] ujar Regan di seberang sana, membuat tubuh Aerilyn menjadi kaku seketika.
"Rumah sakit mana?" tanya Aerilyn menahan sesak. Ia tak ingin lagi meladeni ocehan Regan yang hanya akan membuat telinganya sakit.
Gadis itu mengerjapkan matanya secara perlahan setelah cowok itu memberi tahunya, ia masih tak percaya. Regan yang memanggilnya saja ia abaikan, sampai akhirnya ia memutuskan telepon secara sepihak karena sudah mendapatkan informasi yang ia inginkan.
"Hah, Kak Ardo emang orangnya gak pernah hati-hati, ya? Buktinya sekarang malah kecelakaan gitu, bandel sih kalau dibilangin. Pasti kebut-kebutan lagi nih, emang kudu dikasih pelajaran tuh, harus di jewer!" Aerilyn mencak-mencak di tempatnya karena merasa kesal.
Setelah kembali tersadar dan emosinya stabil, tanpa pikir panjang. Aerilyn segera meraih tas dan menyampirkannya di bahu kanan. Lalu, ia segera berlari ke arah belakang sekolah, sudah dipastikan tidak akan ada yang melihatnya karena ini jam istirahat. Dengan keahliannya, ia sudah bisa memanjat ke tembok sampai akhirnya ia bisa keluar dari sekolah.
Sepertinya ia beruntung, baru mendarat karena loncat tadi. Ia sudah langsung bisa menemukan taksi, sebab langsung mengarah pada pinggir jalan. Tanpa basa-basi, ia segera masuk ke dalam taksi.
"Pak, ayok kita ke rumah sakit!" ujar Aerilyn dengan panik.
"Neng, bolos sekolah, ya?" supir taksi itu malah bertanya membuat Aerilyn menjadi geram.
"Aduh, jangan banyak tanya dong, Pak! Ini darurat banget! Pokoknya kita sekarang ke sana ya, Pak. Gak usah tahu saya bolos apa enggak pokoknya cus, langsung aja ke rumah sakit! Nanti saya kasih tahu tempatnya," omel Aerilyn yang sudah semakin kesal.
Saat melihat wajah Aerilyn yang pucat, bahkan berkeringat. Supir taksi itu segera melaju menuju rumah sakit yang sudah gadis itu sebutkan tadi. Ia juga tak ingin terkena omel, takut sekali dengan amukan singa betina. Merasa apes nanti karena baru saja dimarahi atasan, eh malah diomel juga oleh penumpang yang tidak sabaran.
***
Aerilyn sedang berlari di koridor rumah sakit untuk menjenguk Ardo. Perasaanya tidak karuan sekarang, untung saja tadi suster memberi tahu ruang inap cowok itu berada di lantai atas.
Saat sudah menemukannya, ia segera membuka pintu dengan kasar. Membuat sang empunya yang di rawat terkejut melihat kedatangannya. Bahkan rambut Aerilyn sudah acak-acakan, tetapi ia tidak peduli disertai napas yang tidak stabil.
Ardo menarik sudut bibirnya saat melihat Aerilyn berjalan mendekat ke arah cowok itu. Ia sudah menebak, gadis itu terlihat sangat panik dan khawatir. Entahlah, hal itu membuat perasaanya menjadi senang karena merasa diperhatikan.
"Kak Ardo gak papa, 'kan? Gak ada yang sakit atau luka juga, 'kan?" tanya Aerilyn dengan polosnya atau mungkin karena terlalu panik jadi bertanya yang tidak berbobot.
"Alhamdulillah, gue sehat!" Ardo mendelik kesal.
"Terus ngapain masuk rumah sakit?! Nge-prank aku, iya? Ish, jahat banget sih! Kak Ardo tahu gak perjuangan aku buat ke sini? Buat nyari info tentang Kakak? Mikirin juga gak sih, perasaan aku?!" Aerilyn tak kalah sinis. Matanya sudah memerah entah kenapa, tetapi hal itu sedikit membuat sudut bibir Ardo tertarik.
"Ck, lo juga nanyanya gak tepat banget! Kalau masuk rumah sakit, berarti gue lagi gak baik-baik aja. Nih, kaki gue yang kanan cedera, jadinya gak bisa jalan untuk sementara waktu!" jelas Ardo dengan kesal, membuat gadis itu hanya tergagap.
Aerilyn mendaratkan bokongnya pada kursi yang ada di samping brangkar cowok itu. gadis itu tidak lagi membuka suara, hanya menatap Ardo dengan tatapan intimidasi. Membuat cowok itu gugup sendiri.
Lalu tanpa diminta, tiba-tiba saja Aerilyn menangis. Ardo langsung memeluk dan menenangkannya, cowok itu malah menjadi kasihan. Merasa tak tega dengan keadaan gadis yang sedang ia peluk itu sudah kacau. Ya, penyebabnya adalah ia sendiri.
Ardo menghapus air mata Aerilyn dengan lembut. Dalam tatapan gadis itu ia tahu bahwa dirinya harus menjelaskan semua yang terjadi padanya.
"Iya, gue ngaku sama lo. Semalem gue balapan liar, untung cuman jatoh ketiban motor. Ponsel gue juga aman sih, cuman batrenya abis," jelas Ardo karena tahu gadis itu ingin penjelasan.
"Pantes aja di telepon gak diangkat!" Aerilyn mendelik dengan bibir yang mengerucut menggemaskan.
Cowok itu menatap jam dinding, masih menunjukan pukul 10 pagi. Itu artinya Aerilyn bolos sekolah, satu hal yang baru terjadi setahunya. Ia malah senang saat tahu kalau gadis itu bolos karena ingin datang menjenguknya.
"Ck, ngapa juga kaki gue malah jadi sakit, sih?! Jadinya gue gak bisa jalan ... meski sementara waktu, tetep aja gue kesel! Mana Mami malah ada di luar negeri, gak yakin gue kalau Bi Inem bisa rawat gue di rumah." Ardo memandang kakinya kesal.
Aerilyn mengangkat alisnya saat tiba-tiba Ardo mengatakan hal itu. Ia yang tadinya khawatir, sekarang malah jadi kesal saat tahu alasan cowok itu masuk rumah sakit.
"Ya, salah sendiri sendiri. Ngapain ikut balapan liar, gak guna banget ... jadi, tanggung aja risikonya sendiri," ucap Aerilyn dengan santai, membuat Ardo berdecak sebal.
Ponsel Aerilyn berbunyi, membuat ia mau tak mau mengambil ponselnya yang ada di saku rok.
"Siapa yang telfon lo?" tanya Ardo penasaran.
"Ini Mami!" Aerilyn menunjukan nama yang terpampang di layar ponselnya. Ardo segera menyuruhnya untuk mengangkat dengan loud speaker.
[Hallo, Ilyn sayang. Maaf mengganggu waktunya ya, ini Mami dapet kabar kalau Ardo kecelakaan. Tapi ini Mami belum bisa pulang entah sampai kapan, kamu bisa gak jagain Ardo dulu di rumah? Hari ini katanya dia mau pulang aja, Mami gak bisa nyuruh Bi Inem karena dia tadi minta cuti] ujar Nani langsung mengutarakan maksudnya.
Aerilyn menatap cowok itu yang mengangguk, seakan menyuruhnya untuk mengiyakan permintaan Nani.
"Baiklah, nanti aku pindah lagi ke rumah Mami buat jagain Kak Ardo. Mami di sana baik-baik ya, jangan lupa jaga kesehatan. Gak usah mikirin Kak Ardo ya, fokus aja di sana. Aku bakalan jagain dengan baik anak Mami yang manja itu," ucap Aerilyn dan langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
"Kayaknya lo udah ditakdirin biar gak jauh-jauh sama gue, apalagi pergi dari rumah gue," kata Ardo tersenyum aneh, membuat Aerilyn mencebik.
"Gak usah geer, awas aja! A-Aku cuman mau kabulin permintaan Mami aja. Soalnya Kamu udah baik sama aku," dusta Aerilyn, padahal sebenarnya ia sangat senang bisa merawat cowok itu.
Ardo hanya bisa terkekeh saat melihat Aerilyn melotot padanya. Ia malah semakin menjadi gemas pada gadis itu. Ia mengaku, memang selalu merasa ada perasaan aneh yang selalu menjalar dalam hatinya saat bersamanya.
Ia bahkan merasa tidak rela saat Aerilyn dekat bersama cowok lain, hal itu terbukti saat gadis itu dekat dengan Angga dulu.