17

1680 Kata
"Hallo guys, mana karpet merah gue, nih? Ayo, dong sambut! Masa seorang Fano datang tapi tidak disambut dengan karpet merah? Kalian ini sungguh keterlaluan dan sangat tidak menghormati tamu kalian yang ganteng ini!" Fano membuka pintu dan berlagak seperti seorang Raja yang ingin berjalan di karpet merah seraya berkacak pinggang seolah berkuasa. "Banyak gaya lu, Fan! Gue jadi kasihan sama Riana, punya pacar sengklek kayak lo," ujar Serly mendorong Fano dari ambang pintu untuk segera masuk. Di belakang mereka ada Regan, Riana, dan juga Erina. Dua insan yang tadi sedang mengobrol ringan malah terkekeh karena kedatangan mereka yang tiba-tiba dengan tingkah nyeleneh. Entah beruntung atau tidak mendapat teman seperti itu, tetapi untung badut hiburan gratis lumayan lah. "Lyn, lo gak seru, ah! Bolos gak ngajak-ngajak, jadi pengen ngajak baku hantam!" ujar Erina membuat Aerilyn terkekeh. Mereka duduk di sofa yang memang ada di sana. Sedangkan Fano dan Regan berdiri di samping Ardo yang masih terbaring, ia malas untuk sekadar duduk. "Ck, kurang seru kecelakaannya gak koma! Padahal gue pengen ada adegan dramatisnya, koma terus sekarat gitu. Biar lebih seru dan yang jenguk lo supaya lebih banyak! Kan lumayan tuh, buah tangan orang-orang biar gue yang nyomot," seloroh Fano seraya berdecak kesal. "Lebih seru lagi kalau langsung kita ngelayat, lumayan duitnya bisa dipake buat nongki-nongki di kafe. Iya, gak?" sambung Regan dengan menaik turunkan alisnya kemudian tergelak bersama Fano. Aerilyn yang mendengar hal tidak mengenakan itu langsung bangkit dari duduknya lalu menampol kedua bibir cowok itu dengan kesal. Ia merasa mereka sama sekali tidak merasa prihatin sedikit pun. Padahal mereka sahabatnya, tetapi malah berbicara yang tidak seharusnya. "Sakit Lyn," ucap Regan dan Fano bersamaan. Mereka menatap Aerilyn dengan tak berdaya seolah gadis itu telah menganiaya mereka. "Huh, kalian itu kan sahabatnya Kak Ardo. Orang sakit gini harusnya didoain baik-baik. Eh, ini malah diucapin hal-hal yang seharusnya gak kalian ucapin. Punya hati gak, sih?!" sentak Aerilyn membuat kedua cowok itu salah tingkah di tempat mereka berdiri. "Please Lyn, gue sama Fano cuman bercanda aja. Namanya aja sahabatan," ujar Regan membela diri. Riana dan Serly saling memandang mengulum senyum, mereka sudah tahu kalau Aerilyn benar-benar sangat tidak menginginkan terjadi sesuatu apa pun pada Ardo. Mungkin, gadis itu sudah mulai menyayanginya. Apalagi gadis itu tidak pernah bolos sebelumnya. "Kak Ardo apakah benar begitu?" tanya Aerilyn mengangkat alisnya dengan kedua tangan bersedekap di depan d**a. "Tahu tuh, Lyn. Mereka malah suka kayak gitu sama gue, marahin aja, Lyn! Mereka bukan becanda tapi emang seneng kalau liat gue sengsara kayak gini. Buruan marahin, hati gue sakit banget nih sama kelakuan mereka berdua. Please belain gue kali ini. Lo percaya kan, sama gue?" ujar Ardo memanas-manasi suasana. Aerilyn yang langsung percaya kepada perkataan cowok itu, ia melotot kepada mereka berdua. Membuat Fano dan Regan tergagap di tempatnya. Lalu mereka berdalih ingin pergi ke kantin membeli roti dan air untuk para manusia yang ada di dalam ruangan, mengganjal perut mereka agar tidak terlalu lapar. *** Ardo sekarang sudah berada di rumah, diantar oleh teman-temannya dengan kursi roda. Ia merasa bersyukur bisa dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya. Apalagi, hatinya terasa lebih hangat saat mengetahui Aerilyn peduli kepadanya, sampai berani bolos sekolah. Entahlah, ia sangat suka diperhatikan dan dibela oleh gadis itu saat tadi di rumah sakit. "Thanks banget udah nganterin gue pulang," ucap Ardo dengan tulus. Membuat teman-temannya mengangguk. "Lyn, lo jaga diri baik-baik ya, di sini. Kalau Ardo macem-macem langsung telfon gue, ya?" kata Regan dengan mengelus rambut Aerilyn dengan lembut. Gadis itu hanya mengangguk polos, lalu Regan memeluknya erat. "Rindu banget gue meluk lo kayak gini, Lyn ... udah lama juga gak anter jemput lo ke sekolah. Soalnya sekarang lo udah ada yang jagain, cuman yang bakalan jagain lo malah sakit! Jadinya lo harus jagain dia dulu bentar." Riana melihat interaksi mereka, lalu melihat wajah Serly yang terlihat tidak cemburu sama sekali. Ia hanya melihat gadis itu tersenyum saja. Ia penasaran, lalu ia berbisik pada Serly. Bertanya mengapa gadis itu tidak cemburu? "Mereka udah sahabatan sejak SMP, udah kayak Abang sama Adek. Yakali gue cemburu sama mereka," ungkap Serly dengan berbisik juga. Riana mengangguk mengerti, mungkin banyak orang yang berpikir demikian. Namun, mereka tidak setahu seperti Serly. Memang banyak sekali pasangan kekasih yang akan selalu cemburu melihat pasangannya lebih dekat dengan sang sahabat. Akan tetapi, Serly memiliki jalan pikiran yang berbeda karena ia juga sangat mengetahui siapa Regan dan Aerilyn. Bahkan gadis itu akan selalu menyuruh sang kekasih untuk selalu ada untuk sahabatnya ketika dibutuhkan. Namun, sekarang ia lebih bersyukur karena Aerilyn juga sudah bisa lebih dekat dengan lelaki yang mungkin saja disukainya. "Lyn, lo di sini sama Ardo berdua. Sering-sering baca ayat kursi aja, ya? Biar gak ada set*n yang membuat Ardo imannya menipis," ucap Fano tiba-tiba membuat mereka langsung mendelik ke arah cowok itu. Riana yang ada di sampingnya refleks menampol mulut Fano dan membisikan kata-kata entah apa itu. Sampai cowok itu menunduk dan minta maaf. "Mampus, dimarahin pawangnya," ledek Erina membuat teman-temannya menahan tawa. "Kalau gitu, gue sama yang lain pamit, ya? Kalian baik-baik deh, di sini. Semoga lo juga cepet sembuh ya, dan bisa jalan lagi!" ujar Regan menepuk pundak Ardo. Ardo mengangguk lalu berterima kasih kepada mereka. Aerilyn mengantarkan mereka sampai ke depan, hingga benar-benar keluar dari gerbang rumah menghilang dari pandangan. "Kak, dorong sendiri ke kamar, ya?" ucap Aerilyn dengan tatapan lelah. "Ck, lo sekarang jadi pengasuh gue. Sekarang lo itu harus ngurusin gue dong ... tenang aja, nanti gue bakalan ngasih lo gaji!" ujar Ardo congkak. Aerilyn yang mendengar kata 'gaji' matanya membelalak, berbinar. Seolah mendapatkan harta karun, tubuhnya yang sudah lelah kini terasa kembali segar bugar. "Baiklah, Tuan yang saya hormati. Mari saya antar ke kamar tamu. Soalnya kalau ke atas gak bisa naik tangga," jelas Aerilyn. Setelahnya, gadis itu mendorong kursi roda yang diduduki Ardo. Mengantarkannya sampai ke dalam kamar tamu. Membantunya untuk merebahkan diri di kasur, lalu menyelimutinya. "Kak Ardo laper enggak? Mau makan?" tanya Aerilyn dengan lembut dan penuh perhatian. Gadis itu berpikir harus bisa bekerja dengan sebaik mungkin. Agar nantinya, ia bisa mendapatkan gaji yang lumayan. "Gak mau ah, gue gak laper!" tolak Ardo langsung memejamkan matanya. Aerilyn beranjak dari sana, keluar dari kamar untuk pergi ke dapur mengambil segelas air. Ia takut nanti malam cowok itu haus. Aerilyn mengambil gelas dan mengisinya dengan air yang ada di galon. Lalu segera kembali ke dalam kamar Ardo, ia langsung melihat cowok itu malah asyik bermain ponsel. Gadis itu meletakan gelas berisi air di nakas samping ranjang. Ia lalu merebut ponsel Ardo, membuat cowok itu mendelik ke arahnya. "Kak Ardo, sayang ... mending sekarang bobo, ya. Harus banyak-banyak istirahat, biar cepet sembuh! Jangan main HP terus, ntar keasikan scrool sosmed malah jadi bergadang gak inget waktu," cerocos Aerilyn, lalu meletakan ponsel cowok itu di meja belajar yang jaraknya lumayan jauh dari ranjang. "Ck, gue ini bukan lo! Gak usah ngatur deh, Lyn," geram Ardo menatap tajam gadis itu. "Usttt, bayi gede sekarang bobo, ya? Katanya mau cepet sembuh, apa mau dinyanyikan lagu pengantar tidur juga, hum?" Aerilyn menaikan selimut cowok itu sampai ke d**a, lalu mengusap lembut rambutnya. Ardo merasa, ia sekarang benar-benar seperti seorang anak kecil yang akan ditidurkan oleh sang ibu. Aerilyn hendak pergi dari sana, tetapi cowok itu menggenggam tangannya. "Lyn, gak tidur di sini aja? Temenin gue?" di matanya ada penuh pengharapan. Aerilyn membelalakan matanya, pikirannya sudah jauh entah ke mana. "Aduh, bener nih, kata Kak Fano. Aku harus banyak-banyak baca ayat kursi di sini!" Ardo yang mengerti apa yang gadis itu pikirkan segera menghempaskan tangan gadis itu dengan raut wajah kesal. "Pikiran, lo! Tolong dikondisikan itu otaknya ya, Mbak! Gue juga ogah kalau tidur seranjang sama lo, maksud gue ... lo tidurnya di sofa atau di lantai kek, terserah! Biar gue gak sendiri amat di sini." Aerilyn memutar bola matanya malas. "Ogah, ah! Gak mau banget tidur di sofa atau di lantai. Udah tahu badan aku sudah lelah, ingin cepat-cepat tidur dan membutuhkan kenyamanan lahir batin. Jadi aku tidur di kamar sebelah aja!" "Ntar kalau malem-malem gue butuh lo, gimana? Misalnya mau ke kamar mandi?" tanya Ardo hati-hati takut gadis itu kesal, apalagi saat mendengar pengakuan jika dia lelah. "Tinggal teriak, atau kalau enggak telepon aja! Aku juga ada di kamar sebelah kok, bukan di gudang! Aku juga mau ganti baju nih, seragam aku udah bau ... sekalian mau aku cuci sama keringin besok mau dipake lagi! Yaudah deh, aku mau ke kamar Mami dulu buat minjem baju. Ntar sekalian nyuci, kalau ada apa-apa tunggu sampe aku selesai dulu!" Aerilyn segera keluar dari kamar Ardo dengan perasaan kesal. Ardo membelalakan matanya, menatap tajam gadis yang tadi membanting pintu kamar dengan keras. Bagaimana jika nanti dia ingin ke kamar mandi? Lalu saat teriak memanggil gadis itu, tidak akan ada respon? Lagi pula untuk soal menelepon, ponselnya itu ada dijangkauan yang jauh karena ulah Aerilyn. "Dih, dasar udah sableng! Tapi, kasihan juga sih, kayaknya dia emang capek banget kalau ngeliat dari wajahnya. Soalnya di rumah sakit dia yang ngurusin gue, bolak balik sana sini ngurusin kepulangan gue dan ngelayanin temen-temen juga selama di sana," gumam Ardo yang kini malah merasa bersalah. Ia tersenyum singkat, mengingat wajah khawatir gadis itu. Lalu saat mengingat Aerilyn yang selalu menuruti keinginannya di sana, perhatiannya yang tulus juga tak bisa membuatnya menutupi rasa aneh yang ada di dalam d**a. Belum lagi saat Aerilyn memarahi teman-temannya yang berisik di ruangannya saat ia sedang tidur, ya pura-pura lebih tepatnya. 'Ish, kok mikirin itu lagi bikin gue seneng, sih? Mana senyum-senyum kek orang sakit jiwa. Ish, gue kenapa?! Masa iya, gue suka sama dia, sih? Hm, mana mungkin gue suka sama cewek jenis Aerilyn gitu, kayaknya salah minum obat nih! Atau tadi minum obat pelet dari Ilyn? Wah parah sih kalau beneran kayak gitu. Gak bakalan bisa menyangka kalau gadis lugu itu ngasih pelet ke gue,' batin Ardo terus saja berargumen tanpa henti. "Ish! Gue gak mungkin juga suka sama dia!" lirih Ardo dengan yakin dan penuh penekanan. Cowok itu kemudian mengembuskan napas kasar, lalu menutup wajahnya dengan selimut. Mencoba untuk memejamkan mata sampai akhirnya terlelap untuk menjemput alam mimpi. Berharap esok hari akan ada hal yang lebih baik daripada hari ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN