Pagi yang baru untuk Aerilyn, sebagai pengasuh Ardo. Kini ia bangun lebih awal, sebab sekalian ingin membuat sarapan untuk dirinya dan juga Ardo. Belum lagi harus menyiapkan obat cowok itu, tidak lupa juga ia sedikit membereskan rumah ini. Akan tetapi, tidak semua ruangan, bisa-bisa dia tidak ada waktu ke sekolah. Ia jadi berpikir, Bi Inem hebat mengurus sendiri rumah yang terbilang besar ini. Apa mereka juga tak ada niatan untuk memiliki dua asisten rumah tangga?
"Kak Ardo ganteng, yuhu ... bangun wey, sarapan!" teriak Aerilyn memekakan telinga.
Aerilyn masuk ke dalam kamar cowok itu dengan nampan yang ada di tangannya berisi semangkuk bubur dan air putih. Ardo menggeliat pelan, cowok itu mengucek matanya, lalu mengerjap pelan berusaha untuk menyesuaikan dengan cahaya di ruangannya. Masih berusaha mengumpulkan nyawanya.
Aerilyn menaruh nampan di nakas, lalu ia mencoba untuk membantu cowok itu untuk duduk. Agar nanti lebih mudah untuk makan.
"Udah rapih aja lo pake seragam, emang sekarang jam berapa?" tanya Ardo dengan suara khas orang baru bangun tidur.
"Baru jam enam, sih ... ah, udahlah Kak! Sekarang mending Kak Ardo makan, ya? Aku suapin, nanti abis makan bubur langsung minum obat, ya!" kata Aerilyn seperti seorang Ibu yang cerewet terhadap anaknya.
"Kok bubur? Gue bukan bayi, dasar lo bocil!" ujar Ardo membuat Aerilyn memutar bola matanya malas.
"Bocal bocil, bocal bocil! Aku itu bukan anak kecil Kak Ardo, kalau aku anak kecil. Mana mungkin bisa rawat Kak Ardo, heum?" kata Aerilyn mengangkat satu alisnya.
Ardo hanya diam, ia tidak ingin lagi menanggapi. Hanya menurut saja saat disuapi oleh gadis itu. Tetapi ia diam-diam mengamati wajah Aerilyn yang tampak lebih cantik saat diperhatikan dari jarak yang dekat. Wajahnya yang terlihat lugu, semakin menambah kesan tersendiri untuknya.
Aerilyn bahkan bersikap seolah-olah seorang Ibu yang menyuapi bayi. Ia bermain kapal-kapalan dengan sendok berisi bubur lalu memasukannya ke dalam mulut Ardo. Semakin menggemaskan saja ia di mata cowok itu. Agak kekanak-kanakan sih, tetapi tidak mengurangi penilaiannya pada gadis itu. Malah menurutnya semakin menambah kesan tersendiri untuknya.
"Lyn, lo udah sarapan belum?" tanya Ardo saat setelah selesai menghabiskan semangkuk bubur buatan gadis itu. Lalu ia minum beberapa teguk air untuk menyegarkan tenggorokannya.
Aerilyn mengangguk, "Udah, Kak. Tadi sebelum kasih ini ke Kak Ardo aku udah makan nasi goreng."
Ardo meruntuk dalam hati. Kenapa ia diberikan bubur, sedangkan gadis itu makan nasi goreng? Sepertinya ia merasa itu sedikit tidak adil. Akan tetapi, ia tidak ingin lagi memperpanjang masalah. Takut jika gadis itu akan terlambat untuk berangkat ke sekolah nantinya, sebab ia tahu bahwa nanti akan menjadi perdebatan yang panjang. Yang akan disalahkan siapa lagi kalau bukan Ardo nantinya?
Aerilyn memberikan beberapa obat yang terdiri dari kapsul dan tablet. Ukurannya lumayan besar membuat Ardo tidak ingin lagi meminumnya. Jujur saja, jika sedang bersama maminya ia akan terkesan lebih manja dan tidak ingin minum obat. Namun, ini beda lagi ... ia sedang bersama gadis itu yang bisa saja membocorkannya kepada orang lain.
Aerilyn meninggalkan kamar cowok itu dengan membawa kembali nampan, mangkuk, dan gelas itu ke dapur. Lalu tiba-tiba kembali lagi dengan membawa botol beserta segelas air, membuat Ardo keheranan.
"Cil, lo ngapain bawa botol? Mau isi ulang buat diisi amer?" tanya Ardo penasaran.
Aerilyn sebenarnya ingin berkomentar tidak ingin disebut bocil ataupun 'cil' tetapi apa daya. Ia sudah tak punya waktu untuk mengomel lagi, Regan bahkan sudah ada di depan menjemputnya untuk berangkat sekolah bersama sesuai kesepakatan kemarin malam.
"Ini botol buat Kak Ardo, siapa tahu nanti pengen pipis. Kalau nanti siang, aku pesenin gr*b food buat Kakak biar nanti Pak satpam yang anterin ke sini. Jangan lupa nanti minum obatnya, okey?" jelas Aerilyn menjelaskan secara rinci. Ardo hanya mengangguk dengan meneguk salivanya susah payah. Ia tidak menyangkan bisa sedetail itu, sampai urusan buang airnya saja diperhatikan.
Aerilyn mengambil ponsel cowok itu yang semalam ia jauhkan, lalu mengembalikan padanya. "Ini, kalau ada apa-apa langsung aja telepon!"
"Lo berangkat sama siapa, Lyn?" tanya Ardo sembari menerima ponsel miliknya.
"Ah? Sama itu, Kak Regan! Ya, ampun ... Kak Regan udah nunggu di depan. Udah dulu ya, aku sekolah dulu, bye!"
Aerilyn berlari meninggalkan kamar Ardo, tak lupa ia menutup pintunya. Cowok itu hanya bisa mengembuskan napas, ia kembali kesepian di sini, seorang diri. Namun, memang hadirnya gadis itu membuat ia sedikit terisi dan tak kesepian seperti biasanya karena sering ditinggal oleh maminya untuk bekerja.
***
Aerilyn dan Regan sudah sampai di parkiran, mereka segera turun dari motor. Cowok itu membukakan helm-nya dan membantu sahabat tersayangnya itu untuk melepaskan helm dari kepalanya.
"Lyn, lo pasti capek, ya?" tanya Regan sembari merapikan rambut gadis itu yang sedikit berantakan.
"Enggak Kak, kalau aku seneng ngejalaninnya aku gak bakalan capek. Lagian, Kak Ardo janji mau bayar aku. Lumayan kan, duitnya?" ungkap Aerilyn dengan cengiran khas-nya.
"Iya, tapi kalau ada sesuatu di sana. Misalnya Ardo lagi galak atau susah di atur, lo bisa hubungin gue, ya? Nanti gue bakalan ke situ sama Serly. Biar gue yang rawat dia nanti, sekalian Serly jadi temen main lo di sana," kata Regan sembari menepuk pelan kepala gadis itu beberapa kali.
Aerilyn yang sedang membuka jaketnya hanya mengangguk saja untuk mengiyakan. Namun, tanpa mereka sadari di belakang sana ada Erina dan Serly yang sedang memperhatikan mereka.
"Serly, awas pacar lo nanti direbut sama, Ilyn! Jangan ketipu sama sifat lugunya, deh. Lo ke sini sama gue, sedangkan pacar lo itu malah berangkat bareng sama Aerilyn loh. Yakin gak cemburu?" bisik Erina dengan seringai di bibirnya. Lebih tepatnya ia hanya ingin memanas-manasi Serly saja.
Serly menatap Erina dengan satu alis yang terangkat. "Hah? Lo lagi-lagi kayak gini. Dengerin gue, Sayang ... sampai kapan pun, gue gak akan pernah cemburu sama mereka apalagi sampai kehasut buat musuhin dia. Aerilyn itu sahabat Ardo dari SMP dan gue sama Ilyn udah sahabatan dari kelas sepuluh! Lo kira ngejalin hubungan pertemanan kayak gini gampang?"
Erina hanya terkekeh, lalu menepuk pundak Serly. "Yaudah, sana gih samperin!"
Serly mengangguk, ia menghampiri mereka diikuti oleh Erina di belakangnya. Setelah bertemu, ketiga gadis itu saling berpelukan membuat Regan terkekeh melihat tingkah mereka. Kadang ia selalu heran dengan sifat-sifat para perempuan yang belum bisa ia pahami.
"Regan tadi pagi Bunda chat gue. Katanya kamu semaleman main game terus!" kata Serly yang bergelayut manja pada tangan Regan.
"Gak papa, Sayang ... semalem cuman lagi kalut aja," kata Regan mencubit gemas pipi pacarnya itu.
Serly mengerucutkan bibirnya dengan gemas, "Sayang kamu ada masalah apa, heum? Kamu kalau ada apa-apa itu cerita sama aku. Jangan malah kayak gitu, mata kamu sekarang ada kantung hitamnya! Ih, gak keren lagi cowok aku udah kayak panda matanya."
Regan hanya terkekeh menanggapi Serly yang seperti itu, sedangkan Erina dan Aerilyn hanya menjadi penonton saja. Mereka bahkan baru tahu kalau pasangan itu bisa bermanja-manjaan juga. Sebab setahu mereka, biasanya kedua sejoli itu bersikap seolah bukan seperti sepasang kekasih, melainkan seperti sahabat karib yang selalu santai menggunakan kalimat lo-gue dan bahkan terkesan bukan seperti sepasang kekasih.
"Erina, kita ke kelas duluan aja, yuk!" ajak Aerilyn sembari menarik tangan Erina.
Erina hanya mengangguk, sambil berbisik, "Yaudah, yuk! Kita jangan ganggu rumah tangga mereka."
Mereka berdua langsung pergi meninggalkan sepasang kekasih yang terlihat masih betah untuk berpacaran di parkiran. Sampai siswa-siswi yang lewat saja hanya menggeleng-gelengkan kepala saja saat melihatnya.
Aerilyn dan Erina berjalan menelusuri koridor, menuju kelas mereka. Tiba-tiba Erina menghentikan langkahnya, membuat temannya itu ikut berhenti juga.
"Lyn, lo tadi enggak marah lihat Regan deket banget gitu sama Serly? Padahal lo sama Regan itu lengket banget, bahkan kalian seperti orang yang gak terpisahkan. Apa lo gak mau kalau kasih sayangnya terbagi sama Serly?" ujar Erina membuat Aerilyn mengerutkan dahinya. Ia merasa aneh dengan tingkah gadis itu
"Kok kamu ngomong kayak gitu?" tanya Aerilyn menahan rasa kesal yang tiba-tiba saja datang dalam lubuk hatinya.
"Gini ya, Ilyn Sayang ... Gue sebagai sahabat yang baik hanya ingin mengingatkan aja dan sebenernya cuman mau nanya aja, sih. Apa lo mau kalau misalnya Regan gak lagi perhatian sama lo? Kalau menurut gue, semenjak lo deket banget sama Ardo. Kalian malah jadi jauh, kalau saran gue nih, Lyn ... lo jauhin si Ardo, terus balik lagi lengket ke Regan," kata Erina tampak seperti menghasut.
Aerilyn menarik napasnya, lalu mengembuskannya secara perlahan. Entah kenapa, ia merasa sangat kesal dan ingin meluapkan emosi yang tadi ditahan kepada temannya ini. Namun, ia tahu hal itu tidak akan berguna dan akan berpengaruh buruk terhadap pertemanan mereka.
"Erina, aku jelasin. Aku sama Kak Regan itu udah kayak Abang sama Adek. Masalah mereka deket banget itu ya itu kan, udah hak mereka gak ada yang bisa ngelarang ... apalagi kalau mereka itu pacaran. Aku sama Kak Regan yang kata kamu udah kayak gak selengket dulu itu, bukan karena aku deket sama Kak Ardo. Jadi, enggak ada yang harus dirubah alurnya dan aku gak harus jauhin dia hanya gara-gara itu. Aku juga masih suka komunikasi kok, sama Kak Regan sama Bunda juga. Cuman belum ada waktu lagi buat aku main ke rumahnya, aku gak mau ubah apa-apa. Hanya ingin mengikuti alur skenario yang telah dibuat untuk aku," ungkap Aerilyn dengan mencoba mempertahankan suaranya yang biasa saja. Agar tidak terlalu memperjelas kalau dia memang sebenar merasa kesal dengan ucapan Erina.
Erina hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ia juga mencoba tertawa pelan meski hambar. Lalu dengan canggung mengajak temannya itu kembali melangkah menuju ruang kelas mereka.
Sedangkan di belakang sana, ada Regan yang merangkul Serly. Ya, mereka sudah ada dari tadi dan mendengar apa yang mereka ucapkan.
"Temen kamu yang satu lagi itu kenapa, sih? Ada masalah hidup apa coba? Jujur aja ya, enek banget sama sifatnya." tanya Regan terheran-heran.
"Tau tuh, tadi aja Ayang dia ngehasut aku seolah-olah harus cemburu dan marah karena ngeliat kamu sama Ilyn lebih deket. Ah ya, pas katanya dia bilang aku yang pacar kamu berangkat sama dia tapi Ilyn yang cuman sekedar sahabat berangkatnya bareng kamu," seloroh Serly dengan raut wajah yang kesal mengingat kejadian tadi saat diparkiran.
"Huh, dia gak tahu aja, ya? Lagian emang kamu bener-bener gak bisa apa ya lepasin aja pertemanannya sama tu cewek? Masalah Aerilyn bisa kita atur, intinya kalian jangan berteman aja gitu!" saran Regan membuat Serly menghela napas panjang.
"Udahlah, jangan diperpanjang. Gak mau kalau pagi-pagi gini udah bad mood aja!"
Regan hanya mengangguk kecil, lalu mereka berjalan beriringan. Regan akan mengantarkan kekasihnya dulu ke kelas lalu ia akan menemui Fano yang katanya ada di kantin. Ia ingin membahas beberapa hal dengan sahabatnya itu.